22

1157 Words
Keluarga besar Malferent--yang sebenarnya hanya terdiri dari beberapa orang; kakek, nenek, kedua orang tua Darren, dan Darren sendiri, serta Violet--ternyata melakukan beberapa pidato singkat untuk menyambut para tamu undangan, berkaitan dengan acara anniversary perusahaan mereka yang ke-60. Teddy, Papa Darren, baru saja selesai memberikan pidatonya--yang sama sekali tak Violet dengarkan karena pikirannya ada di tempat lain--saat suara riuh tepuk tangan terdengar membahana. Violet ikut menggerakkan tangannya, memberi sorakan atas pidato--yang bahkan ia tak tahu apa isinya--yang dilakukan oleh ayah mertuanya. Sedaritadi, ponsel Darren terus bergetar. Violet bisa merasakan getaran itu karena jarak mereka tak jauh, tapi, lelaki tersebut sama sekali tak berniat mengangkat telepon yang masuk. Violet tidak sempat melihat siapa yang menghubungi Darren di tengah pesta seperti ini, tapi karena mendapati respons Darren yang tampak tak peduli, maka pastilah dia--yang menelepon--bukan orang yang penting. "Sekarang kita sambut calon pewaris tunggal Malferent Group, Darren Malferent!!" seruan MC itu membuat Darren bergerak ke arah mik, tepat di tengah panggung, sedangkan Violet masih berada di belakang panggung, dengan keluarga besar Darren yang sedaritadi tak banyak bicara. Kakek Darren hanya memiliki satu anak, yakni Papa Darren dan Papa Darren juga hanya memiliki satu anak, yaitu Darren sendiri. Katanya keluarga ini kesulitan untuk memiliki anak, jadi rata-rata keturunannya adalah anak tunggal. Mereka--keluarga Malferent--hanya diharuskan untuk hadir di atas panggung ini, sedangkan yang berbicara hanyalah orang yang memiliki jabatan, seperti kakek Darren--yang tidak bisa berkata banyak karena ia sudah terlalu tua, Teddy, juga ... Darren sendiri. "Terima kasih untuk semua tamu yang telah memenuhi undangan kami untuk acara pesta anniversary Malferent Group yang ke-60. Saya tahu, kami masih memiliki banyak sekali kekurangan, terkadang, kami juga bisa melakukan kesalahan. Namun, seperti yang telah Papa saya bahas di pidato sebelumnya, kami selalu belajar dari pengalaman. Kami ingin terus berkembang sebagai perusahaan yang bisa membuat kerja sama menguntungkan dengan Anda-Anda sekalian yang hadir di sini. Kami tidak ingin mengecewakan. Karena itu, saya, sebagai calon pewaris sekaligus CEO dari Malferent Group berjanji akan terus bekerja keras. Mungkin langkah yang saya ambil tak akan mudah, tapi tak apa, saya tak akan menyerah, terlebih sekarang saya sudah memiliki seseorang di sisi saya ...." Violet merasa tiba-tiba semua orang langsung menatapnya--baik tamu undangan, maupun keluarga besar Darren yang masih berada di atas panggung--karena ucapan terakhir Darren yang terkesan menggantung. Perempuan berbola mata abu itu menegak salivanya kasar. Ia tiba-tiba jadi bertanya-tanya .... Apa aku cukup cantik malam ini? Apa penampilanku cukup memukau? Apa aku sudah membersihkan upilku? Apa ada belek di mataku? Atau sudah kubersihkan? Pertanyaan demi pertanyaan yang mampir ke benak Violet--yang beberapa bahkan tidak relevan--tiba-tiba saja sirna kala Darren tiba-tiba memutar tubuhnya dan menoleh ke belakang. Tatapan intensnya menuju ke arah Violet dan dengan perlahan, lelaki itu mengulurkan tangan. Seolah ... ia meminta Violet untuk berjalan mendekat dan menggengam jari-jarinya. Karena terlalu gugup berkat banyak orang yang menaruh perhatian padanya, Violet jadi merasa tubuhnya bergerak sendiri. Entah bagaimana, tiba-tiba kakinya berjalan mendekati Darren dan menggengam jari lelaki itu. Hangat. Terasa pas. Violet menyukainya. Darren menautkan tangan mereka menjadi satu dan mengecup punggung tangan Violet kemudian. "Perempuan ini." Darren melanjutkan perkataannya sesaat setelah ia mengecup singkat punggung tangan Violet. "Kalian mungkin sudah mengenal dia siapa. Dia istri saya, orang yang saya kasihi. Berkat dia, saya masih bisa bertahan sampai sekarang. Dialah orang yang menyelamatkan saya ketika badai datang. Dialah orang yang memeluk saya ketika salju turun." Beberapa orang menggumamkan kata-kata gemas karena perkataan Darren, sedangkan Violet? Perempuan itu kebingungan setengah mati. Hari ini, lelaki ini aneh sekali. Dia membelikan Violet kalung dan ... apa ini? Dia juga menyatakan pujian di depan banyak orang? Kenapa ini bisa terjadi di saat Darren bahkan tidak memasang ekspresi bahagia kala mereka menikah? Apakah Darren tulus atau ... dia berbohong agar mendapat simpati orang banyak? Atau mungkin dia sedang membangun image sebagai lelaki gentleman yang sangat mencintai istrinya, agar orang-orang menjadi segan? Ya, pasti begitu. Darren tak mungkin jadi begitu baik dengan Violet hanya dalam waktu semalam, setelah sebulan sebelumnya Violet berusaha untuk mendapatkan hatinya, tapi usahanya gagal. Lelaki itu mungkin hanya berusaha menarik simpati dan menghindari skandal. Violet yakin, itulah alasan Darren melakukan ini. Violet tidak terlalu mendengar lagi ketika suara riuh tepuk tangan kembali terdengar dan kali ini lebih keras. Darren sudah selesai berpidato dan lelaki itu masih menggengam tangan Violet, bahkan ketika mereka sudah bergerak menuju belakang panggung. Teddy dan Kayla menatapi Darren dengan pandangan bangga. Hanya dalam satu kalimat, Violet berhasil membuktikan bahwa dugaannya pada alasan di balik sikap Darren adalah benar. "Bagus. Sekarang mereka mungkin akan jauh lebih tertarik pada proyek baru kita, karena image barumu yang terasa fresh. Untuk saat ini, tolong jangan buat skandal. Kau tahu, kan, kalau proyek ini sangat penting untuk Malferent?" Teddy berkata pada Darren dengan suara kecil--yang sayangnya masih bisa didengar oleh Violet. Darren hanya mengangguk singkat tanpa ekspresi dan mereka kemudian diperbolehkan turun, setelah MC mengambil alih acara. Violet masih diam--dengan banyak sekali pikiran yang berkecamuk di benaknya--ketika ponsel Darren bergetar lagi, ternyata, orang yang menghubungi Darren masih belum menyerah. "Kenapa tidak diangkat?" Violet bertanya ketika Darren hanya bergeming sambil menatapi layar ponsel dengan pandangan datar. "Hm?" Darren menoleh ke arah Violet dan saat tubuhnya bergerak sedikit, Violet tanpa sengaja melihat siapa yang menghubungi lelaki itu. My Bae, Gladys. Ya, begitu tulisannya. Panggilan singkat yang membuat Violet tanpa sadar langsung bungkam. "Aku angkat sebentar, ya?" tanya Darren sambil melepaskan pegangan tangannya dari tangan Violet. "Kau boleh berkeliling ataupun berdansa bila mau, tapi jangan dengan sembarang lelaki karena tidak semua orang bisa dipercaya. Beberapa dari mereka berengsek. Atau, cari saja Angela. Aku yakin dia akan menjagamu di pesta ini, oke?" Violet hanya mengangguk singkat. Perasaannya campur aduk. Entahlah, Violet mungkin sudah sering merasakan ini--tidak diinginkan, dicampakan demi wanita lain, dan ditinggalkan oleh Darren. Namun, dia tidak pernah terbiasa. Bahkan, sakit itu tak berkurang sedikit pun. Hanya saja, perempuan itu kali ini berusaha untuk tegar--setegar yang ia bisa. Ia bersikap seolah apa yang tengah ia alami sekarang bukanlah masalah besar. "Jangan menangis. Jangan menangis." Violet mengerjapkan matanya cepat-cepat, berusaha menghapus buliran air yang sudah berkumpul di pelupuk. Dia memang cengeng kalau soal hal yang beruurusan dengan Darren. Padahal ia sangat jarang menangis ketika ia masih bersama dengan keluarga Barson--dan di kala itu, kebebasan Violet sangat dibatasi, tapi dia masih tidak menangis. Violet memandangi punggung Darren yang menjauh, sepertinya lelaki itu berjalan ke arah pintu masuk. Seorang pelayan lewat dan menawari segelas champaign yang langsung Violet minum dengan cepat. Mata abu perempuan itu mengerjap ketika ia merasakan sensasi aneh kala cairan kuning keemasan tersebut mengalir di tenggorokannya. Merasa cairan itu unik meski Violet tak terbiasa, perempuan itu memutuskan untuk bergerak ke arah pelayan dan mengambil segelas lagi, sebelum ia meminumnya dengan tegukan cepat--untuk kedua kali. "Kau tidak boleh minum secepat itu, Sayang." Violet hampir saja memuncratkan kembali minuman yang ia baru teguk, kala ia mendengar suara seorang pria yang terasa sangat dekat di telinganya. Perempuan itu menoleh dan mendapati seorang lelaki dengan setelan kemeja putih dan celana senada tengah menatapinya dengan pandangan hangat. "Marvin?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD