lagu yang tepat untuk kita

4556 Words
Anna Jovanka POV Ku dengar Jeff menghela nafas berat usai aku menceritakan garis besar hal yang membuatku sedih malam ini. Aku jelas tidak menceritakan bagaimana detailnya. Aku pun masih heran dengan diriku sendiri. Menceritakan sesuatu yang sebenarnya merupakan aib keluarga tentu bukan hal yang bagus apa lagi Jeff masih termasuk orang asing. Tapi jujur, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasakan beban di pundakku tidak seberat yang ku rasakan sebelum aku membagi keluh kesahku pada laki-laki di seberang sana. “Sedih itu bagian dari pendewasaan, Ann.” Kata Jeff. “Makasih karena udah kuat, udah jadi kakak yang hebat.” Ya Tuhan, aku mengucap banyak terima kasih karena punya kesempatan bertemu dengan laki-laki baik seperti Jeff. Alih-alih Jeff bisa saja merasa ilfeel alias ilang feeling padaku karena keluargaku yang tidak baik-baik saja, jauh dari kata harmonis, ia bisa saja langsung memutuskan sambungan dan menjauhiku, Jeff tidak memilih hal tersebut. Ia memilih disana, menenangkanku, berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa aku sudah memaksimalkan usahaku untuk jadi kakak yang baik untuk dua adikku. bahkan ia mengucapkan terima kasih, katanya aku hebat. Hal sederhana namun mampu membuat hatiku menghangat. Aku tak pernah mendapat ini dari orang lain sebelum Jeff. Laki-laki itu adalah yang pertama. “Makasih, Jeff, udah mau dengerin drama dari aku malem ini.” Aku meringis sedikit merasa tidak enak. “Maaf, ya, jadi bikin waktu kamu sia-sia.” Disana Jeff tertawa. “Aku malah seneng tau kamu mau percaya nyeritain hal-hal kayak gini aku. May it sounds ge-er, tapi is it means you trust me, right?” Aku tersenyum. Iya. Aku yang memutuskan untuk menceritakan hal seberat ini pada Jeff artinya aku memang sudah bisa mempercayainya. “He-em.” “Thank you, Na.” “Don’t mention it, Jeff. You helped me a lot.” Kami saling membungkam mulut untuk beberapa detik sebelum ku dengar ia menghela nafas pelan. “Lagi ngapain?” “Eum, gak ngapa-ngapain, sih.” “Like.. nothing at all?” “Hu-um.” “Ganggu, gak, kalau aku mau telponan sama kamu agak lama?” Aduh, Jeff, bisa gak, sih, jangan bikin aku senyum sendiri malem-malem? “Ayo aja.” Jawabku singkat. Kontras dengan hatiku yang melambung tinggi ingin menjerit senang. Entahlah, ku rasa jatuh cinta kepada laki-laki ini memang selalu terasa menyenangkan. Apapun yang dilakukan Jeff selalu berhasil membuatku malu dan tersipu. “Kalau ngantuk bilang, ya?” “Iya.” Lalu malam itu ku habiskan dengan bercengkerama bersama Jeff Rei Jericho. Mulai membahas dari hal-hal kecil sampai besar. Mulai dari bercanda sampai serius. Mulai dari apa yang ingin ia ketahui dariku begitu juga sebaliknya. Aku saja dari yang duduk, sampai berganti posisi menjadi tiduran, sampai berubah lagi menjadi tengkurap. Sesekali aku tertawa menanggapi candaan Jeff. Ah, Ya Tuhan, menyenangkan sekali mengenal laki-laki ini. ** Jeff Rei Jericho POV Gue bener-bener gak nyangka waktu Anna nyeritain soal kondisi keluarga. Gue kira dia anak dari keluarga yang baik-baik aja, gak kekurangan kasih sayang atau apapun. Gue bahkan syok pas dia ngaku kalau orang tuanya cerai. Karena setahu gue, anak korban perceraian orang tua selalu punya kepribadian yang beda dari orang-orang sebayanya. Ini gue simpulin dari karakter temen-temen gue sendiri yang anak broken home. Gue akuin Anna memang punya pemikiran dewasa. Gue bisa nyimpulin itu pas kami jalan-jalan ke Malioboro kemarin. Gimana cara dia nata kalimat sebelum ngomong dan gimana pemikiran dia berjalan, gue aja sampai kagum. “Kok bisa, ya, Anna punya pikiran kayak gitu sedangkan gue aja gak pernah kepikiran.” Itu adalah kalimat yang ada di kepala gue tiap gue sama Anna saling melempar pendapat atas topik yang kami bicarakan. Gue suka cara dia ngomong, cara dia ngelakuin sesuatu, cara dia natap gue, gue suka semua hal kecil yang dia punya. Tapi mengetahui bahwa kelauaga, kehidupan Anna gak baik-baik aja, jujur, gue jadi punya rasa simpatik yang lebih besar ke dia. Anna gak sekuat kelihatannya. Gak seceria kesimpulan gue soal dia selama ini. Walaupun dia terkesan masih nutup-nutupin sesuatu, i mean, dia gak menceritakan detailnya dan gue juga tahu diri kalau gue emang masih orang luar, tapi gue seneng karena dia mau cerita. Itu artinya dia percaya sama gue, kan? Tapi satu hal yang gue gak ngerti dari Anna. Dia pernah bilang kalau dia selalu gak percaya diri dengan apa yang dia punya. Dia selalu gak percaya tiap ada orang yang bilang dia cantik. Gue gak pernah, sih, muji dia langsung kalau dia secantik itu. Tapi ngelihat dari sikapnya setiap gue bilang kalau gue bener-bener tertarik sama dia, gue tahu itu ketidak percayaan dia terhadap yang gue omongin bukan sekedar merendah atau sok bilang enggak. Dia bener-bener gak percaya. “Dulu aku deket sama cowok. Sebut aja namanya Malik, misal.” Begitu awal dia memulai percakapan denganku saat ku ungkit tentang insecure yang dia rasakan. “Semua anak kelas tahu dia suka sama aku bahkan dari kelas sepuluh. Aku baru ngehnya pas kelas dua belas. Singkat cerita, kami deket. Suatu hari dia nembak aku, Jeff, yang langsung aku terima karena aku mikirnya emang kita deket udah lama. Apa lagi kami udah tahu satu sama lain tiga tahun sejak kelas sepuluh. Dan...” “Abis aku bilang aku mau jalanin hubungan lebih dari temen, dia bilang dia cuma prank. Bahkan dia sempet ngetawain aku.” Ku dengar Anna di seberang sana  tertawa di akhir kalimat. Jenis tawa yang dibuat-buat karena merasa miris. “Dia bilang dia cuman prank, Jeff. Aku udah sakit hati karena itu, dan dengan entengnya dia malah cerita ke temen-temen SMA soal itu. Kamu bisa bayangin gimana rasanya jadi aku? Malu banget.” Ada gemericik emosi yang meletup di kepala gue abis mendengar cerita Anna. Banci mana yang bisa-bisanya ngelakuin itu ke cewek apa lagi nyebarin sampah ke orang banyak? Lewat cerita itu, gue percaya sama quotes yang pernah gue baca bahwa everything happens for a reasons. Ada alasan kenapa Anna bisa sampai se-gak percaya ini sama cowok. Anna emang gak cerita semua tentang masa lalu kisah asmaranya, dia cuman cerita soal itu. Tapi dia juga sempet bilang kalau dia sering diselingkuhin dan berada di lingkungan cowok yang tukang selingkuh. That’s why dia bisa nutup hati rapet-rapet. “Ann.” “Ya?” “Apa... itu artinya aku gak punya kesempatan?” “... chance of what?” Mungkin ini terlalu cepat tapi gue mau. Gue mau dia tahu kalau seberapa lama kita kenal orang gak jadi patokan untuk manusia bisa jatuh cinta. “For let me in.” Anna diam tak bergeming sama sekali. Dan itu makin bikin gue deg-degan setengah mampus takut kalau-kalau dia merasa gue cuman main-main apa lagi—yes, of course, balik lagi, ini terlalu cepet. “A-aku... eung--  kita coba pelan-pelan aja gak apa-apa?” Gue cuman bisa senyum. Tahu jelas kalau itu bukan penolakan, tapi juga bukan artinya gue diterima. Dia masih bimbang dan itu udah pasti. Setidaknya gue tahu kalau dia gak mendorong gue buat mengakhiri apa yang bahkan belum gue mulai. “It’s nice to hear that.  Be ready, ya, Ann.” “Hah? Ngapain?” “Fall in love with me. Hehe.” Anna tertawa-- yang gak tahu sejak kapan denger dia ketawa adalah sesuatu yang bikin gue seneng. Candu banget. “You too, deh, ya.” Jawabnya kemudian. “No need, Ann.” Gue biarkan bibir gue melengkung makin lebar sebelum kembali menjawab. “ Because i already fell for you.”   **   Anna Jovanka POV [Dua minggu setelahnya] Pukul sepuluh siang, ketika aku sudah selesai membersihkan rumah yang meliputi--  bangun tidur langsung ke dapur untuk membantu tanteku memasak dan menyiapkan sarapan, dilanjutkan dnegan menyapu seisi rumah dan mengepel, serta pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya, aku memutuskan untuk langsung mandi karena badanku berkeringat. Sebelum mengambil handuk, aku sempat mengecek ponsel. Satu minggu belakangan ini emmang aku lebih semangat untuk membuka ponsel karena tentu sjaa Jeff Rei Jericho adalah alasannya. Tapi siang itu, aku tak mendapatkan pesan masuk darinya padahal biasanya pagi-pagi Jeff sudah akan merecokiku. Jadi aku memilih membuka chat dari Gilang. Gilang N : ngopi kuy Aku mengernyit, ku ingat-ingat hari apa ini karena biaanya Gilang hanya akan mengajak nongkrong jika hari--  iya, benar. Ternyata sekarang sudah malam minggu. Anna J : jemput yaw [Read] Tanpa membalas atau sekedar membaca pesanku, aku tahu nanti pukul lima sore pasti teman baikku yang satu itu sudah duduk manis di ruang tamu seperti biasanya. Jadi aku bergegas mandi dan bersiap untuk beristirahat seharian. Atau tidak, karena aku harus kembali ke rutinitasku yaitu menulis naskah. Baru aku membuka dan menghidupkan laptop, aku emndapat pesan setelah sebenarnya dua hari Jeff tak menghubungiku. Jeff Rei : malem mingg nih Jeff Rei : keluar yuk? Aku terkekeh membacanya. Ini bukan pertama kalinya cowok itu suka mengada-ada seakan kami berada di satu kota dan dia ingin jalan bersamaku. Candaan yang sebenarnya membuatku sedikit— sedikit sekali— merasa rindu berjalan di samping tubuh jangkungnya. Anna J : hahaha selalu deh Jeff Rei : wkwk lagian Jeff Rei : temen-temenku pada kencan nanti malem Jeff Rei : aku doang yg lagi ldr Astaga, apaan laki-laki ini? Selalu bisa membuatku tersenyum menahan tawa. Anna J : makanya cepet ke Malang Anna J : biar aku juga gak keluar sama gilang dkk melulu Jeff Rei : kamu mau keluar sama gilang nanti? Omong-omong soal Gilang, Putri, Denny, dan Gezya, aku sudah menceritakan mereka berempat pada Jeff sejak ia juga mengenalkan Kak Bisma, Kak Akbar, dan Kak satunya yang aku lupa namanya.  Jeff sebenarnya— jika aku tidak salah tebak, ia memang sedikit eung-- cemburu pada Gilang. Ia bahkan pernah bilang bahwa saat awal bertemu dengan Gilang, laki-laki itu langsung mengamati Gilang dari atas sampai bawah, kataya ia punya firasat tentang Gilang dan aku. Aku hanya tertawa menanggapinya karena memang tak pernah ada apapun di anatar aku dan Gilang. Jeff Rei is calling... Asik melamun membuatku lupa membalas chat laki-laki itu. Ku angkat teleponnya dan aku langsung terkekeh kecil mendengar laki-laki itu menggerutu “Kok enggak bales?” “Iya, ini tadi baru juga mau ngetik kamunya udah keburu nelpon.” “Nanti mau keluar sama Gilang?” “Iya.” “Berdua?” “Enggak, deh, kayaknya.” “Kok kayaknya?” “Ya, soalnya aku belum tanya. Biasanya berlima, kok, kalau nongkrong.” Aku tak mendengar jawaban apapun dari Jeff membuatku menghela nafas pelan. “Jeff?” “Hm?” “Gak berdua, kok.” Jawabanku meyakinkan sekalipun aku belum tahu apakah Gilang mengajak Putri dan yang lain atau tidak. Kali ini gantian dia yang terdengar menghela nafas. “Maaf, ya.” “Loh, kok minta maaf?” “Aku gak mau keliatan kayak posesif ke kamu.” “Iya, iya, ngerti, kok.” “Tungguin aku balik ke Malang, ya.” Aku mengernyit. Mengapa laki-laki ini tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, coba? “Kenapa?” “Biar aku bisa cepet nembak kamu. Biar ada alesan bisa posesif.” Ku dengar Jeff tergelak geli sendiri. “Aku gak mau nembak lewat chat.” Ya Tuhan, Jeff. Dia yang tingkah lakunya seperti ini malah membuatku jadi makin rindu.  “Iyaaaaa.”   ** [Satu minggu berikutnya]   Aku ingat, beberapa hari yang lalu, malam-malam ketika aku dan Jeff melakukan panggilan video di pukul sembilan malam, ada satu fakta yang baru ketahui tentangnya. Berawal dari wajahnya yang ku tangkap beberapa kali terlihat melamun, aku menegurnya. “Jeff? Ada yang lagi ganjel di pikiran kamu?” “Hm?” Jeff langsung memfokuskan matanya pada kamera menghadapku. “Enggak.” “Ih boong?” Ujarku berusaha bercanda, walaupun sebenarnya aku memang penasaran karena tak biasanya laki-laki itu begini. “Kalau gak mau cerita, gak apa-apa, kok, Jeff. Cuman karena wajah kamu keliatan kayak capek gitu, mending kamu istirahat, ya?” “Gak, gak. Jangan dimatiin.” Ku lihat wajah Jeff langsung terlihat panik membuatku tertawa-- namun hanya sebentar karena Jeff tiba-tiba menampakkan raut wajah serius.. “Kalau aku cerita, kira-kira kamu marah gak, ya?” Dahiku mengernyit mendengarnya. “Kenapa harus marah, coba?” “Aku abis ketemu...” “Ketemu?” “Mantan yang paling terakhir.” Oopsie? Dua minggu lebih kami dekat, masing-masing dari kami tak pernah membicarakan yang satu itu. Tidak, sih, kalau dari aku pernah. Dia yang tidak. Baru kali ini aku mendengar kata mantan keluar dari bibirnya. Aku lupa kalau Jeff punya mantan— jelas, laki-laki itu tampan dan sudah pasti punya banyak mantan. Sebenarnya, beberapa kali aku memang pernah kepikiran tentang siapa ya mantan Jeff, seperti apa dia, seberapa lama mereka menjalin hubungan, tapi aku berusaha menahan diri untuk penasaran apa lagi bertanya. Karena yang jelas, mungkin membawa masa lalu ke hubungan yang sedang dijalani saat ini bukan ide yang bagus apa lagi aku tipe perempuan yang mudah merasa tak pecaya diri. Belalajar dari pengalamanku bersama Alfi Dierga dulu yang sering bertengkar karena mantan laki-laki itu yang bernama Puspita, aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama dan berujung membuatku insecure sendiri. “Oh ya?” Jawabku pada akhirnya. “Yang terakhir banget?” “Iya. Namanya Tasya.” “Well, nama yang cantik.” “Hmm, iya.” Katanya membuatku diam. “Dia juga emang cantik banget, jujur.” Aku bisa membayangkan secantik apa perempuan itu hingga membuat Jeff mendadak mellow begini padahal ada aku di depannya. “Putus kenapa?” Tanyaku berusaha mengeluarkan suara dengan nada biasa saja. “Dia gak mau LDR-an.” Aku tak menjawab apapun kali ini. Membirkan Jeff mengeluarkan semua isi hatinya walaupun aku sedikit merasa.... tidak siap. “Dia gak mau LDR an karena aku mau kuliah di Malang.” Wow? Berarti mereka putus sudah sejak Jeff lulus SMA yang artinya sudah tiga tahun yang lalu? Tiga tahun yang lalu tapi perempuan bernama Tasya tesebut masih bisa memberi pengaruh pada Jeff hingga laki-laki itu kembali terlihat sedih dan suka melamun? Apakah hingga detik ini-- “Kami pacaran dari kelas satu SMA, Ann. Tiga tahun pacaran dan dia minta putus karena aku mau ke Malang.” Aku bisa mendengar kekehan tak percaya dari Jeff. Astaga, mengapa aku baru tahu hal sebesar ini sekarang? “Kamu... masih sayang sama dia?” Tanyaku akhirnya. Aku sudah pernah hampir dijadikan pelampiasan oleh Alfi dan aku tidak ingin itu terjadi padaku lagi untuk yang kedua kalinya. Atas pertanyaanku barusan, dia hanya menghela nafas sebelum kembali bersuara.  “Yang penting dia seneng aja, kan?” Jeff masih menyayangi Tasya. Sudah jelas. Aku tersenyum miris. Sudah ku duga semuanya tak akan berjalan sesuai harapanku. Apa yang bisa Anna Jovanka harapkan dari hubungan bersama laki-laki setampan Jeff Rei Jericho? Anna yang malang. ** [3 hari setelahnya]   Usai telepon hari itu, aku merasa ada yang berbeda atas hubunganku dengan Jeff. Memang benar, atas pernyataan tak langsung Jeff kala itu yang membuatku tahu bahwa Jeff masih belum bisa move on dari mantannya, tapi aku tak pernah emnjauh. Maksudku, ketika ia mengirim pesan, aku maish membalas, ketika ia menelepon, amsih ku angkat. responku masih tetap sama seperti sebelum pembicaraan di telpon beberap hari yang lalu terjadi. Yang tak ku mengerti adaah Jeff yang terasa seperti menjauh. Jeff tak pernah menghubungiku lagi semenjak dua hari yang lalu pukul delapan pagi padahal sebelumnya kami masih saling menelepon walaupu percakapan terakhir juga tidak bisa dikatakan baik-baik saja. “Iya, terus si ceweknya tiba-tiba minta foto bareng sama si Akbar. Padahal, ya, Ann, cewek ini udah tahu kalau Akbar bawa pacarnya kesana.” “Gila banget?!” Jeff tertawa. “Iya, gila. Kamu jangan ikutan gila gara-gara suka sama Akbar, ya, Ann.” “Lah? Ngapain?” “Ya siapa tahu.” “Enggaklah. Aku beda sama cewek-cewek yang demen sama kak Akbar.” Soalnya aku udah terlanjur suka sama temennya. Tambahku dalam hati. “Iya, beda. Makanya, kan, gampang banget bikin aku suka.” “Apa?” Tanyaku meledek. “Suka ngegoda, ngejailin. Gitu maksudku.” Aku tertawa mendengarnya. Tapi tiba-tiba bayangan mengenai si cantik Tasya yang memang sudah pernah ku stalking instagramnya itu lewat di kepalaku membuatku menjawab Jeff seperti ini. “Ya emang gak mungkinlah kamu suka sama aku. Aku, mah, apa. Beda jauh kalau sama Kak Tasya sampai bisa dibucinin kamu.” Beberapa detik hanya heninglah yang mengisi waktu kami sampai Jeff berdeham dan bertanya. “Kenapa gitua?” “Nggak ada apa-apanya, lah, Jeff, kalau aku dibandingin sama Kak Tasya?” Dia menghembuskan nafas. “Aku gak suka denger kamu insecure-insecure begini.” Aku yang memang tiba-tiba terserang insecure itu membuat telepon di antara aku dan Jeff jadi sedikit kaku dan tak seluwes biasanya. Pembahasan mengenai Tasya selalu menjadi hal berat untuk kami. Dan lihat, usai telepon tersebut, sampai dua hari kemudian, aku tak pernah mendapat kabar apapun tentang Jeff. Tidak telepon, tidak mengirim pesan, tidak ada apapun. Aku tak tahu pasti apa memang karena percakapan kala itulah yang membuat Jeff tiba-tiba begini, atau memang Jeff sedang memiliki kesibukan lain sehingga dua hari tak muncul? Aku pun sedikit merasa tak enak untuk menghubunginya lebih dahulu. Atas kegelisahanku hari itu, aku memilih membuka laptop saja untuk menyelesaikan naskahku. Tapi bukannya mengarahkan cursor ke Microsoft Word, aku malah membuka Spotify dan meng-shuffle lagu disana. Ingin tahu sesuatu lagi? Semenjak kenal Jeff, aku memutuskan mengganti alur ceritaku yang naskahnya akan ku kirim ke editor itu dengan jalan cerita di kehidupan nyataku. Mulai dari pertemuan pertama, kenalan, jalan-jalan di Malioboro, dan lain-lainnya sampai detik ini. Naskahku sedang menggantung karena Jeff belum menghubungiku sampai sekarang sedangkan biasanya isi chatku dengan laki-laki itulah yang menjadi isi  dari naskahku. Aku sedikit bingung, sih, karena Jeff tak kunjung mengirimi pesan padaku padahal ini sudah tengah hari. Bukan aku tipe-tipe gebetan yang posesif dan minta dihubungi setiap saat, namun Jeff dan aku selalu mengabari jika kan tidak bisa mneghubungi selama sekian hari. Jeff bahkan tidak bilang apa-apa kemarin sore sebelum ia menghilang hingga detik ini. Aku mengambil ponselku lagi, menyamankan posisi berbaringku, lalu dengan iseng membuka i********: yang mana sebenarnya aku sangat jarang. Aku mengernyit menemukan  Jeff yang malah lebih jarang menggunakan akun i********: sedang membuat status baru disana. Jemariku bergerak menekan lingkaran disana dan yang ku temukan adalah... Jeff Rei sedang berada di lorong bioskop. Bersama seorang perempuan. Foto bersama dengan tangan Jeff di bahu si perempuan. Dengan senyum lebar milik keduanya. Dan aku tahu benar itu siapa. Itu Tasya. Tasya Alendra si mantan Jeff Rei Jericho. Air wajahku berubah jadi kaku. Aku mengernyit tak percaya. Tanganku dingin. Jantungku berdebar. Aku cepat-cepat langsung menutup intagramku seiring berusaha menenagkan debaran jantungku yang tak normal. Aku merasa mataku berair dan fokusku sedang melayang kemana. Jeff, kenapa gini? Dua hari yang lalu kita masih baik-baik aja, Kenapa sekarang udah begini? Aku salah apa? Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba sama Tasya? Banyak pertanyaan besar yang ingin ku tanyakan saat ini juga pada Jeff. Tapi aku tahu aku tak bisa. Aku memilih diam tak berkutik beberapa detik sebelum akhirnya mulai terisak--  tepat ketika lagu Somebody Else milik 1975 terdengar oleh telingaku.   **   So I heard you found somebody else And at first I thought it was a lie I took all my things that make sounds The rest I can do without I don't want your body But I hate to think about you with somebody else Our love has gone cold You're intertwining your soul with somebody else I'm looking through you while you're looking through your phone And then leaving with somebody else No, I don't want your body But I'm picturing your body with somebody else Come on baby This ain't the last time that I'll see your face Come on baby You said you'd find someone to take my place I just don't believe that you have got it in you 'cause We are just gonna keep 'doin' it' and everytime I start to believe in anything you're saying I'm reminded that I should be getting over it I don't want your body But I hate to think about you with somebody else Our love has gone cold You're intertwining your soul with somebody else I'm looking through you while you're looking through your phone And then leaving with somebody else No, I don't want your body But I'm picturing your body with somebody else I don't want your body, I don't want your body I don't want your body, I don't want your body I don't want your body, I don't want your body Get someone you love? Get someone you need? Fuck that, get money I can't give you my soul 'cause we're never alone Get someone you love? Get someone you need? Fuck that, get money I can't give you my soul 'cause we're never alone Get someone you love? Get someone you need? Fuck that, get money I can't give you my soul 'cause we're never alone Get someone you love? Get someone you need? Fuck that, get money I can't give you my soul 'cause we're never alone I don't want your body But I hate to think about you with somebody else Our love has gone cold You're intertwining your soul with somebody else I'm looking through you while you're looking through your phone And then leaving with somebody else No, I don't want your body But I'm picturing your body with somebody else   **   Aku masuk ke mobil setelah Gilang memaksaku untuk langsung turun karena lelaki itu tak mau masuk dulu ke dalam rumah. Aku tetap diam bahkan ketika ia mengomel, memarahiku karena aku sangat lama. Ia bahkan menuduhku terlalu lama berdanda, padahal laki-laki itu tak tahu saja bahwa aku sedang asik menangis meratapi nasib burukku yang memikirkan Jeff. Malam ini Gilang memintaku untuk harus ikut berkumpul dengan anak-anak karena malam minggu kemarin, aku tidak jadi ikut nongkrong dengan alasan bapak sakit, padahal aku sedang tak ingin keluar rumah--  sedang malas menjelaskan pada teman-teman mengapa mataku sembap dan lain sebagainya. Hari ini hari kamis, yang artinya sudah beberapa hari aku menjalani hidupku yang mengenaskan karena belum apa-apa sudah disakiti Jeff. Kami bahkan tidak lagi bertukar pesan. Sesekali ia hanya menjadi viewers snapgramku saja dan sebaliknya. Bedanya, aku hanya meng-update lagu-lagu yang sedang ku dengarkan sedangkan ia—yang memang sebenarnya jarang sekali membuat snap, kali ini terlihat menjadikan foto kebersamaannya dengan Tasya. Aku tidak tahu sampai mana hubungan Jeff dengan Tasya--  mungkin sudah jadi sepasang kekasih lagi karena aku ingat dulu Jeff sempat cerita bahwa ia bertemu dengan Tasya untuk pertama kalinya usai beberapa tahun tidak pernah. Iya, mungkin sejak itu perasaan Jeff akhirnya goyah padaku dan kembali bersemayam pada Tasya. Aku masih menatap kaca mobil di samping kiriku sampai tiba-tiba aku merasa Gilang mengerem mobil mendadak membuat aku auto menoleh. “Lang!” Tiba-tiba mobil bergerak minggir dan Gilang kini sudah menatapku lekat. “Lo nangis?” “Hah?” Aku meraba pipiku sendiri yang demi tuhan aku bahkan tidak tahu kalau air mata sudah meleleh di pipiku. Sialan, bahkan Jeff tidak pernah memberiku banyak kenangan tapi mengapa sakit hati yang ku rasakan sampai seperti ini? Aku tertawa hambar, mengusap pipiku kasar sambil menjernihkan pandanganku di bawah lampu remang cahaya mobil. “Ini kelilipan, anying.” Gilang diam. Dan diamnya laki-laki itu membuatku takut dan tak tenang. Selama ini Gilanglah yang menjadi tameng dalam hidupku. Aku hanya... aku hanya tak ingin kali ini Gilang marah pada Jeff seperti yang ia lakukan pada mantan-mantanku dulu. “Jawab yang bener.” “Enggak, Laaaang. Gue enggak kenapa-napa.” “Ann.” Aku mengangkat kepalaku. Menggigit bibir bawahku karena dinginnya malam membuatku teringat Malioboro dan kenangan bersama Jeff. Mataku kembali meneteskan air mata yang kali ini makin deras. Gilang menghela nafas, menatapku dengan pandangan yang tak ku tahu apa artinya— antara marah dan tak bisa berkata apa-apa. Ia mendekat dan merengkuh tubuhku perlahan membuatku semakin terisak. Aku menggeleng entah untuk apa. Aku emrasakan sakit luar biasa. Hmapir satu minggu sakit yang ku rasakan karena Jeff ku pendam sendiri. Dan kini ada Gilang yang menyediakan pelukan untuk menenangkanku. “Jeff b******k, Lang...” “I-i should have know he is truly a jerk.” Aku bisa merasakan tangan Gilang bergerak mengelus rambutku. “Sshh.. It’s okay, Ann. I’m here. I’m here.”   **   “Lap dulu, tuh, ingus lo.” Ujar Gilang usai memarkirkan mobil di depan kafe langganan kami di Omah Koempoel. Aku merengutkan wajah masam dan langsung mendekat padanya, mengelap hidungku dnegan ujung jaket yang ai pakai. Aku mendengar ia melengos keras tapi aku tak peduli. Lagi pula Gilang tidak pernah marah saat aku melakukannya. “Rapiin juga rambut lo.” Ujarnya kemduian membuka pintu mobil dan meninggalkanku. Tak peduli bahwa sang pemilik mobil sudah keluar, aku malah mengarahkan kaca spion depan pada wajahku dan merapikan riasanku yang sedikit kacau karena air mata. Kemduian aku turun dan berjalan sedikit cepat menyusul Gilang. Tapi sepertinya usahaku memperbaiki dandananku di mobil tadi sia-sa, karena baru saja aku akan melambai dan emmasang wajah ceria pada Rara dan Putri yang sudah duduk di salah satu lingkaran meja, Putri sudah emngehbohkanku. “Heh, lo abis nangis?!” Aku juga baru akan mengelak ketika Gilang malah mendahuluiku menjawab pertanyaan Putri. “Gara-gara cowoknya yang kenal di Jogaj kemaren.” Asatag. Betapa baiknya Gilang sebagai temanku. Aku mati-matian seminggu ini tak menceritakan apapun tentang Jeff dan sekarang seenak jidat Gilang malah membocorkan semuanya. “Sumpah?!” “Lo diapain sama Jeff?!” Aku diam saja. Tak memperdulikan Rara dan Putri yang kini menggoyang-goyangkan bahuku agar segera menjawab. “Ck. Jangan bahas dia sekarang.”   **   “Apa gue bilang!” Adalah kalimat pertama Putri usai aku akhrinya menceritakan semuanya pada mereka— Gilang, Rara, Putri, Denny, dan Gezya. “Cowok ganteng, tuh, berpotensi nyakitin, Ann. Apa lagi yang gantengnya GANTENG BANGET kayak Jeff. Udah pasti, lah, dia main-main doang.” Aku diam saja walaupun di dalam hatiku membenarkan kalimat Putri. “Jadi sekarang dia udah fiks balikan sama mantannya?” Aku menganggukkan pertanyaan Rara. “Eh, gak tahu, ding. Cuman kalau dilihat dari snap-snap, nya, kayaknya, ih, begitu.” Rara ternganga kemudian. “Hah? Like, seriously, Ann, lo belum tahu kepastiannya dan lo udah senangis ini?” “I am f****d up. Big time.” “Why weren’t you ask him at the first place?!” “Ya, buat apa, Ra? Iya kalau dia bikin snap cuman malem itu, doang. Ini ebsok-beosknya juga bikin snap sama Tasya. What should i do?! Mengemis meminta penjelasan? Bertingkah seakan-akan gue adalah kekasih resminya yang mergokin dia selingkuh sama mantannya? I wouldn’t do that. Not in a million years!” Gilang melepas asap vape dari bibirnya ke arah lain karena di sisi kanannya ada aku. Dia memandangku dan Rara bergantian sebelum ia ikut berkomentar. “I told you so, kan, Ann. Jangan gampang kenalan sama cowok baru.” “Lang, please?” Jawabku tak percaya dengan kata-katanya. “Ini bahkan pertama kalinya gue buka hati setelah gue putus dari Alfi!” “Tapi Jeff bukan satu-satunya cowok yang lo gandeng setelah sama Alfi, right? Lo mau gue sebutin? Dari jaman Royan, Riko, Ada—“ “I said it was my first time to give my heart for a man after Alfi! Royan dan lain-lain jelas gak masuk itungan karena gue gak pernah buka hati buat mereka.” Aku membela diri karena kalimat Gilang berkata seolah aku ini menerima semua laki-laki untuk memacariku. “Yes and that’s the point!” Gilang tiba-tiba menaikkan volume suaranya membuatku terkejut. “Lo baperin semua cowok yang ada di sekitar lo dan ujung-ujungnya lo beralibi kalau dari awal niat lo cuman berteman. Lo kecewain harapan semua laki-laki itu. Lo tahu kesimpulannya? Ini karma, Ann. This is your turn.” “LANG!’ Rara tiba-tiba ikut berteriak. “You are too much!” Aku diam. Lidahku kelu. Pikiranku sudah kemana-mana, memikirkan apa yang dikatakan Gilang adalah benar? Apa ini memang salahku karena dulu aku suka meninggalkan laki-laki dengan harapan tinggi pada hubungan kami? Tapi... haruskah sesakit ini? “Stop it, guys. Stop there!”  Putri menengahi sembari memegang kepalanya yang mungkin pusing dengan situasi saat ini. Denny meletakkan rokoknya di asbak sembari menatap kami persatu-satu. “Udahlah. Kita jadi temen, toh, cuman bisa ngasih nasehat. Jangan ngelanggar batas. This is her own life and we should know where our boundary at.” Seketika rasa bersalah menyelinap di benakku. Karena masalah pribadiku dengan Jeff, teman-temanku sampai ramai di tempat umum seperti ini. Kami semua diam, hanya suara musik yang dimainkan di kafe yang terdengar dan aku memilih membuka ponsel yang etrnyata belum ku keluarkan dari aplikasi i********:. Yang menarik perhatianku adalah Jeff--  yang kembali membuat snap gram lagu Falling For You milik 1975 membuatku tersenyum getir. Jeff, harusnya aku yang nyanyi itu bukan kamu.   **   What time you coming out? We started losing light I'll never make it right If you don't wander off I'm so excited for the night All we need's my bike and your enormous house You said some day we might When I'm closer to your height, Till then we'll knock around and see If you're all I need Don't you see me I I think I'm falling, I'm falling for you And don't you need me I I think I'm falling, I'm falling for you On this night, and in this light I think I'm falling (I think I'm falling), I'm falling for you And maybe you, change your mind (I think I'm falling, I think I'm falling) I'm caught on your coat again You said, "Oh no, it's fine" I read between the lines and touched your leg again (again) I'll take it one day at a time Soon you will be mine, oh, but I want you now (I want you now) When the smoke is in your eyes, you look so alive Do you fancy sitting down with me maybe 'Cause you're all I need According to your heart My place is not deliberate Feeling of your arms I don't want to be your friend, I want to kiss your neck Don't you see me I I think I'm falling, I'm falling for you And don't you need me I I think I'm falling, I'm falling for you On this night, and in this light I think I'm falling (I think I'm falling), I'm falling for you And maybe you, change your mind   ** Tak biasanya aku dan diam saling diam ketika di perjalanan. Dia masih melakukan kewajibannya yakni mengantarku pulang usai dari kafe tadi. Aku baru emncobot sabuk pengaman ketika akhirnya mobil Gilang berhenti di depan rumahku. “Makasih.” Ujarku tanpa menatap ke arahnya. Aku sudah hendak melarikan tanganku untuk membuak pintu ketika tiba-tiba Gilang memanggil namaku. “Sorry for blaming you.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD