Angin berembus dengan kencang ketika sebuah mobil Hennessey Venom F5 berwarna kuning berhenti tepat di depan lobi apartemen. Seorang perempuan dengan rambut yang dikucir kuda tengah menunggu kedatangan suaminya.
Sore ini, Violet menggunakan baju turtle neck berwarna merah maroon yang ia padukan dengan rok berwarna kulit serta overcoat cokelat. Ia juga menggunakan sepatu boat yang melengkapi outfitnya hari ini. Dia tampak luar biasa. Sudah lama rasanya Violet tak berdandan ketika ia hendak berpergian.
Violet sadar kalau beberapa orang yang berlalu lalang beberapa kali melirik ke arahnya--terutama lelaki. Sebenarnya, Violet juga cukup terkenal di kampus. Ia dan Angela sering kali mendapat perhatian ketika mereka berada kantin maupun kelas. Ada beberapa lelaki yang sempat menyatakan perasaan pada Violet, tapi tentu Violet tidak bisa menerima mereka, meski ada beberapa yang Violet sukai.
Jalan kehidupannya telah diatur jadi Violet tidak bisa seenaknya berpacaran dengan orang lain tanpa persetujuan keluarga Barson. Karena itu pula, Angela terus berusaha menjodohkan Violet dengan beberapa orang waktu itu, tapi usahanya gagal.
Sampai pada akhirnya Violet menikah dengan seseorang yang jelas cukup terkenal--pernikahan mereka sempat dibahas di beberapa media, tapi berita itu untungnya tak terlalu heboh karena diiringi dengan skandal besar artis yang memakai narkoba, jadi masih banyak orang yang belum tahu kalau sebenarnya Violet sudah menikah.
Dan sekarang, orang yang Violet nikahi tengah berhenti di depannya dengan mobil mahal yang hanya bisa memuat dua orang. Violet yakin harga kendaraan itu pasti fantastis dan omong-omong, ini kali pertama Violet pergi berdua dengan Darren. Sebelum ini, mereka hanya menjalani aktivitas di apartemen. Belanja bulanan pun Violet masih ditemani Angela. Nanti, Violet akan mengajak Darren pergi lagi. Mungkin di lain waktu.
"Sudah lama menunggu?" Darren menurunkan kaca dan memberi Violet isyarat untuk masuk.
Violet menggelengkan kepala sebelum ia bergerak dan masuk ke dalam mobil Darren. Cuaca semakin dingin karena winter sebentar lagi datang, karena itu hari ini Violet bahkan memakai sarung tangan.
Perempuan itu melirik ke arah Darren dan sadar kalau suaminya masih memakai outfit tadi pagi karena ia belum mandi dan baru pulang dari kantor--scarf yang Violet berikan masih dipakai oleh Darren.
Darren juga melirik ke arah Violet, tapi hanya sebentar. Darren sadar Violet tampak berbeda hari ini. Namun, ia berusaha mengabaikan fakta tersebut.
Oh, Violet jadi tanpa sadar mengingat perbuatan nekatnya tadi pagi--mencium Darren. Ia juga tak tahu darimana ia mendapat ide gila semacam itu. Membayangkan ekspresi Darren yang terkejut membuat Violet merasa pipinya kembali terbakar.
"Kita mau ke toko bunga mana?" Darren melajukan mobil dengan kecepatan sedang sembari melirik Violet sesekali. Lelaki itu tampak biasa saja. Perilakunya jelas berbeda dengan Violet yang sekarang sedang salah tingkah karena ia mengingat soal ciuman tadi pagi.
"Jalan saja, nanti kutunjukkan." Violet menjawab tanpa menatap mata Darren. Ia lebih memilih untuk melirik ke jendela setelah ia merasa pipinya mungkin telah berubah warna menjadi semerah tomat sekarang.
"Baiklah." Darren menjawab singkat sebelum ia kembali fokus mengemudi.
Perjalanan itu terasa sangat sunyi, tanpa diiringi oleh musik maupun perbincangan, tapi, entah bagaimana Violet tetap merasa nyaman.
**
Suasana terasa menyenangkan ketika Violet telah sampai di toko bunga langganannya. Toko ini berada di dekat kediamannya dulu--tempat keluarga Barson. Alunan lembut musik klasik milik Beethoven-Moonlight Sonata (Piano Sonata No. 14 "Quasi una Fantasia") terdengar menenangkan di telinga.
Tidak ada pengunjung lain di sini, hanya Darren dan Violet. Violet tahu tempat ini jarang dikunjungi, tapi mereka punya banyak pesanan bunga yang dipesan jauh-jauh hari oleh para pelanggan. Jadi bisa dibilang bisnis ini cukup sukses meski tokonya sering kali sepi.
Violet berkeliling. Mengamati bangunan tua yang penuh bebungaan itu dengan penuh pertimbangan. Ada begitu banyak jenis bunga dan kali ini ia bingung harus membeli yang mana--haruskah ia membeli jenis lain, atau tetap pada bunga yang kemarin pernah ia beli?
"Hai Violet."
Suara itu membuat langkah Violet dan Darren berhenti. Omong-omong, daritadi Darren hanya mengikuti Violet dari belakang.
"Hai, Marry!" sapa Violet balik. Ia memang tak pandai berteman, tapi Marry, si pengurus toko bunga ini adalah salah satu manusia yang berhasil akrab dengan Violet. Karena dia pula, Violet terkadang menghabiskan banyak waktu di toko bunga. Mereka terkadang berbagi kisah. Ada hal yang tak bisa Violet ceritakan pada Angela, tapi bisa ia bagi dengan begitu mudah pada Marry. Entahlah, Violet juga tak mengerti kenapa ia merasa nyaman untuk bercerita pada Marry, mungkin karena perempuan itu punya nasib yang hampir sama buruknya dengan Violet.
"Sudah lama kau tak berkunjung." Marry, perempuan berambut hitam dengan kacamata kotak itu berkata sambil tersenyum. "Aku merindukanmu."
"Aku juga!" balas Violet dengan riang. Darren hampir tidak pernah mendengar nada seriang itu keluar dari mulut Violet. "Aku menikah bulan lalu dan melakukan penyesuaian diri dengan kehidupan rumah tangga. Jadi aku baru bisa mampir hari ini. Oh, ya, kenalkan ini suamiku, Marry."
"Woah!" Marry menatap Darren dengan pandangan berbinar-binar sambil mengulurkan tangan. "Kau pasti lelaki yang beruntung karena sudah menikahi Violet, Tuan."
Darren menjabat tangan perempuan itu dengan rasa tak nyaman--karena ia teringat alasan ia menikahi Violet. "Terima kasih, aku tahu aku memang beruntung."
"Omong-omong namaku Marry Mabeleyn, panggil saja Marry."
"Darren Malferent," balas Darren sambil melepaskan jabatan tangan mereka. "Senang bertemu denganmu."
"Aku juga." Marry membalas ramah, lalu tatapannya kembali ke Violet. "Omong-omong, setelah kau menikah, kau tak lagi melakukan upacara peringatan, ya?"
"Aku masih melakukannya." Violet membalas perkataan aneh Marry, sedangkan Darren masih terdiam di tempat. Ia tak paham upacara peringatan semacam apa yang kedua perempuan itu bahas.
"Kalau kau mau berkeliling, berkelilinglah. Aku ingin mengobrol sebentar dengan Marry sembari membeli bunga." Violet melirik ke arah Darren di tengah perbincangannya dengan Marry.
Darren mengangguk. Ia merasa penasaran dengan percakapan kedua wanita itu, tapi ia merasa baru saja diusir secara halus oleh Violet. Karena itu, Darren memutuskan untuk bertanya saja nanti pada Violet, ketika mereka sudah berada di apartemen.
"Aku ingin membeli bunga Krisan putih saja, kupikir bunga itu adalah bunga yang paling cocok untuk melambangkan perasaanku," ucap Violet sembari melirik Marry yang kembali sibuk dengan beberapa tangkai bunga yang nantinya akan ia bentuk menjadi buket--Darren sudah bergerak menjauh dari mereka berdua.
"Kenapa kau masih melakukan ini kalau kau sudah menemukan salah satu kebahagiaanmu? Apa kau belum merasa cukup?" Marry bertanya sembari bergerak dan mengambil bunga yang Violet minta.
"Tidak tahu ... aku hanya merasa aku harus tetap melakukannya ... ini tidak hanya soal cinta, Marry. Kau tahu, ini menyangkut hidupku ... seluruh hidupku." Violet melanjutkan penjelasannya ketika Marry telah membawa bunga yang ia minta.
"Kuharap kau menemukan kebahagian yang sejati bersama dengannya, Vio." Marry berkata dengan sungguh-sungguh sembari melirik Darren yang tengah sibuk mengamati mawar di ujung ruangan. "Sehingga kau tak harus melakukan ini lagi."
"Aku juga berharap begitu," balas Violet sembari menghela napas, ia bahkan tak tahu kenapa jawabannya terasab berat untuk diucapkan. "Omong-omong, aku ke sana sebentar, ya? Aku tak enak meninggalkannya sendirian lama-lama."
"Tentu, tapi kupikir sekarang dia tengah memilih bunga yang mau dia berikan untukmu," ucap Marry sembari tersenyum penuh arti. "Daritadi ia terus melirik bunga mawar. Oh, kau wanita yang beruntung juga, Violet."
Violet melirik punggung Darren yang memang berada di dekat tumpukan mawar. Lelaki itu terlihat tertarik dengan bunga-bunga tersebut.
Apa dia ... memang berniat membelikanku bunga? batin Violet bersuara.
Sepertinya tak mungkin .... batin Violet kembali berseru sedetik setelahnya. Ia merasa Darren tak sebaik itu untuk membelikannya bunga.
Jangan berharap, Violet. Kau tak boleh berharap lebih kalau tak ingin jatuh ke dalam rasa sakit! Sesuatu di dalam diri Violet mengingatkannya, tapi, ia tak bisa menahan diri untuk tak berharap.
"Aku ke sana dulu," ucap Violet dengan wajah yang memerah. Ia mengabaikan tatapan nakal Marry dan bergerak ke arah Darren. "Kau mau membeli bunga?" ucapnya ketika ia telah berdiri tepat di samping Darren.
Darren menoleh, lalu mengangguk. Senyumnya itu membius Violet, membuat Violet lalu semakin berharap kalau Darren mungkin saja mau membelikannya bunga--meski kemungkinan ini sangat kecil terjadi.
"Aku mau membeli mawar." Darren menundukkan tubuh dan menghirup aroma bunga tersebut. "Cantik tidak?"
"Cantik." Violet melirik ke bunga-bunga itu. "Untuk siapa?"
"Untuk Gladys," balas Darren dengan santainya. "Dia suka mawar."
Saat itu, senyum yang Violet ulas tiba-tiba luntur. Perlahan, ia berusaha untuk kembali melengkungkan bibir--tapi ia tak mampu.
Hati Violet remuk, tapi ia berusaha untuk menahan semua emosi yang tiba-tiba menguasainya. Mata Violet tiba-tiba memanas, ada sesuatu dari ucapan Darren yang melukainya dan Violet tahu, ia tak boleh menangis di sini.
"Dia suka mawar merah, tapi aku mau membeli mawar putih. Sebab, aku baru mencari di internet tadi dan mawar putih punya makna yang bagus, kau tahu itu apa?"
Violet menggeleng. Ia merasa tubuhnya lemas dan wajah perempuan itu memucat. Hari ini, ia mendengar nama perempuan yang Darren cintai. Gladys. Tak salah lagi, pasti dia orangnya.
"Cinta sejati." Darren berujar dengan santai, seolah perkataannya itu tak berarti apa-apa bagi Violet. Padahal, sekarang perempuan berbola mata abu itu merasa hatinya tengah diremas-remas. Violet masih bungkam. Ia tak menatap Darren dan lebih memilih untuk melirik ubin saat lelaki itu tiba-tiba melanjutkan.
"Dan aku berpikir cinta kami adalah cinta sejati. Karena aku sungguh berharap bisa hidup selamanya dengan Gladys."