Susi baru saja selesai menjelaskan isi surat kerja sama dengan perusahaan Antariksa Grup, menunggu respon pria yang sejak tadi memandangnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk wanita itu artikan. Selama rapat berlangsung, Susi berusaha keras untuk mengingat kapan mereka pernah bertemu selain dari kemarin. Hingga dia menyadari bahwa pria itu adalah ayah dari anak yang dia tolong waktu itu, jadi bisa dipastikan kalau gadis kecil kemarin anak yang dia selamatkan.
Pantas saja ia merasa tidak asing ketika melihat bekas luka gadis itu, ingatannya memang buruk.
Ari berdehem keras membuat semua orang menatapnya namun pria itu bertingkah seolah tidak ada maksud tersembunyi dari suara batuk nya tersebut.
Radi yang memang sejak tadi sangat memperhatikan bagaimana Susi bicara dan menerangkan semua ketidak pahamannya tentang isi surat tersebut hanya bisa mengusap tekuknya lalu menatap wajah orang-orang yang mengikuti pertemuan ini kemudian tersenyum.
"Maaf sepertinya saya terlalu terpesona dengan kepiawaian sekretaris anda, hingga tidak menyadari kalau rapat kita seharus nya sudah selesai."
Ari memandang wajah lawan bicaranya itu tersenyum masam, bukannya dia tak memperhatikan kalau lelaki itu sejak tadi hanya memperhatikan Susi tanpa berkedip sedikit pun. Kenapa dia tidak mengajak Kartini saja tadi.
"Ya, kalau anda belum ketinggalan berita, dia adalah istri saya juga."
Radi sedikit terkejut mendengarnya, namun masih tetap tersenyum mengurangi denyutan yang membuat hatinya sedikit tercubit.
Beberapa dari mereka terkekeh mendengar perkataan Ari, mereka yang tertawa tentu saja sudah mengenal bagaimana eksistensi pasangan couple goals itu sejak dulu.
"Anda terlambat jika ingin mendekatinya karena pak Ari sudah lebih dulu menikahinya." Candaan itu sama sekali tidak lucu bagi Susi, namun ia ikut tertawa demi menghilangkan gelenyar aneh yang merambat kehatinya ketika dia menyadari bahwa tatapan Radi menunjukkan kecewa. Atau cuma sekedar perasaan Susi saja belakangan ini banyak sekali ekspresi wajah orang-orang yang dia temui menampilkan sesuatu yang sedikit mengganggu namun dia tak bisa menjelaskan apa itu.
"Baiklah, sepertinya saya memang terlambat. Sekretaris saya sudah mengirim syarat dan ketentuan kerja sama kita, anda bisa mengecek nya. Dan sekali lagi terima kasih karena sudah percaya pada perusahaan kami, pak Ari."
Radi berdiri dan mengulurkan tangan pada Ari yang juga ikut membalas jabatan tangan pria itu.
"Saya harap anda benar-benar menjalin hubungan kerja tanpa berniat melirik istri saya lagi."
Ari mengatakannya dengan raut wajah penuh keseriusan namun orang-orang kembali menganggap itu hanya sebuah candaan, Radi pun ikut terkekeh tak ingin membuat suasana diantara mereka jadi canggung.
"Anda tidak perlu khawatir, karena saya pun pria beristri."
Ari lebih dulu melepaskan genggaman tangan mereka, kemudian memberi isyarat pada Susi agar segera mengikutinya. Tak ingin menambah kekacauan, akhirnya Susi pun sedikit berlari mengejar langkah Ari meninggalkan Radi yang masih tersenyum menatap kedua orang itu.
"Cantik."
Setelah mereka sampai dikantor mereka, Ari langsung menghempaskan diri ke sofa, mengendurkan dasi nya yang terasa mencekik karena kembali teringat bagaimana pria itu menatap Susi dengan tatapan memuja.
"Heh, pria beristri! Kalau sudah punya istri kenapa masih melirik istri orang! Bodoh." Gumamnya sendiri yang mampu didengar oleh Susi, wanita itu tak banyak bicara sejak mereka keluar dari sana. Membuatnya jadi salah tingkah sendiri, sudah lama ia tidak melihat Ari mengumpat seperti ini.
Dan yah, lagi-lagi waktu mengubah segalanya.
Mengumpulkan keberanian wanita itu mendekati Ari dan ikut duduk disebelahnya, sambil menuangkan air putih yang siap sedia diatas meja lalu memberikannya pada pria itu.
"Ngapain?" Tanya Ari ketus.
Susi mencebikkan bibirnya mendengar pertanyaan konyol yang keluar dari bibir pria berstatus suaminya itu.
"Ini air minum, kalo saya siram ke muka bapak lumayan lah bikin basah basah seluruh tubuhku."
Balas Susi sengaja membuat kalimat yang dia ucapkan bernada.
Ari mendengus lalu meraih gelas dan meminumnya dengan sekali tegukan hingga tandas.
"Gak sekalian gelas nya pak ditelan?"
"Bisa gak kamu jangan mancing emosi saya?"
"Alah si bapak, emang udah emosi dari tadi malah nyalahin saya."
"Udah tahu kenapa masih mancing?"
"Saya lagi gak ngapa-ngapain pak, boro-boro mancing, jakarta lagi macet mana bisa mancing jam segini."
Susi tersenyum tanpa dosa membuat Ari semakin kesal. Sudah memang jodohnya begini, mau diapakan lagi.
Dalam sekejap mereka dilingkupi keheningan, hingga suara ketukan dipintu mengalihkan perhatian mereka.
"Masuk!" Suara Susi lebih dulu terdengar, menampilkan sosok sekretaris baru dari balik pint.
"Ada apa Kar?"
Kepala Susi langsung menoleh kearah Ari mendengar panggilan suaminya itu kepada karyawan baru mereka, bukan apa-apa tapi entah kenapa ia merasa panggilan itu sangat akrab. Memantik rasa cemburu dalam hati Susi walau tidak banyak tapi tetap saja, dulu Ari juga sering sekali memanggil Susi dengan tiga huruf depan namanya, itu seperti dia merasa diduakan.
"Sore ini kita ada janji temu dengan pimpinan cabang dari Surabaya pak, mereka menanyakan dimana tempat bertemu?"
"Menurut kamu dimana tempat yang pas untuk bertemu mereka?"
Sekali lagi Susi dibuat bungkam karena pertanyaan Ari yang seolah-olah tak merasa terbebani sama sekali.
Kartini melirik wajah masam Susi yang menatapnya penuh kecemburuan, membuatnya berpikir keras agar tidak membuat masalah.
"Akan lebih baik kalau mereka datang kesini saja, lebih menghemat waktu kita karena setelahnya bapak harus pergi ke lokasi baru untuk proyek kita."
Susi menghitung sudah berapa kali dia mendengar kata kita yang diucapkan oleh wanita bermuka tembok itu, datar banget soalnya.
Ari mengangguk lalu membiarkan perempuan itu pergi, menoleh kesamping mendapati bibir Susi yang bergerak-gerak mendengus sendiri.
"Kenapa?"
Susi menatap sengit wajah Ari merasa dikhianati, lebay kali istri orang.
"Kenapa kinipi kunupu, dasar boss kampret!" Wanita itu berdiri berniat meninggalkan Ari namun terhalang karena tangan pria itu menarik lengannya agar tak menjauh.
"Kamu kenapa?" Lagi-lagi Ari bingung dengan perubahan sikap Susi yang sulit untuk dia mengerti.
"Saya lagi cemburu pak! Gitu aja masa gak peka sih." Susi menghempaskan pegangan Ari dilengannya kemudian menjauh.
Butuh beberapa detik untuk Ari memahami ucapan istrinya hingga suara kekehan membuat kepala Susi spontan menoleh.
"Gak ada yang lucu pak, gak usah ketawa!"
"Kamu bisa cemburu juga? Saya kira kamu gak bakal pernah cemburu sama saya."
"Saya juga punya hati pak, saya ini perempuan berhati lembut selembut sutra. Kecuali sutra magic, bisa bikin keras."
Suara tawa Ari memenuhi ruangan besar ini, membuat Susi mau tak mau ikut tersenyum. Susi dan segala pemikiran ajaibnya.
Pria itu berjalan mendekat, memeluk Susi dari belakang dan meletakkan kepala nya dibahu.
"Saya juga cemburu lihat kamu ditatap orang lain, tapi saya tahu resiko punya istri cantik. Harus siap menerima segala konsekuensinya."
"Saya gak suka bapak manggil perempuan itu dengan sebutan Kar."
"Kenapa?"
"Karena saya merasa dikhianati lagi sama bapak."
Pria itu mencium pipi Susi, memberi jeda untuk menikmati getaran dalam hati nya yang kian terasa. Percayalah, hanya saat berada didekat Susi dia merasakan ini semua.
"Kita bangun lebih kuat lagi kepercayaan dalam diri masing-masing ya, biar gak ada keraguan. Saya sayang kamu Susi."