1. Tantangan

2191 Words
"Astaga!" Athayya terpekik terkejut. Begitu dia menutup pintu ruangan dokter Sean dengan keras, dan begitu Athayya berbalik, terdapat dokter Gerald dihadapannya. Tersenyum dengan senyumannya yang kharismatik. "Selamat siang, dokter Athayya." Sapa dokter Gerald. Athayya mengangguk, "Se-selamat siang." Jawabnya gugup. Athayya masih dengan debaran jantungnya dan tingkat kemarahan serta kepanikan yang tinggi. Dia baru saja dicium oleh atasannya yaitu dokter Sena dan dia telah menampar atasannya setelah ciuman itu. Dan sekarang, Athayya panik tingkat tinggi. Takut dengan sanksi yang akan diberikan dokter Sena kepadanya. "Kenapa? Sepertinya sedang ada masalah." Dokter Gerald tersenyum, menatap Athayya dari atas sampai bawah. Wanita didepannya ini terlihat gugup, bingung, dan shock. "Em, tidak ada masalah, dok." Athayya tertawa sumbang. Dokter Gerald tersenyum penuh arti, pasti ada suatu kejadian didalam ruang kerja Sean sehingga dokter Athayya yang baru keluar dari ruangan dokter pecinta wanita itu. "Dokter Sean ada didalam?" Tanya dokter Gerald kemudian. Athayya mengangguk, lalu menggeser badannya yang menutupi pintu. "Silahkan masuk, saya pamit dulu. Ada jam praktek setelah ini." "Baiklah, semangat bekerja, dokter!" Dokter Gerald menyemangati. Dan Athayya hanya bisa mengangguk meng-iyakan dan langsung pergi begitu saja dari depan pintu ruangan dokter Sean. Di sepanjang koridor yang dilewatinya, beberapa suster yang ada disana menatapnya dengan heran. Dan Athayya tidak bisa hanya diam ditatap seperti itu. "Suster," Athayya beerhenti berjalan. Mencegat tiga orang suster yang baru saja keluar dari ruangan pasien dan menatapnya dengan heran. "Kenapa melihat saya begitu? Ada yang salah dengan saya?" Suster itu saling lirik, lalu saling menyenggol lengan temannya. Seperti tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Athayya menggeram jengkel, "Ada apa? Bilang saja." "Dokter habis masuk keruangan dokter Sean?" Tanya salah satu suster itu. "Ya, kenapa?" Lalu ketiga suster itu maju selangkah, membuat Athayya otomatis terjengkang kebelakang satu langkah. "Dokter punya hubungan special dengan dokter Sean?!" "Eh?!" Mata Athayya melotot kaget. "Enggak, saya Cuma memberi proposal kegiatan seminar yang akan dilakukan dokter kandungan di rumah sakit ini." Suster tersebut menyipitkan matanya, makin menatap Athayya dengan curiga. "Biasanya yang masuk ke ruangan dokter Sean hanyalah pasien penting, teman-temannya, keluarganya, dan juga wanita-wanitanya." Athayya hanya diam. Terlalu bingung dengan ucapan suster-suter muda didepannya. Athayya termasuk dokter yang jarang mengunjungi gedung B. Gedung B adalah gedung yang berisi ruangan rapat besar untuk para investor, dokter, professor, ruangan rawat inap bagi pasien pejabat Negara, ruangan operasi besar, dan juga ruangan Avi Sean selaku pewaris rumah sakit tempat Athayya bekerja. Dan Athayya baru saja memasuki ruangan itu. Selama ini Athayya hanya berada di gedung A. Gedung rumah sakit umum untuk kontrol, UGD, IGD, ruangan kontrol kandungan, dan dokter-dokter spesialis lainnya. Athayya adalah dokter kandungan termuda di rumah sakit ini dan dia belum menikah karena alasan tertentu dan alasan terkonyol bagi seorang Athayya Abraham. "Dokter Athayya, apa anda...," Suster itu menatap Athayaa dari atas kebawah – bawah keatas. Seperti memastikan sesuatu. "didalam ruangan dokter Sean, anda melakukan hal itu?" Suster itu tertawa menggoda. Matanya mengerling menatap Athayya. Tanpa sadar, wajah Athayya memerah. Menampilkan semburat kemerahan di pipinya. Athayya jadi mengingat hal gila yang dilakukan oleh dokter Sena tadi. "Anda melakukannya, 'kan?!" Suster itu bertanya lagi. Nadanya lebih seperti menggodanya. "Melakukan apa? Kalian ini aneh-aneh saja." Athayya berdeham. Membenarkan tatanan rambutnya. Dia salah tingkah. Suster itu menganggukkan kepalanya, seolah paham dengan sesuatu hal. "Apa mungkin kissmark itu muncul begitu saja dileher anda setelah keluar dari ruangan dokter Sean?" "Kissmark?" Alis Athayya bertaut bingung. "Itu, dileher anda." Dengan cepat Athayya langsung memegang lehernya dan membuka kamera di ponselnya. Ia memilih kamera depan, sehingga berkaca untuk melihat kissmark dilehernya. Tunggu, kissmark dilehernya benar-benar ada! "Astaga, dia...," Athayya menggeram tertahan. Menggosok-gosok kissmark yang ada disana. Tiga suster itu tertawa, "Kami cemburu anda bisa mendapatkan dokter Sean secepat itu. Oh iya, dokter Athayya, bukankah sepuluh menit lagi praktek dokter kandungan siang ini akan dibuka?"  "Oh, Astaga aku lupa!" Athayya menepuk dahinya. Sebelum meninggalkan gedung ini, Athayya menatap ketiga suster muda tersebut. "promise me! Jangan bilang pada siapapun!" Tiga suster itu terkikik, lalu memberi jempol pada dokter Athayya, " Percayakan pada kami, dokter." "Bagus," Athayya mengangguk. Lalu berjalan dengan cepat keluar dari gedung ini. Selama menyusuri koridor Athayya tak henti-hentinya mengumpat dalam hati sambil tangannya menggosok kuat-kuat kissmark dilehernya. Entah bagaimana menghilangkan bekas ini. Tetapi,hal itu malah membuat lehernya makin memerah dan lebih memperjelas kissmarknya. "Ah!!! Sialan!" Athayya berteriak saat melewati taman rumah sakit yang sepi. Berteriak mengeluarkan semua kesalnya pada Avi Sean. Pasti tadi saat Athayya terlena dengan ciuman Sean, dia tidak sadar kalau Sean juga mengecup lehernya dan meninggalkan kissmark disana. Hal itu membuat Athayya bergidik jijik dan makin menggosok lehernya. "Aku benci!!!" *** Gerald membuka pintu ruangan dengan cat serba putih ini, lalu melangkah masuk dan melihat temannya yang sedang serius membaca berkas-berkas didepan meja lelaki itu. "Apa anda tidak ada pasien hari ini, pak dokter?" Sean mendongak, lalu mendengus geli saat mengetahui siapa yang melontarkan pertanyaan itu. "Gue enggak pernah kosong pasien." Gerald terkekeh, lelaki dengan iris mata coklat tua itu menarik kursi lalu duduk dihadapan Sean dengan santai. "Ada jadwal hari ini?" "Hm," Sean mengangguk. Menutup berkasnya, lalu menatap Gerald. "Jam tiga sore nanti gue mimpin operasi lagi." Obrolan mereka dan bahasa bercakap-cakap mereka tidaklah formal saat sedang berbincang diluar masalah rumah sakit seperti ini. Karena Sean dan Gerald adalah teman semasa kuliah yang sama-sama mengenyam pendidikan di fakultas kedokteran Oxford University. Karena sama-sama orang Indonesia, mereka merasa cocok menjadi seorang teman yang sama-sama gila. Termasuk gila wanita. Gerald dan Sean sama-sama pengusaha terkenal. Sean adalah salah satu anak dari pemilik perusahaan Evan Group Company yang memiliki banyak saham, pulau wisata, villa, hotel, dan salah satunya adalah rumah sakit. Sedangkan Gerald adalah anak dari pengusaha pemilik bar yang tersebar di Asia. Gerald Ford, anak dari Lucas Ford yang terkenal kaya dan suka bergonta-ganti istri. Apalagi karena Ayah Gerald pemilik bar mewah di Asia. Gerald mewarisi semua asset ayahnya karena dia adalah anak tunggul dari Lucas Ford dan Gerald bukannya memikirkan tentang perkembangan bisnis Ayahnya, dia malah memilih menjadi dokter spesialis plastic surgry atau lebih dikenal dengan dokter yang berkecimpung dibidang operasi plastic. Itu membuat Gerald bertemu dengan banyak wanita dan tidak jarang yang menjadi teman kencan semalamnya dan berakhir diranjang lelaki itu. Hal yang sama juga terjadi pada Sean. Sean memilih menerima beasiswanya di Oxford University dan menekuni bidang kedokteran lalu akan menjadi pemilik sah rumah sakit ini. Sedangkan perusahaannya yang lain, saudara kembarnya yang mengelola. Yaitu Avi Sena. Sena adalah saudara kembar Sean dan lebih belajar tentang bisnis dari Evan, ayah mereka. Ya, itu bagus. Lagipula Sean tidak terlalu memikirkan hak asset keluarga mereka. Sean sudah cukup dengan hidupnya yang menjadi dokter. "Lo ngapaian dokter Athayya, tadi?" Tanya Gerald. "Gue ketemu dia sebelum masuk ke ruangan lo. Wajahnya shock, sama ada kissmark di lehernya." Sean tertawa, paham maksud ucapan Gerald. "Cuma main-main sedikit." "Gila lo," Gerald tertawa. Sean memang sudah gila dengan semua wanita. Memperlakukan wanita seperti boneka mainan. "Menurut lo, dokter Athayya masih virgin, gak?" "Mungkin sudah enggak," Sean mengedikkan bahu. "Dia wanita dewasa, man." "Tapi dia terlalu polos." Sean diam, ia juga baru teringat kalau dokter Athayya termasuk wanita yang polos. Wanita yang selalu terkejut dengan hal-hal sensitive yang dilakukan oleh pria dan wanita. "Wanna play a game, dude?" "Lo nantang gue, lagi?" Sean tersenyum meremehkan. Dia dan Gerald selalu suka bermain seperti ini. "Making love with docter Athayya, tonight. Menurut gue dia masih virgin. Lumayan kan dapet cewek virgin dan polos kaya dia?" Tantang Gerad. Sean mendengus, menganggap tantangan Gerald benar-benar seperti tantangan seorang bocah umur tujuh belas tahun. Yang baru pertama kali akan bercinta dengan seorang wanita. Gerald tersenyum sinis, "Kita ukur seberapa hebatnya wanita seperti dokter Athayya memimpin permainan ranjang." "Kalau lo berhasil, gue akan memberi 30% sahamku buat lo dan pilihlah ambil semua wanita di bar sesuka lo selama satu bulan." Lagi-lagi Sean mendengus meremehkan, "Hanya 30% ?" "Belum tentu lo bisa buat wanita garang itu berada di kasurmu." Ucap Gerald kemudian tertawa membayangkan Sean yang akhirnya berhasil tidur dengan dokter Athayya. Mengingat, dokter Athayya selalu menghindar bila ada lelaki yang menggodanya. "Gue yakin 1000% bisa buat Athayya takhluk sama gue malam ini." Ucap Sean percaya diri. "Oke, gue tanam saham 50% kalau lo berhasil. Kalau lo kalah?" Sean menyisir rambutnya kebelakang, lalu meletakkan kunci mobil berlambang ferarri dimejanya. "Ferarri punya gue jadi milik lo, saham 70% untuk bisnis ayahmu, dan pilihlah wanita yang aku punya." "Woah, itu terlalu berlebihan, dude." Gerald tertawa, kali ini sampai terpingkal-pingkal. "Kita hanya bertaruh soal Athayya." Sean berdiri, lalu memakai jas putih miliknya. Benar-benar memperlihatkan bahwa dirinya seorang dokter muda yang pintar, berwibawa, dan tampan. "Athayya itu wanita yang mudah." Sean merapikan jas putihnya. "Dia sama dengan wanita-wanita yang lain. Hanya pemuas napsu dan ingin kuberi cek yang bebas dia isi sesukanya." Sean lalu membuka pintu ruangannya dan berjalan keluar ruangannya begitu saja meninggalkan Gerald yang masih didalam ruangannya. Lagipula, taruhan ini juga menjadi ajang balas dendam Avi Sean kepada Athayya. Lagipula, Sean juga sedikit penasaran dengan lekuk tubuh polos Athayya serta tentang tanggapannya setelah Sean rayu, sedikit. Atthaya Abraham, bersiaplah malam ini. Batin Sean bangga, ujung bibirnya tertarik keatas, menampilkan smirk-nya yang bisa membuat wanita yang di senyuminya akan langsung bertekuk lutut dihadapannya. *** "Terimakasih telah membantu proses kelahiran istri saya, dokter Athayya." Pria dengan jas hitam itu menjabat tangan Athayya. Wajahnya terlihat lelah, sama seperti Athayya. "Itu memang sudah tugas saya, pak." Athayya tersenyum tulus. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Athayya dibantu oleh beberapa tim medis membantu proses operasi Caesar bagi pasiennya. Setelah tiga jam berada diruangan operasi, akhirnya Athayya menyelesaikan operasi itu dengan baik. Sesuai prosedur kedokteran. Ibu dan bayi yang baru lahir tiga puluh menit tadi selamat dengan kondisi mereka yang stabil. Athayya lalu memasuki ruangan NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Tempat dimana bayi yang baru lahir diletakkan didalam incubator dan mendapat perawatan intensive. Athayya menghampiri incubator yang terletak paling depan, tempat dimana bayi perempuan yang baru lahir tiga puluh menit lalu dirawat. Athayya menundukkan setengah badannya, mengusap kaca incubator itu. Menatap bayi perempuan yang tertidur. Athayya merenung, masih ingat suara tangisan pertama bayi ini. "Welcome to the world, baby girl." Bisik Athayya. Hal ini yang selalu dilakukan Athayya setiap selesai menangani proses persalinan pasiennya. Dia selalu mendatangi bayi itu, dan menatapnya lama. Lalu mengucapkan selamat datang ke dunia ini. Itulah yang selalu Athayya lakukan. Menatap bayi yang tidur dengan tenang. Bayi yang masih suci dan belum mendapat masalah apapun. Bayi yang akan menikmati masa kecilnya dan menangis hanya karena kehilangan mainannya. Ah, Athayya selalu ingin menjadi bayi... "Kerja yang bagus, Athayya Abraham." Athayya tersentak, begitu ia membalikkan badannya, matanya langsung bertubrukan dengan iris mata coklat tajam itu. Membuat Athaya memekik kaget. Tetapi, sebelum suara pekikkan Athaya mengejutkan bayi-bayi disini, Sean sudah terlebih dahulu membungkam mulut Athayya dengan bibirnya. Athayya berontak, makin terkejut karena ciuman dadakan Sean. Tetapi saat Athayya makin berontak, Sean malah memperdalam ciumannya, mengulum bibir gadis itu dengan penuh hasrat. Athayya merasakan cengkraman tangan Sean dipergelangan tangannya, menariknya dari ruangan NICU. "Apa anda gila, dokter?!" Saat Athayya ingin melayangkan tamprannya, kali ini Sean lebih tangkas. Dia menggenggam tanagn Athayya yang ingin menampar wajah tampannya itu. "Bibirmu manis, sama seperti tadi siang." Ucap Sean santai. Dia melihat ke kanan dan kiri, koridor tempat mereka berdua ini sudah sepi. "Dokter Sean! Anda melecehkan saya di ruangan NICU dan beruntung tidak ada yang melihat! Tapi cctv diruangan NICU merekamnya!" Athayya meremas rambutnya sendiri. "Oh, bagaimana ini?! Karir dokterku bisa hancur." Mendengar Athayya yang panik, Sean tertawa. "Sepertinya anda lupa siapa pemilik rumah sakit ini." Athayya terdiam. Masih dengan pose menjambak rambutnya sendiri, menatap Sean dengan pandangan Oh iya! Dia kan pemilik rumah sakit ini. "Kontrol ekspresi wajahmu, Athayya." Kali ini Sean tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa sampai terpingkal-pingkal. Sudah lama Sean tidak tertawa seperti ini. "Bahkan setelah ini aku tinggal menghapus rekaman cctv nya." Athayya cemberut, melipat tangannya didepan d**a. "Lalu maksud anda apa mencium saya mendadak seperti itu?!" Athayya menatap Sean dengan garang. Seolah-olah ingin menerkamnya. "Daripada kamu teriak dan membangunkan semua bayi?" Athayya diam. "Tapi bukan dicium juga caranya!" Kali ini Sean yang diam. Perkataan Gerald ada benarnya juga. Athayya adalah wanita yang garang. Sean hanya mengedikkan bahu, ia harus cepat-cepat dalam misinya. "Mungkin kamu lupa ada berkas penting untuk besok yang tertinggal." "Berkas penting?" Athayya bingung, alisnya bertautan berusaha mengingta sesuatu. Lalu ingatannya kembali pada saat ia memberikan berkas mengenai acara seminar dokter kandungan. "Ah, proposalnya dokter! Dimana?" "Di apartemenku." "Eh?! Apartemen?!" Sean mengangguk, "Ya, kalau mau berkasmu kembali, ikut aku ke apartemen." Sean kemudian berjalan menuju lift yang didekatnya, menekan tombol untuk turun kelantai bawah. Kemudian Sean menengok kebelakang saat pintu lift terbuka. Melihat Athayya yang masih diam terpaku menatapnya dengan jengkel. Sean tahu tatapan tajam itu. "Oke, tetap disitu dan berkasmu tidak akan kembali. Acara besok, gagal." Sean masuk ke lift, menatap Athayya yang kali ini langsung berlari ikut masuk ke lift bersamanya. "Oke, aku ikut!" Sean tersenyum sinis, melirik Athayya dari kaca disampingnya. Wanita itu terus mendumel sampai akhirnya berkata,"dasar lelaki b******n!" Umpatnya pelan. Tetapi Sean mendengarnya. "Tutup mulut tidak sopanmu, nona. Atau kau aku telanjangi disini. Disini hanya kita berdua," Ucap Sean dengan santai. Pandangannya lurus kedepan. Tidak menghadap Athayya. Athayya diam, menyampirkan rambut coklat kehitamannya kebelakang daun telinga. Avi Sean benar-benar lelaki m***m! Dan kali ini Athayya berharap, dia akan aman selama di apartemen Sean.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD