Kenangan Pahit Masa Lalu

1335 Words
Setelah Bella pergi Rava mengirim pesan pada Gerald, meminta asistennya itu agar tak usah datang. Setelah pertengkarannya dengan Bella, Rava merasa butuh waktu sendirian merenung di kamarnya. Sedangkan Bella saat ini masih berdiri di depan pintu apartemennya. Rasanya ia tak mungkin menampakkan diri di depan anaknya dengan keadaan menyedihkan seperti ini. Bella mengetik pesan di ponsel-nya untuk Makcik Noor. Bella: Makcik, sebelumnya Bella minta maaf. Apa Bella boleh meminta bantuan makcik untuk menjaga Noah? Sebentar saja. Ada masalah di toko, dan Bella harus ke sana. Sekali lagi maaf jika Bella harus merepotkan makcik. Makcik Noor: Tak payah minta maaf. You dan Noah sudah makcik anggap macam keluarga sendiri. Makcik jemput Noah sekarang, pergilah ke toko. Bella: Terima kasih Makcik. Bella menghapus air matanya, sebelum pergi ia harus pamit pada Noah agar nanti putranya itu tak kebingungan mencarinya. "Noah!" panggil Bella. "Iya, Mommy." Bella melihat putranya duduk di sofa sambil menonton televisi. "Mommy harus pergi ke toko. Tidak apa-apa, ya, jika Noah mommy tinggal? Mommy hanya pergi sebentar. Makcik Noor akan datang untuk mejemput Noah." "Mommy pergi saja. Noah tidak pa-pa jika ditinggal dengan Makcik." "Terima kasih, Sayang. Mommy berangkat dulu. Makcik akan datang sebentar lagi." Bella mencium pipi Noah, putranya itu memang selalu bisa mengerti dirinya. Bella mengambil kunci mobil lalu pergi. Wanita itu menuju basemen, memilih menyendiri di sana di dalam mobilnya. Ia menumpahkan tangis yang sebelumnya ditahan karena tak ingin menunjukkannya di hadapan Noah. "Kenapa sulit sekali bagi aku untuk bahagia dengan Mas Rava?" guman Bella. Dadanya saat ini terasa sangat sesak, teringat dengan masa lalunya yang sejak dulu selalu sulit untuk bersatu dengan Rava. *Flashback Bella sangat senang karena Rava yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan magister-nya di Amerika, kemarin telah kembali ke Indonesia untuk liburan dan bertemu keluarganya. Rava adalah sahabat dari kakak Bella. Saat usia Bella 16 tahun ia pernah menyatakan cinta pada Rava, tapi berujung kena tolak. Rava mengatakan dia menganggap Bella sudah seperti adiknya sendiri. Namun, menurut Bella itu hanya alasan Rava saja karena pria itu masih menganggap Bella anak kecil. Hari ini Rava mengajak Bella untuk bertemu di cafe. Gadis yang baru saja lulus SMA itu sangat senang, dia berdandan sangat cantik. Bella mengira hari ini Rava akan menyatakan cinta padanya karena ia telah dewasa, bukan anak SMA lagi. Dirinya sudah pantas untuk jadi pacar Rava, lagian umur mereka sebenarnya hanya terpaut lima tahun, itu bukanlah masalah. "Mas Rava ngapain ngajak Bella ketemu di sini?" Bella memandang pria yang duduk di hadapannya. Saat ini mereka telah berada di cafe. Bella tak hentinya tersenyum, ia deg-degan, tak sabar menunggu Rava menyatakan cinta. Hal yang membuat Bella sangat mencintai Rava, karena selama ini pria itu sangat perhatian pada Bella. Gadis itu sangat yakin bahwa Rava sebenarnya juga mencintainya, perasaan Bella tidak pernah salah. "Aku cuma mau ngomong, aku harap kamu berhenti suka sama aku karena aku udah punya pacar. Namanya Daisy. Kita udah pacaran sejak empat bulan yang lalu. Aku mencintainya. Dia cantik, pintar, mandiri, dan tidak manja," tutur Rava. Detik itu juga Bella merasa hatinya hancur, tapi gadis itu tetap berusaha untuk tersenyum. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan. "Selamat, Mas. Bella juga pengen ngasih tahu kalau sebenarnya Bella udah lama move on dari Mas Rava. Walau Mas udah punya pacar Bella masih boleh dekat sama Mas Rava, kan. Sepertinya sebelumnya, sebagai adik kakak." Saat ini Bella sama sekali tak menunjukkan wajah patah hati. Rava terdiam sejenak dengan raut wajah datar. "Tentu. Selama ini lo memang gue anggap kayak adik gue sendiri." "Terima kasih, Mas. Bella senang dengarnya. Semoga hubungan Mas Rava sama Mbak Daisy langgeng. Oh iya, Bella nggak bisa lama-lama ngobrol sama Mas Rava karena udah janji mau ketemu temen. Bella pamit dulu. Dahh ...." Bella tersenyum lebar, dia melambai lalu pergi. Bella tak bisa berlama-lama berada di dekat Rava karena sejujurnya saat ini dia sangat ingin menangis. Mulai detik itu Bella akhirnya memutuskan untuk move on dari Rava. Dia memilih kuliah di Australia agar bisa lebih mudah melupakan Rava. Besok adalah jadwal keberangkatan Bella ke Australia. Namun, Bella belum berpamitan pada Rava dan keluarganya. Gadis itu akhirnya mengajak keluarganya berkunjung ke kediaman Keluarga Crishtian. "Bell, bisa tolong panggilin Ana dan Mas Rava ke kamar," pinta Naura. Saat ini kedua orang tua Rava dan orang tua Bella, serta Juna sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam. "Iyaz Tante." Bella bangkit dari duduknya. Pertama ia menuju ke kamar Ana, mengetuk pintu, dan tidak butuh waktu lama Ana keluar. "Eh, ada Mbak Bella," ucap Ana. "Tante nyuruh Mbak manggil Ana untuk makan malam." "Oh, iya. Mbak. Ana rapiin buku dulu, habis itu turun," balas Ana. Bella lalu menuju ke kamar Rava. Ia menghirup napas dalam-dalam, menghilangkan kecanggungan, lalu mengetuk pintu kamar Rava. "Mas Rava!" Tidak ada sahutan, pintu pun juga tidak terbuka. Bella memberanikan diri untuk membuka pintu dan melihat Rava sedang tertidur pulas di ranjangnya. Bella melangkah masuk, ketika hendak membangunkan Rava, niat Bella tiba-tiba terhenti, perhatiannya malah tertuju pada kotak penyimpanan berukuran 20x10 cm berbahan kayu dengan ukiran klasik, milik Rava. Kotak itu sedikit terbuka. Selama ini Rava melarang siapapun untuk mendekati atau pun menyentuh kotak tersebut. Bella berniat untuk menutup karena mungkin isi kotak itu sangat rahasia. Ketika tangan Bella hendak menyentuh kotak tersebut, sebuah tangan kekar dengan cepat mencengkal lengan Bella kuat. "Lo tahu, masuk ke kamar orang sembarang dan nyentuh barang orang tanpa izin itu bisa disebut maling," tekan Rava, menatap Bella tajam. Bella tiba-tiba saja gugup, belum pernah ia melihat Rava semarah ini. "Ma—maaf, Mas. Bella tadi lihat brankasnya kebuka dan pengen–" "Kenapa semua urusan gue pengen lo tahu? Apa jangan-jangan lo belum bisa berhenti dari obsesi gila lo itu? Gue nggak akan pernah suka sama lo. Dan lo mau tahu apa isi di dalam kotak ini? Isinya foto dan barang-barang berharga dari pacar gue. Dan gue tekenin ke lo berhenti suka sama gue, jangan pernah deket-deket gue lagi! Gue nggak mau bikin pacar gue cemburu jika lo ada di dekat gue!" bentak Rava, menuduh Bella sembarangan. Perkataan Rava yang keras membuat tubuh Bella diam tak berkutik, dia tidak biasa dibentak. "Bella cuma pengen nutup kotaknya. Mas Rava nggak perlu khawatir, Bella nggak akan ngejar-ngejar Mas Rava lagi, bahkan ketika nanti Mas udah putus. Dan mulai detik ini, Bella nggak muncul lagi dihadapan Mas. Bella akan pergi. Selamat tinggal!" Dan itu adalah pertama kalinya Bella merasa Rava menyuruhnya pergi dari kehidupan pria itu. Gadis itu akan melakukannya. Bella keluar dari kamar Rava dengan mata berkaca-kaca. "Mama, Papa, Mas Juna kita pulang. Perut Bella tiba-tiba sakit," bohong Bella sambil memegang perutnya. Dia memasabg wajah memelas. Hal itu membuat keluarganya khawatir. "Perut kamu kenapa, Bel?" tanya Valerina— mama Bella—khawatir. "Kayaknya Bella mau haid. Kita pulang aja, ya." "Yasudah, kita pulang." Gavin Atmaja—papa Bella—tidak tega melihat anaknya. "Tante, Om, Bella minta maaf gak bisa ikut makan malam. Bella pamit, karena besok Bella mau berangkat ke Australia." "Tidak apa-apa, Bel. Sampai rumah jangan lupa minum obat," pesan Naura. "Maaf, ya, Ril, Naura. Aku dan keluarga pamit dulu," ucap Gavin. "Iya, nggak pa-pa, Gavin. Lain kali saja kita dinner-nya," tutur Aril. "Juna pulang dulu Om, Tante, Ana." Juna menyalami tangan kedua orang tua Rava, diikuti oleh Bella. Keluarga Atmaja tersebut lalu berjalan keluar rumah. Beberapa saat setelah itu Rava keluar dari kamar, pria itu terlihat kebingungan. "Keluarga Juna mana?" "Perut Bella tiba-tiba sakit, keluarganya ngajak pulang. Makanya jangan kelamaan di kamar jadi nggak tahu, kan," omel Naura. Rava terdiam dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. "Mas Rava udah tahu belum. Mbak Bella besok mau ke Australia dan kuliah di sana." "Australi!" beo Rava. "Kamu belum tahu? Padahal selama ini kamu yang paling dekat sama Bella," ucap Aril. "Kamu nggak jahatin Bella, kan?" ucap Naura, curiga. "Nggak. Rava belum lapar." Pria itu kembali ke kamarnya dan menghiraukan panggilan sang mama. Semenjak itu Bella tidak pernah lagi berkomunikasi dan menampakkan diri di hadapan Rava. Bahkan saat dirinya libur semester dan kembali ke Indonesia, gadis itu akan mengurung dirinya di kamar ketika Rava berkunjung ke rumahnya untuk bertemu Juna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD