Ais dan Sheril berangkat bersama ke acara pesta perjamuan makan malam dengan mengenakan pakaian yang senada. Ketika berada di dalam mobil menuju tempat tersebut, pasangan itu masih saja diam seribu bahasa. Hanya suara radio yang terdengar menengahi kesunyian. Sheril masih marah dengan Ais, dia tidak mau mengajak Ais berbicara duluan. Sedangkan Ais sendiri bingung hendak berbicara apa. Untuk menghilangkan rasa bosan, Sheril lebih memilih memalingkan wajahnya ke samping, menatap ke arah luar kaca jendela. Pemandangan di luar biasa saja. Hanya terlihat kendaraan umum yang saling berlomba-lomba untuk menuju ke rumah masing-masing secepat mungkin. Sheril mengembuskan napas panjang. Padahal beberapa hari ini dia berharap suaminya peka. Setidaknya cukup ucapkan kata ‘maaf’ atas tindak

