Pengendalian Emosi

1062 Words
Author's POV Pagi yang cerah ini anak-anak fantasy school berkumpul di lapangan sekolah yang luas untuk melakukan latihan pengendalian emosi. Earth Jeslyn Marioline terlihat berbeda dari teman-temannya ia hanya memasang wajah datar dan memperhatikan apa yang dipelajari dikelas ini. Ternyata mereka akan menghadapi lawan tanding mereka masing-masing. Wanita itu hanya terdiam ketika ia mengetahui bahwa lawannya adalah si gadis berambut merah. Ya! lawannya adalah Yakira Adamina, wanita yang dianggapnya sombong itu. Ketika akan mulai bertanding mereka saling menatap tajam satu sama lain. "Aku hanya takut tidak bisa mengendalikan emosiku." Ucap Jeslyn sambil bersiap-siap. "Aku bisa menghadapimu!" Ucap Yakira sambil tersenyum sinis melihat Jeslyn. Mereka memulai pertandingan itu. Luka mulai ada didiri mereka masing-masing. Tibalah di puncak emosi, Jeslyn mulai merasa dirinya sudah diambang batas dan menginginkan pertandingan itu berakhir. Tetapi lawannya malah menghinanya. "Apa kau takut padaku Tuan Putri?" Sindirnya yang membuat Jeslyn berada diambang batas kesabaranya. Yakira membuat bola api yang berukuran sangat besar dan mulai mengarahkan bola itu ke arah Jeslyn. Jeslyn tiba-tiba mengeluarkan suara yang jelas-jelas itu bukan suara Jeslyn yang sebenarnya. "Hei kau, apa kau tidak takut padaku. Siapa dirimu yang berani melawanku? Kau tidak tau kalau aku bisa muncul ketika emosi Jeslyn tidak bisa dibendung lagi." Ucap Jeslyn dengan tatapan mengerikan. Seketika ia mengeluarkan cahaya yang amat menyilaukan dari telapak tangannya, kemudian tidak ada satu pun orang yang bisa menatapnya. Seketika angin bercampur dengan debu dan tanah mengelilingi Yakira yang membuatnya tidak bisa melakukan apapun. Tiba-tiba bola api yang berukuran sedang mengenai tubuh Yakira yang membuatnya menjerit kesakitan dan serangan itu masih berlanjut, tidak disangka Jeslyn mengendalikan air yang ada disekitarnya dan menyiramkannya kearah tubuh Yakira. Sontak luka-luka ditubuh Yakira berubah menjadi menakutkan dan terlihat menjijikkan yang membuat semua orang didekatnya langsung menjauh. Jeslyn yang pada saat itu warna bola matanya terus berubah melihat sinis kearah wanita berambut merah itu, sepertinya Jeslyn ingin menghabisi wanita itu. Sontak guru yang menyaksikan itu memanggil seorang senior pengendali pikiran. Senior itu seorang wanita berambut hitam dan berkulit putih. Ia hanya mengatakan. "Berhenti Jeslyn!" Ucap wanita itu. Maka Jeslyn langsung jatuh pingsan saat itu. Yakira dibawa ke ruang kesehatan untuk pengobatan lebih lanjut. *** Balerina's POV Aku sedang berjalan-jalan disekitar kerajaan dan bertemu seorang wanita paruh baya berjalan kearah sebuah ruangan. Aku terus memperhatikan gerak-gerik wanita paruh baya itu, entah mengapa kali ini aku terseret oleh seorang wanita paruh baya. Aku mengikutinya diam-diam sampai akhirnya berakhir disebuah ruangan yang sangat luas, terlihat disana rak sepatu yang dipenuhi dengan sepatu balet. Ya, tidak salah lagi ruangan itu adalah ruangan yang kucari-cari selama ini. Wanita itu perlahan berjalan mengambil sebuah kotak yang ukuranmya cukup sedang. Ketika kotak itu dibuka maka mataku terbelalak melihat isi kotak itu. Oh.... sepatu yang sangat indah, baru kali ini aku melihat sepatu sebagus itu sepatu itu berwarna biru yang bercampur dengan warna hijau lautan. Wah, sangat indah! Perlahan-lahan wanita itu mengganti sepatunya dengan sepatu ballet itu dan mulai menari secara perlahan-lahan tetapi gerakannya sangat melodis dan menyatu dengan lagu. Baru kali ini aku melihat tarian balet yang begitu menarik, luar biasa! Seiring berjalannya waktu musik itu pun terhenti dan diakhiri dengan ending dari tariannya yang indah. Aku harus mengetahui siapa wanita paruh baya ini sebenarnya. Aku mulai berjalan kearah wanita itu dan mulai bertanya. "Hai, boleh ku tahu namamu?" Tanyaku padanya. "Tentu saja. Namaku Jesica Albert. Lalu siapa kau?" Ucap wanita itu. "Aku Ballerina Neely, aku sangat menyukai tarianmu dari mana kau belajar?" Ucapku antusias. "Aku sudah mempelajari balet saat aku masih sekolah disini. Aku angkatan pertama sekolah ini." Ucap Jesica Albert. "Maaf tapi jangan tersinggung berapa umurmu?" Tanyaku sedikit ragu. "Hahaha aku sudah sangat tua, aku berumur 135 tahun." Ucapnya. "A-apa? Tapi kenapa kau sangat mahir menari balet. Sedangkan orang-orang yang seumuran denganmu lebih memilih untuk beristirahat di rumah dan meminum segelas kopi." Jelasku padanya. "Aku berbeda dari mereka, aku terlalu sering menari balet sehingga tubuhku tetap bugar." Ucapnya sambil tersenyum. "Kau benar, ketika aku menari aku merasa elemenku menyatu dalam diriku." Ucapku padanya. "Kalau begitu kau harus terus menari, ini caramu melatih elemen dalam dirimu." Wanita itu menasehatiku. "Baiklah aku akan banyak menari mulai sekarang." Ucapku sambil mengangguk. "Apa kita masih bisa bertemu lagi?" Tanyaku sebelum pergi. "Tentu saja aku selalu mengunjungi tempat ini setiap akhir pekan." Ucapnya. Baguslah dengan begitu aku bisa berlatih bersama dengannya. Ketika aku berjalan untuk kembali ke kamar, aku mendengar jeritan seorang wanita dari ruang kesehatan. Aku berlari dengan cepat melihat siapa yang sebenarnya ada disana. Dan.. Wow, wanita berambut merah itu terluka, tapi tunggu siapa yang melukainya? Aku mulai berjalan kearahnya dan bertanya padanya. "Siapa yang membuatmu terluka begini?" Tanyaku sambil mengerutkan kening. "Tanya saja sama tetangga kamarmu itu!" Sinisnya. Lantas aku memikirkan Jeslyn. Aku berlari dengan cepat dan melihat keadaan Jeslyn. Dia tertidur dengan wajah penuh peluh. Aku mengambil sebuah kain dan mengusap wajahnya. Aku akan menanyakan apa yang terjadi padanya besok pagi. Waktunya makan malam, berarti aku akan pergi sendiri karena temanku ini nampaknya sedang tidak enak badan. Aku segera mandi dan menggunakan seragam malam, aku suka modelnya, seragam ini berwarna coklat kehitaman dan dibalut sentuhan dasi merah tua yang dimasukkan kedalam rompinya. Perfect, aku berjalan menuju ruang makan ketika sedang berjalan aku melihat seorang laki-laki tampan berambut coklat berkulit putih dan berbadan tegap. Aku terlalu memperhatikannya dan tidak melihat tali sepatuku yang sudah terbuka. Aku tersandung dan jatuh, aku sangat malu bagaimana jika pria tampan itu masih melihatku, aku tidak berani menegakkan kepalaku. Dan sebuah tangan terulur kearahku berniat membantuku, ketika kulihat wajahnya.. Oh tidak! Itu pria tampan yang tadi aku lihat, perasaanku begitu malu, tetapi tanganku menyambut tangannya. Jantungku terasa berdegup kencang. Apakah ini cinta pada pandangan pertama? Oh tidak mungkin aku menaruh perasaan pada laki-laki ini. "Kau baik-baik saja?" Tanya pria itu dengan senyumannya. "Ya, aku baik." Jawabku singkat. "Baik, mau berjalan bersamaku?" Tanya pria itu. "O..oh tentu." Aku benar-benar gugup. Tetapi kami berjalan dengan santai, sekuat mungkin aku tetap terlihat tenang. "Jadi siapa namamu?" Tanya pria itu. "Namaku Balerina Neely." Jawabku to the point. "Nama yang unik. Perkenalkan namaku Riley Johson Albaison. Panggil saja Riley." Ucapnya memperkenalkan diri. Ketika bersantap malam kami banyak mengobrol, ketika ia ingin pergi ia mengatakan sesuatu yang membuatku mengembangkan senyuman. "Dah, sampai jumpa lagi!" Ucapnya sambil melambai. Aku hanya melambaikan tangan dan berdoa semoga kami akan bertemu lagi. Aku akan menceritakannya pada Jeslyn besok. Oh tidak lupa, aku akan menanyakan terlebih dahulu apa yang terjadi ketika mereka latihan tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD