Malam berikutnya.
Sharfaraz Cafe telah tutup setengah jam lalu. Tinggal Eliza yang masih berada di sini. Ada beberapa catatan penting yang harus dia selesaikan.
Dari luar kafe Eliza mendengar suara mobil memasuki halaman, lalu berhenti. Dia meletakkan buku catatannya di atas meja dapur, berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang. Tidak tahukah orang ini kafe telah tutup, batin Eliza.
Belum sempat Eliza membuka pintu, seseorang telah membukanya terlebih dahulu. Mulut Eliza seakan terkunci, terkejut saat melihat orang itu.
Seorang lelaki dengan perawakan tinggi besar, mungkin sekitar 180 cm, sangat tampan dengan rambut lurus seleher, memandangnya tajam. Celana jeans ketat dan kaos polos warna putih pas melekat di tubuh langsingnya. Matanya lurus menatap dan mengunci Eliza.
"Maaf...kafe telah... tutup," ucap Eliza terbata-bata.
"Aku sudah tahu," jawab dia ketus. Dia memutar tubuhnya, melangkah mengelilingi ruang depan kafe. Kemudian dia berhenti tepat didepan Eliza. Jarak mereka terbentang sejauh satu meter.
Eliza merasa curiga dengan sikap lelaki ini, sangat berani dan lancang, membuat dia sedikit menciut ketakutan. "Kalau boleh tahu, ada perlu apa anda kemari? Atau siapa Anda sebenarnya?"
Laki-laki itu diam saja, sengaja mengulur-ngulur waktu.
"Maaf, sebenarnya malam ini belum waktunya aku memperkenalkan diri. Tapi apa boleh buat," dia mengangkat bahunya, acuh tak acuh. "Perkenalkan, aku Raefal. Pemilik baru Sharfaraz Cafe." Raefal menyunggingkan senyum sinis, memandang Eliza tajam.
Eliza terkejut, mulutnya melongo. Tidak menyangka akan bertemu si pemilik baru secepat ini. Apakah dia sedang bermimpi?
Eliza mundur selangkah. Dibenaknya tidak ada bayangan soal pemilik baru kafe ini. Sebelumnya dia mengira kalau pemilik kafe pasti seumuran dengan Pak Adrian. Tapi ternyata, lelaki muda ini yang bakalan jadi bosnya kelak.
Muda, terlihat sombong, tapi juga tampan. Perpaduan yang sangat bertolak belakang.
"Bukannya Bapak akan datang kesini bulan depan?" tanya Eliza memberanikan diri. Terkesan sedikit lancang.
"Aku berubah pikiran. Ternyata berkas-berkas yang berkaitan dengan pengalihan kepemilikan kafe ini telah beres." Raefal menjawab santai. "Boleh aku duduk?" Dia menunjuk ke sebuah kursi yang tak jauh darinya.
Eliza mengangguk setuju. Kau pemiliknya, jadi buat apa minta ijin segala, rutuk Eliza dalam hati.
"Kamu siapa?" tanya Raefal ingin tahu.
"Eliza, Pak."
Dari tempatnya duduk, Raefal mengamati gadis di depannya itu dengan teliti, menilai. Wajahnya biasa saja, tidak masuk kedalam standar perempuan yang kebanyakan jadi pacarnya. Penampilannya sederhana tanpa polesan make up, rambutnya diikat asal-asalan. Tingginya tidak kurang dari 165 cm, satu lagi, tubuhnya padat berisi. Tidak langsing. Jauh dari kata menarik.
Tapi tunggu, ada sesuatu daya tarik dari dirinya. Bola matanya terlihat bulat bersinar dan bercahaya. Bibirnya tipis berwarna merah muda alami.
"Bapak mau saya ambilkan minum?"
Raefal tersadar dari lamunannya. "Bapak...bapak terus. Dari tadi manggil Bapak, emang aku sudah setua itu?" hardiknya kesal.
Raefal menunduk, memainkan jari-jarinya. "Saya harus panggil apa? Mas, Kang, Uda, atau Oppa?" tanya Eliza sedikit jengkel.
"Panggil aku Raefal."
Eliza membulatkan matanya untuk kedua kalinya. Memanggil atasan sekaligus pemilik kafe ini dengan nama langsung tanpa embel-embel "Pak" di depannya, membuat Eliza merasa sedikit canggung. Dia tidak terbiasa. Selain itu terdengar sedikit tidak sopan.
"Baik. Apakah kamu mau saya ambilkan minum?" tanya Eliza sekali lagi.
"Tidak usah, terima kasih," jawab Raefal. "Kafe sudah tutup, kenapa kamu masih disini? Aku mencium aroma-aroma mencurigakan." Sebenarnya Raefal bukan asal menuduh. Melihat keadaan yang sepi begini, Eliza sendirian, sedangkan karyawan lain telah pulang, jadi wajar kalau dia sedikit curiga.
"Saya hampir mau pulang sebelum Bapak...eh kamu datang kesini. Malam ini giliran saya pulang belakangan." Eliza menarik sebuah kursi, capek, kakinya terasa pegal karena berdiri sedari tadi. Masa bodoh dianggap tidak sopan. Kalau aku pingsan apa tuan sombong ini mau susah-susah menggendongku? Eliza membatin dalam hati.
"Jujur aku tidak ada niat buat ketemu kamu atau karyawan lain. Kebetulan saja aku lewat, jadi aku putuskan mampir sebentar." Raefal menatap Eliza cukup lama. Kapan terakhir kali dia bisa menatap seorang gadis dengan intens? Dia sudah lupa kapan persisnya.
Eliza sedikit gelisah. Berada dalam satu ruangan bersama orang yang baru dia temui membuat dia merasa canggung, serba salah. Apalagi ditatap begitu lama. Eliza berdehem sebentar, melihat jam tangannya. Sudah jam sepuluh. Haduh, alamat kemalaman di jalan.
"Apakah kamu masih mau tinggal disini? Saya ijin pulang dulu." Eliza memberanikan diri bertanya.
"Aku kira sudah selesai. Silakan kalau mau pulang."
Eliza bangkit berdiri, lalu berjalan ke ruang loker, mengambil tas selempangnya. Dia tidak menjumpai Raefal di tempatnya tadi. Dia merasa lega, setidaknya dia tidak perlu berbasa-basi mengucapkan salam perpisahan pada calon bos barunya itu.
Saat Eliza akan mengunci pintu, di luar dugaan tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan Raefal yang berdiri di samping mobilnya. Eliza mencoba pura-pura tidak peduli, terus berjalan ke tempat parkir mengambil sepedanya.
Dia mengangguk sebentar saat melewati Raefal, setelahnya segera memacu sepedanya kencang.
***
Eliza menghela nafas lega. Dalam perjalanan pulang tadi dia merasa sedikit khawatir kalau terjadi apa-apa di jalan. Beruntungnya dia selamat tanpa kurang suatu apapun.
Sampai di rumah dia langsung membersihkan diri, memakai kaos dan celana pendek. Rasanya ingin segera merebahkan diri dan memejamkan mata.
Di atas kasur, bukannya tidur, Eliza malah membolak-balikkan tubuhnya ke kedua sisi tempat tidur secara bergantian. Pikiran Eliza melanglang buana ke mana-mana.
Malam ini kenapa bukan orang lain yang harus bertemu si mister sombong itu? Gerutunya kesal.
Dan tadi, seenaknya dia nuduh yang bukan-bukan padaku, seharusnya aku yang curiga ke dia, ngapain malam-malam mengendap-endap di tempat sepi. Yeah, meskipun tempat itu miliknya, tapi setidaknya dia bisa bersikap sedikit beradab.
Eliza tidak habis pikir dengan kelakuan calon bos barunya.
Di lain sisi, ada poin lebih disini. Minimal dia tidak akan merasa terkejut saat Raefal datang ke kafe secara resmi.
***
Sementara itu.
Di sebuah apartemen mewah yang menghadap ke pusat kota, dengan ruang tamu yang diterangi lampu temaram, sofa empuk bermerk, duduklah Ken sendirian, merenung.
Kenapa dia bisa memilih waktu yang tidak tepat? Sesuai rencana, dia seharusnya tidak bertemu siapapun di kafe tadi. Kenyataanya, kejadian sebenarnya justru sebaliknya.
Tujuan awalnya hanya ingin melihat-lihat sebentar sambil mencatat beberapa hal, poin-poin penting yang akan dia gunakan sebagai gambaran untuk melakukan sedikit perubahan pada Sharfaraz Cafe.
Siapa tadi? Eliza
Ya, betul. Eliza telah mengacaukan rencananya.
Bila dipikir-pikir, Eliza sama sekali tidak bersalah. Dirinyalah yang salah. Kenapa harus bersikap seperti pencuri di propertinya sendiri?
Sampai tengah malam Raefal baru merasa mengantuk dan beranjak ke kamarnya. Kamar yang didesain dengan konsep minimalis modern dengan sebuah tempat tidur berukuran besar, sebuah lukisan bergaya realis menggantung tepat di atasnya. Tidak begitu jauh dari tempat tidur, televisi plasma menempel di dinding.
***
Keesokan paginya.
Eliza berangkat kerja terlalu pagi. Sesampainya di kafe belum ada siapa-siapa yang terlihat. Setelah menyimpan tasnya di lemari penyimpanan, Eliza duduk di bangku taman di samping kafe.
"Hayo...kamu sedang mikir apa?" Tanpa Eliza duga Alena tiba-tiba muncul di belakangnya, mengejutkannya.
"Bukan," tukas Eliza. Rasanya kok berat untuk mengungkapkan pengakuan ini. Bagaimana respon Alena nanti?
"Apa? Jangan bikin aku penasaran!" gertak Alena sebal.
"Kamu harus janji tidak akan bilang ke siapa-siapa ya?" pinta Eliza. "Jangan sampai teman yang lain tahu tentang masalah ini. Pasti mereka akan terkejut."
"Iya, aku janji tidak akan cerita ke yang lain."
"Termasuk sama Sam?" Eliza masih bertanya, seolah mengulur-ngulur waktu.
"Iya, Eliza. Aku tidak akan memberi tahu Sam," jawab Alena sambil menggertakkan gigi karena kesal menunggu Eliza.
"Aku semalam bertemu calon bos baru," bisik Eliza pelan.
"Apa? Bos baru?" Suara Alena sedikit kencang.
Eliza langsung membekap mulutnya. "Pelankan suaramu!"
"Oke...oke." Alena memberikan isyarat tutup mulut dengan ibu jari dan telunjuknya ditarik di depan bibirnya.
"Saat aku mau pulang, dia tiba-tiba masuk ke dalam kafe."
"Seperti apa orangnya?" tanya Alena penasaran.
Eliza tidak menjawabnya, hanya geleng-geleng kepala. "Tinggi. Masih muda. Sombong."
"Sepertinya bos baru kita tidak sebaik Pak Adrian," ucap Alena memberikan komentar. Dia mencoba membayangkan sosok bos yang otoriter dan senang menindas anak buahnya. Dia bergidik ngeri.
"Eliza," panggil Baim yang tahu-tahu ada di belakang mereka.
"Ya?"
"Chef Bono mencarimu," ucap Baim memberi tahu.
"Oke. Terima kasih," balas Eliza. "Kita lanjutkan nanti pembicaraan tadi." Eliza meninggalkan Alena yang masih mematung di tempatnya.
"Ada apa Chef Bono mencari ku?" tanya Eliza pada Baim yang mengekorinya di belakang.
"Aku juga tidak tahu." Baim berjalan mendahului Eliza menuju ruang depan kafe.
Eliza bertanya-tanya dalam hati. Tidak seperti biasanya Chef Bono mencarinya sepagi ini, padahal kafe belum buka.
"Chef mencari saya?" tanya Eliza, sesampainya di dapur dia melihat seniornya itu telah memakai seragamnya lengkap.
Chef Bono diam, mengerutkan kening, seolah sedang berpikir. Dia menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Begini. Yang mau aku sampaikan itu diluar kebiasaan selama ini," jeda sebentar. "Bagaimana pun juga, kita mesti melakukannya," terang Chef Bono terkesan sedikit berbelit-belit.
"Intinya adalah..." pancing Eliza gemas.
"Kita akan mempersiapkan beberapa hidangan menu makan siang. Setelah itu hidangan tersebut harus kita kirim ke suatu tempat."
"Bukankah kita tidak pernah menerima layanan pesan antar?" protes Eliza.
"Ini permintaan spesial Eliza, tidak boleh ditolak."
"Oke, Chef," tukas Eliza. Dia mengambil celemek di lemari lalu memakainya.
Chef Bono membagi tugas untuk mereka berdua agar pekerjaan mereka selesai sebelum kafe buka. Tanpa banyak tanya lagi, Eliza segera mengerjakan tugasnya.
Selama memasak, dalam hati Eliza merasa penasaran dengan orang yang meminta layanan khusus ini. Siapa dia? Orang pentingkah?
"Bikin sambal cumi asin cabai hijau juga, aku lupa memberi tahu tadi," ucap Chef Bono sambil mengiris tipis daging ikan gurame. "Kamu tahu sendiri kan, menu satu ini termasuk yang menu yang paling disukai pelanggan saat jam makan siang."
"Ya, Chef. Ada lagi?" tanya Eliza. Dia meletakkan alat memasaknya, mengambil kertas dan bolpoin untuk mencatat instruksi seniornya itu.
"Sementara itu dulu."
Eliza kembali fokus pada masakan di depannya. Sesekali melirik jam dinding di sisi belakangnya, menghitung waktu yang tersisa. Perasaan gugup menjalari seluruh tubuhnya. Padahal dia sudah terbiasa memasak masakan-masakan ini. Mungkin karena permintaan yang tidak lazim ini, sedikit membuat perutnya bergejolak. Suasananya seperti saat dia pertama kali melakukan praktek memasak di kelas.