Hari itu di kantor sedang sibuk-sibuknya. Hanin bolak-balik dari lantai dua ke lantai tiga untuk mengantar dokumen dan membenahi laporan. Sesibuk itu sampai pukul 15.00 saja Hanin belum bertemu Adam. Memang, jika tanggal muda seperti ini, pasti banyak dokumen datang dan harus diurus dalam jangka waktu pendek. Hanin mengusap peluh di keningnya. Tangannya menyangga di meja belakangnya. Ia mengambil ponsel kompilasi. Adam: ke ruangan aku. Hanin menggembungkan pipinya, melangkah menuju lift ke lantai paling atas. Masuk ke dalam lift, ternyata ada Gafa di sana. Lelaki itu tersenyum dengan pandangan berbinar. "Hanin?" sapanya. Hanin tersenyum lembut, "Pak Gafa, ya?" "Ah, ternyata masih inget nama saya." Hanin terkekeh saja. "Mau ke mana?" "Ke ruangan Pak Adam, Pak." "Oh, satu tujua

