After Married 11

1156 Words
Suara deringan ponsel itu menggema diseluruh penjuru ruangan, membuat kedua insan yang tengah terlelap diatas ranjang itu pun merasa terusik karena tak kunjung berhenti hingga dengan mata yang masih terpejam Ari berusaha menggapai benda pipih miliknya tersebut, tanpa melihat nama ia menggeser ikon hijau dan menempelkannya ditelinga. "Haloo." Ari mengubah posisi nya setengah duduk agar lebih leluasa menjaga volume suara, tak ingin membangunkan istrinya yang kini sedang bermimpi indah, mungkin. "Belum ada solusi untuk menanganinya? Atau kalian yang tidak becus mengurus pekerjaan hah?!" Ari mengatakannya penuh dengan penekanan seolah menunjukkan betapa dia sangat terganggu dengan informasi yang diberikan oleh orang diseberang sana. "Sebaiknya kalian cari cara yang tepat dan cepat, karena jika tidak, bersiap angkat kaki dari perusahaanku hari ini juga." Dia mematikan sambungan dan melemparkan ponselnya sembarang arah lalu mengusap wajahnya, sudahlah rasa kantuk masih menghinggapi dirinya dan sekarang ia harus memaksakan diri untuk bangun dan segera bersiap pergi ke Surabaya. Diliriknya jam yang tergantung di dinding, menunjukkan angka empat pagi. Setidak nya orang-orang bodoh itu memberi tahu nya besok pagi saja, bukan sekarang disaat matahari pun masih betah sembunyi. "Bodoh!" Umpatnya, menyadari kalau suaranya bisa saja membangunkan Susi membuat Ari menoleh kesamping. Ia menghela nafas berat sambil mendekatkan diri ke Susi, demi melihat bagaimana raut wajah wanita itu kala terlelap dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah tanpa sadar tersenyum. "Selalu cantik." Secepat kilat Ari mengecup bibir istrinya, tak ingin tertangkap basah melakukan hal m***m meskipun sebenarnya halal saja untuk dilakukan namun tetap saja ia tahu kalau Susi masih belum mengizinkannya melakukan semua hal yang sewajarnya suami istri lakukan. Ia mencoba mengerti dan memahami Susi, walaupun harus mati-matian menahan hasrat melihat gerak-gerik Susi yang entah sejak kapan terlihat sangat menggoda dimata pria itu. Susi tak melakukan apapun tapi pandangannya pada perempuan itu mulai berubah, mungkin pemikiran ini karena mereka telah menikah. Ari adalah laki-laki dewasa yang tentu membutuhkan sebuah kesenangan jika berhadapan pada istrinya, namun sampai detik ini Susi belum juga memberikan hal itu secara suka rela. Kapan pasti nya, Ari sendiri tak ingin berpikir lebih jauh. Pelan namun pasti, ia mengusap pipi mulus istrinya dan kembali memuji betapa ia sangat mengagumi wanita ini. Setiap hari, cinta nya selalu bertambah untuk Susi. "Saya mencintai kamu sampai rasanya sangat takut jika suatu saat ada orang lain yang jauh lebih pantas mendampingi kamu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan saya walau cuma setitik, sayang." Ari menaikkan selimut dan mencium pipi Susi, melanjutkan tidurnya dan berharap hari esok masalah diperusahaan cabangnya sudah teratasi karena jika tidak, sudah bisa dipastikan bahwa dia akan mengamuk memaki orang-orang disana. Tanpa butuh waktu lama, Ari kembali hanyut dalam tidur nya. Pagi harinya setelah sholat subuh Ari kembali dibuat kesal setengah mati karena mendapat email dari Kartini yang memberitahu nya jika Ari sendiri yang harus menangani masalah di Surabaya, pria itu menatap Susi yang sedang melipat mukenah. "Saya harus ke Surabaya pagi ini, mereka melenyapkan dana untuk pembayaran barang. Mereka tidak akan lagi mengirim barang jika kita terlambat membayar pesanan minggu lalu, saya tidak tahu kenapa semua orang sangat lambat menangani masalah seperti ini." Ari mendudukkan diri keranjang menunggu reaksi Susi, namun tak kunjung bersuara. Wanita itu hanya menatapnya sekilas kemudian berjalan menuju lemari tempat penyimpanan koper dan tas, mengeluarkan salah satu koper yang biasa Ari pakai jika bepergian jauh. "Mau berapa lama disana?" Tanya Susi singkat, tak ingin menatap wajah Ari terkesan menghindar namun tak begitu kentara karena Ari sudah kembali fokus pada ponselnya. "Belum tahu, tapi Kartini akan menemani saya kesana." Gerakan Susi terhenti, ia kembali memandang wajah Ari dengan tatapan yang tidak Ari mengerti. "Kalian hanya berdua?" Ari tahu bahwa itu bukan sebuah pertanyaan melainkan pernyataan yang keluar dari bibir istrinya. "Saya gak mungkin ngajak kamu kesana, siapa yang akan mengawasi orang-orang disini. Rega sedang mengawasi proyek baru kita, dan hanya kamu yang saya percayai." Susi meremas kuat baju kemeja yang digenggamnya, kembali perasaan aneh itu menjalari seluruh tubuhnya. Hal pertama yang dia benci ketika mendengar keberangkatan pria itu adalah, karena Kartini ikut. Mereka hanya berdua, dan yang paling menyebalkan kenapa saat sekarang ia mengutuk Rega karena mau saja dikirim Ari ke Bogor untuk mengawasi kerja disana. Dia ingin ikut kemana pun pria itu pergi, kenapa harus Kartini! Untuk mengungkapkan isi hatinya, Susi merasa lidahnya keluh tak mampu bicara. Menyadari perubahan raut wajah Susi, Ari menyentuh lengan perempuan itu. "Kamu gak suka saya pergi?" "Bukan gak suka, tapi saya pasti cemburu karena bapak pergi sama Kartini." "Memangnya ada apa sama Kartini? Dia sekretaris saya menggantikan tugas kamu. Gak ada hal yang bisa kamu cemburui ketika saya sama dia sedang mengurusi pekerjaan, hmm." Tak ingin melanjutkan pembicaraan mereka, Susi melanjutkan tugasnya membereskan pakaian Ari untuk dibawa. Mengabaikan tatapan suaminya yang sama sekali tidak teralihkan. Sampai pada saat Susi merasa tak bisa menahan diri, barulah Ari tersenyum. "Saya mau ikut, titik!" "Saya gak mau bapak berdua aja pergis Kartini, saya gak mau!" Rengek Susi mendekati Ari dan memeluk leher pria itu, berharap kalau Ari akan berubah pikiran. Tapi disini dia adalah boss kan? "Tidak, kamu akan tetap disini menunggu saya kembali. Akan lebih baik lagi kalau kamu memberikan saya sebuah kejutan saat pulang nanti." "Tapi saya gak rela bapak pergi sama tuh cembok! Nanti kalo kalian khilap gimana? Saya aja belom lepas perawan, masa bapak udah mau lepas perjaka aja sama tuh cembok." "Cembok?" "Cewek muka tembok!" "Hahahaha..... .." Ari tertawa dengan spontan mendengarnya, dari mana Susi mendapatkan istilah aneh seperti ini. "Bapak jangan ketawa mulu ya, jantung saya marathon dengar nya." "Bagus dong, berarti kamu hidup kalau dekat saya." "Makanya jangan jauh-jauh, nanti saya layu." Suara tawa kembali memenuhi indera pendengaran Susi, Ari mengangkat tubuh Susi menggendongnya seperti monyet besar yang melingkarkan kaki dipinggang lalu memutar tubuh mereka berdua sampai Susi merasa pusing dan menjerit kesal karena ulahnya. "Teruslah cemburu, saya suka melihat kamu seperti ini." Susi menyatukan kening mereka dan bisa merasakan betapa hangatnya nafas Ari, bahkan ia juga bisa merasakan detak jantungnya sendiri akibat ulah Ari yang berputar. Mereka tidak tahu siapa yang lebih dulu memulainya, namun Susi bisa merasakan kehangatan dan kelembutan bibir Ari yang telah melumat bibir miliknya. Lama mereka terdiam hingga Ari memberanikan diri mengecup perlahan bibir Susi, merasa tidak ada penolakan ia melanjutkan ciuman mereka dengan sedikit lebih menuntut. Susi yang memang tidak pernah berciuman hanya mengikuti gerakan Ari, dia tidak sepandai itu dalam melakukan hal seperti ini namun dia bisa merasakan dengan jelas bagaimana perutnya terasa melilit dan kupu-kupu berterbangan keluar mengelilingi mereka. Suara gemuruh dalam diri Susi begitu kuat hingga ia sendiri tak mampu menjelaskan betapa ini sangatlah menyenangkan untuk diulangi. Ari melepaskan tautan bibir mereka, tersenyum. "Saya senang karena ternyata kamu menjaga diri dengan baik, terima kasih." Rona merah yang menghiasi kedua pipi Susi membuat Ari kembali merasa senang, melupakan sejenak permasalahan diperusahaannya dan kembali melanjutkan ciuman mereka. Kali ini lebih menggelora dan penuh gairah, melupakan bahwa sebentar lagi pesawat Ari akan segera berangkat. Mereka menikmati pagi dengan ciuman pertama, dan itu rasanya jauh lebih membahagiakan dari bayangan selama ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD