24

1751 Words
Ketika sudah sampai di lantai dansa, Violet menyadari bahwa perkataan Marvin adalah benar. Tidak ada orang yang menatapnya aneh karena berduaan dengan lelaki lain di sini. Semua orang larut dalam alunan musik lembut dan gerakan mereka. Sebenarnya, Violet menangkap sahabatnya Angela juga sedang berdansa dengan Seth, tapi mereka terlalu asik dengan dunia sendiri, jadi Violet tak ingin menganggu. "Ready?" Ucapan Marvin itu membuat fokus Violet kembali. Lelaki itu menyentuh pinggul Violet dan memangkas jarak di antara mereka, lalu Marvin mengarahkan tangan Violet untuk diletakkan di dekat bahunya. Tak sampai di sana, Marvin juga menyentuh tangan Violet yang satunya dan menautkan jari-jari mereka di udara. Dengan jarak setipis ini, Violet benar-benar merasa dekat dengan Marvin. Netra abu lelaki itu menatapnya lembut, hangat, dan ... itu membuat Violet merasa tenang. Perlahan, tapi pasti, Marvin menuntun Violet untuk bergerak. Dengan kaku, Violet berusaha menyeimbangi langkah Marvin. Beberapa kali, perempuan itu tak sengaja menginjak kaki Marvin karena gerakannya yang sangat tidak fleksibel. Namun, Marvin tak marah. Senyum lembut masih menghias wajahnya. Perlahan, dia membuat Violet berputar. Rasanya Violet sedang masuk ke dalam negeri dongeng dengan gerakan ini. "Aku bisa membuktikan kalau aku serius." Marvin bergumam pelan. Sangat-sangat pelan hingga rasanya ia nyaris berbisik. Namun, karena jarak ia dan Violet yang sangat dekat, perempuan itu jadi masih bisa mendengar suaranya. "Tapi aku perlu izinmu. Aku tidak mau membuatmu marah." "Izin untuk?" Violet berkata sambil bergerak perlahan. Violet benar-benar melupakan kekhawatirannya tentang bagaimana pendapat orang lain bila melihatnya berduaan dengan Marvin. Perempuan itu juga tidak peduli soal Darren--karena toh suaminya itu juga tak peduli dengannya. Bersama Marvin, Violet merasa dirinya berada di tempat lain. Tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri. Tempat yang membuatnya merasa nyaman dan tenang. Ia merasa dijaga dan dilindungi. Meski ia meragukan keseriusan Marvin, tapi ... setidaknya ia bisa berbahagia untuk sejenak bila ia bersama lelaki ini. Marvin tersenyum. Matanya itu begitu indah, terlebih ketika tersorot lampu. Violet yakin, ada begitu banyak wanita yang iri padanya karena berhasil berdansa dengan pria ini. Lelaki yang pandai memperlakukan wanita, dia bisa membuat Violet meleleh dengan setiap kata yang ia keluarkan. Karena itu ... dia berbahaya, tapi ... Violet mulai tak bisa lepas darinya. Lelaki bermata abu itu mengeratkan pelukannya pada pinggul Violet. Semakin menarik perempuan itu mendekat hingga tak ada lagi jarak yang mengikis mereka. Jantung Violet berdebar seribu kali lebih kencang ketika ia merasakan deruan napas Marvin yang terasa di tengkuknya. "Bolehkah aku?" Marvin bertanya sambil memandangi bibir Violet dengan tatapan dalam. Violet membeku. Otaknya tiba-tiba tidak bisa bekerja dengan baik. Mungkin karena jantungnya berdebar dengan begitu keras, jadi darahnya terlalu cepat mengalir. Entahlah, Violet bahkan tidak tahu apa yang ia pikirkan. Perempuan itu benar-benar merasa mati rasa. Merasa tidak ada penolakan yang keluar dari mulut Violet meski dia terkejut, Marvin memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya. Perlahan dan perlahan. Perempuan bermata abu itu merasa tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia memejamkan mata dengan kaku ... sampai kemudian bibir Marvin benar-benar mendarat di bibirnya. Awalnya, hanya kecupan biasa. Bibir mereka hanya saling menempel tanpa ada pergerakan. Violet memberanikan diri untuk membuka mata ketika ini terjadi dan ... Marvin ternyata sedang menatapnya! Astaga! Violet langsung buru-buru mendorong Marvin dan melepaskan ciuman mereka. Wajah perempuan itu berubah menjadi semerah tomat. "A-apa-apaan? Ini yang kau sebut membuktikan perasaanmu?" tanya Violet gugup. Marvin menyentuh tangan Violet dan kembali memeluknya. Dengan begitu mudah--karena tubuh Violet yang terasa sangat lemas--lelaki itu mengembalikan posisi mereka menjadi seperti awal lagi. "Aku menyukaimu." Marvin berkata dengan suara yang sangat rendah. Violet mematung. Ia sering mendengar pengakuan dari Marvin. Lelaki itu bahkan selalu menyatakan cinta di setiap pertemuan mereka, tapi Violet tak bisa terbiasa. "Aku serius Violet." "Aku--" Marvin kembali menarik Violet dan menciumnya, lagi! Namun, kali ini tidak hanya kecupan. Lelaki itu dengan berani bermain di lidah Violet. Posisi mereka yang berada di agak sudut membuat tidak banyak perhatian terletak di sini dan jujur ... Violet mulai menikmati permainan Marvin. Ini ciuman pertama Violet. Ya, dia memang pernah mencium Darren, tapi itu hanya sekadar kecupan. Ia tidak pernah sampai benar-benar melakukan yang lebih dari itu ... sampai hari ini. Manis. Rasanya manis sekali. Violet tidak pandai menggambarkannya dengan kata, tapi harus ia akui, Marvin memang pandai melakukannya. Ketika Violet baru saja merasa bahwa ia terbang ke langit seribu, ciuman itu tiba-tiba saja terlepas dengan kasar. Jeritan orang-orang terdengar histeris kemudian. Marvin, tiba-tiba lelaki itu tidak berada di depan Violet lagi. Dia jatuh ke lantai. Tersungkur dengan bibir yang berdarah. Violet menutup mulutnya terkejut dan menoleh, menemukan Darren berada di sana dengan kilatan mata marah. Bagus. Sekarang semua perhatian terfokus pada mereka. Suara musik berhenti diputar. Violet benar-benar merasa malu dan merasa bersalah! Astaga! Apa yang baru saja aku lakukan?! "b******n!!!" Darren mengepalkan tangannya dan langsung menarik kerah Marvin yang masih tersungkur di lantai. Lelaki itu menghujamkan banyak bogem ke wajah Marvin yang membuat Violet dan beberapa orang lain menjerit. Violet terhenyak. Dia tidak bisa bergerak. Otaknya kosong. Tiba-tiba, dunia serasa berhenti berputar. Semuanya berlalu dengan begitu cepat. Marvin dipukul habis-habisan oleh Darren, sebelum kemudian beberapa security memisahkan mereka. "b******n! APA YANG BARU SAJA KAULAKUKAN DENGAN ISTRI SAHABATMU SENDIRI, HAH?!" Hanya itu kalimat yang Violet dengar, karena setelah itu dia hanya bisa menyaksikan pertarungan satu arah tanpa suara--karena hanya Darren yang menyerang dan Marvin tidak membalas. Telingnya berdenging. Violet juga tidak tahu mengapa ia begini. Violet merasa dirinya benar-benar tak berdaya karena ia hanya menangis tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menolong Marvin. Ketika keduanya sudah dipisahkan, Darren tiba-tiba memaksa para pria berbaju hitam itu untuk melepaskan tubuhnya--setelah ia sudah agak tenang. Dan permintaannya itu dikabulkan--tapi mereka semua masih menaruh fokus pada Darren. Dengan langkah angkuh dan wajah yang jelas menggambarkan emosi, Darren tiba-tiba menyentuh tangan Violet dan menariknya keluar dari ballroom. Semua orang memandangi mereka dengan tatapan penasaran, sedangkan Violet dibawa masuk ke dalam salah satu ruangan hotel yang kosong, setelah Darren menyeretnya ke resepsionis terlebih dahulu untuk menyewa satu ruangan--meski hotel ini adalah miliknya, tapi Darren membutuhkan kartu akses untuk masuk ke dalam ruangan. Jantung Violet berdebar. Dia benar-benar merasa bersalah karena berciuman dengan sahabat Darren sendiri di pesta anniversary perusahaan lelaki itu. Violet ... tidak bisa menolak Marvin. Semuanya terjadi begitu saja dan ... sejujurnya, ia tidak menyesal, meski ia memang merasa bersalah. "Apa yang kaulakukan?" Violet bertanya dengan suara bergetar kala ia dan Darren sudah masuk ke dalam kamar dan lelaki itu mengunci pintu. "Harusnya aku yang bertanya, kaupikir apa yang kau lakukan?" Darren maju. Dia mengikis jarak di antaranya dan Violet. Tatapan tajam mata biru itu membuat Violet terintimidasi, jadi secara perlahan ia mundur dan terus mundur. "Berciuman dengan Marvin, huh? Aku tidak tahu kalau kalian sedekat itu. Atau, kau memang selalu semurah itu? Apa jangan-jangan kau sudah tidur dengannya? Begitu?" Jantung Violet serasa ditusuk dengan pisau karena perkataan Darren. Perlahan, matanya terasa memanas dan tidak butuh waktu lama, dia menangis. "Jadi, bagimu aku semurah itu, ya?" "Kalau kau tidak semurah itu, kau tidak akan berani berciuman dengannya! Dia itu sahabatku! Sahabatku! Dan kau istriku! Apa kau gila?!" Darren berkata dengan nada tinggi. Persetan dengan air mata, kali ini ia tidak akan luluh. "Aku ... aku minta maaf." Violet berkata dengan nada rendah. "Aku tidak bermaksud untuk melakukannya, tapi--" "Aku tidak mau dengar apa pun. Aku tidak akan menerima alasanmu." "Tapi kau bilang aku bisa bersama dengan pria lain, karena kau tidak mencintaiku!" balas Violet kesal karena Darren tidak memberikannya kesempatan. "Aku mengubahnya." Darren berkata dengan suara yang sedikit lebih tenang daripada tadi. "Aku ingin mengubah perkataanku yang itu." "A-apa maksudmu?" Violet merasa tubuhnya tak bisa lagi bergerak karena ia sudah berada di sudut dan punggungnya telah menyentuh dinding. Darren, ada sebuah sorot di mata pria itu yang membuat Violet merinding. "Mulai sekarang, kau hanya milikku." Darren menarik tubuh Violet dan membantingnya ke atas ranjang. Lalu, tanpa memberikan Violet kesempatan untuk bergerak, dia menimpa Violet dan langsung mencium bibir perempuan itu. Kasar. Darren sangat kasar. Berbeda dengan ciuman Marvin yang penuh kehati-hatian hingga membuat Violet melayang, Darren justru berlaku sebaliknya. Dia tidak membiarkan Violet menolak. Setiap kali perempuan itu berusaha berontak dan berteriak, Darren malah memanfaatkan kesempatan itu untuk menjelajahi mulut Violet. Tangannya dengan lincah bergerak ke belakang punggung Violet, menarik ritsleting gaun Violet sampai ke bawah. Lalu, dengan pemaksaan ia membuka gaun Violet--hingga dress malang tersebut harus robek sedikit di beberapa bagian. Violet mulai lelah melawan. Tenanganya benar-benar tak sebanding dengan Darren. Perempuan itu tahu, kalau Darren saat ini sedang dikuasai oleh emosi. Lelaki itu mungkin saja akan melukainya, tapi dia tidak bisa melawan dengan baik. Karena itu, perlahan Violet mulai pasrah dan dia hanya bisa menangis. Darren berhenti mencium Violet dan berusaha menarik gaun Violet sampai lepas seutuhnya. Mendapat kesempatan untuk bicara, Violet perlahan bergumam, "Jangan seperti ini ... kumohon hentikan ini Darren ...." Darren tidak mendengar, atau tepatnya dia mengabaikan Violet. Dia bahkan dengan sadis langsung menarik pakaian dalam Violet bagian bawah dan mengarahkan kepalanya ke sana. Memainkan lidah di bagian intim Violet tanpa rasa jijik sedikit pun! Violet tidak tahu apa yang sedang Darren lakukan, tapi sungguh ini terasa gila! Perempuan itu merasa benar-benar geli dan ... apa ini? Nikmat? Tangis Violet perlahan berhenti dan tanpa sadar perempuan itu mengerang sambil mencengekeram sprei ranjang yang berwarna putih. Ini benar-benar terasa nikmat. Dia tidak bisa berhenti mendesah dan ... sekarang Violet tidak mau Darren berhenti! "Dont stop ... ah ... ahh, Darren!!" Violet tidak bisa membuka mata. Permainan Darren membuat netranya tanpa sadar terbuka dan tertutup tanpa bisa ia kontrol. Tidak butuh waktu lama setelah permainan gila Darren di bagian privatnya, perempuan itu tiba-tiba merasa tubuhnya menegang. Violet merasa seluruh tubuhnya bergetar dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak, ketika semburan cairan keluar dari bagian privatnya. Lemas. Violet tidak tahu apa yang baru terjadi padanya, tapi dirinya merasa lemas dan lelah. Ia keringatan dan telanjang, di saat Darren masih berada di sana dengan pakaian lengkap sambil tersenyum penuh kemenangan. Dia tampak bangga karena berhasil membuat Violet keluar untuk pertama kalinya. "Tidak peduli apa pun yang terjadi, kau adalah milikku dan akan kupastikan, kau tidak bisa lari dariku, Violet." Darren mengatakan itu dengan yakin sambil melepas pakaiannya. Violet merasa ia nyaris pingsan kala mendapati ... bagian privat Darren yang ... mengerikan! Ini pertama kali Violet melihat kelamin lelaki dan ... benda apa itu? Kenapa besar sekali?! "Jangan berharap aku akan berbaik hati padamu setelah perbuatanmu dengan Marvin. Karena seorang jalang, harus diperlakukan seperti seorang jalang. Kau paham maksudku?" Darren berkata dengan nada serius yang membuat Violet menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak setuju. "Ini hukuman karena berani membuatku cemburu," gumam Darren pelan sambil kembali melanjutkan aksinya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD