Bab 4: Sandera Gairah

1127 Words
Rio menatap Arumi dengan pandangan merendahkan sekaligus penuh kemenangan. Ia tahu, ia telah memegang kendali penuh atas wanita yang pernah meninggalkannya itu. "Jangan hanya berdiri di situ, Tante. Cepat buka celanaku dan kulum penisku, kita tidak punya banyak waktu sebelum Aluna kembali," ucap Rio. Arumi mematung sejenak, rasa malu yang luar biasa menyerangnya. Namun, bayangan wajah Aluna yang ceria, senyum polosnya yang selalu mencerahkan hari-harinya seketika melintas di benaknya. Ia tidak boleh membiarkan Rio menyentuh dan merusak masa depan putrinya. Dengan tubuh yang gemetar, Arumi berlutut di hadapan Rio. Perlahan, jemari lentik Arumi melucuti celana rio. Saat kain itu merosot ke bawah, pandangan Arumi tertuju pada penid Rio yang sudah menegang sempurna. Ingatan Arumi mendadak terlempar ke lima tahun lalu. Di mana benda itu adalah senjata yang selalu berhasil membuatnya mendesah kencang hingga lupa daratan. "Penisnya masih tetap kokoh seperti dulu, ukurannya bahkan jadi lebih besar" ucap arumi dalam hati. Ukuran penisnya kini berubah drastis, tampak lebih beaar dengan urat-urat yang menonjol. "A-apa yang aku pikirkan sih" ucap arumi dalam hati. Ia berusaha membuang bayangan itu yang kembali menghantui pikirannya. "Kenapa? Tante ingat betapa nikmatnya ini dulu, kan?" tanya Rio dengan nada mengejek, menyadari tatapan Arumi yang terpaku seperti orang yang terhipnotis. Senyum sinisnya melebar, mata hitamnya berkilat penuh kepuasan. "Ayo, lakukan tugasmu. Manjakan penisku dengan baik seperti yang sering kamu lakukan dulu, Tante. Jangan buat aku kecewa." Ucap rio. Arumi memejamkan mata, lalu perlahan mulai membuka mulutnya, dan Menjikat p***s rio dengan ujung lidahnya. Pengalamannya sebagai wanita matang membuat setiap gerakannya terasa begitu ahli dan presisi, lidahnya menjilati dengan ritme yang dulu pernah membuat Rio gila. "Sshhh... Aahhh" erang rio. Sensasi itu menciptakan gelombang kenikmatan yang membuat Rio mendongak sambil mendesah kasar. "Ta-tante... Hnghhh... kau masih sangat lihai seperti dulu" erang Rio dengan napas yang semakin berat. saat ujung lidah Arumi menyentuh frenulum-nya, rio merasakan getaran listrik yang luar biasa hebat. "Oohhh, ya... itu dia" erang Rio. Kepalanya mendongak lagi ke atas dengan mata terpejam rapat. Rio mencengkeram pinggiran meja untuk menahan kenikmatan yang meledak-ledak. Arumi lalu membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai memasukkan p***s Rio ke dalam mulutnya. "Ughhh..." erang Rio. Tubuhnya langsung kaku merasakan kenikmatan yang luar biasa saat kepala penisnya memasuki mulut arumi. Arumi lalu memaju-mundurkan kepalanya dengan ritme yang konstan, melahap setiap inci p***s Rio. "Aahhh... Ta-tante... Sshhh.... enak banget" erang Rio dengan nafas yang serak. Ia lalu mencengkram kepala arumi, jemarinya tenggelam di sela-sela rambut wanita itu, pinggulnya bergerak refleks sesuai dengan tempo nafsunya mengikuti gerakan mulut Arumi. "Luar biasa... Hnghhhh.... mulutmu memang tidak ada tandingannya tante," erang Rio sambil memuji kehebatan mulut Arumi. Arumi hanya bisa terus bekerja, mengabaikan ocehan rio, ia terus memompa dengan tangannya yang juga ikut bekerja membantu hisapannya, demi menuruti paksaan pria di hadapannya. GLUKKK... GLUKK... GLUUKK... Suara kuluman begitu nyaring di ruangan itu. "Sshhh... Ni-nikmat... Sangat nikmat" erang rio. Rio benar-benar terhanyut dalam sensasi yang diberikan wanita matang di hadapannya itu. Cara Arumi memanjakannya masih sama seperti dulu, penuh teknik yang seolah-olah dilakukan dengan sukarela. Arumi masih terus mengulum dengan semakin dalam, hingga kepala p***s Rio hampir menyentuh tenggorokannya. Namun, di tengah aksinya yang dipaksa itu, Arumi dikejutkan oleh cahaya terang yang menyambar sudut matanya. Ia membelalakkan mata dan segera melepaskan kulumannya ketika melihat Rio memegang ponselnya, mengarahkan kamera tepat ke arah wajah Arumi yang sedang melayani dirinya. "R-Rio! Apa yang kamu lakukan?!" ucap arumi terperanjat. Ia mencoba menutupi wajahnya dengan tangan yang gemetar, air liurnya menetes di dagunya dan Jantungnya berdegup kencang, rasa panik melanda dirinya. "Hentikan! Jangan direkam! Ini sudah terlalu jauh!" Lanjutnya berusaha merebut ponsel rio. Rio justru menjauhkan ponselnya dari jangkauan Arumi, wajahnya tetap acuh dan dingin. "Diam dan lanjutkan saja tante" desis Rio dengan suara rendah. Ia terus merekam adegan memuakkan namun menggairahkan itu dengan sudut pandang yang sangat jelas, memastikan setiap detail terekam sempurna. "Rekaman ini adalah asuransiku. Jika suatu saat kamu mencoba mengabaikanku lagi, video ini akan terkirim ke WA Aluna, bagaimana sang mama tercinta sedang bersimpuh mengulum penisku? Bayangkan wajahnya saat melihat ini." Ucap rio penuh ancaman yang mutlak. Arumi merasa seolah jantungnya diremas-remas. Pipinya memerah karena malu dan amarah, Ia merasa benar-benar hancur, jiwa dan raganya tercabik-cabik. "Kenapa kamu setega ini, Rio..." ucap arumi. Suaranya pecah campuran antara malu dan amarah. "Karena aku ingin tante menjadi milikku lagi, Seutuhnya. Tanpa ada pelarian lagi seperti lima tahun lalu," jawab Rio sambil menjambak lembut rambut Arumi yang hitam panjang, memaksanya untuk kembali melanjutkan tugasnya. Di bawah ancaman kamera dan masa depan putrinya, Arumi kembali mengulum kejantanan Rio, gerakannya semakin cepat meski hatinya menjerit-jerit. Di dalam batinnya, ia berteriak meminta tolong, memohon agar mimpi buruk ini berakhir, namun yang terdengar di ruangan itu hanyalah suara kecipak basah dan desah napas Rio yang semakin memburu. Setelah beberapa menit, Rio akhirnya menarik diri, napasnya masih tersengal tapi matanya penuh kepuasan. Ia mematikan rekaman dan menyimpan ponselnya, tapi senyumnya tak pudar. "Bagus, Tante. Kamu masih hebat seperti dulu," katanya dengan nada pujian yang palsu, membuat Arumi semakin muak. Tapi Rio belum puas. Matanya menyapu tubuh Arumi yang masih berlutut, dengan d**a yang naik-turun. "Sekarang buka bajumu, Tante. Aku mau menikmati tubuhmu sepenuhnya," ucap Rio dengan suara yang lebih dalam, penuh hasrat yang tak terkendali. Arumi menggelengkan kepala lemah, air mata menetes di pipinya. "Apa kau gila, Rio? Aluna sebentar lagi pulang. Kita bisa ketahuan.. Tolong, cukup sudahi ini," jawab Arumi dengan suara memohon dan penuh keputusasaan. Rio tak menjawab, matanya hanya semakin gelap oleh nafsu. Dengan gerakan cepat dan kuat, ia mengangkat Arumi seperti boneka tak berdaya. "Rio, tolong... hentikan ini. Aku mohon," ucap Arumi dengan suara bergetar. Arumi meronta pelan, tapi tenaganya tak sebanding. Rio mendorongnya ke meja makan yang berada di sudut ruangan, posisi tubuh Arumi kini menungging dengan tangan menyangga di atas permukaan meja. tubuhnya bergidik karena ketakutan. Ia mencoba melirik jam dinding, jarumnya menunjukkan waktu yang semakin mendekati kepulangan Aluna, membuat hatinya semakin panik. Dengan gerakan terampil yang penuh pengalaman, Rio menyingkap dress Arumi yang tipis dan elegan, kain sutra itu naik hingga pinggangnya, memperlihatkan kulit mulus yang masih kencang meski usianya tak lagi muda. Ia kemudian menurunkan celana dalamnya yang hitam renda, dengan kasar tapi hati-hati, seolah menikmati setiap detik dominasinya. Arumi merasa angin sepoi-sepoi menyentuh bagian paling intimnya, membuatnya merinding campur malu yang tak tertahankan. "Rio, kumohon... aku kan sudah bilang Aluna akan segera pulang. Kita tak punya waktu untuk ini. Tolong, pikirkan resikonya," ucap Arumi lagi, suaranya semakin lemah dan terdengar seperti ratapan yang pilu. Ia mencoba menutup kakinya, tapi Rio tak memberi kesempatan. Tanpa peduli dengan permohonannya, Rio melebarkan kaki Arumi dengan tangan kuatnya, posisi kakinya kini terbuka lebar. "Diamlah, Tante. Ini baru permulaan. Aku akan buat kamu ingat siapa pemilik tubuh ini sebenarnya," gumamnya sambil mendekatkan penisnya ke v****a arumi. Arumi hanya pasrah, ia menutup matanya dan berdoa dalam hati agar Aluna terlambat pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD