“Aris, sampai di sini saja,” pinta Malika saat mobil yang ditumpanginya hampir masuk ke halaman rumah Danuarta. Aris menepi, “Di sini? Tapi kamu harus berjalan cukup jauh.” “Tak apa. Jangan khawatir, aku sanggup. Pertanyaan-pertanyaan ayah yang aku tidak mau dengar.” “Kita seperti anak SMA yang pacaran diam-diam, ya,” kekehnya. Malika merengut, “Salahkan Mamamu.” Aris terkekeh lebih banyak. “Harusnya kamu salahkan diri sendiri, Malika. Kamu yang merahasiakan diri dari kami.” “Itu karena aku amat sangat yakin dengan cinta sejati kita. Tak tahunya aku saja yang cinta sendiri," sindir Malika jelas. “Shh!” Aris meletakkan telunjuk di bibir Malika. “Kamu salah. Aku juga mencintaimu, Sayang. Terus ingat itu. Aku tidak ingin kita saling salah paham lagi.” Malika memaksakan senyumannya. Sa

