Zafran refleks mengangkat pandang saat mendengar pintu ruang kesehatan dibuka. Dia tersenyum ringan menyaksikan Arlesh muncul dari sana dan berjalan tergesa ke arahnya. "Kakak nggak apa-apa?" Arlesh segera memeriksa lengan kiri Zafran, tempat dimana luka itu ia terima. Sementara Zafran lagi-lagi hanya mengulas senyumnya. Dia bisa melihat bagaimana anak itu begitu mencemaskannya, bagaimana dia berlari tergesa ke arahnya saat tahu dirinya terluka. Sederhana, tapi entah mengapa Zafran suka. Dia suka diperhatikan. Dia suka saat Arlesh memperlakukannya demikian. Membuatnya merasa dibutuhkan. "I'm okay," jawab Zafran. Namun, Arlesh justru semakin melekatkan pandang pada plester yang ditempel di siku Zafran. Sedikit meringis, kemudian dia mengusap luka itu pelan. "Sakit nggak?" Senyum Zafra

