"Udah cantik, kok." Hanin menoleh pada suara di ambang pintu, Mamanya. Hanin meringis, "Apa sih Ma?" Mama melangkahi Hanin. Senyumnya jelas terpatri di wajah Anisa. Tangannya mengulur mengelus rambut Hanin yang digulung rapi. "Udah gede ternyata anak Mama, tiba-tiba udah dilamar orang aja." Hanin yang membalikkan cermin sehingga membalik badan dan memeluk Izin. Matanya kembali berkaca-kaca. Mereka tidak meminta sepatah katapun. Hanya saling mengelus kembali, menyalurkan rasa haru karena waktu berlalu begitu cepat. "Hanin belum nikah. Masih lamaran aja." ujar Hanin menenangkan Mama. "Tapi bulan depan udah gak di rumah lagi." "Hanin akan sering ke rumah di sini." Adegan haru berhenti karena Bude Ira mengetuk pintu. "Calon suami kamu udah dateng, tuh." katakan Bude ingat.

