“Apa-apaan ini kak?” bentak Sandra. Dengan kasar ia menarik tangan Naya dan mengurai pelukannya dengan Gavin.
Naya langsung terjengkang ke belakang dan terduduk ke lantai. Keributan yang mereka buat langsung jadi tontonan orang-orang.
“Dek! Kamu kenapa sih? Kenapa kasar gini?” Gavin balas membentak dan segera membantu Naya berdiri.
Melihat Gavin yang berpihak padanya, Naya yang tadinya nyaris mengamuk ingin membalas Sandra tiba-tiba mengubah rencananya. Ia mengerang sambil memegang bok*ngnya.
“Sa-Sandra?” Naya pura-pura kaget.
“Lo!” Sandra kembali menarik tangan Naya menjauhi Gavin, “Ngapain lo sama kakak gue?!”
“Kakak..? maksudnya, mas Gavin kakak lo?” Naya makin berlagak pilon, padahal di dalam hati ia tengah tertawa ngakak.
“Lo mau goda kakak gue, hah?!”
Sandra mencengkram kuat kerah baju Naya sementara Naya belagak menjadi orang yang tidak berdaya.
“Dek cukup!”Gavin melepaskan cengkraman Sandra dan membawa Naya ke dalam pelukannya.
“Naya ini pacar kakak dek! Kakak nggak suka kamu kasar ke dia!”
“APAA?!”
Puas hati Naya melihat muka syok Sandra. Gadis itu bahkan sampai tidak sanggup berkata-kata. Sekilas, Naya melempar senyum cemooh kepada Sandra dan itu membuat Sandra makin naik pitam.
“Kakak pacaran sama dia? Asal kakak tau, dia musuh aku kak! Dia pacaran sama kakak cuma buat ngebalas aku!” jerit Sandra frustasi.
Gavin terdiam, ia memandangi Naya dan Sandra bergantian.
“Gue gak pernah anggap lo musuh San! Dan asal lo tau, gue gak tau kalau mas Gavin kakak lo! Kalau lo gak suka gak masalah, gak usah permalukan gue dengan bikin ribut di sini.” Lirih Naya.
Mata gadis itu berkaca-kaca, pandai sekali ia bersandiwara!
“Mas Gavin, mungkin kita perlu kaji ulang hubungan kita. Aku gak mau hubungan mas dengan Sandra rusak. Dan aku juga gak mau Sandra makin membenci aku. Mungkin sebaiknya kita putus aja mas!”
Usai melontarkan kalimat menyedihkan itu Naya berlari pergi meninggalkan kedua kakak beradik itu. Dalam hati Naya mulai menghitung mundur dari 10.
“Nay! Tunggu saya!” Gavin berlari mengejar Naya. Naya tersenyum, hitungannya berhenti dihitungan ke-7.
“Kakak..!” raung Sandra.
“Nanti kita bahas di rumah!” sejenak Gavin berbalik kepada Sandra namun sedetik kemudian ia kembali mengejar Naya.
Naya terus berjalan menuju parkiran. Hatinya puas bisa membalas Sandra. Tapi entah kenapa air matanya tidak berhenti mengalir. Seolah tidak rela melontarkan kata putus kepada Gavin.
‘Ayolah Nay! Ini cuma permainan!’ gumamnya dalam hati.
Gavin berhasil mengejar Naya. Ia segera menangkap gadis itu dan memeluknya dari belakang.
“Naya jangan begini! Tolonglah..” Gavin membalikkan tubuh Naya dan menatap gadis itu dengan putus asa.
“Mas, adikmu membenciku! Bagaimana kita bisa lanjut?”
“Bisa saja Nay! Bahkan jika seluruh dunia membencimu, saya akan tetap mencintaimu!”
Tangisan Naya semakin keras mendengar penuturan Gavin yang begitu tulus. Ia merasa semakin bersalah tapi disaat yang bersamaan ia juga bahagia.
“Jangan tinggalkan saya oke? Saya bisa mati tanpa kamu!” pinta Gavin sungguh-sungguh.
Naya menatap Gavin dengan bimbang. Ia bisa saja menyelesaikan hubungannya dengan Gavin hari ini juga. Tujuan utamanya sudah tercapai, ia sudah berhasil membalas Sandra walaupun diluar dugaannya. Naya tidak perlu capek-capek menggandeng Gavin ke kampus untuk memamerkannya ke Sandra. Begini malah lebih baik, lebih natural.
Tapi melihat keseriusan di mata Gavin, Naya tidak berdaya. Ia juga seakan tidak rela berpisah dengan Gavin.
Gavin kembali memeluk erat Naya begitu gadis itu mengangguk. Setetes air mata yang susah payah ia tahan dari tadi akhirnya lolos. Gavin memang begitu mencintai Naya!
***
“Halo mantan sahabat..” Naya berbisik ke telinga Sandra yang sedang berdiri di depan gerbang kampus FISIP.
Amarah Sandra langsung meledak begitu melihat Naya cengiran tanpa dosa di sampingnya.
“Ngapain lo di sini?” hardiknya.
“Dih, pagi-pagi udah emosi. Ya gue lewat lah. Lo aja sengaja kelayapan ke fakultas gue, gue nggak sewot tuh! Sebagai fakultas tetangga, kita harus saling menjaga silaturahmi..” ucap Naya sok bijak.
“Bacot lo! Lo sengajakan mau cari masalah sama gue?”
“Dosa lo suuzan sama gue..”
“Lo umpetin dimana kakak gue?” sembur Sandra
“Maksud lo mas Gavin sayang gue?” Naya balik bertanya. Dia sengaja mengangkat sebelah alis dan ujung bibirnya agar tampak makin menyebalkan di mata Sandra.
“Lo jangan main-main sama gue Nay!” ancam Sandra berang.
“Lo jangan main-main juga sama gue San!" Naya balik mengancam.
“Lo pikir gue gak bisa membalas kekejian lo? Oh ya, mana yang katanya kutukan itu? Lo bilang setiap yang jadi pacar gue bakalan mati. Mana buktinya? Gue macarin kakak lo udah sebulan!” Naya mendekatkan mukanya menantang Sandra.
“Lo—“ Sandra kehabisan kata-kata.
“Kenapa San? Gak sanggup menghabisi pacar gue yang sekarang? Atau kutukannya terputus di orang ketiga?” Naya tertawa remeh.
“Jangan mengada-ada San! Gak ada yang namanya kutukan itu! Itu semua adalah ulah lo! Cepat atau lambat lo akan mendapat balasannya San!”
Naya berlalu meninggalkan Sandra yang tengah menatapnya dengan pandangan berapi-api.
“Tunggu aja Nay! Gue akan buat kak Gavin membenci elo!” gumam Sandra penuh amarah.
.
.
Siang harinya Sandra nekat bolos kuliah dan mencari Gavin ke kantornya. Semalaman ia menunggu kakaknya itu, tapi Gavin tidak pulang ke rumah. Di telponpun Gavin tidak mengangkat.
“Kakak!” Sandra langsung mendobrak pintu ruang kerja Gavin tanpa permisi. Di belakangnya mengekor Remon sekretaris Gavin yang tampak ngos-ngosan mengejar Sandra.
Gavin dan seorang stafnya hanya bisa melongo melihat keributan yang tiba-tiba terjadi.
“Maaf bos! Saya sudah larang mbak Sandra masuk tapi mbak Sandra tetap ngotot!” sahut Remon dengan sambil mengatur napas.
Gavin mengangguk sekilas. “It’s oke Mon. Pak Waluyo, nanti kita lanjut lagi. Filenya ditinggal saja biar saya pelajari dulu.”
“Baik pak Gavin!” Waluyo pamit keluar bersama Remon.
Gavin menatap tajam Sandra begitu karyawannya sudah pergi. Ia paling tidak suka di ganggu pada saat bekerja, apalagi dengan cara yang tidak sopan.
“Kamu pernah belajar etika nggak Sandra?” tanya Gavin dingin.
Kalau Gavin sudah memanggil Sandra dengan nama bukan dengan ‘dek’ lagi berarti moodnya sedang tidak baik-baik saja. Dan Sandra patut berhati-hati.
“Ma-maaf kak! Aku buru-buru..” cicit Sandra. Nyalinya langsung menciut padahal beberapa menit yang lalu ia begitu berapi-api.
“Seburu-buru apa hingga kamu harus mengganggu meeting saya? Apa sangat penting?”
“Penting kak!” jerit Sandra nekad sambil memperbesar nyalinya.
“Kemana kakak semalam?”
Gavin langsung mendengus kasar begitu mendengar pertanyaan konyol Sandra. Jadi anak ini menganggu pekerjaannya hanya karena ingin menanyakan itu?
“Kamu tidak punya pertanyaan yang lebih berbobot supaya kakakmu ini tidak tambah murka?”
“Kenapa kakak pacaran sama Naya?”
Gavin menghela napas menahan geram, “Karena saya mencintainya!”
“Dia musuhku kakak!” jerit Sandra sambil menangis.
“Dia musuh besarku! Dia pacaran sama kakak hanya untuk membalasku!”
Sandra menjerit sambil menghentak-hentakkan kakinya dan itu membuat Gavin menjadi pusing.
“Dia kan musuhmu! Bukan musuh kakak. Lagi pula kakak yang menembaknya duluan. “
“Dia sengaja menjebak kakak!”
“Sandra cukup omong kosongnya!” bentak Gavin.
Seumur hidupnya sangat jarang Gavin membentak Sandra. Sandra adalah saudara satu-satunya yang ia sayangi. Tapi sekali ini Gavin tidak terima kalau Sandra menjelek-jelekkan Naya hanya karena mereka sedang musuhan. Apalagi permusuhan anak baru dewasa seumur mereka biasanya hanya karena hal-hal remeh.
“Apa menurutmu ia sengaja menabrakkan dirinya ke mobil kakak hanya untuk menjebak kakak? Hanya orang gila yang mau mempertaruhkan nyawanya untuk melakukan hal itu Sandra!”
“Ja-jadi dia kecelakaan waktu itu karena kakak yang menabraknya?” Sandra begitu kaget mendengar penuturan Gavin.
“Kenapa tidak kakak tabrak aja dia sampai mati?” jerit Sandra kesal.
“Sandra! Jaga omonganmu! “ bentak Gavin berang dengan napas yang memburu.
“Sekarang kamu keluar sebelum kakak makin marah!”
“Aku akan buktiin ke kakak kalau cewek sialan itu cuma main-main sama kakak!” ucap Sandra tak kalah emosinya sebelum akhirnya ia keluar dan membanting pintu ruang kerja Gavin.
Gavin tertegun. Kenapa Sandra tampak begitu membenci Naya? Padahal Naya sebaik itu. Tapi Sandra bukanlah anak yang jahat. Ada masalah apa antara mereka berdua?
Gavin bertekad akan menanyakan masalah ini ke Naya dulu. Dia harus mendengar alasannya dari kedua belah pihak.
Sore harinya Gavin mengajak Naya bertemu di sebuah kafe. Mereka janjian bertemu di sana karena Naya juga membawa mobil sendiri.
“Mas Gavin semalam gak pulang ke rumah ya?” tanya Naya sambil menyuap makanannya.
“Kok kamu tau?”
“Tadi pagi aku dituduh Sandra ngumpetin mas Gavin gara-gara kakaknya gak pulang ke rumah.”
“Saya tidur di apartement. Sedang malas menghadapi Sandra.”
Naya hanya mengangguk sambil terus menyuap.
“Kamu kenapa bisa berantem sama Sandra?” Gavin mulai memancing.
“Ooh, itu udah lama sebenarnya sih mas.. sejak SMA!” Naya menjawab tanpa beban karena ia sudah mempersiapkan jawaban sejak kemaren.
“Saya boleh tahu ceritanya?”
“Nanti kalau aku ceritain mas Gavin jangan kemana-mana ya pikirannya? Jangan sampe mempertanyakan perasaanku segala!”
Gavin mengangguk cepat walaupun sebenarnya ia tidak paham.
“Jadi ini gara-gara cowok mas! Cowok yang ditaksir Sandra ternyata naksirnya ke aku. Terus cowoknya aku tolak karena aku temenan sama Sandra. Tapi cowok itu malah sakit hati dan numpahin kekesalannya ke Sandra. Sejak saat itu Sandra jadi memusuhi aku. “
“Cuma karena itu?”
Naya mengangguk. Sementara Gavin geleng-geleng kepala, dasar ABG pikirnya. Cuma karena masalah sesepele itu mereka harus musuhan sampai kuliah begini?
“Satu lagi saya mau tanya dan saya harap kamu tidak marah. Apa hari itu kamu sengaja menabrakkan diri ke mobil saya atau itu memang murni kecelakaan?”
Naya menghentikan suapan dan memandang Gavin dengan kesal.
“Jadi mas Gavin curiga sama aku? Mas Gavin terpengaruh Sandra? Apa menurut mas Gavin aku ini orang gila yang sengaja mau cari mati? Andai hari itu mas Gavin tidak bisa mengeremnya dengan cepat aku bahkan bisa mati tergiling!”
“Ah, sudah lah. Mood aku jadi rusak. Aku pulang aja!” Naya membanting sendoknya dan buru-buru berdiri.
“Naya, maafkan saya.” Gavin buru-buru menahan tangan Naya. Raut cemas dan bersalah terpahat jelas di muka Gavin.
“Maafkan saya oke? Saya memang sempat bimbang karena mendengar omongan Sandra, tapi sekarang tidak lagi. Maafkan saya.”
“Sayang? Please..” Gavin berjongkok dan menatap Naya dengan muka memelas.
Naya luruh, mana tahan lama-lama marah kalau melihat wajah ganteng yang sedang memelas imut begini. Ia mengangguk dan tersenyum tipis. Gavin sangat senang dan langsung memeluk Naya.
Sementara itu di balik pot bunga besar, Sandra sedang berjongkok melihat dua orang yang sedang berpelukan itu dengan penuh amarah. Ia sengaja menguntit Gavin dari kantornya tadi.
“Munafik lo Nay! Lihat aja, gue akan buat kak Gavin benci banget sama lo! Lo bakal tau Nay, gimana kejamnya kak Gavin kalau udah sakit hati!”
***