“Ngaret lo! Lo bilang lima belas menit!” Gadis yang sudah bersiap di depan kosnya selama lebih dari lima menit itu menggerutu sebal saat motor matic yang dengan plat daerah yang sudah amat dikenalnya itu berhenti di depannya.
Yang ditegur membuka kaca helm nya cengengesan.
“Sori, tadi mampir beli bensin dulu, lupa ngabarin. Yok ah, naik.”
Si cewek menghela nafas kesal dan pasrah, memakai helm yang dibawanya dari kamar kosnya dan naik ke jok belakang.
Dia kurang bisa marah sama orang, meskipun itu teman dekatnya sendiri. Bukan berarti dia ‘yes girl’, hanya saja, hatinya teramat luas dan sangat legowo, sehingga dia bisa menerima model candaan se sarkas dan se nggak mutu apapun. Kalau toh dia tersinggung, dia hanya akan tertawa dan pergi menyingkir daripada memulai perdebatan. Lebih energy saving baginya.
Dan walaupun belum lama mengenal temannya ini, dia paham kalau temannya ini adalah tipe yang hobi bercanda dan agak susah serius. Peka sih, hanya saja, dia tak pernah membawa sesuatu hal dengan serius sampai amat kepikiran. Kecuali untuk satu hal yang membuat temannya itu menelpon dirinya malam - malam dan menculiknya hampir tengah malam begini.
“Mau nyulik gue ke mana, lo?” Tanyanya setelah anteng duduk di belakang.
Lagi - lagi temannya itu tertawa. Aneh, deh. Dia kenapa sih, selalu ketawa di hampir semua yang dikatakannya? Memangnya dia pelawak? Kesal.
“Mana ada orang diculik kok malah sukarela naik dan ikut sama penculiknya. Lo ada - ada aja, deh. Lah? Kok turun?”
“Ya udah, met malem. Sampai besok. Dadah.” Katanya dengan senyum luar biasa manis, tapi tak sampai ke mata.
Temannya dengan panik meraih tangannya saat dia berbalik menuju gerbang kosnya.
“Yaelah, ngambek. Jangan ngambek, dong. Gue nggak ada temennya.”
“Abisan lo nyebelin.”
Temannya meringis. “Maaf, maaf. Baginda Ratu Yang Mulia Agung Noviani Anggraini, hamba mohon maaf. Naik, ya, please?”
***
Mereka pergi ke fast food chain yang buka dua puluh empat jam, tak jauh dari area kos mereka. Pilihannya nggak banyak jam segini. Dia tahu gadis yang dibawanya ini akan menolak untuk menemaninya makan kalau dia membawanya ke lesehan atau ke angkringan, jadi dia membawanya ke sini, karena tempatnya lebih nyaman, dan nggak akan aneh kalau dia makan sendirian, sedangkan temannya ini hanya minum. Pilihan menu minumannya pun banyak. Jadi dia nggak akan begitu merasa bersalah.
Setidaknya ini yang bisa dia lakukan karena membangunkan dan menculiknya malam - malam begini.
“Jadi?” Gadis berwajah bulat di depannya ini bertanya, mengaduk minumannya malas dengan sedotan.
“Apanya? Nggak lo minum? Biasanya lo suka yang tropical - tropical begitu.”
Gadis bernama lengkap Noviani Anggraini, atau yang lebih akrab disapa Novi itu merotasikan bola matanya kesal, lalu menjawab dengan nada disabar - sabarkan yang entah bagaimana selalu berhasil membuatnya tertawa.
“Lo nggak mungkin kan, bangunin gue hampir tengah malam begini cuma buat nemenin lo makan. Pasti ada sesuatu kayak yang udah - udah ini. Come on, spill.”
Ini bukan pertama kalinya dia ‘diculik; oleh orang ini. Dan setiap kali, selalu saja ada yang mengganggu hati dan pikirannya. Kebanyakan sih, tentang seseorang yang katanya membuat hatinya bagai pelangi dan akhir - akhir ini seperti lagi balonku ada lima. Amat kacau saat balon hijau meletus.
“Lo nggak buru - buru, kan?”
“Ya nggak, juga.”
“Ya udah, santai. Nanti dulu. Biarin gue lupa bentar aja. Nggak enak banget rasanya overthinking sendirian.” Kilahnya mencabik daging ayam yang menjadi lauk makan tengah malamnya kali ini dengan giginya.
Novi mengalah. Nggak tega juga dia mendesak temannya ini untuk segera bercerita. Toh dari awal memang polanya dia yang selalu mengalah. Terlebih pada orang ini. Nggak tega aja gitu kalau mau dinistain. Nggak diapa - apain saja, dia sudah nista. Dia terkekeh pelan mengingat hal itu.
Suara kekehan yang tentu saja membuat temannya berhenti mengunyah dan mendongak memperhatikannya. Mata keduanya bertemu. Yang satu berbinar jenaka, yang satu penuh rasa penasaran.
“Napa, lo?”
Novi menggeleng. Kembali mengaduk minumannya dengan bersemangat. Temannya yang melihat hal itu semakin mengerutkan kening heran. “Apa sih, lo, ngaduk sampe begitunya. Kenapa nggak diminum, sih? Mau pesen yang lain?” Tawarnya.
“Hah?”
“Mau pesen yang lain? Gue pesenin, deh.”
“Eh em… air putih aja, deh.”
Temannya mengernyit semakin dalam. Cewek ini, ditraktirin bukannya ambil kesempatan malah cuma minta air putih aja.
“Kok air putih, sih? Yang lain napa? Gue bawa dompet, kok, tenang aja. Gue nggak lupa bawa cash kaya kemaren, sampe harus pijem lo.”
Novi merengut sebal. Waktu itu temannya ini memang pernah kelupaan bawa dompet, sehingga Novi harus membayar untuk mereka. Tapi Novi nggak keberatan, kok. Bahkan nggak menganggap itu sebagai hutang. Jadi pas temannya mengembalikan uangnya dan di depan teman - temannya yang lain sehingga mendapatkan kerlingan menggoda penuh tanya, dia menggeleng, menolaknya.
“Bukan gitu. Gue kan, lagi diet. Minuman ini terlalu manis buat gue.” Katanya pelan, meminta pengertian.
“Ish, dibilangin juga. Ngapain, sih, diet? Apa coba yang mau lo kurusin!”
“Astaga, mata lo! Nggak liat apa badan gue segede gajah begini?! Temennya lagi melakukan perubahan besar dalam hidup! Dukung napa.”
“Ya elah, Vi. Lo tuh nggak kayak gajah! Malah, lo tuh nggak gendut! Kalo kata cowok - cowok nih, body lo tuh pas. Semok, enak buat dipeluk. Percaya apa kata gue. Pede aja. Siapa sih, yang bikin lo mikir kalo lo gendut dan butuh diet?!”
“Mantan?”
***
“Gue kepikiran aja gitu, Vi. Kan lo sama yang lain juga bilang buat terus deketin dia. Jadi temennya dia. Tapi kayaknya tetep aja status gue dari jaman jahiliah sampe udah modern begini nggak berubah - berubah. Tetep aja jadi temen.” Curhatan yang dimulai dengan segan itu akhirnya berlanjut hingga jam menunjuk angka satu.
Novi sudah mengira, topiknya akan sama, tapi toh dia tetap mendengarkan. Semua saran dan trik percintaan yang dia tau sudah dia spill, dia juga tau kalau ada beberapa trik yang sudah temannya lakukan, tapi ya itu, belum ada satupun yang membuahkan hasil. Jadi sekarang, dia cuma bisa menyediakan telinga dan pundak untuk bersandar bagi temannya ini.
“Ya lo sabar, dong. Kan baru beberapa bulan. Ada yang ngejar cinta sampe bertahun - tahun…”
“Amit - amit! Sumpah doa lo jelek banget!”
Novi meringis. Dia sama sekali nggak bermaksud menyumpahi sebenarnya. Niatnya memberi semangat, eh, malah salah ya sampainya.
“Maksud gue, lo sabar, lo harus tetep berjuang, jangan menyerah.”
“Ternyata cinta sendirian itu nggak enak ya. Jatuh cinta sendiri, nyesek sendiri, cemburu sendiri, bete sendiri, mikirin orang itu juga sendiri. Lah orangnya dipikirin aja nggak ngerasa.”
Novi mengangguk - angguk. Paham banget dia kalau masalah cinta bertepuk sebelah tangan begini. Dia cuma pernah pacaran sekali, dan sekalinya itu bukan pengalaman yang menyenangkan juga untuk diingat dan diceritakan kembali. Selebihnya, dia hanya berani naksir - naksir saja dengan lawan jenis.
Dia merasa dia nggak cantik dan badannya nggak bagus. Setidaknya, itu yang dulu dikatakan mantan pacarnya. Cowok itu bilang dia malu kalau jalan berdua dengannya karena berasa kayak pawang bawa gajahnya jalan. Meskipun banyak hal manis lainnya, tapi perkataan itu yang paling membekas di ingatan dan hatinya hingga sekarang. Padahal mereka putusnya sudah lama.
Dan karena dia merasa belum berhasil diet dan mempercantik diri, dia nggak punya keberanian untuk menyukai seseorang secara terang - terangan. Tangannya terulur menepuk - nepuk pundak temannya yang kepalanya tertunduk sedih. Kasihan, tapi dia bisa apa?
“Sabar ya. Lo jangan nyerah. Lah? Lo nggak mewek, kan?!” pekiknya panik saat temannya itu tetap menunduk menghindari pandangannya. Bingung juga dia kalau temannya ini beneran mewek. Cewek nangis, gampang ditenangin, lah cowok nangis? Gimana caranya?? “Jan, lo nggak papa? Lo nggak nangis, kan? Jangan nangis, plis, gue bingung gimana nenangin lo nya kalau lo nangis. Eeh eh, gue punya ide, deh. Kenapa nggak lo coba aja bilang perasaan lo yang sebenarnya sama April?”
PS:
Jreng jreng jreeeeng
Adakah yang benar mengira kalau itu adalah Novi dan Janu?