Marvin : Hey, sudah siap untuk ke pesta? Kau pergi dengan Darren, ya? Kuharap dia tidak jatuh cinta padamu setelah melihatmu memakai gaun itu. Kutunggu di sana. See you, Love.
Violet melengkungkan senyum ketika membaca pesan yang Marvin kirim. Sejak empat hari yang lalu, lelaki itu memang sering mengirimi Violet pesan singkat remeh temeh yang sekadar berisi--Goodnight, Goodmorning, apa yang kaulakukan?, kau tak sedang bersedih, kan? Aku sedang bekerja, dan hal yang sejenis itu.
Bagi Violet yang sepertinya nomornya bahkan tak disimpan oleh Darren, perlakuan Marvin yang seperti ini benar-benar terasa hangat. Entahlah, Violet memang sudah gila sepertinya. Empat hari yang lalu Marvin mencium dahinya dan setelah itu, Violet langsung kehilangan kewarasan. Sungguh ajaib.
ME : Aku sudah siap dan ya, aku pergi dengan Darren. Kau pergi bersama Angela?
Marvin : Tidak, aku membawa pasanganku. Kan undangannya untuk dua orang dan kami berdua sama-sama diundang, jadi kami memutuskan untuk pergi dengan pasangan masing-masing, dia dengan Seth dan aku ....
Dahi Violet berkerut. Jujur saja, ada perasaan aneh yang menelisik hatinya saat ia selesai membaca pesan Marvin. Violet tahu dia terbawa perasaan karena sikap Marvin yang kelewat manis. Violet juga tahu kalau hatinya mulai berpindah tempat. Namun, ia tidak pernah tahu kalau ketertarikan yang ia rasakan pada Marvin pada nyatanya terasa jauh lebih besar ... daripada yang pernah ia pikirkan.
Tangan Violet bergetar, ia ingin membalas pesan Marvin setenang mungkin, tapi ia merasa tak bisa. Tiba-tiba matanya terasa panas dan hatinya serasa diremas. Perasaan ini terasa sama dengan ketika Darren pergi dari sisi Violet hanya demi menemani Gladys. Cemburu. Ya, orang-orang menyebutnya begitu.
Marvin : Hei, kok tak membalas? Jangan bilang kau menangis karena cemburu aku membawa pasangan lain? Haha, aku hanya bercanda, Sayang. Aku sendirian, karena pasanganku sekarang sedang berstatus sebagai istri orang :(
Ada kelegaan yang luar biasa yang tanpa sadar Violet rasakan setelah ia membaca pesan Marvin. Perasaan yang gila, dia bahkan tak pernah membayangkan kalau ia akan jatuh cinta pada Marvin Frew, kakak dari Angela Frew, sahabatnya sendiri. Terlebih, sifat lelaki itu yang playboy dan agak narsis tidak pernah masuk ke dalam daftar karakteristik pria yang Violet idamkan. Sungguh ... Violet masih tak mengerti bagaimana bisa ia berakhir seperti ini.
ME : Kau gila, ya? Aku tidak menangis. Bersiap-siaplah, aku mau pergi sekarang. Bye.
Marvin : Oke, sampai jumpa nanti, Sayang
"Pria gila." Violet menggelengkan kepala ketika ia membaca pesan terkahir Marvin. Setelah kejadian di mana lelaki itu mencium dahinya, Marvin jadi lebih sering memanggil Violet dengan sebutan 'Sayang' sekarang. Bahkan, ia tak ragu-ragu dalam menambahkan emotikon hati hampir di setiap chat.
Mereka memang rutin saling mengirim pesan, meski awalnya terasa aneh, entah bagaimana sekarang Violet sudah terbiasa. Terkadang, obrolan ia dan Marvin bahkan lebih terasa seperti suami istri bila dibandingkan dengan pesan Violet dan Darren yang terasa dingin--karena Darren tak pernah membalas teks yang Violet kirim.
"Siapa yang gila?"
Violet terlonjak kala suara Darren terasa begitu dekat di belakangnya. Dengan segera, perempuan itu menyembunyikan ponselnya dan menoleh. Mendapati Darren sudah tampak sangat tampan di sana, dengan tuxedo putih yang membalut tubuhnya.
Jantung Violet berdegup lebih kencang ketika ia sadar, wajah ia dan Darren sangat dekat karena lelaki itu menunduk ke arah Violet--dia mungkin tadi berusaha untuk membaca pesan teks di ponsel Violet, tapi Violet dengan cepat menyembunyikan ponselnya.
"Kau chatting-an dengan siapa?" tanya Darren masih dengan posisi yang sama. Sangat dekat dengan Violet, sampai-sampai Violet bisa merasakan napasnya yang beraroma mint. "Sepertinya seru sekali."
Matanya dan mata Darren bertatapan. Tak bisa Violet tampik, Darren memang punya obisidian yang indah. Birunya mengingatkan Violet pada lautan yang membuat ia tanpa sadar jadi ingin pergi ke sana--karena seumur hidup Violet tidak pernah diajak liburan oleh keluarga Barson, sungguh menyedihkan.
"B-bukan urusanmu," balas Violet agak ketus, meski suaranya bergetar karena gugup. Perempuan itu segera memalingkan wajah dan menatap kaca--karena sedaritadi ia duduk di depan meja rias. "Sudah mau pergi sekarang?"
Darren menaikkan alisnya. Tidak senang dengan jawaban Violet yang terasa kasar. Sejak semalam, perempuan itu terasa berbeda. Dia tak lagi hangat dan ceria seperti biasanya. Darren ingin bertanya tentang apa yang terjadi, apakah ia sedang ada masalah? Tapi, lelaki itu mengurungkan niatnya, karena ia kira, ia bukanlah orang yang pantas untuk mencari tahu banyak hal soal kehidupan Violet, meski status mereka adalah suami istri.
"Iya, sebentar lagi." Darren memandangi Violet di kaca. Perempuan itu saat ini sedang duduk dan Darren berdiri di belakangnya. Cantik, Violet benar-benar tampak seperti putri dengan balutan gaun strapless berwarna putih yang dihiasi oleh pita ungu muda yang melingkar di bagian perut. Oh, jepitan kecil berbentuk mahkota yang diletakkan di atas kepala Violet juga menjadi pelengkap. Tadi Violet memang sudah di-makeup oleh makeup artis yang Darren sewa dan sungguh, perempuan itu benar-benar mengeluarkan auranya malam ini.
Darren terpesona.
"Aku tidak tahu kalau dresscode hari ini berwarna putih. Kalau saja bukan Angela yang membelikan gaun, pasti aku sudah salah memilih warna."
"Maaf, aku harusnya memberitahumu." Darren masih menatap Violet dari kaca, tapi perempuan itu menghindari pandangannya. "Lain kali bila ada pesta seperti ini, aku akan mengabarimu terlebih dahulu dan menjelaskan semuanya."
Violet mengangguk. "Aku harap kau melakukannya dan omong-omong, apa yang harus kulakukan di pesta nanti? Aku tak pernah pergi ke acara sebesar ini."
"Kau hanya perlu mengikutiku, atau sekali-sekali, kau juga bisa bersama dengan Angela. Akan ada banyak orang yang kusapa dan kau mungkin bosan, jadi ketika itu terjadi, kau boleh melepaskan pegangan dari tanganku dan mencari kesenangan sendiri, tapi jangan minum alkohol terlalu banyak, oke?"
Violet mengangguk lagi. Dia mencatat semua perkataan Darren di dalam otak. Sebenarnya, ini adalah kali pertamanya untuk keluar sebagai pasangan dengan Darren di hadapan orang banyak--setelah pesta pernikahan terakhir kali. Violet gugup, dia takut membuat Darrren malu. Dia juga takut Nyonya Adriana dan Tuan Randy marah bila ia melakukan sesuatu yang salah, tapi Violet akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan hal yang bodoh.
Perempuan bermata abu itu sedang melamun singkat kala ia tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang bergerak di lehernya. Ia mendongak dan membulatkan mata, saat ia melihat pantulan Darren dari kaca yang sedang berusaha memakaikan sebuah kalung mengkilat di leher Violet, dengan bandul kecil berbentuk bulan sabit.
Violet baru saja hendak bertanya saat Darren tiba-tiba berkata,
"Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan terbiasa dengan kehadiranmu, seperti sekarang. Ketika kita dijodohkan, aku merasa pernikahan ini terlalu bodoh untuk dijalani. Aku tak datang di malam pertama kita. Aku memintamu untuk berhenti bersikap sebagai istriku. Aku tidur dengan perempuan lain. Aku mencintai perempuan lain. Aku mengabaikanmu. Aku sudah terlalu banyak menyakiti kau, Violet."
Perempuan berbola mata abu itu tak mengerti tentang apa yang sedang terjadi sekarang. Mengapa Darren tiba-tiba memberikannya kalung, mengapa lelaki itu tiba-tiba mengatakan rentetan kalimat pengakuan dosa, Violet tak paham. Namun, hanya dengan mendengar sedikit kalimat Darren yang didasari oleh fakta tersebut membuat mata Violet memanas.
Dan tak butuh waktu yang lama, ia hampir saja menangis saat Darren melanjutkan kata-katanya.
"Aku adalah bastard yang menyakitimu dan kau masih bertahan denganku di saat kuperkirakan kalau kau akan pergi dari apartemen ini dalam dua minggu. You are a strong women Violet dan aku tidak pernah menyangka kalau aku akan mengatakan ini padamu, pada wanita yang pernah kuanggap paling bodoh sedunia karena masih memperlakukanku dengan baik setelah apa yang kulakukan."
Air mata Violet terjatuh tanpa bisa ia tahan. Ia bisa melihat kesungguhan di mata Darren dari pantulan kaca. Mereka tak bertatapan, tapi Violet bisa merasakan ketulusan yang lelaki itu ingin sampaikan. Meski, ia masih tak paham kenapa Darren melakukan ini.
"But, thankyou for everything. Terima kasih karena telah datang ke dalam hidupku yang gelap dan meneranginya. Seperti bulan, kau membuatku mendapat cahaya kala gulita tiba. Bulan sabit, cantik, sepertimu."
Darren tersenyum dan mengusap kepala Violet lembut. Belakangan ini ia banyak berpikir dan dia sejujurnya juga tak paham dengan dirinya sendiri. Darren hanya mengikuti kata hatinya. Dia merasa dirinya aneh dan ia tahu, perasaan ini tidak seharusnya hadir di saat Darren belum selesai melakukan apa yang harus ia lakukan.
"I love you, Violetta," sambung Darren di dalam hati. Tempat di mana tak ada seorang pun yang bisa mendengar suaranya, kecuali dirinya sendiri.
**
#MarvinViolet ?
atau
#DarrenViolet?