26. Chance

1959 Words

Begitu Sean memasuki ruang rawat-inap Risya, dia berpapasan dengan Grace yang ingin keluar meninggalkan ruangan. Sean belum menyapanya, tetapi sebelum mulut Sean terbuka untuk menyapanya, Grace sudah melengos. Tidak mau menatap Sean dan terus berjalan menghiraukan Sean yang menatapnya dengan bingung. Oke, sekarang Sean tahu kalau Grace juga marah dengannya. Tapi kenapa? Setidaknya itu yang ada dalam benak Sean. Sean hanya mengedikkan bahunya acuh, dan tetap melangkahkan kaki memasuki kamar Risya. Sedangkan Grace sendiri, begitu keluar dari ruangan, dia langsung duduk di salah satu kursi yang berada dalam lorong rumah-sakit. Duduk. Hanya melamun. Grace tersenyum getir memikirkan banyak hal. Dia menundukkan kepalanya, memeluk kedua bahunya sendiri. Disaat dia baru saja kehilangan bua

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD