Malam Pertama

868 Words
"Kamu menyesal?" Agam menatap punggung mulus di depannya. Jelas ia tahu, bahu wanita di depannya bergetar. Ia yakin, wanitanya tengah menangis. Menangisi dirinya yang terbangun dalam keadaan polos bersama pria yang tak dicintainya. "Sarah." Agam memanggil wanita yang baru ia nikahi kemarin pagi. "Diam!" bentak Sarah tanpa menoleh. Wanita itu mengeluarkan tangis yang sejak tadi ia redam. "Maaf kalau—" "Kenapa? Kenapa kamu mengambil kesempatan saat aku mabuk?" tanya Sarah. Agam mengernyit. "Mabuk? Mabuk apa? Kita tidak minum alkohol, bahkan tak ada bau alkohol dari napasmu!" Akhirnya, Sarah menoleh. "Kau kira aku ingin?" Wanita itu menatap dengan tajam. "Apa?" Agam sedikit terkejut dengan pertanyaan istrinya. Jelas Agam ingat bagaimana semalam Sarah, istrinya itu yang memulai pergumulan. Saat itu, Agam masuk ke kamar Sarah, berniat pamit pulang karena ia tahu istrinya belum siap dengan pernikahan mereka yang dipaksakan oleh ayah wanita itu. Saat itu, tiba-tiba Sarah menciumnya dan menariknya ke ranjang pengantin mereka. "Kau tau, kita nikah itu demi memenuhi permintaan Papaku. Aku tuh gak cinta sama kamu. Kamu tau itu, aku cinta sama Mas Sultan, bukan kamu Mas!" seru Sarah. Sultan, tentu saja Agam tahu betapa Sarah mencintai mantan kekasihnya yang telah menikahi wanita lain. Tentu Agam tahu tak mudah bagi Sarah untuk melupakan mantan kekasihnya itu. Bagaimana juga, kisah mereka bukanlah kisah yang singkat. Bahkan, ia menikahi Sarah karena permintaan Alvin, ayah Sarah yang merupakan upaya terakhir agar Sarah bisa melupakan Sultan, mantan kekasihnya. "Tapi semalam kamu yang memulainya Sarah." "Aku gak sadar, kamu harusnya tau itu, Mas!" teriak Sarah. "Apa, gak sadar?" Agam menggeleng. "Kita gak ada minum alkohol, bagaimana ...." Agam tak melanjutkan kalimatnya saat ia ingat, semalam setelah makan malam bersama ayah mertuanya. Sang Ayah Mertua memberi putrinya segelas jus jeruk. Mungkinkah? Tidak, Agam tak mau menduga tanpa bukti. "Pasti kamu yang kasih obat di jus jeruk semalam!" tuduh Sarah. Agam hanya diam, ia masih mencerna pemikirannya. Ia tak mau meletakan kecurigaan pada ayah mertuanya. "Tega kamu Mas!" ujar Sarah, wanita itu kemudian mengambil jubah satin miliknya, memakainya lalu turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi dengan menutup pintu keras. "Mungkinkah Om Alvin?" Agam tak mau berprasangka. Pria itu segera turun lalu memakai pakaiannya. Ia keluar kamar dan mencari ayah mertuanya untuk mengonfirmasi dugaannya. "Ngawur kamu Mas." Agam menghentikan langkahnya saat mendengar suara tante Alia di ruang makan, ia langsung bersembunyi di balik dinding dan mengintip di mana di ruang makan ada Tante Alia adik Om Alvin yang tengah bicara dengan Om Alvin. "Kalau tidak seperti itu, mana mungkin mereka bisa sama-sama nanti Lia." "Iya tapi kamu itu nggak sabaran Mas, tunggu saja pasti mereka akan saling cinta nanti." "Sudahlah, biar saja caraku berjalan, bagus kalau Sarah cepat hamil. Biar mereka bisa mempertahankan pernikahan. Aku takut setelah aku mati, mereka akan cerai." Mendengar itu, Agam pun semakin yakin dengan dugaannya, semua karena ulah Ayah mertuanya yang mungkin memberi obat pada jus Sarah semalam. Namun, ia tak mungkin menyalahkan ayah mertuanya. Dirinya orang yang mendapat keuntungan dari rencana ayah mertuanya itu. Mungkin benar pikiran ayah mertuanya. Semalam dirinya sudah menjadi yang pertama bagi Sarah, ia harap itu bisa menahan Sarah tetap di sisinya hingga nanti Sarah bisa jatuh cinta padanya. *** "Kamu mau ke mana Sarah?" tanya Agam. Mata pria itu menatap bingung pada koper istrinya di dekat ranjang. Sarah tak menjawab, wanita itu sibuk mengemasi pakaiannya. Agam tak sabar. Ia dekati Sarah dan menahan lengan istrinya itu. "Tunggu, kamu itu lagi apa?" Sarah langsung menyentak tangan Agam. "Apa?" Mata wanita itu menatap nyalang pada suaminya. Sarah terdiam sesaat untuk mengontrol emosinya. Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku mau pergi, ke Jerman." Mata Agam melebar. "Jerman?" Sarah mengangguk. "Aku butuh waktu untuk menenangkan diri." Agam menggeleng. "Apa ini karena malam kemarin? Sarah, aku minta maaf, aku—" "Bukan hanya karena itu!" seru Sarah. Ia kembali menatap fokus pada Agam. "Aku benar-benar butuh waktu untuk menyendiri. Aku lelah Mas, aku lelah dengan semua yang terjadi." Agam hanya bisa terdiam, menatap mata Sarah yang berkaca-kaca. "Kamu gak tau betapa beratnya aku lalui tahun ini bukan? Pacarku menghamili sahabatku, terpaksa menikahinya dengan tetap berjanji setia dan kembali padaku. Tapi apa?" Sarah menghapus air matanya. "Apa yang aku dapat? Hanya menelan janji manis yang berubah pahit saat dia akhirnya memilihnya dan aku?" Sarah menunjuk dirinya sendiri. "Aku, aku terjebak dalam pernikahan tanpa cinta denganmu?" "Sarah, sekarang mungkin tanpa cinta. Tapi nanti kita bisa—" "Mas pikir semudah itu? Apa Mas pernah memikirkan dari posisiku?" Sarah menggeleng. "Gak, Mas gak akan tau rasanya jadi aku." "Please, jangan halangi aku. Aku benar-benar butuh waktu untuk meredakan perih ini." Sarah terduduk di ranjang dan ia menangis pilu. "Pergi, aku ingin sendiri!" "Sarah ...," ucap Agam lirih. "Pergi Mas." Agam menyerah, ia pun mundur dan dengan langkah gontai meninggalkan kamar istrinya itu. Mungkin benar, Sarah butuh waktu dan dia akan bersabar, mungkin seminggu, atau satu bulan. Begitu pikirnya. Di ambang pintu, Agam berhenti, tanpa berbalik, pria itu berkata, "Pergilah, tapi ingat Sarah. Kapanpun, aku bisa menjadi rumah tempatmu pulang. Rumah yang akan melindungimu dan membuatmu nyaman. Itu janjiku." Sarah menoleh, menatap punggung Agam yang kemudian menghilang di balik pintu. Wanita itu semakin meluapkan tangisnya. Membiarkan rasa perih di dadanya keluar, ia harap bisa lega setelahnya. "Kenapa, kenapa sampai sejauh ini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD