Hanin duduk di kursi panjang yang disediakan mall di dekat pintu masuk bioskop. Perempuan itu terlihat tidak antusias sekali. Tubuhnya sangat lelah dan butuh istirahat tapi Adam memaksanya untuk menonton film di Mall.
Hanin melihat Adam yang sedang berada didepan meja kasir. Kemudian Adam berjalan mendekatinya dengan membawa pop corn berukuran besar dengan senyum lebar di bibirnya.
Hanin menerima pop corn dari tangan Adam lalu menggeser pinggulnya untuk memberi Adam duduk.
"20 menit lagi baru main," Adam memberi tahu.
Hanin hanya mengangguk-angguk. Namun setelahnya ia menatap Adam dan memberi tatapan protes, "padahal kamu tau aku gak suka film avenger-avenger begini,"
"Kan aku yang suka,"
"Kamu doang. Aku enggak,"
Adam mengedikkan bahu cuek saja.
Dering telepon dari ponsel Hanin membuat keduanya sama-sama saling menoleh. Hanin mengambil ponsel di tasnya kemudian berjalan menjauh dari Adam.
"Nin kok belum pulang?" tanya wanita di seberang sana.
"Iya, Ma. Adam ngajakin nonton,"
"Loh udah balikan?!"
Suara mama terdengar nyaring. Seperti terlihat antusias apabila memang keduanya sudah menjalin hubungan kembali.
Hanin mencebik, "Ish. Belom."
Terdengar suara Mamanya yang mendesah kecewa, seperti dibuat-buat membuat Hanin tertawa.
"Jadi Mama nelpon kenapa?"
"Oh iya hampir lupa. Bilang sama Adam, Sabtu kan di Malang ada acara pernikahan Indri, nah dia suruh dateng juga."
Hanin mengernyit, "Hah? Kenapa Adam jadi ikutan?"
"Suka-suka Mama dong."
"Ih, seriusan nanyanya. Gak enak dong aku tiba-tiba ngajakin dia ke nikahan Kak Indri?"
"Halah Adam pasti malah seneng kok disuruh kumpul-kumpul sama keluarga kita begini. Udah ah Mama mau siapin makan malem buat Papa kamu dulu."
"Hmm."
"Jangan pulang malem-malem!"
"Iya, Mama."
Hanin mematikan panggilan dan berjalan kembali ke kursi.
"Siapa telpon?"
"Mama." jawab Hanin tanpa menoleh ke Adam karena masih berkutat dengan ponselnya.
Lalu Hanin memasukkan ponselnya ke tas. Ia menyandarkan punggungnya di dinding dan mencemili jagung yang Adam beli tadi.
Lain dengan Adam yang matanya memicing melihat laki-laki yang sedang berada di antrian depan kasir. Laki-laki yang Adam tebak berusia lebih muda darinya itu terus-terusan menatap Hanin dengan tatapan nakal.
Adam semakin mengernyit karena laki-laki itu sampai mengacuhkan kekasihnya yang berada disampingnya. Terlihat sang perempuan mengoceh karena diabaikan oleh si laki-laki.
Adam berdecak merasa jengkel. Ia menoleh pada Hanin yang tampak acuh. Kemudian tatapannya turun melihat pakaian Hanin. Memang hanya kemeja putih yang dibalut blazer abu-abu muda dengan rok pensil hitam. Tapi ini Hanin. Hanin Anaya. Bagaimanapun pakaiannya, Hanin akan selalu terlihat cantik dan menggoda. Bukan salah bocah tengil itu yang sedang mengantri tiket itu apabila ia juga tergoda melihat Hanin, karena Adam pun sering meneguk ludah melihat perempuan di sampingnya.
Tapi, hei? Ini Hanin-nya. Tidak boleh ada laki-laki yang menatap Hanin selancang itu selain dirinya.
Adam menyugar rambutnya ke belakang mencoba mengontrol emosi karena tiba-tiba ingin menonjok laki-laki muda yang menatap Hanin terang-terangan.
Adam menoleh pada Hanin, "Nin?"
Hanin balik menoleh namun tidak bersuara. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Masuk bioskop sekarang, yuk?"
Hanin mengangguk tanpa protes. Ia berdiri dan merapikan roknya yang naik karena duduk tadi lalu berjalan dengan Adam disebelahnya.
Adam merangkulkan tangannya di bahu Hanin membuat Hanin tidak jadi melangkah.
"Apaan nih?"
Adam mendengus, lalu menengok pada laki-laki tadi yang ternyata masih tidak bergeming.
Adam semakin melotot melihat bocah itu malah menjilat bibir bawahnya ketika matanya menuju pada Hanin. Sialan, apa-apaan itu? pikir Adam jengkel.
Tanpa berpikir panjang, Adam melepaskan rangkulan di bahu Hanin kemudian satu tangannya mengampit kedua pipi Hanin dan mengecup bibir Hanin. Hanya kecupan satu detik tapi mampu membuat Hanin terkesiap.
Hanin sudah akan melayangkan protes namun Adam tidak peduli dan menarik lengan Hanin untuk masuk ke bioskop. Adam tersenyum meremehkan pada bocah yang sekarang menatapnya penuh permusuhan itu.
"Kamu apaan sih?"
Adam menoleh ke belakang, "Apa?"
"Ini tempat umum, astaga!"
"Berarti kalau bukan tempat umum boleh gitu ya?" tanya Adam dengan mata mengerling.
"aku serius ya, Dam. Jangan sembarangan cium-cium!" protes Hanin.
Adam melangkahkan kakinya menaiki tangga ke kursi paling atas di bioskop, "Ngecup doang, juga."
"Ngecup doang kamu bilang?"
Bahkan sampai keduanya sudah duduk di bangku penonton, Hanin masih menatap nyalang pada Adam yang resenya merespon biasa saja.
"Aku mantan kamu loh, kalau aja kamu lupa." cecar Hanin.
Lalu Adam memutar badannya menghadap Hanin, mencondongkan tubuh, "Lupa tuh. Aku ingetnya kamu pacar aku."
Hanin menggeram frustasi menghadapi orang gila didepannya. Berbicara dengan Adam memang tidak pernah menjadi hal yang mudah untuk Hanin.
"Makanya kalau diajak balikan tuh iyain, biar akunya bebas cium-cium."
"Hih?"
Adam tertawa.
Hanin mengerjapkan matanya baru sadar bahwa Adam memilih kursi paling atas dan paling pojok.
Hanin menoleh lagi pada Adam, dengan tatapan nyalang lagi, "Kamu ngapain sih milih duduk di pojokan gini?!"
Seharusnya Hanin tidak perlu bertanya. Lima tahun pernah menjalin hubungan dengan Adam harusnya membuat Hanin hafal kalau 80% isi otak mantan kekasihnya ini berisi hal-hal m***m.
Dengan seringai di bibirnya, Adam memiringkan pundak dan menyurukkan wajah di leher Hanin, "Biar bisa gini kalau filmnya ngebosenin." jawab Adam sambil mengecup leher Hanin berkali-kali.
Hanin langsung mendorong wajah Adam dan mencecar, "Mimpi sana!"
//
Hanin langsung meminta pulang setelah film selesai. Adam menolak permintaan Hanin dengan alasan lelaki itu lapar sekali dan perutnya harus segera diisi. Hanin mendengus dan tak bisa membantah.
Bukan berarti Hanin menyetujui kemauan Adam untuk makan malam dulu, Hanin meminta Adam membungkus makanan saja dan menyuruh bosnya itu untuk makan di rumahnya nanti, setelah mengantar Hanin pulang.
Jadi disinilah mereka. Di warung pinggir jalan yang menjual nasi goreng kesukaan mereka berdua-- dulu, dengan suara kendaraan yang berlalu lalang membuat telinganya bising.
"Dam, inget Kak Indri gak?"
Adam diam terlihat seperti mencoba mengingat, "Indri siapa?"
"Saudara aku yang di Malang."
"Ooooh. Inget-inget. Kenapa?"
"Lusa dia nikah."
Adam yang mendengar itu langsung tersenyum jahil pada Hanin membuat Hanin mengernyit. Tak lupa dengan jemari Adam yang mencolek-colek dagu Hanin.
"Apa sih?" tanya Hanin merasa aneh dengan respon Adam.
"Kamu ngode aku biar cepet-cepet nikahin kamu juga ya?"
Dengan itu Hanin melongo, "ha?"
"Alah jujur aja." jawab Adam dengan percaya dirinya.
"Enggak, Ya Tuhan. Pede banget sih?"
Hanin tertawa hampir terbahak mendengar kalimat Adam, "Aku tuh bilang gitu soalnya Mama tadi pas telpon aku, katanya kamu suruh dateng ke nikahan Kak Indri."
Adam memasang wajah malas, "kirain."
"Serius, Mama ngundang kamu. Kan acaranya sabtu pagi, kata Mama kamu kesananya besok siang aja biar sabtunya gak telat." jelas Hanin.
"Berasa udah jadi bagian keluarga kamu ya kalau gini," kata Adam sembari tersenyum sendiri.
Hanin melengos, "jadi gimana?"
"Aku kesananya besok siang?"
Hanin mengangguk, lalu ia menegakkan tubuh karena ingat sesuatu, "Loh?! Besok kita kan ada rapat!"
"Biarin aja. Biar digantiin Ardi."
"Enggak-enggak. Jangan ninggalin rapat cuman gara-gara nurutin Mama aku." Hanin diam sesaat, "Emm.. Berarti aku besok izin gak masuk kantor, ya?" tanya Hanin hati-hati.
"Kita. Kita yang gak masuk kantor besok. Bukan kamu doang."
"Dam, serius jangan."
"Kenapa sih? Ini permintaan mertua masa aku nolak?"
Hanin menumpukan dagunya di tangan yang ia lipat diatas meja, "Gak papa beneran?"
Adam mengangguk, "Asal kita ke Malangnya bareng."
"Gak bisa lah. Aku mah kesananya bareng Mama Papa."
"Sama aku aja."
"No."
"Permintaan bos kamu sendiri ini."
//
"Makasih udah nganter." ujar Hanin sambil melepas sabuk pengaman.
Adam tersenyum, "gak disuruh masuk dulu nih?"
"Udah malem. Langsung pulang aja," ujar Hanin membuat Adam mencibir. Hanin membuka pintu dan keluar. Kaca mobil yang masih terbuka, membuat Hanin sedikit menundukkan tubuh agar bisa melihat Adam. "Jangan lupa besok siang."
"Iya, bawel." Adam melihat Hanin yang terlihat lelah, "langsung istirahat, ya."
Hanin mengangguk. Bener-bener kayak cowok SMA lagi PDKT banget gak sih? batin Hanin.
"Gak pingin nyium aku dulu sebelum aku pulang? Entar kangen," ujar Adam yang dibalas Hanin dengan ekspresi muntah.
Adam terbahak, "jadi pengen bikin kamu muntah-muntah terus tiap pagi."
tbc.