Happy reading
Typo koreksi
****
'Orang-orang cuma bisa mendiskriminasikan apa yang mereka lihat saja'
... Fersia Raxenta ...
****
SMA PELITA
Sia duduk sendirian di kantin seperti biasa, saat di kelas tadi guru menanyakan dimana murid baru di kelasnya tersebut.
Ya hari ini gadis bernama Fanny itu tidak masuk sekolah. Dan sekarang ia juga tidak melihat Fathur dan gerombolan pemuda itu.
Kenapa mereka nggak sekolah. Herannya.
Bahkan sampai sekarang, tidak ada pesan apapun dari Fathur. Ponsel genggam pemuda itu mati dan tidak bisa di hubungi. Ya Sia sempat mencoba menghubunginya sekali, namun tidak mendapat apapun.
"Dengar-dengar cewek yang kemarin datang sama kak Fathur nggak datang ya?"
"Masa sih?"
"Iya, terus hari ini kak Fathur sama teman-temannya juga nggak masuk loh."
"Kok bisa samaan."
"Nggak tau juga."
"Apa jangan-jangan mereka bolos serentak?"
"Ih, parah banget kalau kaya gitu."
Sia diam saja mendengar ocehan cewek-cewek di belakang punggungnya. Mereka berkata hal yang tidak-tidak, seolah-olah mengetahui apa yang sedang terjadi.
Sia buru-buru menghabiskan makanannya. Ia enggan mendengar lebih lama gosip tentang Fathur dari murid-murid di sekolahnya.
Ketika Sia sibuk menahan diri untuk tidak marah atau menasihati penghuni sekolah.
Fathur masih dalam mode kesal. Cowok itu melipat kedua tangannya bersidekap menatap jendela luar kamar Tegar.
Ceklek
Tak lama pintu terbuka, sosok pemilik kamar pun masuk bergabung dengan mereka. Tegar mengambil dompetnya yang ia letakkan di laci nakas. Pemuda itu mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah. J menatap sahabatnya itu heran.
"Buat apaan tuh?"
"Oh, nggak buat apa-apa. Cuma mau pegang aja."
"Njir, ngibul." Cibir J tidak percaya.
Tegar menoleh, ia melirik Fathur yang tidak menanyakan gadis yang masih ada di lantai bawah rumahnya. Padahal gadis itu berharap sahabatnya mau berbicara baik-baik.
"Kalian laper nggak? Mau gue pesanin makanan." Tawar Tegar tiba-tiba.
"Wih! Mantap tuh, pizza aja Bang." Seru J jadi semangat.
"Elo mau pizza juga, Mal, Tur."
Akmal mengangguk sedangkan Fathur hanya diam saja tidak merespons.
"Gar, Gar, cola juga ya." Ujar J berseru dengan cengiran.
Tegar tidak protes, ia memberikan deheman pelan sebagai jawabannya. Pemuda itu keluar kamarnya lagi, J langsung bertanya kepada Akmal karena merasa aneh dengan sikap Tegar yang tidak pecicilan hari ini.
"Mal, si Tegar kenapa?" Yang di tanya menggedikkan bahu tidak tahu.
Dengan otak yang bekerja keras J berusaha mencari tahu alasan Tegar sedikit jadi pendiam.
"Elo mau diam aja, Tur? Nggak mau ngomong sama kita-kita." Ucap Akmal kepada pemuda yang sejak tadi diam tidak bersuara.
"Apa yang mau kalian dengar. Gue lagi pusing."
"Setidaknya jangan diam aja. Elo nggak sadar apa, di bawah masih ada tuh cewek dia butuh dukungan moril lo, Bro. Oke, kita paham elo nggak mau tanggung jawab dalam hal menikah sama tuh cewek. Tapi ... jangan buat dia merasa di buang gitu aja."
"Gue masih mikirin cara biar keluarga gue sama keluarga dia nggak tahu soal ini." Seloroh Fathur.
Akmal berdecak menggeleng heran.
"Tur, elo emang ganteng sih. Tapi coba deh ikutin saran gue. Elo harus bisa bikin tuh cewek selalu tenang dan berpikiran positif, jangan sampai dia stress atau elo memang mau dia yang bilang sendiri nanti ke keluarga kalian berdua. Cewek kalau udah sakit hati, mainannya parah Bro. Hati-hati aja." Saran Akmal menasihati.
Fathur membanting tubuhnya di kasur kuat. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan dengan pikiran mumet.
Di lantai bawah, Tegar melihat Fanny yang hanya duduk diam memandang televisi yang ia hidupkan beberapa saat lalu.
"Elo mau makan cemilan nggak, Fanny. Sekalian gue mau pesan pizza buat anak-anak." Ujarnya kepada gadis itu.
Fanny menoleh, wajahnya masih sedikit pucat. Tapi, setidaknya tidak sepucat saat sampai pertama kali ke rumahnya.
"Nggak usah. Makasih." Tolak gadis itu sopan.
Tegar manggut-manggut, pemuda itu lantas membuka aplikasi pesan makanan online. Usai memesan pizza dan cola untuk sahabat-sahabatnya, pemuda itu beralih memesan dessert box untuk gadis itu. Setahu Tegar para gadis menyukai hal yang manis-manis.
Fanny menoleh kala merasakan seseorang duduk di sampingnya. Gadis itu melihat Tegar duduk santai tanpa mengatakan apapun kepadanya. Mereka berdua menonton acara musik dalam diam tidak ada yang mencoba memulai berbicara satu sama lain.
Sikap Tegar sekarang setidaknya tidak membuat Fanny semakin terbebani. Tanpa gadis itu sadari. Itulah maksud Tegar, walau bagaimana pun ia tidak tega melihat cewek bersedih di hadapannya. Terlebih semua karena masalah serius.
Tegar memang tidak berada di posisi seperti Fathur sahabatnya. Ia juga yakin, Fathur ingin terhindar dari masalah tersebut. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang mereka lakukan berdua pasti harus di pertanggungjawabkan. Dan dirinya hanya bisa mendukung pada posisinya sebagai sahabat saja. Tidak lebih dan tidak kurang.
Setengah jam kemudian ketukan pintu terdengar, Tegar berdiri berjalan ke arah pintu depan rumahnya. Pesan antar makanannya tiba. Pemuda itu mengeluarkan uang dari saku celananya yang ia ambil tadi.
"Makasih Mas, kembaliannya ambil aja." Ujar pemuda itu santai.
Si Abang kurir mengucapkan terima kasih. Tegar kembali menutup pintu, ia berjalan ke arah Fanny dan meletakkan kantong berwarna putih di hadapan gadis itu.
"Gue nggak tau elo bakalan suka apa nggak. Tapi setau gue, cewek suka sama yang manis-manis buat ngilangin stress. Gue antar pesanan anak-anak dulu. Nikmati aja dulu makanannya ya." Serunya dan langsung meninggalkan Fanny yang terpaku di tempatnya.
Tatapan gadis itu tertuju pada plastik bungkusan di atas meja, ia membukanya dan terkejut melihat dessert box cokelat berukuran sedang ada di dalam sana. Kepalanya menoleh ke samping melihat ke arah Tegar pergi tadi.
"Makasih." Bisiknya senang.
Fanny sangat menyukai cokelat. Dengan cepat gadis itu membuka kotak dessert di pangkuannya sekarang, ia tersenyum lebar saat hidangan itu berhasil masuk ke dalam mulut dan tenggorokkannya. Rasa manis dan pahit dari cokelat tersebut, berhasil membuat hatinya jauh lebih tenang lagi. Walaupun, tidak 100% kembali. Setidaknya tindakan kecil dari Tegar membuatnya nyaman sekarang. Fanny tidak akan melupakan sikap baik pemuda itu kepadanya.
"Mmmm." Gumamnya ceria kala kembali mencicipi dessert enak tersebut.
Di dalam kamar, Tegar sengaja tidak menutup pintu kamar rapat saat masuk agar ia bisa mendengar jika Fanny memanggil mereka. Pemuda itu baru saja meletakkan sekotak pizza dan juga cola di karpet kamarnya. J langsung menyerbu dengan lahap. Tegar melirik Fathur yang berbaring.
"Makan dulu, Tur." Ucapnya. Kepala Fathur menoleh miring. Pemuda itu menatapnya dalam.
"Fanny gimana?" Tanya Fathur merasa sedikit kasihan akhirnya.
"Lagi di bawah nonton tv aja, oh iya. Sekalian tadi gue pesan dessert box buat dia." Fathur manggut-manggut, J yang mendengar itu dengan mulut penuh pizza ia pun berseru.
"WOW ABHHANG TEGHHGAR BAHIK BAHHNGET." Ujarnya tidak jelas.
Tegar melempar potongan kecil pizza ke arah sahabatnya itu kesal.
"Makan yang bener, njir. Muncrat-muncrat tuh." Omelnya.
J terkikik, Akmal hanya menggeleng melihat kelakuan keduanya.
"Habis makan ini, coba temuin si Fanny. Gue ngerti gimana pusingnya elo sekarang Tol. Tapi, dia kesini sama elo. Gue mau elo jadi cowok gentle. Bicarain baik-baik sama dia. Gue yakin Fanny mau kok di ajak kerja sama kalau elo nggak ngegas ngomong sama dia." Papar Tegar.
Ketiganya sontak menatap Fathur kompak, mereka menunggu jawaban apa yang akan di berikan oleh pemuda itu.
"Oke. Gue akan coba."
Tegar, Akmal dan J tersenyum mendengarnya.
"Gitu dong."
"Mantap, Bro."
"Dari tadi kek." Seru ketiganya bersamaan.
Fathur kemudian duduk dan turun dari kasur bergabung dengan para sahabatnya. Mereka makan dengan lahap pizza yang di pesan oleh Tegar.
Menghela napas lega, Tegar senang ketika Fathur mau menurunkan egonya.
*****
Bersambung