“Dasar cengeng,” ejek Ais sambil mengusap pipi Sheril yang basah akan air mata. Kini mereka sudah berpindah tempat, duduk berduaan di sofa ruang keluarga. “Udah, dong, nangisnya. Nanti kalau cantiknya hilang, gimana?” Merasa gemas, dicubitnya pipi Sheril membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya, cemberut. “Sakit tahu pipinya dicubit-cubit!” protes Sheril. Ais terkekeh. Memang dari kecil wanita ini sudah cantik dan berhasil mencuri banyak perhatian dari banyak orang. Pun juga, kecantikan Sheril tidak pernah memudar seiring berjalannya waktu. “Salah siapa kamu imut banget. Sini peluk.” Sheril menggelengkan kepala, tidak mau. “Nggak, ah. Bukannya waktu itu kamu bilang ke aku kalau kamu nggak suka sifat kekanakanku?” Ais mengernyitkan dahi, “Masa?”

