fisik adalah penentu

4306 Words
Setelah hari-hari Masa Orientasi Siswa berlalu, tentu yang aku—sebagai murid baru—lakukan adalah masuk ke kelas yang sudah dibagikan. Aku ingat kala itu, di hari pertama pembelajaran intensif, aku tidak masuk sekolah, entah karena apa, aku lupa. Mungkin sakit, atau mungkin malas. Di hari kedua, aku sebagai Anna Jovanka yang baru, tentu langsung bersikap SKSD. Tahu SKSD? Sok Kenal Sok Deket. Aku melambangkan diriku sebagai kutu loncat karena menempel kesana menempel kesini. Tak bisa diam. Setidaknya, itu adalah bagian dari usahaku untuk mencari banyak teman, menunjukkan pada seisi kelas bahwa aku adalah teman yang aktif dan asik, dan tentu, aku tak mau lagi diremehken seperti yang sudah-sudah karena pendiam dan pemalu di awal pertemuan. Kemudian saat wanita berbeadan besar, dengan kerudung dan kacamata, lipstik merah, mungkin usianya sekitar lima puluh atau lebih, aku langsung berlari duduk di kursiku yang kupilih paling belakang. Aku duduk dengan Putri. Fatwadilla Emilia Putri, namanya. Aku ingat, sebelum gruu masuk, aku sudah memilih ingin duduk dengan salah seorang teman yang aku lupa namanya. Tapi dengan tidak-jelasnya, tiba-tiba Putri memaksaku duduk bersamanya. Aku tebak ini karena dia juga punya kepribadian yang rame dan sok asik, lalu ia menemukanku seperti aku adalah teman yang tepat. Guru yang duduk di meja depan, yang wajahnya terlihat galak, ternyata penilaianku salah total. Cara bicaranya sangat lembut dan keibuan. Aku suka bagaimana ia memperkenalkan diri dan membaur dengan siswa baru dengan baik. Lalu satu persatu kami diminta untuk ebrdiri di tempat dan memperkenalkan diri. Sebagai insting seorang perempuan, tentu aku mengamati satu-persatu siswa laki-laki disana. Aku meng-scan ciri-cirinya hingga menemukan beberapa yang menarik perhatian. Ada Bintang Djafar yang tinggi berkulit putih, tapi sayangnya dia terlihat seperti lelaki yang gemar membaca buku dan ke perpustakaan, dari situ sudah jelas bukan tipeku. Sebentar, sebelum aku menjelaskan lebih jauh, apakah kalian selama membaca ini tak merasa bahwa aku adalah perempuan tak tahu diri? Aku memilah lelaki tampan dan yang kurang, tapi aku sendiri saja jelek dan buruk rupa. Yang harus kalian tahu, aku hanya berusaha menghibur hatiku. Aku tidak memaksa diri untuk segera memiliki kekasih, aku hanya ingin menyegarkan mata agar memandang sesuatu yang indah. Hehe. Setelah Bintang Djafar, ada Adam Adi yang aku tahu dulu sekolah di SMP yang sam denganku. Tapi namanya langsung ku coret dari tipe laki-laki yang ku suka karena ia terkesan angkuh dan sok. Aku tak suka lelaki seperti itu. Dari penampilannya saja, aku bisa menilai bahwa lelaki itu punya kepribadian diktator dan selalu merasa ingin menang. Hal itu terbukti karena selama tiga tahun aku berada di kelas yang sama dengannya di SMA, Adam memang seperti itu, tepat seperti tebakanku. Laki-laki nomor tiga, adalah Eba Fadel. Haha, namanya terdengar sangat aneh, bukan? Selidik demi selidik, nama Eba ternyata hasil singkatan dari nama ibu dan ayahnya. Ia bukan asli kota Batu, melainkan tinggal di Malang. Alasannya memilih sekolah disana karena katanya ia ingin mengeksplor wilayah lainnya, ia bosan di Malang. Ia tinggi, hitam manis, wangi, dan kereen. Aura murid nakal melekat pada diri lelaki itu. Karena apa? Sebagai murid baru, ia tergolong berani karena tidak memakai dasi, baju seragamnya dikeluarkan dari celana, dan lelaki itu memakai kaos kaki semata kaki padahal seharusnya sebetis. Tapi nakalnya Eba, tak lebih nakal dari Reyhan. Aku lupa siapa nama lengkapnya. Ynag kuingat sosoknya tak terlalu tinggi, ia kurus, berkulit kuning, slengean, pandai bermusik—karena beberapa kali aku emndapatinya menyanyi asal-asalan tapi suaranya enak didengar dan kadang ia bermain gitar juga. Tipe lelaki idaman. Poin minusnya, dia sangat-sangat-sangat-sangat nakal. Baju yang tak dimasukkan, rambut berantakan, sepatu tak berwarna hitam, tak memakai sabuk dan dasi, dan sering pulang sebelum waktunya lewat pagar belakang sekolah! Dari beberapa laki-laki yang ku sebutkan,  Reyhanlah yang paling menarik perhatian. Aku suka bagaimana konyolnya ia saat bertengkar dengan Putri—teman baruku—yang ternyata teman dekat Reyhan ketika di SMP. Lelaki itu blak-blakan, bahkan terkesan kasar, tapi entahlah, Anna Jovanka memang suka lelaki tipe-tipe seperti Reyhan. Ia percaya pada lagu yang liriknya begini; They say all good boys go to heaven, but bad boys bring heaven to you dan bad boys ain’t no good but good boys ain’t no fun. Tapi menyukai Reyhan hanya berlangsung selama dua bulan, karena yang ku tahu, Calista—teman satu geng yang baru ku bentuk di SMA—adalah gebetannya. Sebelum membahas lebih jauh, perkenalkan ketujuh teman dekatku alias isi dari geng yang baru ku buat. Pertama, Rachel Michellia. Dia beragama kristen sedangkan keenam lainnya adalah Islam termasuk aku. Rachel memiliki kulit putih bersih, rambut halus dan lurus, berkacamata tapi tidak terkesan culun, easy going, dan body goals. Spoiler :  Dia yang akan menjadi teman yang paling dekat denganku. Kedua, Bella Anggie Minata. Perempuan cantik, memiliki gingsul yang membuatnya terlihat sangat manis, tinggi, dan memiliki porsi tubuh yang bagus. Dia ramah, tapi kalau baru sekali betemu, orang akan bilang bahwa Bella adalah jelmaan maleficent karena suka memberi lirikan tajam. Padahal dibanging Bella, yang lebh tepat dijuluki Maleficent adalah Calista Sabrina—Ica panggilannya— dan dialah anggota ketiga dari “cumi-cumi”—nama grup BBM kami. Ica adalah perempuan ternakal yang pernah kukenal. Cara bicara dan kelakuannya terkesan genit—yang tentu saja membuatku tak heran mengapa gadis itu memiliki banyak kekasih dimana-mana. Dia adalah perempuan yang paling hobi ngomong kasar dan kotor, tapi jika sudah berteman baik dengannya, ada satu hal yang bisa kamu temukan; dia lucu. Benar-benar seperti keturunan pelawak. Selanjutnya adalah Natasya Aurora, yang paling cantik dari kami bertujuh. Ia memiliki garis wajah keturunan arab, alis tebal, berbehel, cantik sekali. Perempuan tegas dan berwawasan luas, memiliki tubuh proporsional, hidup dengan bergelimang harta dan tak kekurangan kasih sayang, apa yang tidak ada dalam hidupnya? Jika perempuan itu tak memiliki pacar, tentu akan banyak sekali yang mengincarnya. Tapi, ya, sayangnya, dia sudah memiliki pawang. Laki-laki yang juga keturunan arab, namanya Amin. Selidik demi selidik, mereka sudah berpacaran dari jaman kelas tujuh SMP. Ada Fatwadilla Emilia Putri di urutan selanjutnya. Teman pertamaku yang sangat mirip badut karena mudah membuat orang tertawa, konyol, sering bersikap bloon—atau dia benar-benar tidak pintar, entahlah—lemot, paling bisa bikin orang sebel. Kemudian ada Mutiara Hikmah. Si gadis misterius yang tak banyak omong dan tidka pernah meluapkan emosinya karena lebih memilih diam. Dia jarang sekali menceritakan sesuatu pada orang. Panggilannya Rara, tapi ku tebak, walaupun dia tidak pandai berekspresi, dia paling sensitif di antara kami. Sepertinya. Yang terakhir adalah Niken Wahyu Anggraini. Perempuan terkalem, termenggemaskan, terkuat, ter-ter yang lainnya. Aku berteman dengannya sejak kami berdua masuk di kelas yang sama saat kelas tujuh SMP, sayangnya walau sering kemana-mana bersama, aku tak begitu dekat. Dulu, Niken dikenal sebagai perempuan cengeng, sensitif, manja, dan kekanakkan. Tapi ketika kelas sembilan SMP, aku ingat betul saat itu sedang Ujian Semester, kakaknya yang ku tahu bernama Niko Anggriawan itu tiba-tiba mengetuk pintu kelas yang sengaja tak ditutup. Jika kamu tau Nicholas Saputra, seperti itulah ku gambarkan wajah dan badannya. Hanya saja lebih tegap Kak Niko karena ia seorang polisi. Llau tahu-tahu mata Kak Niko berair dengan rahang mengeras ketika ia menginfokan pada guru penjaga ujian kami, bahwa ibunya—alias ibu Niken juga— meninggal dunia. Aku tak pernah sedekat orang lain dengan Niken, tapi aku benar-benar ikut hancur dan berduka saat melihat rumah Niken dikerubungi banyak orang, tentara, dan polisi saat aku kesana untuk berkabung. Niken terlihat lebih hancur lagi. Matanya bengkak. Aku benar-benar tak tega. Dan itulah yang emmbuat Niken tumbuh jauh berbeda saat memasuki SMA, dia menjadi wanita yang sangat baik, sangat kuat dan tegar, cerdas, dan sabar. Kembali ke topik awal, kelas sepuluhku berjalan snagat-sangat biasa. Atau tidak, karena aku yang entah bagaimana awalnya dekat dengan Rachel Michellia, tiba-tiba sering melompat lewat gerbang belakang sekolah dengannya. Kami sering membolos bersama. Tapi poin pelanggarannya tak sebanyak aku karena—aku akui, kelas sepuluh adalah masa-masa ternakalku. Aku bahkan hampir tak ingat kenangan bersama teman-temanku saat kelas sepuluh karena terlalu sering membolos atau pulang lebih cepat lewat pagar belakang. Saking bandelnya aku, poin pelanggaranku sampai mencapai angka sembilan puluh padahal jika poinku menambah sepuluh lagi, maka aku akan benar-benar dikeluarkan dari sekolah. Untung saja kakekku—karena aku ikut dan tinggal dengan kakek dan nenek bukan dnegan orang tua asli—beliau tak pernah terpanggil ke sekolah karena aku selalu meminta mama kandung dan mama tiriku untuk bergantian menemui guru tata tertib. Tentu saja hal ini aku lakukan agar mereka tak tahu bahwa aku sesering itu dipanggil kesana. Masa kelas sepuluhku hampir tak ada yang menarik dari kisah asmaranya, karena, ya, memang tidak ada lelaki yang mendekatiku. Beranjak pada kelas sebelas, berawal dari Rachel—sahabatku yang ternyata dengansangat tiba-tiba berpamitan padaku bahwa perempuan itu akan pindah sekolah ke Bangka Belitung karena tidak kuat menghadapi kondiri rumah tangga orang tuanya yang setiap hari bertengkar, ia memilih tinggal bersama sang kakak yang seorang guru rantau. Awalnya aku menangis terisak ketika mendengar bahwa ia akan pindah. Jujur saja, aku takut tak punya teman jika ia meninggalkanku, karena enam temanku di cumi-cumi sudah memusuhiku karena Bella mengira aku merebut pacarnya. Berawal dari rencanaku untuk ulang tahun Bella yang semakin dekat, aku ebrniat menjahilinya sedikit. Aku bilang padanya bahwa kemarin aku bertemu kekasihnya jalan berduaan dengan Rachel. Padahal sumpah, demi apapun di dunia ini, aku hanya bercanda—bahkan kala itu aku mengatakannya dengan tertawa— tapi tidak tahu mengapa, tiba-tiba semua—mereka berenam, kecuali Rachel tentu saja, memusuhiku terang-terangan. Hal itulah yang membuatku takut masuk kelas di hari pertama sebagai siswa kelas sebelas. Karena aku sudah tak punya teman lagi. Tapi apa yang ku takutkan tak terjadi. Natasya Aurora atau yang sering dipanggil orang dengan Caca, ia tiba-tiba menghampiriku dan mengajakku kembali berteman. Aku senang, tentu saja. Tapi aku juga seratus persen tahu bahwa yang bisa menerimaku kembali hanya Caca dan Rara—Mutiara Hikmah. Yang lain masih sering menatapku sinis, sengaja tidak mengajakku mengobrol, dan jelas menganggap musuh. Entahlah, solidaritas mereka memang sangat kuat. Saat aku menulis ini, hatiku kembali menghangat mengingat betapa baiknya Caca padaku. Dia cantik, punya segala-galanya, baik, benar-benar tak ada cela. Mengapa dia mau-mau saja berteman denganku yang buruk rupa dan buruk kepribadian. Semenjak hari iru, aku selalu bersama Caca kapanpun dan dimanapun. Aku yang seharusnya bisa berjalan kaki karena jarak sekolah dan rumah hanya butuh waktu lima menit dengan berjalan, Caca malah memintaku menerima tawarannya untuk nebeng karena ia membawa sepeda motor. Dan itu terjadi setiap hari. Bahkan ketika aku dan dia tidak berada di satu kelompok yang sama pada beberapa mata pelajaran, aku masih sering menemaninya. Atau ketika guru meminta kami membentuk kelompok sesuai keinginan sendiri, Caca tentu langsung menyebut namaku, bahkan kami selalu saja duduk satu bangku. Mungkin aku akan banyak menceritakan Caca kali ini. Karena Caca adalah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan SMA-ku. Kami berangkat bersama setiap hari, duduk satu bangku, istirahat bersama, ke toilet, ke masjid, ke seluruh penjuru sekolah bersama-sama. Bahkan tak jarang pula aku dan Caca pergi untuk sekedar nongkrong atau cari spot foto setelah pulang sekolah. Kami sedekat itu sampai-sampai setiap kali aku ke suatu tempat tidak bersamanya, orang pasti aka bertanya; “Loh, Caca kemana? Kok tumben gak sama Caca?” Tentu saja kedekatan kami tak akan berarti jika tidak dibumbui cerita asmara dari kami masing-masing. Kala itu, Caca masih resmi menjadi pacar Kak Amin, tapi entah kapan tepatnya, aku ingat bahwa Caca menceritakan awal mula ia ragu dengan hatinya. “Ann, tadi waktu gue lewat lobi, gue, kan, ditawarin jualannya kakak osis. Terus gue nolak karena gue tadi pagi udah beli burgernya.” Ujar Caca mulai bercerita. Aku memperbaiki posisi dudukku sebelum menatapnya dengan sorot mana penuh penasaran. “Terus?” “Lo kenal Ardam, gak?” Aku menggeleng. Ya, tentu sjaa kau menggeleng, aku ini tidak kenal siapapun di angkatan atasku. “Pokoknya si Ardam, tuh, yang nawarin gue tadi.” “Oke... terus?” Aku masih tak menangkap arah tujuan pembicaraannya. “Gue, kan, nolaknya, gini. Enggak, Kak, aku tadi udah beli. Terus ternyata di belakang dia, tuh, ada semua temen-temennya. Yang bikin gue sebel, masa- temen-temennya Ardam pada niruin gue ngomong sambil kayak ngeledek gitu, sih?” Ujarnya dengan raut wajah kesal. Ketika aku sudah bersiap membuka mulut untuk mengomentari, Caca mendahuluiku. Rupanya ia belum selesai bercerita. “Tapi, Ann, gue inget-inget lagi, kayaknya belakangan ini mereka emang aneh, deh!” “Siapa aneh? Ardam?” “Bukan!” Jawab Caca sambil mendengus. “Si temen-temennya Ardam.” “Emang kenapa?” “Bberpa hari yang lalu, gue, tuh, pas lewat kantin sama Ica, kan. Nah, terus gue lewat depan mejanya si Ardam dan kawanannya itu. Terus tiba-tiba si Egar—“ “E gar siapa?” Potongku karena tak tahu. Caca melengos lagi. “Temen-temennya Ardam, tuh, ada Egar, Eza, Andi, Arul, sama Aldi.” Aku menggaruk tengkukku yang sebenarnya tak gatal. “Oke, terus?” “Nah, si egar tiba-tiba bilang gini. Di di, itu ada kembaran lo, sambil nunjuk-nunjuk gue.” Intinya, Caca baru sadar kalau belakangan ini ia sellau diganggu oleh Ardam dan teman-temannya. Dan aku, sebagai pakar cintanya, aku bisa menebak bahwa ada yang salah disini. Firasatku mengatakan bahwa Aldi menyukai Caca hanya saja kakak kelas kami itu tak berani melakukan pergerakan karena tahu bahwa Caca sudah memiliki pacar. Oke, tentu saja, Kak Aldi tahu, memangnya siapa murid di sekolahku yang tak tahu bahwa Caca dan Kak Amin sudah berpacaran lima tahun lamanya? Tidak ada. Lalu hari demi hari, topik pembahasan kami—aku dan Cca—tidak lain dan tidak bukan adalah Kak Aldi. Selain terus-terusan membicarakan lelaki yang juga keturunan Arab dengan kumis tipis dan harus Caca akui lebih tampan dari pada kekasihnya sendiri. Apalagi menurutku, Kak Aldi memiliki  lebih banyak kelebihan dari pada Kak Amin. Ya, walaupun aku tahu Kak Amin lebih menyayangi Caca sedangkan Kak Aldi mungkin hanya sekedar suka. Lalu kemduian, suatu hari, ketika aku dan Caca berada di Sota—salah satu tempat nongkrongku—Caca yang sedang sibuk bermain ponsel tiba-tiba menunjukkan layarnya padaku. “Eh, Ann. Si Ardam nge-live i********:, nih!” Beri tahunya dengan semangat. Omong-omong, aku dan Caca memang jika sedang ngerumpi, kami jarang memanggil kakak kelas dengan sebutan ‘kakak’ kecuali jika sedang di depan orangnya langsung. Dan Caca bisa sangat sesemangat itu jika sudah menyangkut Aldi atau teman-temannya. Hmm, aku mulai mencium perempuan di sampingku ini sedang jatuh ke dua hati, nih. Lalu aku dan Caca akhirnya sama-sama menonton live i********: si Ardam-Ardam itu. By the way, akun Instagramku entah sejak bberpa hari yang lalu—tepatnya sejak Caca terang-terangan mulai salah tingkah jika kami membahas mengenai Aldi, Caca memintaku untuk emmasukkan akun IG milikku pada ponselnya, Alasannya karena ia ingin stalking akun Aldi tanpa dikeathui si Aldi sendiri. Aku tak keberatan sama sekal. Jadi, menonton siaran langsung milik Ardam di ponsel Caca menggunakan akun IG-ku hingga pada beberapa detik kemudian, laki-laki berkulit hitam manis itu tiba-tiba menyebut namaku. “At anna-jkl.” Ujar Ardam mungkin sedang mengeja nama akun IG-ku yang kuberi nama Anna JKL itu. Entah apa yang kupikirkan saat menamai aneh begitu. Tahu apa yang kupikirkan saat Ardam mengeja namaku? Kalian boleh percaya boleh tidak tapi ini benar adanya. Aku merasa suara serak basah milik Adam adalah suara terindah yang pernah menghampiri gendang telingaku. Demi Tuhan, aku bisa merasakan para kupu-kupu berterbangan di perutku. Aku tak bisa menahan bibirku yang ingin melengkung ke atas. Aku tahu aku aneh, tapi semenjak hari itu, aku jatuh cinta pada Ardam.   ** Kisah cinta Caca dan Aldi tentu tak berhenti sampai disana saja. Dari hari ke hari, mau bertemu ataupun lewat pesan online, yang kami—aku dan Caca—bahas adalah Aldi dan Ardam. Tak pernah kami berdua kehabisan topik membahas betapa lucunya, atau betapa kerennya, atau betapa tampannya Ardam dan Aldi. Tentu Caca sudah tahu karena ketika kau menyukai Ardam, aku langsung menceritakannya pada Caca. Dan Caca tentu sama hebohnya, karena aku dan Caca yang notabene-nya teman-sangat-sangat-dekat, ternyata menyukai Ardam dan Aldi yang juga sama-sama teman-sangat-sangat-sangat-dekat. Dimana ada Caca, disitulah ada aku. Dimana ada Aldi, disitu juga pasti ada Ardam. Entahlah, bukankah ini lucu? Ketimbang rasa sayang, kala itu, aku dan Caca lebih pantas dipanggil penggemar atau stalker. Bagaimana tidak jika kerjaan kami sehari-hari mulai pagi adala ; paginya, aku dan Caca akan mencari dimana motor Ardam dan Aldi diparkir kemudian Caca akan memarkirkan motor miliknya di dekat situ juga, ketika upacara bendera hari Senin, aku dan Caca akan cepat-cepat ke lapangan agar bisa segera bertemu mereka berdua, ketika jam istirahat, aku dan Caca juga akan cepat-cepat ke kantin agar bisa melihat Aldi dan Ardam, pulang sekolah pun begtiu. Bayangkan saja. Aku saja kadang bingung kenapa aku dan Caca bisa seperti ini. Ada kejadian-kejadian tak bisa ku lupakan mengenai Caca dan Aldi yaitu speerti; ketika aku mendapat info dari salah satu teman di kelasku jika Ardam dan Aldi sedang jam kosong dna bermain bola di lapangan, aku dan Caca akan segera menyusul. Atau pernah pula ketika selesai ujian semester, sekolah kami yang sedang mengadakan classmeet membuat situasi semakin meriah. Tapi sayangnya hari-hariku jadis sepi karena tak ada Caca. Mulai hari pertama setelah selesaai ujian, Caca harus ke Kediiri untuk les Bahasa Inggris. Lalu dengan semangatnya, ketika pertandingan sepak bola dimulai dan Aldi-Ardam lah yang menjadi salah satu pemainnya, aku langsung melakukan panggilan video dengan Caca tanpa peduli bahwa jam-jam tersebut Caca pasti sedang belajar. Aku berusaha sebisa mungkin agar orang tidak menyadari bahwa aku sedang terlihat seperti merekam Aldi. Aku menahan tawaku ketika Caca memekik kesenangan melihat Aldi dengan jersey biru khas kelasnya dan keringat di pelipisnya membuat lelaki itu terlihat semakin tampan. Tapi disisi lain, aku sangat-sangat bahagia karena Caca bisa merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan bersama Amin. Aku senang melihat senyum Caca saat perempuan itu menceritakan Aldi dengan pandangan berbinar. Sampai suatu hari, ketika ada pertandingan sepak bola di GOR milik Kota Batu, aku dan Caca tentu tak mau ketinggalan karena Aldi sebagai kiper andalan dan Ardam juga akna menjadi pemainnya disana. Caca menahan jeritnya saat beberapa kali Aldi berhasil menghalau bola agar tak masuk ke gawangnya. Kadang, ketika aku melihat Caca sebahagia itu saat melihat Aldi darai kejauhan, aku berusaha sesering mungkin agar Tuhan mau menyatukan Aldi dan Caca. Aku ingin sahabatku itu bahagia. Hal yang tak pernah kduuga sebelumnya adalah, pulang dari sana, tepat ketika Caca menurunkanku dari sepeda motor di depan rumah, Caca tiba-tiba bilang padaku bahwa ia ingin meminta pendapatku. “Kalau aku...” Caca menggantungkan kalimatnya, terdengar sedikit ragu akan mengatakannya. “K-kalau aku mutusin Amin, menurut lo gimana?” Jujur, aku tak pernah menyangka Caca akan secepat ini emngambil keputusan seperti ini walaupun itu jelas masih rencana dan perlu pertimbangan lagi. Apa lagi Amin dan Caca tak hanya berpacaran sebulan-dua bulan seperti temna-temanku yang lainnya, mereka pacaran sudah lima tahun, tentu tak mudah bagi Caca untuk mengambil keputusan. Tapi kala itu, aku menyarankan hal yang aku kira tak akan pernah ia sesali di hidupnya akrena bagaimanapun , aku tahu Caca sudah seratus persen pindah ke lain hati. “Enggak apa-apa.” Ujarku meyakinkannya. “Dari pada lo nerusin hubungan sama Amin padahal hati dan pikiran lo selalu ke arah Aldi? Malah nyakitin Amin belakangan, dong, kalau gitu?” Lagi pula selain dnegan alasan itu, aku juga ingat benar mengenai Caca yang beberapa kali keceplosan menyebut nama Aldi di depan Amin. Jadi, menurutku, putus dengan Amin adalah keputusan yang benar karena tak ada gunanya ia mempertahankan hubungan dengan orang yang sudah tidak ia sukai. Itu hanya seperti menunda ‘perpisahan’. Dan malamnya, Caca mengirimiku pesan via Whats App yang sangat-sangat panjang. Awalnya aku terkejut, ku kira apa. Ternyata ia hanya emmpersiapkan tulisan sebelum ia memutuskan untuk mengirimkannya kepada Amin—sang calon-mantan-pacar. Besok paginya, yang ku tahu, Caca benar-benar sudah resmi berpisah dengan Amin. Dan melihat Caca yang emnangis di pojok bangku kelas, aku tahu ia tak tega melihat Amin bersedih, aku tahu benar Caca seperti apa. Tapi aku hanya berharap, semoga Amin dan Caca segera mendpat pengganti yang lebih baik untuk masing-masing dari mereka berdua. **   Aku lupa apa alasan awal mula aku dan Caca jadi sering berselisih paham. Tpi yang pasti, eknaikan kelas dua belas, aku sudah snagat jarang mengahabiskan waktu dengan Caca. Jika diibaratkan hubungan antara lawan jenis, bisa dibilang aku dan Caca sering putus-nyambung. Walaupun kami sudah tak sering bersama, yang ku ingat, aku masih menyukai Ardam dan Caca masih menyukai Aldi. Di tahun terakhir SMA, aku lebih banyak belajar mengenali jati diriku sendiri. Menyukai Ardam Sein tahun lalu membuatku banyak belajar tentang arti fisik perempuan. Apaakah aku pernah bercerita mengenai betapa aku sangat tergila-gila dengan Ardam? Ya. Aku memuja laki-laki itu dari atas hingga bawah. Segala omongan buruk yang mampir ke telingaku dari teman-teman kelasku tak pernah ku hiraukan. Diam-diam, semenjak awal aku menyukai Ardam setahun lalu, aku download aplikasi ASK.FM hanya untuk emngiriminya pesan, nasehat, dan semangat. Seperti aku mengingatkannya untuk tak banyak merokok karena beberapa kali aku menjumpainya sedang menghisap batang nikotin terkutuk itu, menyuruhnya agar lebih abnayk bersyukur dan ibadah karena ia bebrapa kali emmpostin quotes tentang keluhan hdupnya, mengingatkkannya untuk tak terlalu berharap pada dunai, dan hal-hal kecil lainnya yang bisa ku lakukan untuk Ardam tanpa lelaki itu ketahui. Tiap sholat aku selalu ingat untuk menyebut namanya dalam doaku. Entah sekedar aku hanya ingin Tuhan selalu membuatnya sehat, bahagia, dan dikelilingi orang-orang yang baik, atau bahkan sampai meminta Tuhan agar membuat Ardam membalas perasaanku. Aku tak tahu benar apakah lelaki itu pernah meng-notice keberadaanku sebagai penggemar beratnya atau bahkan pernah punya rasa yang sama, tapi aku hanya pernah satu kali dibuatnya bahagia. Pada suatu hari, aku pernah mengiriminya ASK.FM dan tentu saja namaku aku buat disamarkan. “Hai. Mau fotbar sama aku?” Lima kata itu adalah pesan yang kukirim padanya. Kalian boleh menertawakanku dan mengejekku habis-habisan karena aku tak tahu malu. Iya, tak tahu malu. Aku hanyalah Anna Jovanka si hitam, si kurus, si- tak punya apa-apa yang bisa menarik perhatian laki-laki. Tapi berani-beraninya seorang Anna Jovanka meminta foto berdua dengan Ardam Sein si cowok terkenal di sekolah. Tapi ketika aku mendapati jawaban ‘boleh’ dari balasannya, aku sennag bukan main. Aku ingat bahwa besoknya adalah hari Minggu dan Adam akan berada di sekolah untuk latihan sebelum hari Seninnya lelaki itu akan tampil di depan panggung. Aku tentu tak peduli dengan hari apa waktu itu karena yang pasti, dnegan memakai baju asal-asalan karena ingin segera berangkat ke sekolah, aku memakai setelan baju terbruk yang pernah ku pakai seumur hidup—kaus hitam polos, jaket jeans, celana  biru dnegan motif bunga-bunga berwarna kuning, serta kerudung hitam dan sandal jepit! Ingat Kak Kiara yang pernah ku ceritakan di lembar sebelumnya? Iya, Kak Kiara yang cantik dan baik hati yang sekarang sudah putus dengan Kak Unggul yang pernah ku sukai. Perempuan itulah yang membantu Ardam bertemu denganku di lab komputer untuk berfoto. Mengapa bisa Kak Kiara? Karena Kak Kiara adalah teman sekelas Ardam dan kawan-kawannya! Lalu di depan lab komputer yang berada di lantai dua, aku mendapati Kak Ardam sedang emnaiki tangga mencariku. Dengan kaus berwarna meah muda yang seharusnya terlihat menggelikan karena pemakainya berjenis kelamin laki-laki, justru menurutku tidak. Demi foto-foto Harry Stles di dinding kamarku yang sudah ku kumpulkan sejak empat tahun lalu, Ardam Sei terlihat sangat tampan ditambah dengan jaket hitam yang ia sampirkan di bahu. Aku tak bisa menahan senyumku begitu melihat matanya menemukan netraku. Ia menatapku canggung. Ah, jika dia canggung apa kabar tanganku yang sudah dingin dengan kepalanya mening melihat wajah tampannya? Kalau bisa, aku mau pingsan saja. Aku tak ingat siapa yang lebih dulu mendekat, tahu-tahu harum parfum yang—sumpah, wangi banget—sudah tercium hidungku. Ya Tuhan, lemas rasanya. Sebagai penggemar yang baik, aku melempar terima aksih dnegan suara pecah karena grogi. Yang emmbuatku kecewa kala itu adalah dia hanya mengangguk tanpa tersenyum sebelum segera meninggalkanku disana. Tapi, ketika pulang dari sekolah, aku emndapat pesan singkat dari Kak Kiara yang siinya ebnar-benar nyaris membuat jantungku lompat dari tempatnya. Kak Kiara : Ann, gila kali, ya, si Ardam? Masa tadi pas gue nanya ‘Loh, Dam, kok udah balik? Udah selesai fotonya?’ eh, dianya malah senyum malu-malu gitu. Najis banget ga, sih? Aku yang selesai membaca baris kalimat tersebut jelas langsung jadi mengumpat tertahan merasa senang. Apakah aku bisa menyimpulkan bahwa... Ardam Sein juga senang bisa berfoto bersama denganku?   **   Tapi tentu itu dugaan salah total karena nyatanya, hingga dia wisuda dan siap meninggalkan sekolah, aku dan Ardam tak pernah mengalami kemajuan barang sedikitpun. Hubungan kami benar-benar sebatas fan-zone. Gile, kipas angin, kali. Hal itulah yang menyebabkan seorang Anna Jovanka mulai menyalahkan dirinya karena  tak tumbuh sebagai gadis cantik padahal teman-temannya memiliki kulit putih dan bersih. Ia jadi emnyalahkan warna kulit dan badannya yang tak bisa menarik perhatian seorang Ardam Sein. Lalu, aku jadi langsung seperti mendapat hidayah. Aku bertekad merubah fisikku, mempercantik wjahku, dengan mencoba satu-persatu skin care yang dikenal sebagai pencerah wajah. Semua sudah ku coba, mulai dari konsultasi ke dokter kulit, memakai skin care ber-merkuri, memakai krim yang diracik oleh tangan dokter sendiri, hingga facial glowing seminggu sekali dan lain-lain. Tak hanya ebrupa usaha, aku bahkan smapai sholat tengah malam untuk meminta Tuhan agar membantuku mewujudkan inginku yang satu ini. Aku ingin berubah menjadi Anna Jovanka yang cantik dan bisa menarik perhatian orang. Lagi pula ku pikir mumpung sedang libur panjang sebelum memasuki kuliah, jadi aku ahrus jadi cantik saat memasuki dunia kampus. Ayolah, jangan munafik, siapa, sih—perempuan mana, sih, yang tak mau punya wajah bening dan cantik sehingga banyak yang terpesona? Itulah yang kurasakan saat itu. Bukan untuk emmikat Ardam walaupun jika itu terjadi, tentu aku senang. Tapi tujuanku hanya sekedar; aku ingin cantik. Dan... Voila! Aku tak berbohong dan aku seratus persen percaya dengan pepatah yang mengatakan bahwa usaha tak akan mengkhianati proses. Aku berhasil menaikkan berat badanku sekitar tujuh kilo dan kulitku cerah dan bersih seperti yang ku ekspetasikan selama ini. Beruntung aku tak puya jerawat dari dulu jadi aku hanya tinggal mencerahkan warna kulit saja tanpa berobat. Dalam waktu empat bulan libur panjang sbeelum masuk perkuliahan, akhirnya teman-teman SMA-ku merencanakan reuni ala kadarnya hanya untuk pertemuan terakhir sebelum sama-sama sibuk dengan dunia baru, katanya. Aku dengan semangat hadir kesana. “Anna, gila, ya, lo makin cantik aja!” “Ann, sumpah, lo cantik banget sekarang!” “Eh, lo pakai gamping, ya, kok bisa tiba-tiba putih banget?” “Eh, Anna kalau putih cantik banget, ya?” Adalah beberapa komentar yang ku dengan di depan wajahku. Aku tentu langsung tersipu tapi juga sangat sennag dengan hasil dari apa yang ku lakukan. Walaupun beberapa kali aku takut mendengar komentar negtaif seperti dikira suntik putih dan lain-lain, tapi akhirnya aku mencoba lebih percaya diri dan menutup telinga pada orang-otang yang selalu menggunjingku. Percaya atau tidak, aku sudah pernah bilang mengenai lelaki yang selalu memandang fisik, bukan? Itu juga yang ku rasakan perubahannya. Mulai dari hal kecil seperti ketika dulu aku masih menjadi Anna Jovanka yang hitam dan jelek, sekarang mereka tak berani mengataiku lagi, atau bahkan ada yang terang-terangan mendekatiku padahal dulu ia juga satu dari seribu yang suka mengejekku. Mau tahu kesimoulannya dari lembaran kali ini? Lelaki yang mendekatimu setelah kamu usaha mati-matian untuk merubah bentuk fisikmu padahal dulu mereka adalah yang menjatuhkan mentalmu saat kamu ‘tak cantik’, adalah lelaki yang patut ditolak di awal. Layaknya lirik lagu yang dinyanyikan oleh Hailee Steinfeild bahwa, “but if you can’t take me at my worst, you don’t deserve at my best.” ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD