Misteri Sebuah Kalung

1213 Words
Earth Jeslyn Marioline's POV Kami bertiga kembali mencari buku untuk mengetahui misteri kalung yang kami temukan ketika bertarung melawan raja Aresh. Kalung itu berbentuk bundar yang berwarna perak dan hitam. Sekilas kalung itu tampak seperti wajah seorang pria tetapi ketika kami teliti kalung itu juga terlihat seperti pohon. Kami merasa ada keterkaitan antara dua gambar yang bisa terlihat itu. "Apa kalian ingin menemui Evelyn?" Tanyaku pada Yakira dan Balerina yang membuat mereka berhenti untuk mencari buku. "Untuk apa?" Tanya mereka berdua. "Kita akan bertanya padanya apa maksud dari simbol pohon ini." Ucapku. "Ide yang bagus." Balas mereka. Kami memutuskan untuk keluar dari sekolah secara diam-diam, karena kami tidak mungkin menunggu akhir pekan untuk menemui Evelyn jadi kami putuskan untuk pergi diam-diam. Ketika kami sampai gerbang, seorang wizard menjaga gerbang tersebut. Kami bahkan bingung bagaimana cara untuk menyingkirkan wizard tersebut. Kami berusaha mencari akal agar dapat melewati penjagaan wizard tersebut. "Kapan pergantian penjaga?" Tanya Balerina "Sekitar 7 menit lagi." Sahutku. "Kita lihat siapa yang akan menjadi pengganti wizard ini." Ucapnya. "Tapi..." kata-kataku ini terpotong oleh Balerina. "Tenang saja aku sudah punya rencana." Aku hanya menangguk meng-iyakan pernyataan Balerina. *** 7 menit kami menunggu dan akhirnya penjaga berganti. "Kau lihat wizard yang baru datang?" Tanya Balerina. "Tentu saja." Jawab Yakira. "Wizard yang baru saja berjaga ini adalah temanku. Aku akan dapat izin darinya." Ucap Balerina. "Kau cerdik." Ucapku semangat. Ketika kami sedang berjalan menuju gerbang, sebuah panggilan yang terdengar jelas ditelingaku dari pengeras suara sekolah, memanggil namaku. "Harap Nn. Earth Jeslyn Marioline menemui Ny. Daiva analise sekarang juga!" "Tolong kalian tetap menjalankan misi kita, aku akan menghampiri Ny. Daiva. Kita bertemu dikamarku setelah makan malam nanti." Ujarku sambil memberikan kalung tersebut. "Baiklah Jes." Ucap mereka berdua. *** Balerina's POV Kami melanjutkan perjalanan kami. Sementara Jeslyn kembali untuk menemui Ny. Daiva. "Hey, bagaimana kabarmu?" Tanyaku memulai percakapan dengan wizard itu. "Ouh Balerina, aku baik. Bagaimana denganmu? Apa kau juga masih sering berlatih balet?" Tanya wizard itu. "Aku baik, tentu saja aku masih berlatih balet." Ucapku. "Ada apa kau kemari?" Tanya nya. "Aku ingin meminta izinmu." Ucapku. "Untuk?" Tanya pria itu. "Temanku ini sedang sakit, dia memerlukan obat dari keluarganya. Dia hanya bisa sembuh dengan obat itu." Ucapku. Mendengar perkataanku ini Yakira langsung berakting lemah agar terlihat benar-benar sakit. "Siapa nama temanmu ini?" Lagi-lagi Ia bertanya. "Yakira. Yakira Adamina." "Sebaiknya kalian pergi keruang kesehatan saja." "Kami sudah pergi kesana, tetapi bahkan pengawas ruang bilang bahwa hanya obat khusus yang akan menyembuhkannya, yaitu obat ramuan keluarganya." Jelasku. Setelah mendengar penjelasanku ini, dia terlihat seperti berfikir untuk memberikan izinnya atau tidak. "Baiklah kalian boleh pergi, tetapi kalian harus kembali sebelum waktu jagaku berakhir." Ucapnya. "Baiklah." Balasku sambil tersenyum. Kami segera meninggalkan sekolah itu. "Berapa jam waktu jaganya." Tanya Yakira. "Hanya 3 jam." Jawabku. "Baiklah kita harus cepat." Ucap Yakira. Kami berdua berjalan masuk kedalam hutan dan mendatangi rumah pohon Evelyn. Cukup lama kami berjalan dan akhirnya sampai. "Evelyn, apa kau ada diatas?" Kataku setengah berteriak. "Tentu, naik saja." Jawabnya dari atas. Lantas kami naik keatas rumah pohonnya dengan segera. "Ada apa?" Tanya Evelyn. "Kami datang kesini untuk menanyakan beberapa hal padamu." Ucapku. "Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?" "Aku ingin bertanya soal kalung yang kita lihat waktu itu, apa arti dari kalung ini. Kalung ini berbentuk wajah seorang pria dan juga terlihat seperti pohon. Apa artinya?" Tanyaku. "Wajah pria itu berarti wajah dari pemilik kalung tersebut. Dan pohon itu berarti kehidupan." Jawab Evelyn. "Jadi artinya kalung ini simbol kehidupan pria tersebut." "Ya kau benar." "Apa maksudmu jika kalung ini hancur, maka pria tersebut juga akan musnah?" Tanya Yakira. "Begini, ada kalung yang hanya menjadi simbol saja, dan ada juga kalung yang berkaitan dengan kehidupan seseorang." Ucap Evelyn menjelaskan. "Bagaimana cara mengetahuinya?" Tanyaku. "Kau harus bertarung dengan orang pemilik kalung ini. Jika ia terlihat kesakitan saat kau mencoba untuk menghancurkan kalung ini, berarti kalung ini berkaitan dengan kehidupannya." Jelas Evelyn. Kami hanya mengangguk paham dengan penjelasan Evelyn. "Apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi?" Tanya Evelyn. "Tidak, hanya ini. Evelyn kami harus segera kembali kesekolah." Ucap Yakira. "Baiklah." Jawabnya singkat. Kami segera turun dari rumah pohonnya dan meninggalkannya. Kami terus berjalan keluar dari hutan, ketika kami sudah berada tidak jauh dari gerbang sekolah. Alarm berbunyi tanda waktu pergantian penjaga. Kami berlari kencang dan mencoba untuk sampai sebelum penjaga berganti. Untung saja ketika kami sampai, wizard temanku tadi masih ada ditempatnya. Jadi, kami bisa masuk kedalam lagi. Ketika kami ingin menghampiri Jeslyn untuk memberitahunya tentang masalah kalung tadi, kami melihat Jeslyn baru saja keluar dari ruang Ny. Daiva bersama dengan ibu dan ayahnya. Apa yang terjadi? Mengapa wajah Jeslyn tampak murung? "Jes, ada apa?" Tanyaku padanya. "Aku..." belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, dia memelukku dengan erat dan menangis dipelukanku. "Jes, tenanglah. Ada apa?" Tanyaku. Dia tidak menjawab, dia hanya pergi setengah berlari meninggalkan aku dan Yakira. "Hai, Tn. Addison Patres!" Sapaku pada ayah Jeslyn. "Hai! kau teman Jeslyn bukan? Kalau tidak salah namamu adalah Balerina, Jeslyn sudah bercerita tentangmu." Ucap ayah Jeslyn. "Iya, aku adalah Balerina teman Jeslyn, apa yang terjadi pada Jeslyn?" "Kau akan mengetahuinya dari Jeslyn secara langsung." Aku tahu bahwa ayah Jeslyn tidak ingin memberitahu apa masalah yang sebebarnya terjadi, baiklah. Aku akan bertanya langsung pada Jeslyn, aku harap dia akan menceritakan apa yang terjadi. *** Earth Jeslyn Marioline's POV Aku terus berlari meninggalkan Balerina dan Yakira didepan ruangan Ny. Daiva. Aku tidak bisa berkata ketika tahu bahwa aku dikeluarkan dari sekolah. Ketika aku bertanya apa alasan Ny. Daiva mengeluarkanku, dia hanya menjawab bahwa aku tidak aman ada disekolah ini. Aku sangat sedih ketika mengingat bahwa aku akan meninggalkan kedua sahabat baikku disini. "Jeslyn! Apa kau baik-baik saja?" Tanya seorang wanita dari luar yang tidak salah lagi itu adalah Balerina. "Ya, aku baik-baik saja. Kau masuk saja Balerina." Ucapku. Terdengar suara pintu terbuka dan ternyata Balerina sudah berada didalam. "Hei, ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Balerina lembut. "Kalian perlu tahu, aku dikeluarkan dari sekolah ini." Ucapku lemah. "Apa?! Tapi apa alasannya?" Tanya Yakira. "Ny. Daiva bilang, ada yang berusaha mencelakaiku. Orang misterius itu selalu datang padanya. Tetapi dia tidak mengetahui siapa orang itu. Bahkan orang misterius itu bilang bahwa keberadaanku disini akan mempengaruhi keadaan sekolah ini." Jelasku. "Jadi, maksud Ny. Daiva keberadaanmu disini mengancam keadaan sekolah ini?" Tanya Balerina. "Ya." Jawabku singkat sambil terus menangis. Balerina hanya memeluk dan menenangkanku, sedangkan Yakira terlihat sedih dan tak berkata-kata. "Kami sudah menemukan jawaban tentang kalung itu Jes." Ucap Balerina memecahkan kesunyian. "Baiklah, apa arti kalung itu?" Tanyaku sambil menyeka air mata. Balerina menjelaskan padaku tentang apa yang dikatakan Evelyn padanya. Aku hanya mengiyakan semua perkataanya, kemudian Evelyn memberikan kalung itu kepadaku dan memintaku untuk menyimpannya. "Kapan kau akan pulang?" Tanya Balerina. "Nanti malam." Jawabku. "Baiklah aku akan menemanimu terus sampai nanti malam." Ucapnya. "Ya aku juga akan menemanimu." Sambung Yakira. "Terima kasih kalian mau menemaniku disaat seperti ini." Ucapku. "Tentu saja teman selalu ada disaat senang maupun susah." Ucap Yakira. Malam hari tiba, ayah, ibu tiriku, dan Ny. Daiva mengetuk pintu kamarku untuk menjemputku. Aku keluar kamar dan hendak meninggalkan sekolah tetapi Balerina membisikan suatu hal padaku. "Jes, tolong kau selidiki tentang kerajaan ini dirumahmu." Bisik Balerina ditelingaku. Aku hanya mengangguk sambil mengedipkan kedua mataku. Aku akan menyelidiki tentang apa yang terjadi dengan ibuku dan raja Aresh nanti dirumah. Aku akan masuk keruang kerja ayah dan mencari tahu semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD