14

1284 Words
Violet kembali ke apartemen sambil membawa dua paperbag besar yang berisi sepatu dan gaun yang Angela belikan untuknya. Perempuan itu baru saja hendak menekan password yang sampai sekarang belum ia ganti--masih tanggal pernikahannya dengan Darren--saat Darren tiba-tiba saja membuka pintu dari dalam. "Eh? Kau sudah pulang?" Violet membulatkan mata ketika menemukan Darren sudah berada di apartemen ketika matahari bahkan belum tenggelam. Lelaki itu sering kali sibuk dan biasanya dia baru kembali sekitar pukul delapan malam--atau bisa lebih cepat bila Violet memintanya. "Iya. Sekarang aku mau pergi lagi." Darren berkata sembari menatap Violet dari atas ke bawah. "Kau habis berbelanja?" Violet mengangguk. Tampaknya, Darren lagi-lagi tak membaca pesan yang Violet kirimkan. "Kau mau pergi lagi?" tanya perempuan bermata abu itu kala Darren tampak keluar dengan pakaian kasual--dia pasti sudah mandi karena Violet bisa mengendus aroma harum dari sabun yang sering Darren pakai. Darren menyisir rambut cokelat gelapnya yang tak dipakaikan gel dengan jari. Ia mengangguk singkat. "Iya. Aku harus pergi menemui Gladys karena ia sedang tak enak badan. Kau baik-baik di rumah, oke? Kalau ada sesuatu, panggil saja security di bawah." Violet baru saja mau membuka mulut ketika Darren sudah berbalik dan pergi meninggalkannya. Punggung lelaki itu perlahan menjauh sebelum akhirnya ia menghilang di balik koridor. Perempuan berambut panjang itu menghela napas. Ia melirik ke arah paperbag yang ia pegang dan tersenyum getir. Sepertinya kau sangat mencintai perempuan itu, ya, Darren? batin Violet bersuara. Perempuan itu merasa bodoh karena ia lagi-lagi ingin menangis karena perkataan Darren. Padahal, Darren sejak awal sudah meminta Violet untuk menjauh agar ia tak terluka, tapi Violet sendiri yang terlalu keras kepala. Ia tak mengira kalau jalan yang harus ia tempuh bisa sesakit ini. Violet masuk ke dalam apartemen. Ia menutup pintu dan seketika kakinya terasa lemas. Tubuh perempuan itu merosot dan ia mulai menangis tepat di pintu masuk. Tubuhnya bergetar dan isakkan kecil perlahan mulai terdengar. Darren ... lelaki itu adalah sesosok manusia yang mulai Violet cintai. Mungkin, dia bukan pria baik yang membuat Violet tersenyum setiap saat, tapi dia adalah orang yang diam-diam membelikan Violet obat dan meletakkannya di atas nakas ketika Violet flu waktu itu. Darren adalah pria yang mematikan pendingin ruangan tanpa disuruh saat Violet baru saja keluar dari kamar mandi. Dia tak ingin Violet kedinginan, padahal waktu itu ia sedang bersantai di kamar. Darren adalah pria pertama yang memasakkan Violet sesuatu yang membuat Violet merasa ia menjadi wanita yang paling spesial meski untuk sesaat. Darren juga yang mengelus rambut Violet ketika Violet memintanya--karena Violet tak bisa tidur dan sentuhan pria itu membantunya untuk terbebas dari insomnia. Darren juga yang memeluk Violet kala ia melakukan acara peringatan beberapa waktu yang lalu. Ia menguatkan Violet dengan setiap sentuhan yang ia berikan. Violet ... mencintai lelaki itu. Violet tahu cintanya mungkin tak akan terbalas karena Darren sudah memiliki perempuan lain, tapi ... bodohnya Violet terus berharap. Violet selalu salah paham dengan setiap tingkah manis Darren. Ia kira, perlahan hati Darren sudah mulai tergeser sedikit demi sedikit. Namun, tampaknya dia ... lagi-lagi salah? Apakah harapan itu sebenarnya tidak ada sejak awal? Apakah sebenarnya Darren hanya baik pada Violet karena ia kasihan? Sekarang, Violet serasa ingin menangis hanya karena Darren pergi meninggalkannya demi Gladys--padahal Violet hampir setiap minggu mengalami ini, tapi ia tak pernah terbiasa. Tangan Violet menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya. Ia selalu begini setiap kali Darren tak pulang. Bayangan kalau lelaki itu memeluk Gladys ataupun menyentuh rambut perempuan itu membuat hati Violet remuk. Ia terlalu bodoh dan Violet sejujurnya mulai lelah dengan rasa sakit ini. Ia tahu ia baru saja memulai perjuangannya, tapi ... ia butuh istirahat. Menerima rasa sakit tanpa henti tidak bisa ia lakukan. Ia bukan manusia superpower. Ia hanya seorang wanita yang kekurangan kasih sayang dan berharap cintanya bisa terbalas suatu hari nanti. Kisah hidup Violet penuh dengan kesedihan dan sekarang ... Violet ingin terbebas. Sejenak saja ... dia ingin berlari dari kenyataan. Dan ia butuh seseorang untuk membantunya. Tangan Violet bergerak menuju tas kecil yang memang ia bawa sejak kuliah tadi dan ia mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Perempuan itu menekan sebuah nomor yang baru ia simpan hari ini. Seseorang yang ia rasa tak memiliki niat jahat padanya. Tempat baru di mana ia bisa bercerita sesuka hati, sebuah pundak yang baru ia temukan hari ini. Marvin. ** "Darren!" Seorang perempuan dengan dress merah menyala memeluk pria yang tengah kebingungan di depan pintu. "Gladys? Kau bilang kau sakit?" Darren mengerutkan dahi kala ia menemukan Gladys tampak amat sangat sehat di sana. Perempuan itu bahkan memakai pakaian yang terkesan tipis di saat udara sudah semakin dingin. Omong-omong, Gladys bilang sebenarnya suaminya sudah tahu kalau ia berselingkuh dan lelaki tersebut juga memiliki simpanan--jadi sebenarnya dia tidak pergi ke luar kota untuk bekerja, melainkan menemui perempuan lain di sana. Hubungan Gladys dan suaminya sangat rumit. Mereka tak bisa berpisah meski tak lagi saling mencintai. Suaminya yang bernama Edward jarang pulang ke rumah dan lebih sering berkeliaran bila dia berada di New York. Anak mereka yang bernama Andrew bahkan lebih senang memanggil Darren dengan sebutan Papa, dibanding dengan menyebut Daddy aslinya demikian. Entah Edward tahu atau tidak soal Darren, yang pasti Darren tak peduli. Ia hanya ingin bersama Gladys terlepas dari status perempuan itu. Lagi pula, Darren juga sudah akrab dengan Andrew. Dia anak yang baik dan Darren selalu merasa menjadi kepala keluarga setiap kali berkunjung kemari. "Aku berbohong." Gladys menjulurkan lidahnya. "Aku hanya ingin kau datang. Kau tahu, belakangan ini kau terlalu sibuk dengan istrimu. Aku tak suka." Ekspresi wajah Darren perlahan menghangat karena perkataan Gladys. Perempuan itu membentangkan tangannya dan Darren langsung saja memeluk dan mengecup dahi Gladys berkali-kali. "Kau nakal sekali, aku bahkan mengebut kemari karena khawatir dengan kondisimu, tapi kau malah mempermainkan aku." "Maaf." Gladys terkikik geli. Ia menyentuh wajah Darren dengan kedua tangan. "Aku merindukanmu." "Aku juga." Darren menyentuh pipi Gladys dan mengecup bibir perempuan itu lembut. "Aku merindukanmu sampai mau gila rasanya." Gladys menggelengkan kepala sambil merengut. "Bohong. Kalau kau merindukanku, kau pasti sudah kemari. Belakangan ini kau terlalu sering di apartemenmu. Apa sekarang kau sudah mencintai istrimu dan mulai melupakan aku, hm?" Darren tersenyum melihat ekspresi kesal Gladys. "Aku? Kau serius berpikir kalau aku mencintai dia?" Gladys mengangguk yakin. "Aku merasakannya, Darren. Kau bahkan waktu itu tidak mau kemari setelah tahu dia flu. Aku kesal sekali kalau mengingatnya." "Aku tidak mencintainya, Sayang. Apa kau puas?" Darren menyeringai dan menyingkap rambut Gladys panjang ke belakang. "Aku bahkan tak berpikir kalau aku bisa mencintai dia." "Aku akan menganggap itu sebagai kejujuran saat ini karena aku tak mau merusak suasana." Gladys menarik Darren masuk dan tersenyum lembut. "Tapi ... setidaknya berjanji satu hal padaku Darren." Darren melangkah masuk dan menutup pintu. Suasana di rumah Gladys terasa sepi karena sepertinya Andrew sedang tidur. "Apa itu?" "Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, bahkan di saat ... kau mulai mencintainya." Darren terdiam. Alisnya naik perlahan sebelum kemudian ia terkekeh. "Belakangan kau sangat kekanakan. Aku kan sudah bilang kalau aku tidak mencintainya." "Berjanji saja. Setidaknya janjimu bisa membuatku sedikit tenang. Aku bahkan tak rela membayangkan kau bisa mencintai perempuan lain, terlebih bila orangnya seperti istrimu itu. Bila dibandingkan dari sudut mana pun, dia memang tidak ada apa-apanya dariku. Dadanya rata, tubuhnya lebih pendek, dia juga tak seksi. Aku berani jamin kalau dia tak akan bisa memuaskanmu seperti yang aku lakukan." "Kenapa kau begitu berapi-api? Apa kau cemburu berat padanya?" Darren tertawa karena Gladys tampak marah. Gladys kembali cemberut. "Aku tidak cemburu karena dia tidak selevel denganku, tapi setidaknya tetap berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, Darren. Kau tahu ... aku hanya punya kau." "Aku berjanji." Darren mengangguk yakin. "Jadi, apa sekarang kita bisa berhenti membahas Violet?" Karena terus membicarakannya membuatku semakin merasa bersalah, batin Darren menambahi. "Oke!" balas Gladys setuju. "Mari berhenti membicarakan jalang itu karena aku juga sudah muak," gumamnya kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD