⚠️ 24 ⚠️

768 Words
Semenjak kejadian itu, Mas Aarav memilih untuk tinggal di apartemennya. Dia hanya datang ke rumah kami saat aku pergi kerja dan kembali saat aku pulang. Ibu dan adik-adikku tahu kalau kami sedang bertengkar, tetapi mereka memilih untuk tidak ikut campur, bahkan mereka juga tidak tahu penyebab dari pertengkaran kami. Sudah seminggu kami saling diam-diaman, aku tidak tahu kabar tentang pengangkatan dia sebagai Kaprodi. Dia tidak memintaku untuk datang saat upacara pengangkatan. Jadi aku pikir, kehadiranku tidak begitu penting baginya. Seminggu belakangan ini, aku jadi overthingking. Pikiran-pikiran negatif dan penyesalan seakan masuk memenuhi isi kepalaku. Aku jadi merasa telah membohonginya. "Kakak mukanya pucat. Kenapa?" tanya Lulu saat kami berdua tengah memasak sarapan di dapur. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum. "Enggak apa-apa. Mungkin Kakak kecapean, semalam pulang malam kan." Lulu mengangguk lalu dia kembali mengaduk nasi goreng yang sedang kami buat. Aku duduk di kursi lalu memijat keningku. Aku baru teringat dari semalam aku belum makan. Aku enggak nafsu, aku hanya kepikiran Mas Aarav. "Kakak, mukanya makin pucat," suara Lulu kembali terdengar dan tidak lama kemudian, pandanganku menghitam. ⚠️ Aku terbangun dan langsung menemukan Ibu dan Mas Aarav yang memandangku dengan tatapan khawatir. Ternyata aku pingsan. "Ibu ambilkan minum dulu ya," ucap Ibu setelah itu bergegas keluar dari kamarku. Mas Aarav memandangku dengan tatapan datarnya. "Meskipun saya enggak di sini, saya selalu memberikanmu perhatian lewat chat, tapi kenapa kamu malah telat makan? Bukannya semalam saya sudah ingatkan," ucapnya dengan tegas. "Enggak nafsu makan," jawabku cepat. Dia masih terdiam dengan sorot mata tajamnya, "aku kepikiran Mas terus. Aku kepikiran gimana caranya aku menebus kesalahan aku. Aku kepikiran gimana caranya Mas Aarav maafin dan kembali lagi di sisiku." Aku terisak dengan kencang. Segala emosi negatif yang aku tahan selama ini akhirnya meluap semua. "Aku tahu aku salah, seharusnya sebelum pernikahan kita berlangsung aku kasih tahu Mas tentang fakta ini," aku mengigit bibir berusaha meredam isak tangisku, "agar Mas Aarav enggak merasa terbohong seperti saat ini." Mas Aarav menatapku lekat lantas dia menggeser tubuhnya mendekatiku. "Kalau bisa milih, aku mau dimarah-marahin aja. Aku mau dibentak-bentak aja," aku menghapus air mataku dengan kasar, "tapi aku enggak mau didiamkan dan ditinggal pergi. Ini hukuman paling berat bagiku." Pandangan datarnya berubah menjadi melembut. Dia menarik tanganku lalu mengengamnya erat. "Kamu tahu, saya enggak mungkin bisa bertindak kasar sama kamu. Saya enggak mau membuat kamu tersakiti." "Tapi Mas tinggalin aku, membuat aku semakin tersakiti. Aku overthingking. Aku jadi menyalahkan diri sendiri. Aku nangis sendiri. Pokoknya aku tersiksa banget." Aku kembali menangis histeris mengingat apa yang telah aku lewati selama seminggu ini. "Mau apa?" aku menoleh menatapnya sehingya kedua mata kami saling bertemu, "kamu mau apa?" ulangnya. "Aku mau dimaafin. Aku udah ngerasa dapat hukuman berat. Gimana caranya biar Mas maafin aku?" Mas Aarav menarikku lalu menjatuhkan kepalaku tepat di bahunya. "Kamu tahu kan saya protektif dan posesif?" aku mengangguk. "Saya enggak tenang kalau kamu masih berhubungan dekat dengan pria yang menyimpan rasa untukmu. Apalagi pria itu sempat melamarmu dan kalian sudah bertindak jauh." Aku hanya terdiam, menunggunya melanjutkan bicara. "Satu permintaan saya, kamu enggak usah berhubungan lagi dengan Fajar dalam hubungan apapun." "Dia bagian dari tim aku, Mas," ucapku tidak terima. "Ada tiga aspek yang perlu kita garis bawahi. Saya, Fajar, dan pekerjaanmu. Pilih dua dari tiga aspek itu." Pria ini benar-benar ya. Tanpa dijawab pun dia sudah tahu jawabannya. "Pekerjaanku dan Mas Aarav," dia tersenyum tipis sambil mengangguk, "tapi pekerjaanku butuh Fajar. Kami bisa professional dalam pekerjaan." "Enggak. Enggak ada. Kalau kamu pilih pekerjaanmu, tidak ada Fajar di dalamnya." Aku mendekat ke arahnya lalu menjatuhkan kepalaku tepat di dadanya. "Mas, kasih aku waktu," tanganku bergerak mengelus pipinya, "setidaknya sampai proyek perluasan lahanku selesai. Setelah itu, aku berhentikan Fajar." Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a. Di k********a kalian bisa mendapatkan 1. Ebook Lengkap (59 part) 2. Bagian Tambahan Ekslusif di karyakarsa Sudut Pandang Aarav (10 part) Sudut Pandang Dhara (3 part) Sudut Pandang Fajar (1 Part) Sudut Pandang Penulis (3 Part) Hanya dengan Rp44.000 kalian bisa akses semua partnya. Cara belinya: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Mr. Scary and Our Journey _ TheDarkNight_) 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD