Indra untuk Iris

577 Words
Waktu berjalan begitu cepat dan masa kanak-kanak mulai habis, aku mulai beranjak menuju remaja, ah tidak, mungkin masih lama hanya saja aku tumbuh terburu-buru agar bisa melakukan apapun sesuka ku dan bergerak bebas kesana kemari tanpa takut pada apapun. "hei Ris" sapa anak laki-laki berambut ikal padaku. "hei, ada apa?" tanya ku sambil menatap manik matanya "main bola yok" ajaknya tersenyum. "gak ah, aku mau baca buku" tolak ku memelas. "yah gak seru ah" dia berucap seolah masih berusaha keras kepala agar aku berubah pikiran. "besok aja deh" tolak ku lagi sambil tersenyum. "yaudah besok janji ya?" ucapnya sambil memajukan jari kelingking kanannya pada ku. "iya, janji" balasku menautkan jari kelingking kami. Setelah itu kami pergi ke tempat yang berbeda dengan kesibukan masing-masing. Aku membaca buku di perpustakaan, aku suka melakukannya karena bagiku ini menenangkan tanpa gangguan dari siapapun, sedang anak laki-laki tadi sudah berlarian dari ujung utara ke ujung selatan lapangan bola kaki. Aku penasaran bagaimana keadaan di luar, aku mulai mengintip ke jendela kaca di sudut perpustakaan ini 'ramai sekali' batin ku setelah melihat semua siswa-siswi berada di lapangan, ada yang sambil makan, tertawa dan sekedar duduk di bawah pohon rindang sambil menonton pertandingan bola. Kemudian aku merasa bosan berada di perpustakaan ini, lalu aku memilih untuk pergi mengambil buku baru dari lemari coklat dan pindah menuju ruang UKS yang tempatnya bersebelahan dengan perpustakaan, di sini ada 2 kasur yang tidak terlalu empuk tapi bisa mengundang kantuk. Aku kemudian duduk di salah satu kasur lalu membaca buku yang tadi ku bawa dari perpustakaan, menikmati setiap tulisan positif dari buku yang tidak terlalu tebal ini dan tanpa sadar aku mulai mengantuk hingga sejurus kemudian tubuhku perlahan setuju sepenuhnya untuk tidur, buku itu terjatuh dari tangan ku dan tanpa peduli apa yang akan terjadi selanjutnya; aku menutup mata ku, memilih untuk menghabiskan jam olahraga dengan tidur di kasur UKS. ... "Hei Ris" Aku terbangun setelah tubuhku diguncang hebat oleh seorang perempuan berambut ikal... "ah Putri" ucapku lirih lalu berusaha duduk dengan sebagian pikiranku masih di alam mimpi. Seorang perempuan kurus, bertubuh tinggi dan berkulit coklat dengan rambut yang ikal berdiri di depan ku, Anastasia Putri namanya, gadis manis yang sangat pintar ini sudah setahun terakhir menjadi sahabat ku. "bukannya olahraga malah turu" ucap Putri sambil memberi sebotol air mineral padaku. "terima kasih" aku mengambil air tersebut lalu meneguknya perlahan. "ayok beli chicken" ajak Putri padaku "ayok, tapi boleh kita ke kelas dulu?" tanya ku padanya. "aku mau letakkan buku ini ke tas dan mengambil uang jajan" lanjut ku menjelaskan pada Putri. "boleh" jawab Putri setuju. Akhirnya aku dan dia pergi dari ruang UKS yang serba putih ini menuju ruang kelas yang berjarak 10 meter. Baru sampai di depan pintu seseorang berkulit putih sudah menghadang kami. "Ris, tadi Indra nanyain kamu" ucapnya pada ku yang baru saja sampai di hadapannya. Putri yang sedang ku gandeng menanggapi hal tersebut; "Indra siapa? Anak sebelah?" Tanya Putri menyakinkan. "Iyalah emang Indra mana lagi?" Joni menjawab setengah kesal. Ya, Joni... Laki-laki tinggi, putih namun bergigi kuning dan kesabarannya setipis facial cotton. "ngapain?" tanya ku penasaran. "gak tau, dia cuman tanya kamu dimana ya karena aku gatau kamu dimana jadi aku jawab ngasal hahahah" jelas Joni diakhiri tawa tak jelas. Joni ini memang kerap membuat aku kesal, dia selalu menjawab setiap pertanyaan namun urusan jawaban akurat atau tidak tentu dia tidak peduli. "ah gitu doang, yaudahlah geseran dikit kami mau masuk" ucap ku menggeser dia untuk masuk ke kelas yang serba hijau ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD