10. Obat Alergi Darurat!

1140 Words
“Pergilah bersamanya, aku akan menutup toko kita dulu,” cetus Dylan pada Solenne sambil melirik Camille yang mengikuti pria tampan di depannya tanpa ragu. Ada berbagai macam pertanyaan dalam benak Dylan dan Solenne mengenai pria yang datang membantu Abraham tersebut tetapi mereka akan memendamnya dulu, sampai Camille bisa terbuka untuk bercerita pada mereka. Martin membukakan pintu kursi penumpang depan untuk Solenne duduk karena Camille dan Abraham duduk di kursi belakang. “Apakah kepalamu pusing?” Camille bertanya kuatir dan menyandarkan kepala Abraham pada bahunya. Martin sudah melajukan mobilnya menuju rumah sakit besar yang ada di Sorrento. “Aku sudah berjanji pada Dokter Elma di klinik Giovanna untuk membawa saudaraku ke sana,” ucap Camille saat melihat arah mobil Martin tidak menuju ke klinik Giovanna. “Aku bisa menghubunginya untuk datang ke rumah sakit.” sahut Martin yang langsung melakukan panggilan ke Dokter Elma melalui ponselnya untuk datang ke rumah sakit tanpa bisa di bantah oleh Dokter separuh baya tersebut. Martin memperhatikan pada kaca spion, wajah Abraham terlihat sangat pucat juga lelah, tetapi dia berusaha menahan dan menyembunyikannya dengan tersenyum pada Camille. Abraham benar-benar sedang tidak baik-baik aja. Dia lupa minum vitamin tadi pagi karena vitaminnya tinggal beberapa butir lagi. Abraham tidak tega melihat Camille, Solenne dan Dylan yang sudah berjuang untuk hidup lebih baik tetapi menjadi kerepotan sejak kehadirannya. Dia sudah cukup bahagia, akhirnya bisa merasakan keluarga dan ikhlas jika sewaktu-waktu meninggalkan dunia ini. “Aku baik-baik aja,” bisik Abraham membelai punggung tangan Camille. “Jangan bilang kamu sengaja tidak meminum vitaminmu tadi pagi!” ketus Camille mendelik pada Abraham. Abraham tersenyum lebar di wajah pucatnya, “Aku sudah sangat bahagia, Cammie! Aku …” “Stop! Jangan lanjutkan! Apapun yang terjadi, kamu harus sembuh dan sehat. Banyak kasus penderita ODHA bisa berusia panjang, dan kamu juga bisa!” potong Camille cepat karena dia tahu Abraham akan berkata apa lanjutannya. Mobil Martin memasuki area rumah sakit besar sekaligus mewah dan pria tampan itu kembali membopong tubuh Abraham yang terasa ringan pada lengannya. Dokter Elma sudah membuat pesanan ruangan VIP untuk Martin yang sebelumnya sudah memberitahukan jika pasiennya butuh penanganan darurat, tidak boleh masuk emergency rumah sakit bercampur dengan pasien lain. “Dimana?” tanya Martin cepat pada Dokter Elma yang juga melihat Camille dan Solenne di belakang Tuan Muda kaya raya kota Sorrento tersebut. Dokter Elma bersama dua orang perawat segera menunjukkan jalan menuju ruangan VIP yang sudah dia pesan atas nama Martin. “Maaf, Dokter. Sesampainya di rumah, tiba-tiba …saudaraku …dia tidak meminum vitaminnya pagi ini dan sepertinya semalam juga dia melewatkannya,” ucap Camille terbata-bata pada Dokter Elma. Dokter Elma mengangguk dan tersenyum tipis pada Camille lalu segera melakukan pemeriksaan pada Abraham dan dua perawat sibuk memasang selang infus ke tubuh anak remaja tampan tersebut. Solenne di samping Camille tidak henti-hentinya mengucapkan syukur karena Abraham cepat mendapatkan pertolongan. Tangan hangat Solenne terus menggenggam telapak tangan Camille. “Gadisku, kenapa kamu pulang tadi? Kamu tidak bekerja?” tanya Solenne yang ingat karena Camille tiba-tiba pulang cepat bahkan belum tengah hari. “Bos tampan memberikanku libur hari ini,” sahut Camille pelan sambil membawa Bibinya tersebut duduk pada salah satu kursi. Martin yang berdiri bersandar pada bingkai jendela memperhatikan Dokter Elma dan para perawat memberikan bantuan pada Abraham, segera berpaling menoleh pada Camille saat gadis muda itu menyebut ‘bos tampan’ untuk Pierre. “Dia akan baik-baik saja, Dokter sudah menanganinya. Tetapi kalian yang tidak akan baik-baik saja jika terus kuatir berada dalam ruangan ini, mari kita pergi makan siang!” ucap Martin tidak menerima bantahan, sudah berjalan keluar dari ruangan lebih dulu. Solenne maju dan menyentuh tangan Martin, “Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak sudah datang tepat waktu membantu anak kami,” Wajah Martin spontan langsung memerah, satu tangannya naik untuk menjepit ujung hidungnya yang sudah mulai terasa sesak sedangkan tangannya yang lain masih berada dalam genggaman Solenne. Solenne terkejut melihat reaksi Martin yang di luar dugaannya, segera memanggil Camille yang berkata pada Abraham jika dirinya akan pergi keluar sebentar. Camille segera berlari, mendorong tubuh besar Martin duduk pada salah satu kursi di lorong yang sepi depan ruangan perawatan Abraham. Tangan Camille menggeledah semua kantong pakaian Martin, tetapi tidak menemukan benda yang dicarinya. “Ada dimana?” tanya Camille dengan posisi berjongkok di depan Martin, mendongak pada pria yang wajahnya semakin memerah gelap. Martin sudah tidak mampu berkata-kata, obat satu-satunya yang mungkin bisa berfungsi ada di dalam mulut gadis di depannya tersebut. Tetapi … Tangan Martin berusaha menunjuk ke arah mandi dalam ruangan perawatan Abraham yang ditanggapi Camille dengan mata terbeliak besar. Napas Martin sudah sangat sulit, tenggorokannya berbunyi nyaring dan mulutnya terbuka untuk mengambil pasokan udara. Camille tidak memiliki cara lain, akhirnya dia memapah tubuh pria yang terlihat lebih sekarat dari kondisi Abraham tersebut menuju kamar mandi, meninggalkan Solenne yang masih terbengong tidak mengerti apa yang telah terjadi kepada pria kaya yang tampan itu. Baru saja pintu kamar mandi tertutup, Martin langsung terduduk lemas ke lantai. Tubuh Martin sangat berat untuk Camille tahan dengan lengan rampingnya. Mata Martin sudah tertutup rapat, perlahan Camille mendekatkan bibirnya ke bibir Martin. Sama seperti malam itu, saat Camille kepergok Martin di kediamannya. Camille memegang belakang kepala pria di depannya tersebut dan mulai melumat bibirnya yang terbuka, masih berisik dengan suara sesak napasnya. Lengan kekar Martin naik memeluk punggung Camille, membalas ciuman gadis muda yang menolak lamarannya tersebut namun kini sukarela memberikan bantuan ciuman padanya. Saling melumat, saling bertukar saliva dan saling membelit sampai napas di d**a Camille juga ikut terasa sesak lalu ciuman mereka terlepas. “Lihat ‘kan? Ciumanmu menyelamatkanku di saat tubuhku bahkan alergi bersentuhan dengan wanita lain,” cetus Martin sambil membersihkan sisa-sisa pertukaran salivanya dengan Camille di sekitar mulut mungil nan seksi gadis itu. Camille terdiam, dia menatap Martin yang pernapasannya sudah kembali normal tetapi lengan pria itu seakan menguncinya dalam pelukannya. “Anda sudah sembuh, Tuan!” cicit Camille sedikit malu menundukkan wajahnya dan berusaha keluar dari pelukan Martin. Martin membawa tubuh Camille berdiri namun tanpa diduga tangannya langsung merengkuh tengkuk Camille untuk mendaratkan ciuman kembali. Camille ingin menolak tetapi reaksi tubuhnya mengkhianatinya. Tubuhnya pasrah di tarik melekat erat pada d**a bidang Martin dan bibirnya juga terbuka dengan lidahnya menyambut antusias permainan lidah Martin dalam mulutnya. Otak Camille seakan padam seiring matanya juga terpejam, menikmati ciuman dan juga aroma maskulin tubuh pria yang sedang mengungkung menciuminya sambil berdiri. Kaki Camille seakan tidak menapak lagi di lantai tetapi dia juga tidak menghentikan ciuman Martin. Ciuman yang terasa lembut, manis juga menggetarkan jiwa. Telinga sensitif Camille bahkan bisa mendengar detak jantungnya dan jantung Martin yang saling bersahutan, berdentam-dentam dalam rongga d**a mereka. Kedua anak manusia yang saling mengais ciuman tersebut seakan lupa pada Solenne yang mereka tinggalkan di lorong, dalam keadaan kuatir bukan hanya tentang keadaan Abraham tetapi juga mengenai anak gadisnya yang masuk kamar mandi bersama seorang pria dan belum keluar setelah sepuluh menit berlalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD