EMPAT

1884 Words
Kasih love untuk cerita ini ya zheyeeenk Di dapur dengan desain minimalis dengan perabotnya yang sangat lengkap. Damian menghampiri mamanya yang sedang memarut buah mangga muda yang akan dijadikan manisan. Sudah biasa dia menemukan manisan buah mangga muda atau kadang ketika musim kedondong, mamanya akan membuatnya dan itu sangat banyak. Ia tahu bahwa mamanya yang sangat suka menyajikan manisan untuk teman-temannya. Mangga muda yang entah kenapa kali ini terlihat begitu menggoda bagi Damian. Dia mengambil sendok untuk mengambil mangga yang sudah diparut itu. "Damian, kenapa dimakan, Nak? Itu buat manisannya Mama," "Enak, Ma. Nggak tahu pengin aja," Julia yang juga baru saja ikut bergabung dan mengambil air minum. Gadis itu duduk di dekat Damian. "Tumben banget nih orang makan mangga muda," sindir adiknya. Entah antara dia percaya atau tidak dengan ikatan batinnya dengan buah hatinya yang ada dikandungan Fiona. Sampai sekarang, perempuan itu masih mempertahankan janinnya. Setiap kali Damian bertanya kapan akan digugurkan, Fiona akan menghindar dan berujung pada saling mengabaikan antara mereka berdua. "Iya nih. Biasanya dia paling nggak suka sama mangga muda. Apalagi kalau Mama buat manisan, dia langsung cuek gitu," "Ceweknya hamil kali, Ma. Makanya sekarang dia yang hamil," skak adiknya. Walaupun itu sebenarnya benar ada perempuan yang dia hamili. Tapi tidak ada kebenaran yang akan terungkap di sini. Sampai kapan pun juga ia tidak akan pernah mengakui bahwa dia memiliki calon buah hati yang sebentar lagi akan dia gugurkan bersama dengan Fiona. "Kayaknya begitu. Tapi yang Mama tahu kalau kakak kamu ini sekarang nggak punya pacar," "Nggak punya pacar tapi sering jalan sama banyak cewek. Lihat aja buktinya dikit-dikit kena gosip, Mama juga tuh nggak pernah marahin dia," Mamanya membersihkan parut yang digunakan memarut mangga tadi kemudian duduk di kursi yang ada disebelah kiri Damian. "Benar kalau kamu lagi ngidam?" Mata Damian yang tadinya hanya fokus pada mangga yang dia makan itu langsung menyipit ke arah mamanya. "Pertanyaan Mama sama Julia aneh," "Aneh kenapa? Mama kan cuman nanya. Beneran nggak yang dibilang sama adik kamu? Karena akhir-akhir ini kamu kelihatan emang suka sama makanan yang asam, belum lagi kamu bisa makan mentimun lho. Ingat nggak sih kamu paling anti banget sama mentimun? Kenapa jadi suka? Ini tuh buat Mama jadi curiga juga sama kamu," Pria itu memperbaiki jasnya kemudian beranjak dari tempat duduk. "Nggak, Ma. Aku pengin aja makan mangga sama mentimun," "Mama kenal kamu banget lho," "Terserah," "Mau ke mana kamu?" tanya mamanya yang mencoba mencicipi mangga yang dimakan oleh Damian tadi. "Astaga, kok asem banget sih. Kamu kok nggak ngerasa asem, Damian?" "Biasa aja, manis kok," "Nah kan, Ma. Dia emang lagi ngidam deh tuh," Betapa bodohnya dia yang memperlihatkan banyak kode mengenai dia yang memang merasakan begitu banyak perubahan semenjak Fiona hamil. Sampai sekarang perempuan itu tidak mau menggugurkan janinnya. Damian juga tidak bisa untuk memaksakan kepada Fiona karena dia tahu emosi Fiona tidak menentu. Sering terjadi pertengkaran di antara mereka berdua juga. Dia yang harus pandai mengalah dan merayu Fiona menggugurkan janinnya agar tidak menjadi beban suatu saat. Toh juga pagi harinya saat mereka melakukannya lagi, Damian dan Fiona melakukannya atas dasar suka sama suka dan itu tidak ada paksaan sama sekali. Hal itu juga yang membuat Damian bersikeras meminta Fiona untuk aborsi. Mobilnya melaju kencang menuju tempat tinggal Fiona dan mengajak perempuan itu untuk makan malam. Sebelumnya dia telah memiliki janji dengan seseorang yang akan membawakan obat untuk menggugurkan janinnya Fiona saat perempuan itu menolak pergi ke dokter karena tidak mau menyakiti si kecil. Setelah mendapatkan obat itu, dia langsung meluncur ke tempat Fiona tinggal. Dia seperti pria yang sudah benar-benar kalangkabut menghadapi Fiona yang masih keras kepala dan tidak mau untuk menggugurkan janinnya. Perempuan itu keluar dengan daster. Tidak pernah dia melihat Fiona menggunakan pakaian seperti ini sebelumnya dan itu terlihat sedikit cantik. Alasan Fiona juga tidak pernah menggunakan pakaian yang terlalu ketat karena perutnya yang sudah sedikit lebih menonjol dibandingkan yang dulu. "Mau makan malam?" "Nggak, aku sudah makan. Mau ngapain ke sini?" "Ngajakin kamu makan malam aja," Fiona mempersilakan Damian masuk, "Mau minum apa?" "Kita ke inti pembicaraan saja, Fiona," Perempuan itu berhenti saat dia hendak pergi ke dapur, dia duduk bersebrangan dengan Damian. "Mau ngomong apa?" "Kapan kamu lakukan itu? Aku nggak mau kalau dia sampai tumbuh besar nantinya. Semakin dia besar, semakin sulit buat kamu untuk gugurin dia," "Bisakah sehari saja kita nggak usah bahas?" "Aku nggak mau nunggu lama lagi, Fiona," "Kamu maunya kapan?" "Malam ini bisa?" "Terserah kamu," Damian terdiam sejenak lalu dia menunggu Fiona yang baru saja masuk ke kamar. Ini adalah pilihan tepat, baik Fiona dan dirinya juga belum siap menjadi orang tua yang sangat merepotkan baginya. Mereka baru saja keluar dari tempat tinggalnya Fiona. Ketika Fiona berada di depannya, ia melihat ada lebam ditengkuk Fiona. Barangkali itu adalah bekas pukulan dari kekasih Fiona saat mereka bertengkar. "Ada apa?" tanya Fiona saat dia tertangkap basah melihat ke arah Fiona. Dengan segera dia menyingkirkan pandangannya itu agar tidak terlihat sedang memperhatikan sesuatu yang ada ditengkuknya Fiona. "Fiona, kalau kamu nggak mau ke tempat aborsi. Aku udah beli obat buat kamu," Tidak ada jawaban, dia tahu kalau Fiona akan langsung terdiam ketika mereka membahas ini. Dia juga tidak sabar untuk mendapatkan hasil agar tidak memalukan nantinya. Di perjalanan menuju rumah sakit. Mereka berdua terdiam, memang sangat lama dia menunggu orang yang sudah berjanji akan menemuinya tadi. Sampai Damian juga sempat pulang untuk mengganti setelan kerjanya. Di rumah sakit, seperti biasanya mereka berdua akan tetap terdiam. Ini sudah kesekian kalinya mereka datang ke dokter untuk konsultasi mengenai tindakan yang akan dilakukan oleh mereka berdua. Setelah menunggu lama, mereka akhirnya dipanggil. USG pun dimulai dengan mengoleskan gel ke perut Fiona. Di sana Damian juga ikut memantau monitor dan melihat perkembangan janin Fiona yang sudah terbentuk. Tapi sedikit pun Fiona tidak menoleh ke arah monitor. Damian masih bersikap angkuh dan tidak mau membiarkan janin itu lahir. "Kapan jadwalnya untuk aborsi Fiona dokter?" Sedangkan di sana air mata Fiona sudah meleleh mendengar ucapan Damian. Begitu sakit saat mendengar ayah dari bayinya itu sangat keras kepala. Sudah banyak pengorbanan yang dilakukan oleh Fiona agar sedikit saja Damian melluh. Tidak mengapa Damian tidak bertanggungjawab. Setidaknya dia masih bisa untuk merawat anaknya sendirian. Pernah suatu hari Fiona berusaha pergi dari hidup Damian. Tapi pria itu tahu ke mana Fiona pergi dalam jangka waktu dua hari. Sangat sulit baginya untuk kabur dari hidup Damian sebelum apa yang diinginkan oleh pria itu dituruti. Sementara ada perasaan mengganjal juga ketika dia melihat perkembangan janinnya. Tapi ini adalah jalan terbaik untuk mereka berdua. Damian tidak punya perasaan apa pun kepada Fiona walaupun mereka bersama. "Kita tunggu waktu yang tepat, karena keadaan ibunya sedang tidak baik, jadi kita tunggu dulu persetujuannya. Ibunya kelihatan masih belum bisa nerima kenyataan," "Dokter, saya bayar berapa pun. Tapi lakukan dengan segera," "Aborsi itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan bagi seorang perempuan, Pak Damian. Ketika ibunya belum siap, ibunya bisa stres dan sangat menyakitkan mengingat itu," "Ayo pulang, Fiona," ajak Damian dengan pelan. Mereka pulang dengan keadaan yang masih saling mendiami. Di ruang tamu, Damian mengeluarkan obat yang dibelinya pada temannya itu. Obat tersebut adalah opsi kedua bagi Fiona. "Ini adalah pilhan juga Fiona. Kalau kamu nggak mau aborsi, kamu minum obat ini," "Ini obat apa?" "Buat gugurin dia," ucapnya dingin. "Ini malam terakhir kita ketemu. Dan aku bakalan saksikan dengan mata kepala aku sendiri bagaimana kamu minum obat itu," Fiona menggeleng. "Kamu nggak mau? Fiona, kamu pikir ngidam itu enak? Kamu pikir aku juga nggak tersiksa? Setiap pagi aku harus muntah-muntah nggak jelas, kamu memang nggak ngerasain, dokter bilang itu ikatan batin aku sama dia," "Dan kamu tahu soal itu kan?" "Tapi aku nggak mau," ucap Fiona. "Fi, aku bersumpah. Setelah ini kita nggak bakalan ketemu lagi, kamu nggak usah kerja di tempat aku lagi. Besok, aku transfer uang ke rekening kamu. Mari kita lupakan kejadian yang beberapa bulan ini sangat menyakitkan, kamu hidup dengan kehidupan baru kamu. Begitupun dengan aku," "Mudah kamu ngomong ya. Mudah banget kamu bilang kayak gitu," Damian masih tidak peduli, dia segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil segealas air putih untuk Fiona meminum obat itu. Dia kembali lagi setelah kurang lebih satu menit didapur untuk mengambil air untuk perempuan itu. "Aku nggak mau ada beban Fiona," ucapnya sambl memberikan obat itu untuk Fiona. Fiona terlihat lemas saat menerima obat itu. "Kamu harus minum, aku nggak mau kamu kasih aku beban di masa depan," "Aku nggak bakalan ngasih kamu beban, setelah ini aku pergi," Damian tidak mau. Dia tetap memaksa Fiona meminum obat itu. Sambil memohon, dan juga Fiona sampai menangi. Ini adalah kelemahannya melihat perempuan menangis, tapi bagaimanapun juga ni harus dia lakukan. Selain membuat Fiona menangis sekarang, suatu saat ketika dia mempertahankan janinnya, pasti dia akan jauh lebih menyakiti Fiona lagi. Itu yang tidak dia ingikan. Dia ingin sekali membahagiakan orang yang dia sayangi. Sedangkan pada Fiona, tidak ada perasaan sedikit pun yang dia rasakan. Ketika berada di dekat Fiona pun, dia tidak merasakan ada getaran cinta itu. Damian meraih obat itu dan mencekik rahang Fiona, memaksa perempuan itu untuk meminum obat tersebut. Fiona memberontak untuk melepaskan tangan Damian dari rahangnya. Karena merasa Fiona sudah mengalah, ia akhirnya melepaskan cekikannya. Perempuan itu mengambil obat tersebut dari tangannya, dengan air mata yang berurai Fiona meminum obat itu dan langsung terjatuh di lantai sambil menangis. "Puas?" isak Fiona yang tak kalah mengejutkannya juga bagi Damian. Sedari tadi dia melihat Fiona menangis tapi ia hanya mementingkan egonya sendiri. "A-aku," "Kamu kenapa? Kamu sejahat itu? Kamu nggak ngasih aku waktu buat mikirin ini semua?" "Aku ngasih kamu, tapi kamu terlalu lama mikir, Fiona," ucapnya tak ingin kalah dari perdebatan itu. "Lalu untuk apa kamu di sini kalau obatnya udah aku minum? Sebentar lagi dia juga bakalan mati, itu yang kamu mau kan? Aku nggak pernah maksa kamu tanggungjawab Damian. Aku cuman mau rawat dia sendirian, aku nggak pernah minta kamu nikahi aku. Aku sudah bilang sama kamu, aku nggak bakalan nyusahin kamu. Sekarang kenapa kamu masih di sini? Lebih baik kamu pulang," Damian duduk meringkuk dan menjambak rambutnya. "Fio..." "Kamu hanya perlu nunggu hasilnya Damian. Dia pasti mati seperti yang kamu inginkan, ternyata dia punya ayah yang begitu b******n," "Aku nggak ada perasaan Fio. Aku nggak maunyakitin kamu. Dan kamu bisa aja kan hancurin hidup aku di masa depan dengan dia," Fiona menunduk. "Aaaaaaahhh," dia berteriak sambil memegangi perutnya. "Kamu bakalan nyesel suatu saat nanti, Damian," ucapnya. "Dia bentar lagi nggak bakalan ada, dan kamu adalah pembunuhnya, kamu ayahnya tapi seperti b******n yang nggak tahu bagaimana cara bertanggungjawab atau membiarkan dia hidup. Dia punya hak, aku selalu tunda karena aku mikir," "Tapi gimana sama aku?" "Kamu hanya mikirin diri kamu sendiri, Damian. Aku bisa hidupi dia tanpa kamu. Kamu pergi sama pelacurmu juga nggak masalah," Damian mencoba berdiri dari tempat duduknya. Ada rasa sesalnya juga memaksa Fiona meminum obat yang dia beli tadi pada seseorang itu. Yang diyakini bahwa satu kali minum, janin yang ada di dalam kandungan Fiona akan meluruh dalam hitungan jam. Melihat hasil USG dari anaknya, dia merasakan sedikit penyesalan saat melihat Fiona berusaha untuk memuntahkan obat yang ditelannya barusan. Ketika dia hendak beranjak pergi dari tempat tinggal Fiona. Perempuan itu langsung berdiri dan memukulnya. "Laki-laki b******k, pembunuh," Dia langsung menangkap tangan kanan Fiona dan menahan tangan yang hendak memukulnya kettika melihat lebam ada di tangan Fiona. "Tangan kamu kenapa?" "Kamu peduli?" "Aku peduli," "Untuk apa kamu peduli saat kamu sendiri sudah membunuh anak kamu? Dan lebam ini, adalah pukulan dari orang tua aku karena aku ketahuan, dan mereka juga sama pemikirannya kayak kamu, yaitu menggugurkan dia. Begitukah yang kalian pikirkan, semua akan selesai ketika dia nggak lahir? Dan kamu tahu kalau mereka itu kembar, aku menginginkan mereka," Damian tak sedikitpun mengalihkan pandangannya ke arah mata Fiona. Dia paling tidak suka perempuan menangis dihadapannya dan itu akan membuat perasaannya terluka. Setiap kali Fiona menangis, Damian selalu menunda untuk memaksa Fiona menggugurkan kandungannya dan sekarang semua sudah terjadi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD