10

1071 Words
 ”Kenapa enggak ambil kuliah aja, Na? Toh Bapa sama Ibu masih sanggup bayar kuliah kamu. Teteh juga sudah ada yang nanggung.”Tanya Bapa pada Raina begitu Raina selesai shalat isya.             “Enggak apa-apa, Pa. Kuliah itu bukan patokan untuk sukses kok. Lagian aku mau kerja dulu aja, jenuh juga kalau harus belajar lagi.”Jawab Raina.             Ibu mengelus rambut Raina penuh sayang. “Ibu tau kamu ini selalu enggak mau ngerepotin orangtua. Tapi Ibu sama Bapa siap mendanai kamu kuliah, itu sudah menjadi kewajiban kami."               “Tapi Pa, Bu.. “Raina menghela napas dan melirik amplop coklat yang di simpan di atas meja. “Kalaupun aku ambil kuliah, enggak mungkin aku keluar negri. Dan lagi, aku juga bingung kok bisa aku dapat tawaran beasiswa kuliah di london. Kepikiran aja enggak, apalagi daftar. Ini kayaknya salah alamat.”Ujar Raina bingung. Sepulang sekolah tadi, Raina dan keluarga dikejutkan oleh surat pos yang berisi beasiswa untuk Raina di university of cambridge. Setelah coba menelpon yang tertera di amplop tersebut, ternyata surat tersebut benar adanya dan pihak sana mengatakan bahwa Raina sudah mengajukan beasiswa sejak beberapa bulan yang lalu. Bukan apa-apa sertifikat toefl saja Raina tidak punya, bagaimana bisa melakukan pengajuan.               “Masa sih? Ini jelas-jelas data kamu, Na. Masa ada yang punya data sama persis kayak kamu.”Ucap Ibu mengamati surat tersebut.             “Sayang lho kalau enggak ambil. Anggap saja rezeki, Na."             “Enggak Bapa, aku lebih suka tinggal disini sama Bapa dan Ibu!”Rengek Raina memeluk Bapa.             Bapa menepuk punggung gadis kesayangannya, batin Bapa sebenarnya takut ditinggal Raina jauh. Bagaimanapun, Raina adalah anak perempuan, tinggal berjauhan dari orangtua apalagi di negara orang tentu membuat siapapun merasa khawatir. Tapi, hati Bapa merasa tenang melihat penolakan dari Raina. Bapa sangat tahu sifat Raina yang jika memiliki keputusan akan sangat sulit mengubahnya.             “Assalamualaikum,”Ucap Raisa begitu masuk ke dalam rumah. Raisa datang membawa sebuah dus dengan wajah berbinar.             “Waalaikumsalam. Apa itu De?”Tanya Ibu.               “Enggak tau Bu, tadi di depan abis pulang ngaji ada kurir datang ngasih paket katanya buat Teh Raina."    Raina mengerutkan alis dan membuka dus yang disimpan Raisa di atas meja.             “Wah! Rezeki nomplok itu!! Mau ngewarung Teh?”Tanya Raisa.             Raina menatap heran dus yang berisi kaleng s**u beruang, kesukaannya. “Dari siapa De?" “Enggak tau Teh, bapak kurir nya cuma bilang disuruh kasih ini paket buat Raina."             “Coba di cek bisi ada bom di dalamnya,”Ujar Ibu.             Bapak mendengus. “Aya-aya wae Ibu mah. Ini kayaknya dari fans Raina.”Goda Bapak.             “Mana ada,”Elak Raina masih mengamati s**u beruang yang mendadak membuat Raina ngiler.             “Kamu menang undian kali, Na."           “Undian apaan, ikutan aja enggak pernah.”Tukas Raina. “Rezeki kali ya, enggak apa-apa kan di minum?"             “Ya enggak apa-apa, ini disimpen di kulkas aja ya.”Jawab Ibu.               Raina mengangguk dan mengambil sekaleng s**u beruang lalu menyerahkan pada adik bungsunya.             “Apaan Teh?"               “Ini coba dulu sama kamu bisi beracun."             “Ah si teteh mah ngarang! Ogah, ade juga enggak suka minum itu, hambar ah."             “Sini Bapak aja yang minum, biar kalau ada yang pelet mental. Bapak doain dulu."             “Si Bapak mah modus, bilang aja mau icip.”Ejek Ibu.             “Teh, aku udah tau Satria yang mana! Sumpah Teh ganteng pisan."               “Tau dari mana?"               “Dari si Mala. Kakaknya sekolah di tempat Teteh."             “Oh ya, siapa?"             “A Ardi, cuma dia kelas 2 berarti ade kelas teteh. Aku juga punya foto A Satria."    “Mana? Ibu mau liat,"             Raisa mengeluarkan HP nya dari saku celana, dan menunjukkan foto Satria yang ternyata ia jadikan wallpaper.  ”Eh kasep pisan ieu! Ya Allah Na, di doakeun ku Ibu mudah-mudahan dapetin suami siga kieu. Aduh meuni mulus kitu kulit, perawatan mahal sigana."             “Bu, Ade enggak di doain juga?"             “Udah di doain di dalam hati De."             Raisa mengerucutkan bibir. “A Satria udah punya pacar belum Teh?"             “Udah, teman sekelasnya juga namanya Putri. Cantik loh!"             “Yah patah hati deh."             Raina tertawa melihat reaksi lucu adiknya. “Lagian yang ganteng kayak gitu mah udah pasti di taken duluan sama orang De. Cari cowo jangan diliat dari wajahnya, tapi gentlenya. Kalau ganteng makin tua juga pasti keriput iya kan, Pak?"             “Ah Bapa makin tua makin ganteng.”Elak Bapak.             “Yang gentle kayak gimana sih Teh? Yang kaya?"             “Yang gentle itu dia yang berani datang ke orangtua kamu buat ngelamar, minta restu langsung buat nikahin kamu."             “Oh pantesan teteh enggak pernah punya pacar, jadi maunya di lamar langsung?"             “Ya iyalah. Udah ah teteh mau nyimpen s**u dulu ke kulkas keburu di abisin sama Bapak." ...             “Mas Satria, paketnya sudah saya kirim ya,”Ucap Mang Nurdin, sopir pribadi Bundanya ketika sampai di rumah.             Satria mengangguk dan memberikan selembar uang kepada Mang Nurdin. “Buat bensin,"             “Waduh banyak pisan, nuhun atuh Mas."               Satria mengangguk dan kembali masuk ke dalam rumah.             “Teman kamu menolak penawaran beasiswa dari yayasan keluarga kita,”Ucap Bunda begitu Satria memasuki ruang makan.             Satria menatap Bundanya sebentar dan kembali berjalan menuju kulkas, mengambil minuman.             “Sejak kapan kamu suka s**u beruang?”Tanya Bunda.             “Hari ini."             Bunda tersenyum. “Tumben. Oh iya jadi siapa Raina itu? Sampai kamu minta Bunda buat kasih penawaran beasiswa. Pacar kamu? Bukannya pacar kamu itu Putri?"               “Putri cuma teman,"             “Lalu Raina?"             Satria tersenyum kecil kepada Ibunya dan berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, senyum itu luntur menjadi dingin. Satria mengambil barang yang ada di sekitarnya dan melemparnya sembarang. Ia terduduk di pinggir ranjang.             Rencananya sia-sia. Ia pikir Raina akan mengambil beasiswa itu, ikut bersamanya ke London. Bukankah orang normal akan mengambil kesempatan yang jarang seperti itu?               Raina sungguh aneh.. Dia tidak normal. Hanya Raina yang bersikap biasa saja terhadap dirinya, hanya Raina yang terlihat menjaga jarak ketika dirinya mencoba mendekat dan.. Hanya Raina yang mampu membuatnya merasa hidup, b*******h dan jatuh cinta.             Satria memejamkan matanya. Merasa frustasi karena akan berpisah dengan gadis itu. Bagaimana jika ia kembali dan Raina sudah ada yang memiliki? Bagaimana jika ia kembali Raina sudah memiliki anak?             Satria membuka matanya dan mengepalkan tangan sekuat mungkin. Tidak, ia tidak akan menyerah. Jika Raina sudah ada yang memiliki ia akan menghancurkan hubungan itu, dan jika Raina sudah memiliki anak.. Ia akan menerima anak itu seperti anaknya sendiri. Apapun yang terjadi, Raina harus berakhir dengan dirinya. Harus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD