3

1241 Words
Felix keluar dari dalam mobil. Memejamkan mata, ia tercekat saat menghirup udara di dunia yang berbeda dengan dunianya sebelumnya. Di sini terlalu banyak debu dan asap yang jelas tidak baik bagi kulitnya. Walau dia cupid, dia juga harus memperhatikan kesehatan kulitnya. Apalagi sekarang dia sudah menjadi manusia. Felix mengamati sekolah yang akan ia tuju sebagai siswa SMA. Sekolah yang bangunannya lebih megah, dari pada sekolah-sekolah lain yang sempat ia lihat saat perjalanan menuju ke sekolah ini sebelumnya. Setidaknya di sini banyak pepohonan, jadi kulitnya tidak akan terpapar matahari secara langsung. Membuang napas perlahan, Felix berharap semoga saja harinya bakalan lebih menyenangkan. "Aduh!" teriak Felix sambil mengusap belakang kepalanya yang berdenyut. Ia menatap sengit manusia lain di hadapannya. Kenapa orang-orang ini suka sekali memukulnya, sih? Laki-laki yang menyebut dirinya sebagai papanya itu mengayunkan punggung tangan ke arah Felix. Tentu saja ia bingung apa lagi yang dimau manusia tua ini darinya? Beberapa waktu dia hanya diam dan mereka saling pandang. Felix melongo saat dengan tidak sopannya manusia yang menyebut dirinya sebagai ayahnya tadi mendorong punggung tangan ke arah bibirnya sampai hampir jatuh dia dibuatnya. "Dasar anak nakal!" tukas papa Felix sambil menyentil kening Felix. "Semoga hari kamu menyenangkan." Laki-laki tua itu pun akhirnya pergi meninggalkan dia yang masih terbengong di tempatnya. "Ini namanya kekerasan! Apa mungkin dua orang itu sebenarnya bukan manusia? Mereka sepertinya sama-sama cupid seperti dirinya, yang memiliki dendam dengan dirinya di masa lalu." Felix menganggukkan kepalanya. "Iya sepertinya itu bisa jadi memang benar." Felix berjalan memasuki gerbang sekolah. Lelah sekali rasanya jalan dengan kedua kakinya. Dulu saat masih menjadi cupid dia jarang sekali melakukannya. Waktu seolah berjalan dengan sangat lambat hari ini. Lalu dia melihat di sana ada satu manusia sedang berjongkok di depan selokan dengan wajah yang kelihatan begitu cemasnya. Perempuan itu menatap Felix sinis, tentu saja laki-laki itu membalasnya dengan tidak kalah sinisnya. Dia melewati perempuan itu begitu saja. Saat tanpa sengaja ia melihat benda yang terpasang pada pergelangan tangannya, ia menghentikan langkah kakinya dan membuang napas setelahnya. "Seratus kebaikan? Melelahkan sekali," keluhnya. Felix pun berbalik arah berjalan mendekati perempuan tadi. "Hey manusia, mau aku bantu?" Makhluk yang bernama manusia itu melihatnya aneh. "Kenapa? Ada yang salah?" tanya Felix. "Kamu pikir kamu ini apa? Mimi peri?" Felix ikut berjongkok walau kesusahan. "Mimi peri? Siapa mimi peri?" tanyanya, sebab dia memang tidak mengenal siapa itu mimi peri. Dia baru hari ini menjadi manusia. "Lupain. Kamu mau bantu aku apa enggak?" Felix menjawabnya dengan anggukan. Ia lalu mengayunkan tangan kanannya berharap bisa mengambil sebuah kunci yang ada di dalam selokan yang cukup dalam itu dengan kekuatannya. Satu kali, dua kali, tetap saja sama, kunci itu tetap tidak bergerak. "Kalau kamu mau mengerjai aku sebaiknya kamu pergi!" Wajah wanita itu berubah kembali tidak bersahabat. Felix memukul keningnya. Lagi-lagi ia lupa jika sekarang dia adalah manusia. Menyadari jika dia tidak mampu mengambil benda yang ada di bawahnya, buru-buru ia pun berbalik arah berjalan cepat meninggalkan manusia tadi. Dia tidak mau repot-repot mengotori dirinya masuk ke dalam selokan berbau dan tidak bersih itu. "Dasar cowok aneh!" gerutu sang wanita. Sunyi sekali. Hanya ada dia seorang diri di sini di depan kelas yang akan ia tempati beberapa bulan ini. Ia mengamati lagi dan lagi area di sekitarnya walau beberapa waktu tadi ia sudah melakukannya, yah ... karena bosan apa lagi? Seorang guru tadi bilang hanya sebentar ia akan menunggu namanya untuk dipanggil masuk ke dalam ruangan yang ada di belakangnya. Tapi sampai kakinya mulai kesemutan pun tidak ada tanda-tanda namanya akan dipanggil. Beberapa kali Felix menggerak-gerakan kakinya yang seperti terkena sengatan listrik. Ia menggerutu berharap agar sayapnya kembali lagi kepadanya, sehingga dia tidak harus merasakan hal-hal aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dengan kedua kakinya. Nama Felix akhirnya dipanggil juga oleh guru. Sambil menggerutu ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kelas. Felix terlonjak kaget begitu keningnya ditahan oleh laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai guru tadi, juga tawa dari seisi kelas. “Mau ke mana? Kalau jalan itu jangan nunduk aja, dilihat jalannya.” Sang guru melipat tangannya di d**a. "Karena kamu terlambat, hanya kamu yang belum memperkenalkan diri ... coba kamu perkenalkan diri kamu kepada saya, saya guru baru di sini." Felix mengangguk lalu menghadap kepada manusia-manusia seusianya. Melihat wajah manusia-manusia di depannya membuat Felix merinding, karena senyum mereka tampak menakutkan. Apa yang musti ia lakukan ke depannya dengan manusia-manusia itu nantinya? "Ayo silah kan perkenalkan diri kamu." Kembali guru mempersilahkannya agar segera memperkenalkan diri. Felix mengangguk, menarik napas, dan membuangnya sebelum ia mengeluarkan suaranya. "Halo aku Felix Aiden Nathanael, umur tujuh belas tahun, tinggi badan seratus tujuh puluh sembilan senti meter, berat badan enam puluh kilogram, size ukuran baju L, ukuran cela...." Felix menghentikan perkenalannya karena seisi kelas malah tertawa mendengar perkenalannya. Dia bingung mereka menertawakan apa sebenarnya. "Sudah ... sudah ... gak perlu detail-detail Felix silah kan kamu duduk," pungkas sang guru, yang lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Saya duduk di mana?" tanya Felix. Dia memang benar-benar tidak tahu harus duduk di tempat duduk yang mana. Sahabatnya tidak memberitahunya. "Duduk di sini," tunjuk guru tadi ke arah kursi di sebelah papan tulis. Felix pun duduk di kursi yang telah ditunjukkan oleh sang guru. Tetapi dia heran sebab murid-murid di sana malah kembali tertawa dan ia yakin tawa mereka ditujukan kepada dirinya. Guru tadi menatapnya datar dan Felix bingung akan bersikap bagaimana. Untungnya salah satu siswa berlari kecil ke arahnya lalu menggeretnya ke salah satu kursi di dekat laki-laki itu. "Kamu mau ngerjain guru kita? Parah Lix kamu. Dari mana aja kamu? Kesiangan lagi?" "Kita sudah kenal?" tanya Felix, tentu saja dia masih aneh dengan interaksi tidak biasa ini. "Ih ... anak monyet. Gagar otak kamu?" laki-laki itu memukul kepalanya, lalu terdiam melihat raut wajah Felix yang tampak serius. "Seriusan?" ucapnya lagi memastikan. Laki-laki bernama Titan itu meletakkan telapak tangan ke bokongnya sendiri sebelum perempuan bernama Anggi memukul belakang kepalanya. "Dasar Oon! Kenapa tanganmu yang malah kamu letakkan di p****t Tan...." "Harusnya?" tanya Titan sok polos. "Di p****t pak Doni tuh ... sono biar dirukiah." Keduanya akhirnya tertawa bersamaan. Baru berhenti saat pak Doni, guru baru mereka tadi menegur mereka. Titan melirik Felix yang masih diam memperhatikannya. Ia mengulurkan tangan ke arah teman sebangkunya itu. "Kenalin aku Leonardo Dicaprio," katanya, terbahak setelahnya. "Felix, kamu gak kenapa-kenapa?" tanya Anggi. Dia kenapa-kenapa. Sungguh kenapa-kenapa. Dia tidak mampu jika harus berdekatan dengan manusia-manusia aneh ini. Dengan sahabatnya dulu saja dia sudah beberapa kali menyerah apalagi ini. Manusia ... dia tidak mau jadi manusia dia ingin pulang! "Felix ... seriusan? Baru juga liburan seminggu kamu sudah lupa sama kita? Tega." Wajah Titan berubah lagi seolah menjadi wajah manusia paling tersakiti. "Kamu bisa diam, gak? Pusing tahu dengar kamu ngomong terus!" seru Felix. Felix sudah tidak peduli siapa nama laki-laki di sebelahnya ini atau semua manusia di sekitarnya, dia tidak mau tahu. Laki-laki di sebelahnya lagi dan lagi tertawa menunjukkan deretan gigi-giginya yang terlihat begitu kekeringan di dalam sana. "Kamu tidak enak badan Felix, kamu pucet?" tanya Anggi. "Kenapa Felix aja yang ditanyain? Aku juga pucet lo Nggi." Jika tidak ada guru di depan ingin sekali Anggi melempar wajah Titan dengan serbuk gliter yang ada di mejanya supaya lebih berwarna dan enak dipandang itu wajah. "Kenapa Nggi? Jangan melotot gitu ah malu aku kamu pandangi segitunya." Buru-buru Anggi menghadap depan. Lebih baik ia memperhatikan pak Doni yang benar-benar nyata faedahnya ketimbang meladeni manusia aneh di sebelahnya itu. Felix mengusap wajahnya, ia memejamkan matanya dengan begitu kuat berharap ini hanyalah mimpinya saja. Walau dia tahu cupid tidak pernah bermimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD