Accident

1572 Words
Ciitt--Brakk--- "Aduh mampus gue!" "Kamu bisa naik motor nggak sih?!" "Ah ma-maaf Pak," ucap Anyelir dengan menundukkan kepalanya. Rasanya seperti mimpi, tapi ia bisa merasakan jika tubuhnya gemetar dan sekarang ada laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya. Ia tidak berani menatap laki-laki itu, jantungnya berdegup kencang, merasa bersalah dan juga takut. Tapi untung saja ia tidak apa-apa. "Ganti rugi!" "Mana punya duit gue?" ucap Anyelir pelan. "Kamu nggak dengar apa kata saya?" "Maaf Pak. Tapi Pak saya nggak sengaja." Ya Allah, apa ini, ganteng banget. Ini orang? apa malaikat? "Karena nggak sengaja kamu itu bikin sepeda saya rusak! Lihat ini!" Tunjuk laki-laki itu pada bagian sepedanya yang penyok, "Penyok!" Bentakan laki-laki itu, mengembalikan kesadaran Anyelir. Entah, rasanya seperti terhipnotis setelah melihat wajah tampan laki-laki itu. Seperti tidak nyata tapi ini sungguh nyata, bukan mimpi. "Saya tadi--" "Ganti kerusakan sepeda saya!" bentak laki-laki itu, menyela perkataan Anyelir sebelum Anyelir selesai berbicara. "Tapi, saya nggak sengaja." "Ganti!" ucap laki-laki itu penuh penekanan dan dengan sorot matanya yang tajam. "Saya bilang saya nggak sengaja Pak!" ucap Anyelir yang mulai tersulut emosi karena laki-laki itu terus memintanya memberikan ganti rugi. "Ayo ke kantor polisi!" ucap laki-laki itu sembari menarik tangan Anyelir. "Saya nggak mau! Lagian juga cuma sepeda." tolak Anyelir sembari berusaha melepaskan tangannya. Enak saja main tarik-tarik, kalau nariknya ke KUA sih oke-oke saja, tapi kalau ke kantor polisi, big no! "Cuma sepeda kamu bilang? Kamu mau tau harga sepeda saya?" "Emang berapa?" "290 juta" "Mana ada sepeda doang harganya segitu. Jangan bohong deh, Pak! Mentang-mentang saya nabrak sepeda Bapak, terus Bapak mau meres saya?" ucap Anyelir tidak terima, mana mungkin ada sepeda seharga mobil. "Ayo ke kantor polisi!" "Saya nggak mau!" tolak Anyelir Anyelir menoleh ke belakang. Tapi nihil, tidak ada orang yang dia harapkan disana. "Mana sih bang Tara? Gue lagi kena masalah juga malah nggak muncul!" gerutu Anyelir "Makanya ganti rugi!" "Tapi saya nggak punya uang." jujur Anyelir "Kalo gitu ayo ke kantor polisi!" "Saya nggak mau!" "Kalo kamu nggak mau ke kantor polisi sama saya, biar polisinya yang ke sini buat seret kamu ke penjara!" Gila, baru aja wisuda masa harus dipenjara. Amit-amit deh! "Pak, saya baru aja wisuda masa harus dipenjara. Amit-amit deh!" "Bukan urusan saya!" "Oke, Saya harus ganti rugi berapa?" tanya Anyelir "100 juta." jawab laki-laki itu "Pak, jangan manfaatin saya juga dong! Cuma sepeda masa minta ganti rugi 100 juta!" ucap Anyelir tidak terima. "Kamu bilang cuma sepeda?" tanya laki-laki itu. "Ya emang sepeda, kan? Emang ini apa? Sapi?" kesal Anyelir "120 juta!" "Bapak meres saya?" "140 juta" "Gila nih orang." ini orang tukang gandain uang apa gimana sih? "160 juta" "Rentenir" "180 juta" "Saya nggak mau ganti rugi! Tadi 100 juta kenapa sekarang jadi 180 juta?" tolak Anyelir. Uang 100 juta saja tidak punya apalagi 180 juta. "Pertama, kamu panggil saya Bapak. Apa saya kelihatan kaya bapak-bapak? Apa saya kelihatan setua itu?" tanya laki-laki itu dengan sorot mata tajamnya. Anyelir menggelengkan kepalanya, laki-laki didepannya itu memang terlihat masih muda, terlihat seumuran dengan kakaknya. "Bagus, kalau sampai kamu ngangguk bakal saya jadiin 200 juta." Anyelir menganga mendengar jawaban laki-laki itu. Apa menurutnya uang 200 juta sama seperti uang 200 rupiah untuknya? Seenak jidatnya menggandakan uang! "Kedua, kamu bilang saya meras kamu. Ketiga, kamu ngatain saya gila. Keempat, kamu sebut saya rentenir. Mana ganti rugi!" lanjut laki-laki itu. "Saya nggak mau kalau 200 juta!" tolak Anyelir "Ya udah 100 juta." "Saya nggak punya uang sebanyak itu. Lagian itu cuma sepeda." sanggah Anyelir. Bagaimana bisa hanya sepeda ia harus memberikan uang ganti rugi 100 juta? Emang otak lo ikutan penyok juga? Laki-laki itu menaikkan kedua alisnya. "Kamu udah tau harga sepeda saya, ganti rugi sekarang!" ucap laki-laki di depan Anyelir dengan menekankan kata sekarang. Uang dari mana 100 juta Solimi! Lo kira gue mesin uang? Ingin rasanya Anyelir mengatakan itu tapi Mr. Pengganda Uang ini pasti langsung menelannya. "Saya nggak punya uang sebanyak itu!" bekerja saja belum, bagaimana ia bisa mendapatkan uang 100 juta? Butuh berapa bulan Anyelir harus kerja untuk mengumpulkan uang sebanyak itu? "Kamu punyanya berapa?" tanya laki-laki itu. Anyelir merogoh sakunya dan menemukan selembar uang. "10.000" ucap Anyelir "Mana SIM kamu?" tanya laki-laki itu dengan menengadahkan tangannya. Anyelir hanya terdiam. SIM? Surat Izin Menikah? ada. Kalau Surat Izin Mengemudi, jelas tidak ada! mengendarai motor saja tidak bisa, bagaimana ia bisa mempunyai SIM? "Jangan bilang kamu nggak punya SIM!" Anyelir menggelengkan kepala. Ia emang tidak punya SIM C. Laki-laki itu memijat pelipisnya. "KAMU! Nggak punya SIM kenapa bawa motor!" bentakan laki-laki itu membuat jantung Anyelir semakin berisik. Ayolah jantung, jangan overreaction. Dibentak orang ganteng itu rasanya memang n*no-nan*, berjuta rasanya. "KTP kamu!" Anyelir mengulurkan KTP-nya pada laki-laki itu. "Oke ini jadi jaminan." "Jangan dong pak! eh mas." ucap Anyelir "Kalau kamu mau KTP kamu kembali, cepat ganti rugi!" ucap laki-laki itu dengan tatapan tajamnya dan penuh penekan di setiap kata yang ia ucapkan. "Tapi jangan bawa KTP saya juga." mohon Anyelir "Terus kamu mau saya bawa motor kamu sebagai jaminan?" Anyelir membelalakkan matanya. Bisa mati dia jika pulang tanpa membawa motor mamanya. Mending Anyelir tidak usah pulang sekalian. "Jangan!" tolak Anyelir tanpa ragu. Mending KTP-nya saja yang menjadi jaminan dari pada ia ragu harus pulang atau kabur. "Ini kartu nama saya, kamu bisa hubungi saya secepatnya untuk ganti rugi." "1 minggu, atau Sabtu depan bakal ada polisi yang jemput kamu." lanjutnya lalu pergi setelah memberikan kartu namanya pada Anyelir. "1 minggu? Gue harus ngumpulin uang 100 juta? Hell no! Lo kira gue punya pohon duit? Punya tambang emas? Mak gue nanam biji berlian? Punya Doraemon? Kalau pun gue punya Doraemon, gue mending nyuruh dia buat ngeluarin pintu kemana saja biar gue bisa kabur dan ngilang dari hadapan lo anjrit! Ga ada akhlak lo anjrit!" gerutu Anyelir. Masa bodo dengan orang-orang di sekitarnya yang memperhatikannya. "Arjuna Melviano." ucap Anyelir membaca nama yang tertulis pada kartu nama pada genggamannya itu. "Orangnya cakep, namanya juga cakep, tapi akhlaknya nggak ada cakep-cakepnya!" kesal Anyelir "Gue juga kenapa sih! Sial banget!" kesal Anyelir, melihat botol kaleng di sampingnya. Anyelir langsung menendangnya tanpa berfikir dua kali untuk melampiaskan kekesalannya. "ADUH!" Anyelir langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara. "Raffles! Motor Mama!" ucap Tara yang berlari sembari tangan kirinya memegangi jidatnya karena terkena kaleng yang ditendang Anyelir dan tangan kanannya menenteng plastik belanjaan. Anyelir sedikit lega, karena orang yang terkena kaleng itu adalah kakaknya sendiri bukan orang lain. Karena kalau sampai orang lain, masalahnya pasti semakin rumit. "Lo nggak apa-apa, kan?" tanya Tara panik. "Nggak apa-apa jidat lo! Gue hampir aja dipolisiin!" balas Anyelir "Kok bisa?" "Panjang ceritanya!" "Ini lagi, motor mama lo rusakin!" ucap Tara Anyelir hanya diam, tidak menjawab sepatah katapun. "Kok bisa kaya gini?" tanya Tara "Tadi gue mau parkirin motor." jawab Anyelir "Terus?" balas Tara "Mau belok tapi nggak bisa, gue gas tapi kekencengan terus nabrak." jelas Anyelir "Lo nabrak apa?" tanya Tara "Sepeda," jawab Anyelir "Sekarang orang yang punya sepedanya mana?" tanya Tara "Udah pergi, lo sih lama! Ngapain aja sih di dalam?" kesal Anyelir. Kenapa kakaknya tidak datang di waktu yang tepat! Telat lo tuh solihin! "Gue tidur, belanjalah! Gue nungguin lo di dalam malah nggak masuk-masuk!" balas Tara Anyelir berdecak. "Ya udah ayo balik!" ajak Tara Mereka pun mengendarai motor menuju ke rumah. Bersyukur motor mama mereka masih bisa dinaiki, tidak rusak parah. "Assalamualaikum," ucap Tara dan Anyelir setibanya di rumah. "Waalaikumsalam," balas Mama, mendengar sang Mama membalas salam, Anyelir dan Tara menegang seketika. Apa yang akan terjadi setelah ini jika Mamanya tahu motor kesayangannya lecet. "Gimana latihannya? Nggak nabrak lagi, kan?" tanya Mama menggoda Anyelir. Anyelir dan Tara saling melempar pandangan. Tidak tahu harus menjawab apa. "Kok pada diam?" tanya Mama "Aku kebelet, mau ke kamar mandi dulu." ucap Tara lalu meninggalkan Anyelir dan Mamanya di ruang keluarga. Manik Anyelir membola melihat Tara yang malah meninggalkannya. Sialan, punya abang nggak ada gunanya! Ada jasa tuker abang nggak sih? "Maaf ya Ma," ucap Anyelir "Kok minta maaf, kenapa?" tanya Mama "Motor Mama," "Kenapa motor Mama?" tanya Mama mulai curiga ada yang tidak beres. "Nggak sengaja nabrak." jawab Anyelir dengan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Mamanya. "HAH!" mendengar itu Liona langsung keluar rumah ingin melihat keadaan motornya. "Astagfirullah Anyelir! Ini kenapa bisa kaya gini?" tanya Mama panik. "Tadi Anyelir mau parkir, mau belok nggak bisa. Terus Anyelir gas, tapi kekencengan. Jadi nabrak Ma." jelas Anyelir "Nabrak apa?" "Nabrak sepeda," "Terus sepedanya gimana?" tanya Mama Ini mak gue bukan sih? Anaknya nabrak bukannya anaknya yang ditanyain malah mobil orang yang ditanyain. "Penyok" "Terus kamu ganti rugi?" "Ya enggaklah, Anyelir punya duit dari mana Ma buat ganti rugi?" ucap Anyelir terus terang. "Aduh, kamu tuh bener-bener ya!" ucap Liona lalu meninggalkan Anyelir sendirian di depan rumah. "Anyelir!" panggil Mama "Iya Ma," mendengar namanya dipanggil, Anyelir pun langsung masuk ke rumah. "Tadi ditinggalin, sekarang dipanggil, dasar emak-emak." gerutu Anyelir "Kenapa Ma?" "Telpon bengkel! Suruh ambil motor Mama! Mama mau ke tempatnya Tante Devi dulu, anaknya abis sunatan." "Iya Ma" balas Anyelir "TARA!" teriak Mama memanggil Tara dari lantai bawah. "Iya Ma?" jawab Tara "Anterin Mama ke tempatnya tante Devi!" "Yah Ma, baru juga log in." jawab Tara Sialan ya lo Bambang! Bukannya belain gue malah asik-asik nge-game! "Ohh, mau kamu Mama sunatin lagi? biar samaan sama David, anaknya Tante Devi?" "Ma, dia kan masih SD." ucap Tara dengan menunjukkan wajah melasnya. "Emang ada larangan kalau udah kerja nggak boleh sunat?" tanya Mama "Ya...enggak, masa Tara sunat dua kali?" jawab Tara "Ya udah makanya ayo buruan, anterin!" ucap Mama
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD