Kean baru saja kembali memijak dingin lantai rumah sakit saat melihat oma berdiri tepat di ujung lorong yang malam ini tampak begitu remang. Dia bisa melihat mata dingin itu menyambut hadirnya. Tatapnya kaku, tanpa rona. Langkah Kean melambat untuk kemudian berubah menjadi lebih cepat. Setengah berlari dia menghampiri oma. Firasatnya mendadak tak enak dan dia mulai menduga hal buruk tentang keadaan kakaknya di dalam sana. Kean baru akan membuka mulut untuk bertanya, namun tangan dingin oma lebih dulu meraih lengannya dan menuntunnya menjauh sebelum akhirnya dia menghempaskan cengkeraman itu begitu saja. Kean menatap oma penuh tanya. Firasatnya semakin kuat. Sepertinya memang benar, sesuatu telah terjadi pada kakaknya. "Ada apa, oma? Kakak nggak kenapa-napa, kan?" Kean mulai cemas sendir

