The Girl That Got Away - 13

1333 Words
            I don't think you realize how quickly you can make me smile, and how quickly you can make that smile fade away                                                                                 - lovequoteseveryday.com -   Mia tidak menyangka jika saat ini ia dan Nathan bisa pacaran sungguhan. Laki-laki yang selama ini selalu ia mimpikan untuk menjadi pacarnya. Keduanya memiliki sifat posesif yang sama, yang membuat siapapun melihatnya akan menggelengkan kepalanya. Mia tidak lagi bisa memajang foto dirinya di akun instagramnya sembarangan. Karena kalau Nathan merasa foto itu tidak layak tayang, maka, ia akan meminta Mia menghapusnya. Satu hari, satu minggu berlalu sejak mereka sepakat untuk menjalin hubungan yang disebut sebagai pacaran. Ben tidak berkutik lagi ketika mendengar bahwa Mia kembali lagi pada Nathan. Berita Ben menduakan Mia pun merebak dan Ben menjadi pihak yang disudutkan. Bahkan iapun menjadi kambing hitam sebagai penyebab kandasnya hubungan Mia dan Nathan sebelumnya. Gossip Mia dan Nathan pernah jadian sebelumnya lebih dipercaya dari pada sebaliknya. Tapi keduanya benar-benar tidak ambil pusing akan hal ini. Sebulan berlalu, pasangan ini selalu menjadi goal couple untuk pasangan lain di sekolah itu. Dari kepala sekolah sampai guru BP setuju Nathan dan Mia bersama. Jangan ditanya lagi soal keluarga mereka berdua. Lampu hijau menuju pernikahan bahkan sudah diberikan. "Beruntung banget lo Mia, jadi pacarnya Nathan, ganteng, romantis, pinter, kaya raya..." ujar Reni salah satu teman dekat Mia. "Iyaa...tapi sebel, sekarang dia lagi sibuk banget buat persiapan ujian. Kayaknya enggak ada waktu buat jalan-jalan" rutuknya. Mia mengambil bola basket dan melempar ke jaringnya, tidak masuk dan berbalik arah melambung kembali padanya. "Awaaaas----Mia...." "BUGH!" Bola basket tepat mengenai pipi Mia ketika ia berusaha menghindari bola yang mengarah padanya. "AW!" Mia memegangi pipinya yang merah. Teman-temannya menghambur ke arahnya dan ikut meringis melihat pipi Mia yang berubah warna menjadi merah. Yang awalnya meringis, teman-teman Mia berubah jadi menertawakannya. Bahkan ada yang mengambil gambar Mia dengan ponselnya. Mata Mia melotot ke arah temannya yang iseng itu. Tapi tidak mengurungkan niatnya untuk meng-upload foto Mia ke akun instagramnya dengan caption, 'Dicium ayang bulet, bola basket. Gegara ayang Nathan sibuk Try Out'. Teman yang lain ikutan tertawa terbahak-bahak. "Isssh...sialan!" Maki Mia, mau tidak mau ikut tersenyum. Pelajaran olah raga hampir selesai, gurunya pun sudah kembali ke alamnya. Anak-anak mulai berganti pakaian dan bergosip ria dia kamar ganti. Topik yang selalu hangat dibicarakan memang soal Mia dan Nathan atau Mia dan Ben. "Bisa enggak sih, enggak usah bahas Ben lagi?" Tukas Mia dengan wajah gusar. "Si Wawa tuh katanya nembak Ben lho! Dan Bennya mau aja, tapi dengan syarat. Dia mau pacaran sama Wawa asal, rambut Wawa yang panjang harus dipotong pendek, terus harus mau pake tatto di daerah 'rawan' ditubuhnya...hiiy" ujar Reni dengan ekspresi ngeri. Mata Mia membeliak mendengarnya. Kenapa sepertinya hal itu tidak asing ditelinganya ya. Benpun memintanya melakukan hal yang sama, katanya sebagai bukti cinta. Mia bergidik mengingat ia bisa menuruti keinginan Ben begitu saja. "Lo juga kan potong rambut tuh waktu pacaran sama Ben? Tapi lo enggak disuruh pake tatto juga kan?" Tanya Reni ke Mia dengan penuh selidik. Mia terdiam sesaat, "Huh? Enggaklah---" bantahnya tergagap. Reni menghela napas lega, "Syukurlah kalo enggak..." desis Reni, "si Wawa bikin tatto ular di atas k*********a katanya" lanjut Reni dan diikuti nada terkejut dari yang lainnya. Mia menelan ludahnya dengan susah payah. Pasti dirinya akan menjadi bulan-bulanan teman-temannya, seandainya mereka tahu bahwa ia pun bertatto atas bujuk rayu Ben. Mia lagi-lagi merutuki dirinya sendiri dalam hati. Semoga saja Nathan enggak mendengar gosip ini dan mengingatkannya kembali pada tatto di tubuh Mia. Beberapa kali Nathan bertanya di mana tatto milik Mia berada. Tapi Mia belum mau memberitahunya. Takut Nathan syok dan marah. Mia berencana mau menghapusnya tapi katanya malah akan merusak kulitnya. Saat ini tatto kupu-kupu di atas pinggulnya itu masih aman bersembunyi di balik sticker menyerupai warna kulit yang selalu ia pakai. Jam istirahat tiba, Mia berjanji bertemu Nathan di cafetaria sekolah. Mia berjalan bersama beberapa temannya memasuki area kantin. Tiba-tiba Mia berhenti di sebuah meja, "Heh! Lo mau makan, apa mau lihatin cowok gue makan?!" Bentaknya kepada yang punya meja. Gadis yang sedang terpana melihat Nathan daritadi itu terlihat syok dan mengkerut. Ia menggeleng sambil menelan ludahnya, "Cuma lihat sebentar aja kok" dalihnya. "Enggak usah pada lirik-lirik deh! Nathan itu udah ada yang punya, gue!" sergahnya, galak sembari berjalan menghampiri Nathan yang sedang santai melahap makan siangnya bersama Rino dan Zack di meja yang terletak di sudut ruangan. Rino yang menyadari suara Mia datang, hanya menggelengkan kepalanya dan mengarahkan dagunya ke arah Mia kepada Nathan dan Zack yang memandangnya. Mata Nathan dan Zack mengikuti arah dagu Rino dan tersenyum. "Eh pacar aku dateng---yuk mamam!" sambut Nathan sambil bergeser memberi tempat untuk Mia yang wajahnya ditekuk delapan, cemberut. "Kenapa cih?" tanya Nathan sambil mencolek dagu Mia, "cemberut aja---aku kan udah bilang kalo kamu cemberut gitu, aku tuh bawaannya jadi pengin cium kamu, tahu enggak?!" ujarnya. BRAK! Tiba-tiba suara meja digebrak tangan Zack. Semua mata memandang ke arah Zack, syok. "Bro! Bisa enggak sih lo enggak usah pamer kemesraan di sini? Gue JOMBLO Bro! Ada toleransi dong sedikit!" "SETAN!" hardik Rino melempar botol minumannya yang tinggal setengah ke arah Zack. "Gue kira lo mau mati!" Alis Nathan berkerut hampir menyatu, "Lo jomblo emangnya salah gue? Kemarin-kemarin gue jomblo enggak ngeluh. Biasa aja..." Sedangkan Mia hanya terdiam dan memberikan mata bulatnya yang menusuk pada Zack, hingga Zack menunduk ciut. Ia takut bernasib sama dengan Nathan yang pipinya kena cium sepatu Mia. "Gue enggak nyangka, muka adem ayem, tapi kalo udah marah lebih serem dari tanos, hiyyy..." gumamnya sambil menggetarkan bahunya bergidik. "HEH!" suara Mia membuat makanan Zack yang hampir sampai mulutnya terlontar jatuh, membuat semua yang ada di meja itu tertawa terbahak-bahak. "s****n, bakso terakhir gue itu..." keluhnya dan tidak ada yang peduli. Mata Nathan memperhatikan Mia yang sedang terbahak menertawai Zack. Mia menghentikan tawanya ketika sadar Nathan menatapnya daritadi. "Kenapa lihat-lihat?" tanyanya galak. Nathan mengulum bibirnya, "Kamu beneran minta dicium di sini ya?" ujarnya membuat mata Mia membulat dengan pipi berubah menjadi warna pink. "Bro! Sumpah lu ya! Bisa enggak sih otak m***m lo itu dibagi-bagi gitu, biar enggak luber" ujar Zack yang gerah dengan komentar Nathan. "Dunia milik mereka berdua men, kita ngontrak!" ujar Rino. "Jayus lo!" senbur Zack. Nathan mengangsurkan piring yang masih berisi satu burger utuh, "Makan ini...aku udah pesenin buat kamu" ujarnya. "Aku enggak makan, puasa!" cetus Mia sembari menggeleng. "Oh, ya udah" Nathan menggeser piringnya ke depan Rino, "makan Nyet" katanya. Rino melihat piring berisi burger itu dengan tatapan bahagia, baru saja tangannya hendak meraih burger tiga lantai itu, namun tangan Mia lebih cepat darinya. Si burger sudah berpindah tangan dalam hitungan detik dan sekarang sedang dalam perjalanan ke dalam perut Mia yang keroncongan. Rino mengerutkan bibirnya melihat ke arah Mia, "Hiiiss...puasa dari hongkong!" "By the way, lo nanti berdua aja kan ke pantinya? Gue kan enggak kena hukuman kenapa kemarin-kemarin gue ngikut ya?" ujar Zack sambil memutar matanya berpikir. "Hati-hati jangan mikir terlalu berat, gue khawatir lo stroke!" ledek Rino. "Lo ikut dapet pahala, bantuin temen, bantuin para lansia di sana. Kenapa harus nyesel sih?" ujar Nathan, membuat Zack menelan ludahnya. "Huh? Tumben lo lurus, Bro?!"---"Gue baper kalo ikut, ngeliatin lo berdua pacaran, bikin gue jadi pengin pacarin nenek-nenek di sana nanti" seloroh Zack. "Ah gue mah lurus orangnya, ya kan car?" sahut Nathan menggeser duduknya mendekati Mia. "Car? Cacar?" balas Mia. "Pacar dong, masak cacar. Kamu kok gemesin banget sih hari ini, aku beneran jadi pengin cium kamu lho---aduh!" Nathan memegang pipinya yang dilempar timun oleh Rino. "HEH! HEH! Liat itu tanda di belakang lo!" seru Rino.     Mia menahan senyumnya saat melihat ke bagian belakangnya, tepat di atas kepalanya terdapat sebuah tanda dengan gambar pasangan yang berciuman dalam lingkaran merah yang dicoret. "Itu dipasang gara-gara orang-orang kayak lo berdua, berbuat tidak senonoh di sembarang tempat!" ujar Rino sambil berdiri dan pergi meninggalkan Nathan dan Mia, disusul Zack yang menyemburkan tawa setelah berada jauh dari meja Nathan. "RINOSAURUUUUSSS.....!!!" Sedangkan Nathan menyeringai kesal, "Awas tu anak dua! Ini udah pasti kerjaan mereka..." Tapi kapan pasangnya ya? Perasaan tadi waktu masuk belum ada, batin Nathan bertanya-tanya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD