- 34 -

1367 Words
= = = = = Tiara = = = = = Hari hari terus berlalu dengan aku dan Rendi sebagai rekan kerja. Aku berusaha bersikap normal, atau tepatnya meminimalisir interaksi dengan Rendi terkait urusan pekerjaan. Namun, aku pun masih berusaha normal dan harus berkomunikasi dengannya jika memang itu di perlukan. Sebisa mungkin aku mengesampingkan masalah pribadi dengan pekerjaan, demi kelancaran pekerjaan kami berdua. Jam makan siang pun aku sudah tidak lagi menghindar, dan memilih menerima untuk makan siang bersama sama dengan teman teman seruanganku ini yang mana juga ada Rendi di dalamnya. Meski jika memiliki alasan, aku pasti akan mengambil alasan itu di banding harus berhadapan dengan Rendi sepanjang hari. Jika kalian bertanya apa yang aku rasakan saat ini, aku juga tidak tahu. Hanya saja, rasanya masih tidak nyaman harus berinteraksi dengan Rendi senormal mungkin. Penolakan malam itu berdampak sangat besar untuk membentuk kepribadianku berikutnya. Aku tidak pernah baik baik saja, bahkan jika boleh memilih, aku lebih baik memutus segala macam hubungan yang membuatku bisa bertemu dengan Rendi. Contohnya berlari dari teman temanku, sudah pernah juga aku coba menghindari mereka, karena enggan berurusan lagi dengan Rendi yang merupakan teman dari mereka juga. Hingga aku merasa bahwa rasanya tidak adil melibatkan semua orang ke dalam permasalahanku dan Rendi, lalu aku mulai berdamai untuk kembali berteman dengan mereka, tapi tidak pernah mau ikut berkumpul jika di sana ada Rendi. Jika sudah terlanjur datang, maka aku secara terang terangan pamit pulang duluan, meski baru datang. Semua orang sudah paham, begitu juga Rendi yang pasti paham. Hingga suasana tidak nyaman itu berakhir, ketika Rendi memutuskan untuk pergi ke luar kota, dan mengambil pekerjaan di sana. Sehingga saat teman temanku berkumpul sudah tidak ada lagi Rendi, dan aku pun bisa lebih leluasa untuk ikut berkumpul lagi dengan mereka. Setidaknya hariku damai, tanpa harus memainkan peran kucing kucingan dengan Rendi. Meski luka itu tak kunjung reda. Karena amarah yang tak pernah sirna. Waktu yang katanya berperan penting sebagai penyembuh luka, nyatanya tak pernah berlaku dalam kasusku. Luka dan amarah itu masih kian terasa meski sudah termakan usia bertahun tahun lamanya. Aku tidak lupa, dan tidak akan pernah lupa dengan penolak Rendi yang terlalu telak untuk aku cerna. Malam ini, aku dan teman temanku berencana untuk berkumpul setelah sekian lama sibuk dengan kegiatan masing masing. Saking sibuknya, kami bahkan tak bisa memilih waktu di akhir pekan, karena beberapa dari kami masih memiliki kesibukan di akhir pekan. Alhasil, pulang kerja langsung menuju tempat yang sudah di janjikan. “Mau bareng gue, gak?” Aku terkejut saat mendengar sebuah suara dari arah belakangku, ketika aku tengah berjalan menuju lift untuk pulang. Tak hanya suaranya yang mengejutkan, tapi kehadiran sosok Rendi juga membuatku terkejut setengah mati. Aku yang tengah berjalan dengan Nisa, membuatku berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin. “Kak Rendi ngajak aku?” Nisa menyahut lebih dulu, karena ucapan Rendi yang tidak menyebutkan namaku. Bagus untukku, jadi tidak perlu menyahuti ucapannya karena Nisa yang salah paham. “Bukan, Nis. Tiara.” Rendi menjawab santai, yang kini ikut berjalan sejajar dengan aku dan Nisa. Untung di sebelah Nisa, bukan di sebelahku. Mungkin aku akan langsung melotot jika ia berani jalan di sebelahku. “Oh, kok ngajak Kak Tiara pulang bareng sih?” Nisa masih berceloteh dengan rasa penasarannya yang tinggi, sungguh tipikal anak remaja yang sedang serba ingin tahu. “Anak anak ngajak ngumpul, Rendi kan masih segenk juga.” Aku yang menyahut karena tak mau mendengarkan jawaban Rendi dalam mendeskripsikan rencana main bersama anak anak ini menjadi sebuah janjian yang bisa aneh aneh di pikirkan Nisa. “Oiya, lupa. Kalian segenk ya pas kuliah, meski di kantor gak keliatan akrab sih.” Sialan! Nisa ini terlampau jujur atau gimana sih, memang segitunya ya aku dan Rendi terlihat saling menghindar. Oh tidak. Tepatnya aku yang menghindar, karena tak mau beruursan dengan lelaki itu. Ya terus harus gimana? Mana bisa aku bersikap pada Rendi, seperti aku pada Azril, Sandi, atau pun Rehan. Semua sudah berbeda. “Mau bareng gak, Ra?” Rendi bertanya lagi. Aku mendengus keras, yang tidak lagi peduli apakah itu terdengar oleh Nisa atau tidak, tapi Rendi pasti menyadarinya. Mataku juga memicing untuk menatapnya dengan ketus, yang dibalas oleh senyuman sok ramah dari Rendi. “Enggak.” Aku menyahut telak, hingga membuat Nisa menoleh. “Gue udah pesen taksi online, kasian abangnya kalo di cancel.” Aku beralasan macam apa pun pada Rendi, meski faktanya aku bahkan tidak memiliki aplikasi kendaraan online itu. Aku baru menghapusnya beberapa hari lalu, dan hanya menginstal jika membutuhkan lagi. Karena memang aku lebih sering di antar jemput Alex. Hanya saja, saat ini Alex tengah ada pekerjaan penting sehingga tak bisa menjemputku. “Oh, oke.” Rendi tak lagi memperpanjang ajakannya, dan hanya melangkah sekadarnya saja. Sesekali ia mengobrol dengan Nisa, yang tidak terlalu aku ikuti karena tidak penting. Hingga kami memasuki lift, yang diisi oleh keheningan karena berdesakan dengan karyawan lainnya yang juga akan pulang. Aku memilih tempat paling jauh dari Rendi, sehingga kami tak bisa melihat satu sama lain. Bahkan aku turut menjauhi Nisa yang mengambil tempat di dekat Rendi. Aku turun di lantai G, yang merupakan lobby gedung kami. Sementara Rendi turun di lantai basement untuk mengambil mobilnya yang terparkir di sana. Nisa yang sudah janjian dengan karyawan entah di lantai berapa di parkiran pun turut ikut turun lift. Sehingga kini aku keluar dari lift sendirian. Bagus sih Nisa tidak ikut keluar, sebab nanti anak itu akan bertanya perihal taksi online yang aku pesan padahal belum di pesan itu. Jadi, aku bisa menginstal sejenak aplikasi tersebut lalu memesannya, semoga tidak membutuhkan waktu lama. Aku memilih duduk di bangku yang ada di depan pintu masuk lobby gedung ini. Lalu mengeluarkan ponselku untuk menginstal aplikasi tersebut. Selagi menunggu, aku memperhatikan banyaknya karyawan yang keluar dari gedung ini untuk pulang. Ada juga yang tampak menunggu jemputan atau pun driver kendaraan online. Hari masih belum terlalu malam, dan jam segini memang jam jam yang di sukai untuk pulang kerja. Angkatan karyawan pulang malam adalah mereka yang segitunya banyak kerjaan, atau memang demi menghindari macet di sore hari, sehingga mereka memilih berlama lama di kantor. Aplikasi kendaraan online ini tak kunjung terinstal, aku berdecak sebal saat melihat gerakan download yang begitu lambat. Tak ingin menunggu lama, aku memilih untuk berjalan kaki saja, berniat untuk naik MRT selagi download ini tak kunjung selesai. Kebetulan tempat janjian kami tak jauh dari stasiun MRT ke arah Jakarta Pusat. Tidak perlu macet macetan juga. Aku pun mulai berjalan bersama karyawan karyawan lainnya yang juga tampak menuju halte trans jakarta atau pun MRT atau pun kendaraan lainnya yang ada di depan jalan. Hari sudah semakin petang, di tandai dengan warna langit yang mulai berwarna kemerahan. Jam jam sibuk seperti ini, yang membuat kemacetan di ibu kota panjang dan mengular. Kawasan perkantoran yang aku tempati merupakan pusat kemacetan di setiap jam pulang kerja. Meski terkenal sebagai kawasan paling bergengsi di Jakarta dengan gedung gedungnya yang berbaris di sepanjang jalan, memiliki permasalahan yang tak mampu terselesaikan hingga detik ini. Macet. Biasanya, Alex menjemputnya satu jam sebelum jam macet berlangsung. Lalu di jalan, aku akan memilih untuk tidur di bandingkan menikmati kemacetan tiada akhir ini. Memikirkan kepenatan ini, aku mulai terpikir untuk resign saja seperti kata rekan rekan kantorku. Untuk apa juga aku masih bekerja, uang Alex kan sudah banyak? Aku tertawa pelan membayangkan apa yang baru saja terlintas di kepalaku, itu jelas hanya pembelaan untuk aku yang sedang ingin menghindar dari Rendi. Lelaki itu sungguh mengganggu pikiranku, sepertinya aku merindukan hari hari di mana Rendi menghilang entah ke mana dan tidak terlihat oleh pandanganku. Kenapa takdir selucu ini sih, dari sekian banyak pekerjaan yang ada di Jakarta, dari sekian banyak divisi yang ada di kantor tempatku bekerja, dari sekian banyak calon karyawan yang mendaftar ke bagian tersebut, kenapa harus Rendi yang diterima di sana? Kenapa harus perusahaan itu yang Rendi pilih, dari sekian banyak perusahaan yang ia apply? “Ra! Tiara!” Sebuah suara kembali memanggilku, membuatku menoleh sekilas dan mendapati mobil Rendi tengah berjalan di sampingku. Aku tak menanggapi, melainkan hanya buru buru berjalan untuk menghindari. Aku berjalan cepat, meski tahu tidak akan bisa mendahului mobil itu juga sih. Hanya saja, aku berharap gesturku bisa terbaca oleh Rendi, betapa aku enggan untuk berangkat bersamanya. Memangnya kurang jelas apa. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD