Sirene polisi meraung di tengah gelapnya malam. Lampu-lampu merah biru berpendar di dinding bangunan tua yang mulai lapuk. Jalanan sempit di daerah pelabuhan itu dipenuhi suara langkah kaki yang berpacu dengan detak jantung.
Brian menggenggam pistolnya erat, matanya menyapu gang-gang kecil yang gelap. Buronan yang dikejarnya bukan orang biasa Arma Dwijaya, seorang pria dengan daftar kejahatan yang panjang dan reputasi yang lebih berbahaya dari sekadar kriminal jalanan.
“Jangan coba-coba lari lagi, Arma,” suara Brian terdengar tegas saat akhirnya sosok buronan itu terpojok di ujung gang buntu.
Arma Dwijaya tersenyum tipis. Bukan senyum seseorang yang ketakutan, tapi lebih seperti seseorang yang menikmati permainan ini. “Lu masih secepat dulu, Brian.”
Arma memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, membuat Brian reflek mengangkat pistol. “Santai. Gue cuma mau merokok.”
Brian diam, membiarkan pria itu mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya dengan tenang, seolah-olah dia bukan orang yang sedang di ujung pelarian.
“Lu kelihatan tegang, Brian,” kata Arma di sela asap rokoknya. “Apa karena ini kasus besar? Atau karena ada sesuatu yang bikin lu enggak fokus?”
“Jangan main-main, Arma. Gue bakal bawa lu ke kantor malam ini juga,” jawab Brian dingin.
Arma tertawa kecil. “Sebelum kita pergi, gue cuma mau nanya satu hal… Gesi apa kabar?”
Brian terdiam. Matanya langsung tajam, dadanya sedikit naik-turun. Nama itu yang seharusnya sudah dia kubur bersama kenangan lama, tiba-tiba diucapkan oleh seorang buronan yang bahkan seharusnya tidak punya urusan dengan hidup pribadinya.
“Diam,” suara Brian terdengar lebih berat dari sebelumnya.
“Dia udah nikah, kan?” Arma melanjutkan dengan nada santai. “Dengan seseorang yang lebih baik dari lu?”
Brian menarik napas dalam, mencoba mengabaikan rasa panas yang tiba-tiba merayap di dadanya. Tapi dia tahu, dalam permainan ini, Arma Dwijaya baru saja menemukan celah dalam pertahanannya.
…
Brian mengatupkan rahangnya. Tangannya masih mantap menggenggam pistol, tapi pikirannya mulai terusik oleh kata-kata Arma.
Gesi.
Nama yang sudah lama ia hindari. Nama yang dulu berarti rumah baginya, sebelum akhirnya menjadi luka yang selalu ia tutupi.
Arma membuang puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya pelan. “Gue bisa lihat dari ekspresi lu, Brian. Masih ada yang belum selesai, ya?”
Brian mengabaikan ucapan itu. Dengan satu gerakan cepat, ia mencengkram lengan Arma dan memborgolnya. “Lu bukan orang yang berhak ngomong soal hidup gue.”
Arma tertawa kecil. “Santai. Gue cuma penasaran, gimana rasanya kehilangan orang yang lu sayang?”
Brian menarik Arma dengan paksa, menyeretnya keluar dari gang sempit itu menuju mobil patroli yang menunggu di ujung jalan. “Lu pikir lu bisa ganggu pikiran gue?”
“Enggak juga,” jawab Arma ringan. “Gue cuma mikir, mungkin kita punya satu kesamaan yaitu sama-sama kehilangan sesuatu.”
Brian tidak menjawab. Dia mendorong Arma masuk ke kursi belakang mobil patroli, lalu masuk ke kursi pengemudi. Mesin mobil meraung, membawa mereka pergi dari kawasan pelabuhan yang gelap.
Sepanjang perjalanan, Brian mencoba fokus ke jalanan yang sepi, tapi pikirannya kembali melayang ke masa lalu.
Gesi, dengan senyum hangatnya. Gesi, dengan tawa kecilnya saat mereka menghabiskan malam berbincang tentang mimpi-mimpi mereka. Gesi, yang dulu menggenggam tangannya erat, seakan dunia hanya milik mereka berdua.
Dan Gesi, yang akhirnya memilih pergi.
“Dia udah bahagia sekarang, Brian,” suara Arma memecah keheningan.
…
Borgol di pergelangan tangan Arma berbunyi pelan saat Brian menariknya masuk ke dalam kantor polisi. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung terasa menusuk begitu mereka melewati pintu utama.
Beberapa petugas melirik ke arah mereka, beberapa mengenali buronan yang akhirnya tertangkap. Arma tetap santai, seolah dia bukan kriminal kelas kakap yang baru saja dibekuk.
“Interogasi sekarang?” tanya salah satu petugas di meja depan.
Brian mengangguk singkat. “Gue sendiri yang tangani.”
Tanpa banyak bicara, Brian menyeret Arma ke ruang interogasi, mendorongnya duduk di kursi besi di tengah ruangan sempit itu.
Arma merenggangkan pergelangan tangannya yang masih terborgol ke meja. “Nggak dikasih kopi dulu?”
Brian melempar berkas ke meja. “Gue nggak punya waktu buat basa-basi.”
Arma tersenyum miring. “Santai, Brian. Lu keliatan tegang banget. Apa karena ini kasus besar? Atau karena sesuatu yang lebih… pribadi?”
Brian menyipitkan mata. “Jangan main-main. Gue mau tahu semua informasi soal jaringan lu.”
Arma mendengus pelan, lalu bersandar ke kursinya. “Kalo gue nggak mau ngomong?”
Brian menatapnya tajam. “Lu nggak punya pilihan.”
Hening. Hanya suara jarum jam yang berdetak pelan di ruangan itu.
Lalu, Arma mendongak, menatap Brian dengan mata penuh teka-teki.
“Baiklah,” katanya pelan. “Tapi gue mau nanya satu hal dulu sebelum kita mulai… Gesi apa kabar?”
Jantung Brian berdegup keras. Seketika, ruangan interogasi yang dingin terasa makin sempit.
Arma tersenyum tipis. “Dia udah bahagia sekarang, kan?”
Brian mengepalkan tangan di bawah meja. “Diem.”
“Tapi lu belum move on, kan?” Arma bersandar lebih santai, seolah dia bukan orang yang sedang diinterogasi. “Apa rasanya, Brian? Kehilangan seseorang yang lu pikir bakal selalu ada buat lu?”
Brian menarik napas dalam, mencoba menahan amarahnya. Dia nggak boleh terpancing.
Tapi Arma Dwijaya bukan orang bodoh.
Dia tahu celah itu ada.
…
Brian mengembuskan napas keras. Ruangan interogasi ini terasa lebih panas dari sebelumnya, padahal pendingin ruangan masih bekerja. Arma Dwijaya benar-benar tahu cara memainkan emosi seseorang.
Sebelum dia bisa bicara lagi, pintu ruangan terbuka. Seorang petugas menyelipkan kepalanya ke dalam.
“Ada pengacara buat tersangka,” katanya.
Brian mengerutkan kening. “Pengacara?”
“Ya. Katanya dia sudah ditunjuk sejak awal kalau Arma tertangkap.”
Brian menoleh ke Arma, yang justru tersenyum puas.
“Nggak mungkin secepat itu,” gumam Brian.
Tapi dia tak punya pilihan. Dengan enggan, dia berdiri, menatap Arma tajam sebelum keluar dari ruangan. “Gue bakal balik lagi.”
Arma hanya terkekeh pelan. “Santai, Brian. Gue nggak ke mana-mana.”
…
Di luar, Brian berjalan menuju ruang tamu kantor polisi, di mana seorang pria sudah duduk dengan tenang, mengenakan setelan rapi berwarna hitam. Rambutnya disisir ke belakang, kacamata tipis bertengger di hidungnya.
“Adrian Pratama, pengacara tersangka,” pria itu memperkenalkan diri dengan suara datar.
Brian menatapnya dengan curiga. Ada sesuatu yang terasa aneh. Entah sikapnya yang terlalu tenang, atau sorot matanya yang tajam seperti sedang mengamati lebih dari yang seharusnya.
Brian mengambil berkas di tangannya. “Kalau lu memang pengacara Arma, harusnya gue udah dapet pemberitahuan sebelumnya.”
Adrian tersenyum tipis. “Klien saya selalu siap dengan rencana cadangan.”
Jawaban itu tidak memuaskan Brian, tapi dia juga tidak punya alasan untuk menolak. Prosedur tetaplah prosedur.
“Lima belas menit,” kata Brian akhirnya. “Dan gue bakal ada di luar ruangan.”
Adrian mengangguk sopan, lalu berdiri dan berjalan menuju ruang interogasi.
…
Begitu pintu tertutup, Arma menatap Adrian dari balik meja. Seketika, senyum santainya menghilang, berganti dengan ekspresi lebih serius.
“Lu lama banget,” gumam Arma.
Adrian duduk dan melepas kacamatanya, mengamati sekeliling ruangan sebelum berbisik, “Gue harus hati-hati. Tempat ini penuh mata-mata.”
Arma terkekeh pelan. “Brian curiga?”
“Sedikit.” Adrian melirik ke arah kaca satu arah di ruangan itu. “Dan dia nggak bakal berhenti sampai dapat sesuatu dari lu.”
Arma menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Adrian dengan tatapan penuh arti. “Makanya gue butuh lu buat keluarin gue dari sini.”
Adrian menghela napas. “Gue udah siapkan jalannya. Tapi ada satu masalah.”
Arma mengangkat alis. “Apa?”
Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya hampir berbisik.
“Brian bakal balik lebih cepat dari yang kita kira.”