- 37 -

1660 Words
= = = = = Alex = = = = = Pukul delapan malam, aku baru selesai mandi. Aku baru sampai rumah pukul tujuh tiga puluh malam, setelah menghadiri beberapa pertemuan dengan klien penting yang juga di hadiri oleh Papa. Alhasil, aku pulang di antar oleh mobil kantor, dan mobilku masih terparkir di kantor. Saat sampai di rumah, aku tidak menemukan Tiara. Sesuai dengan izinnya tadi sore, yang mengatakan bahwa Tiara akan ada urusan dengan teman temannya yang mengajaknya berkumpul. Aku tak mempermasalahkan hal tersebut, dan membiarkan Tiara menikmati masa masa bersama teman temannya. Aku menarik sebuah kaos dari dalam lemari pakaianku, saat suara pintu kamar terbuka terdengar di telingaku, yang membuatku serta merta berbalik untuk melihat siapa yang datang. Kaos yang aku ambil masih di tangan, belum sempat aku gunakan, saat aku melihat sosok Tiara yang tampak lesu membuka pintu kamar, serta wajahnya yang menunduk tak bersemangat. Aku agak terkejut, saat tangannya bergerak untuk mengusap … air mata yang tampak menggenangi kedua matanya. Aku baru menyadari satu hal, dengan muramnya wajah Tiara saat datang ini. Tiara menangis! Wanita itu melangkah ke dalam kamar, dengan bahu yang bergerak akibat terisak di sela sela sisa tangisnya. Tiara bahkan tak memperhatikan sekeliling, seolah tidak sadar dengan kehadiranku di kamar ini, karena kepalanya yang terus menundu, dan isi kepalanya yang entah di penuhi apa. “Sayang?” aku memanggilnya lembut, seraya ingin memberitahu bahwa ada aku di kamar ini. Tiara terkesiap, ia mengangkat kepalanya, matanya melebar, tampak terkejut saat melihat sosokku yang berada di dalam kamar ini. Wanita itu buru buru menghapus sisa air mata yang masih terlihat jelas di pelupuk matanya, serta wajah kusutnya sesaat setelah menangis. “Kamu … kapan pulang? Kok gak ada mobilnya di depan?” Tiara berusaha tidak menatapku, dengan menatap ke sembarang arah – demi menyembunyikan wajah dan mata sembapnya yang habis menangis kepadaku. Namun, aku sudah mengetahuinya. Aku sudah melihatnya, untuk apa di sembunyikan lagi? “Setengah jam yang lalu, aku tadi di antar mobil kantor.” Aku menyahuti pertanyaan Tiara terlebih dahulu, sebelum aku akhirnya bertanya. “Kamu kenapa, Ra?” aku berjalan menghampirinya, lalu meraih bahunya, dan menghadapkan tubuh itu menjadi menghadap ke arah ku. Tiara tidak menjawab, ia hanya sibuk menunduk, tampak berusaha meredam kesedihannya sendiri dan tak menunjukan tetes air matanya di hadapanku. Wanita itu masih diam untuk beberapa detik, hingga di detik berikutnya, Tiara bergerak untuk memeluk tubuhku yang belum sempat menggunakan kaos yang tadi aku ambil. “I’m okay.” Tiara menyahut, yang sudah jelas adalah sebuah kebohongan, sebab aku tahu bahwa pasti ada apa apa dalam diri Tiara. Ucapannya berbanding tebalik dengan sikapnya. Tiara menenggelamkan wajahnya di dadaku, hingga kemudian aku dapat merasakan bahwa Tiara tengah menangis dalam pelukanku. Bahunya berguncang, menandakan bahwa wanita itu terisak. Aku dapat merasakan air matanya mengenai permukaan kulitku, di susul dengan suara tangis nya yang terdengar memilukan. Aku tak banyak bertanya, dan hanya membiarkan wanita itu mengeluarkan sesak yang di rasakannya dalam pelukanku. Tanganku kini bergerak untuk meraih punggungnya, mengusap pelan punggung tersebut untuk memberinya dukungan untuk hal apa pun yang tengah di hadapi Tiara. Sepuluh menit berlalu, Tiara akhirnya melepaskan diri dari pelukanku. Matanya masih sembap, sisa sisa air mata masih terlihat, bahunya pun sesekali masih berguncang. Tangan itu sesekali mengusap sisa air matanya yang membasahi pipi wanita itu. Sementara aku, hanya menatapnya tak mengerti, tentang alasan mengapa Tiara datang dan langsung menangis begitu saja. “Aku bikinin s**u hangat ya buat kamu.” Aku berinisiatif untuk membuatkannya s**u hangat, agar menenangkan perasaannya yang saat ini sepertinya sedang kacau. Tiara tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan seraya duduk di tempat tidur kami, lalu bersandar pada headboard di ujung tempat tidur. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, selagi aku turun ke bawah untuk menyeduhkan s**u hangat yang tadi aku sebutkan. Aku kembali ke kamar dengan membawa segelas s**u, yang kemudian aku sodorkan pada Tiara. Istirku segera menyambutnya, lalu meneguknya secara perlahan tanpa banyak komentar. Air matanya sudah tidak lagi keluar, hanya saja matanya masih terlihat sembap hingga membuat pipinya sedikit bengkak. Tiara menaruh gelas di meja yang ada di sebelah tempat tidur kami, lalu kembali bersandar pada headboard tempat tidur. Aku menatapnya tidak mengerti, selagi wanita itu masih tetap diam dan tak mengatakan apa pun tentang alasannya yang datang datang seketika menangis. “Ada masalah?” tanyaku lembut, berusaha untuk memahami kondisinya saat ini. Tiara terdiam untuk beberapa saat, hingga akhirnya menjawab, “Enggak,” jawabnya dengan suara yang terdengar agak serak, khas orang habis nangis hingga energinya terkuras. Aku menatapnya tidak percaya, atas jawaban yang di ucapkannya itu. Bagaimana mungkin tidak ada masalah, tapi Tiara pulang pulang menangis histeris tanpa bisa di tahannya lagi. Bagaimana bisa aku mempercayai jawaban itu, yang sama sekali tidak sinkron dengan kejadian saat ini. “Kamu gak papa?” aku bertanya lagi, kali ini lebih mengutamakan kondisinya yang memang tidak terlihat baik baik saja. Namun, Tiara justru mengangguk, seolah mengonfirmasi bahwa dirinya baik baik saja. Padahal dari kondisinya saja sudah terlihat, bahwa Tiara tidak sedang baik baik saja. “Ada sedikit masalah sama anak anak, mereka kayak bahas sesuatu yang bikin aku gak nyaman. Terus aku baper, malah jadi nangis dan kabur gitu aja.” Tiara menyamarkan cerita sesungguhnya, dengan menyebut bahwa dirinya hanya sebatas tidak nyaman tanpa diberitahu apa penyebabnya. Mataku kembali memicing, seolah tidak mengerti dengan apa yang di ucapkanna itu. “Tentang apa? Aku bukannya penasaran atau gimana, tapi aku perlu tahu apa yang bikin kamu sampe nangis, Ra.” Aku berusaha membujuknya agar mau bercerita tentang kronologis kejadian apa pun yang menimpanya hingga membuat wanita itu menangis dna memilih pulang. “Aku gak mau bahas.” Tiara menjawab dengan singkat, padat , dan jelas. Tanpa memperpanjang apa yang tengah di rasakannya itu.  Aku berusaha mengangguk, memahami kondisinya yang sedang tidak baik baik saja, dan tentu saja tidak bisa memaksanya untuk bercerita dalam kondisi seperti ini. Maka yang aku lakukan hanya kembali memeluknya yang kini tengah dalam posisi berbaring. Tiara balas memelukku, lalu tenggelam di dadaku yang kini menyamping menghadap ke arahnya. Aku dapat merasakan hembusan napasnya yang mulai teratur, disertai tangannya yang tampak memperat pelukan di pinggangku.  Wanita itu selalu berada di pelukanku, tapi mengapa aku merasa bahwa Tiara begitu jauh? Aku tak pernah tahu apa yang Tiara rasakan atau pun pikirkan, Tiara selalu menciptakan jarak dan dinding pembatas antara kehidupannya dengan aku yang notebandnya sebagai suami nya. Aku ingin masuk ke dalam kehidupan Tiara lebih jauh, tapi ia seolah tak mengizinkan hal tersebut. Tubuh Tiara kini lebih naik ke atas, kepalanya tak lagi berada dalam dekapan dadaku, melainkan kini menempeli leherku. Aku dapat merasakan hembusan napasnya yang semakin jelas, serta kulit wajahnya yang begitu terasa di area leherku. Malam semakin larut, kesenduan akibat tangisan Tiara beberapa waktu lalu berubah menjadi setitik gairah yang melingkupi malam kami. Emosi yang semula melanda Tiara kini berubah menjadi desir panas yang juga menyengat di tubuhku. Aku menyambut gerakannya yang mengarah untuk memagut bibirku, membuatnya semakin mudah untuk melakukan aktivitas lainnya. Aku selalu mencintainya, atau lebih tepatnya terlalu mencintainya. Aku menyukai segala sesuatu yang ada pada diri Tiara, baik wajahnya yang manis dan memukau, sikapnya yang dingin dan terkesan galak, perhatian perhatian kecil yang sering luput dari pandangan orang lain – tapi aku dapat merasakannya – serta tubuhnya yang semakin menggoda di setiap malam malam kami menjalani aktivitas suami istri ini. Sikap Tiara masih tergolong wajar, bukan kah memang seperti ini sikapnya sejak dahulu? Aku bisa menghadapinya, sampai saat ini pun aku mampu untuk menghadapinya. Kami selalu baik baik saja, meski Tiara sering kali marah terhadapku atau terkesan tidak peduli. Namun, lihat lah kami yang masih bisa bertahan hingga detik ini. Jadi, menurutku hubungan ini masih berjalan sewajarnya. Tidak ada yang salah dengan rumah tangga kami. Aku cukup menghargai privasi Tiara, begitu juga Tiara yang menghargai privasiku. Ia jarang bertanya tentang hal hal yang sudah menyentuh ranah pribadiku, meski aku ingin sekali membaginya, hingga berakhir aku bercerita terhadapnya dan Tiara tetap meresponku dengan baik tanpa memaksa untuk bercerita terhadapnya. Tak jarang juga aku mendengarkan keluh kesah tentangnya, tentang pekerjaan atau pun teman temannya yang sering ia keluhkan. Aku cukup mengenal pertemanan Tiara yang tidak terlalu banyak. Tiara sendiri lebih sering bermain dengan teman teman kuliahnya, seperti Chica, Lila, Azril, Sandy, dan Rehan. Aku mengenal mereka semua karena sering bermain bersama, Tiara sering mengajak aku juga saat akan berkumpul dengan mereka. Bahkan kami juga sering liburan bersama, dengan aku yang ikut ke dalam rombongan pertemanan Tiara. Hanya ada satu orang yang tidak begitu aku kenal, seorang teman Tiara yang katanya tinggal di luar kota, tapi teman teman Tiara sering menyebut namanya. Aku lupa siapa namanya, tapi kami belum pernah bertemu secara langsung, karena setiap kali aku ikut Tiara berkumpul dengan teman temannya, tidak pernah ada cowok itu. Namun, tadi sore saat Tiara izin kepadaku untuk bermain dengan teman teman kuliahnya itu, aku sedang ada pekerjaan dan pertemuan penting dengan klien, sehingga membuat ku tidak bisa menemaninya untuk berkumpul dengan teman temannya itu. Sehingga Tiara harus pergi sendirian, yang mana malah terjadi masalah yang aku sendiri pun tidak memahaminya. Tiara memimpin permainan malam ini, dengan bergerak naik ke atas tubuhku. Wajah sembabnya akibat tangisan tadi menambah aura kesenduan malam yang telah terbakar hawa panas di tubuh kami masing masing. Gerakan Tiara semakin sensual, di iringan dengan suara desahannya yang berkali kali terlepas, seraya menyebut namaku di tengah racauannya. Aku pun tak mau kalah, dengan tangan yang membalas untuk bergerak aktif menggerayangi tubuhnya yang berada di atasku. Tanganku kini menekan punggungnya untuk mendekat pada wajahku, agar mempermudah untuk aku bermain di dadanya. Hinggu tubuh itu lemas dan terjatuh di atas tubuhku. Aku menyambutnya lagi ke dalam pelukanku, mengusapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, sementara Tiara sudah terlelap di dalam pelukanku, dengan posisi tubuh kami yang masih menyatu. * * * * * * * * * * * * K I S A H   Y A N G   T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD