”Raina? " Aku menoleh ke arah suara yang memanggil namaku. Melihat Chef Adnan yang menatapku terkejut membuatku tersenyum canggung. “Chef," “Kamu ngapain subuh-subuh di restoran?" Aku mengulum senyum, mencoba mencari alasan tepat mengapa aku datang ke sini subuh-subuh tanpa harus membuat orang lain curiga. “Aku.. Anu.. Itu chef..” jawabku terbata tidak menemukan jawaban yang tepat. Chef Adnan menghela napas dan menggakruk tengkuknya. “Kamu duduk sana, saya buatkan s**u coklat buat kamu." Aku mengangguk dan berjalan menuju meja bar. Menatap punggung chef Adnan yang sejak dulu selalu kukagumi. Aku tersenyum lebar menatap s**u coklat panas yang selalu menjadi favoritku. Dulu, pertama kali aku

