[SERI 2] BAB 82

1559 Words

Langit yang cerah, suara merdu burung berkicau tidak secerah hati Evanders saat ini. Di depannya tengah bersemanyam sosok yang berarti dalam hidupnya. Dimas Anggada, sebuah nama yang tersemat pada nisan di depannya telah tertancap, seiring tanah yang telah menutup seluruh peti jenazah ayah tirinya itu. Evanders masih menatap nanar, tidak mampu bersuara karena luka hatinya seolah teriris semakin dalam. Kepergian demi kepergian telah ia saksikan di depan matanya. Ia lantas teringat Meylira, kemudian membalikan badan dan meninggalkan sekumpulan orang-orang yang mengantarkan mendiang Dimas ke pemakaman pagi itu. Ia menghindar sejenak, menyandarkan tangan pada sebuah pohon besar untuk menenangkan hatinya. Aku nggak mau kamu juga pergi meninggalkan semuanya, Mey, gerutu Evander dalam hati. I

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD