“Maaf, saya ingin berdansa dengan istri saya.” Orang-orang yang berada di lantai dansa juga ikut terkejut melihat aksi Ais barusan. Sean yang mengamati dari kejauhan hanya bersedekap d**a dan tersenyum bangga. Ternyata tadi penilaiannya salah. Awalnya Sean kira rumah tangga Sheril tidak baik-baik saja lantaran tadi Ais terlihat dekat dengan wanita lain. Sean khawatir putrinya akan cemburu. Untung saja itu hanya prasangkanya—padahal Sean tidak tahu kalau kenyataannya rumah tangga putrinya memang kenapa-napa. “Kamu kenapa ke sini?” tanya Sheril. Kini dia melanjutkan dansanya namun bukan dengan Thomas lagi, melainkan dengan Ais. “Disuruh Papa, ya?” tambah Sheril. “Nggak.” Tangan Ais memegang tangan kanan Sheril sedangkan tangan kirinya melingkar pada pinggang ramping Sheril. “Aku pe

