09. Author

1331 Words
Arsen turun dari lantai 2 dan menghampiri papanya yang sedang membaca berita terkini melalui macbooknya sambil duduk di sofa ruang keluarga. Ia sudah siap dengan pakaian yang cukup rapi dan formal untuk sebuah acara yang ia yakin juga akan sangat formal, apalagi itu bersangkutan dengan papanya. “Malam Pa.” sapanya sambil memilih duduk di samping pria paruh baya itu. “Malam Ar. Kamu udah siap?” “Udah. Kita mau ke mana?” tanyanya cukup bingung. Untuk pertama kalinya ia diajak untuk ikut kegiatan orang tuanya. “Ke acara peresmian bisnis teman Papa.” “Terus aku sama Aldan ngapain ikut segala?” “Supaya orang-orang kenal kalau kalian ini anak Papa dan bakal jadi penerus Papa.” Jawab papanya dengan senyum bangga. “Oh iya, gimana kerjaan kamu? Udah mulai nyaman? Atau ada keluhan?” “Pa, bisa nggak sih kalau pembimbingku jangan Om Josua.” Ujar Arsen dengan suara yang cukup ragu. Realdo Blacker atau yang lebih sering disapa dengan nama Aldo—papanya Arsen—langsung mematikan macbooknya dan fokus pada anaknya. “Kenapa? Kamu nggak nyaman sama Pak Josua? Atau dia bikin kamu kesulitan? Tapi sepertinya nggak mungkin sih.” Walau bagaimanapun, Aldo cukup mengenal Josua “Bukan bukan.” Sanggah Arsen cepat. Ia takut kalau papanya keburu mengambil kesimpulan sendiri dan memandang om Josua dengan penilaian yang buruk, “Aku cuma nggak nyaman karena Om Josua kayaknya terlalu sopan ke aku dan memandang aku sebagai anak Papa, bukan seseorang yang posisinya di bawah Om Josua dan sedang belajar.” “Ya nggak bisa begitu dong Ar. Kalau Papa ganti pembimbing kamu, itu nantinya bakal bikin Om Josua berkecil hati karena merasa gagal membimbing kamu, apalagi selama ini juga kalian baik-baik aja.” “Aku juga udah mikir begitu sih Pa, tapi aku ngerasa sungkan aja karena Om Josua terlalu baik ke aku.” “Ya kamu maunya dijahatin begitu?” “Bukan Pa. Papa pasti ngerti apa yang aku maksud. Papa pasti tau Om Josua itu gimana.” “Yaudah, nanti Papa kasih tau sama Om Josua biar ke kamu nggak usah sungkan lagi. Kalau perlu, mendidiknya pakai rotan.” Seloroh papanya sambil tertawa cukup nyaring. Arsen hanya tertawa garing saja menanggapi papanya. “Udah sana panggil Aldan sama Mama. Mereka itu lama banget kalau siap-siap.” Perintah papanya. Arsen berdiri dari posisinya lalu hendak naik, tapi langkahnya terhenti begitu mendapati Aldan berdiri tak jauh dari mereka. “Sejak kapan lo di situ?” tanyanya. Aldan menatap Arsen sambil tersenyum miring, lalu menyentuh kerah baju Arsen, “Gantengnya abang gue.” Ujarnya sambil memperhatikan penampilan kembarannya itu yang menggunakan kemeja berwarna abu-abu yang cenderung terang seperti warna biru dan dipasangkan dengan rompi berwarna abu-abu gelap, sementara celananya berwarna senada dengan rompi. Arsen menepis tangan Aldan, “Lo lagi muji gue apa muji diri sendiri?” desisnya. Itu sudah menjadi kebiasaan bagi Aldan. Aldan sendiri menggunakan jas berwarna hitam yang dipasangkan dengan kaos putih yang cukup pas di tubuhnya. Ia juga tak kalah tampan dari kembarannya itu. meski mereka memiliki wajah yang sama, tapi bukan berarti mereka memiliki pesona yang sama pula. Masing-masing memiliki pesona tersendiri untuk mengikat orang lain. “Ayo-ayo berangkat, jangan bergosip dulu.” Ajak mamanya yang langsung heboh begitu turun dari lantai 2, padahal sejak tadi yang ditunggu adalah wanita paruh baya itu, tapi seolah mamanya itu lah yang sudah siap sejak tadi. *** Arsen dan Aldan hanya bisa mengikuti orang tuanya yang terus disapa dan menyapa beberapa orang yang mereka lewati sambil memperkenalkan mereka berdua ke rekan bisnisnya itu. Mereka mengulurkan tangan bergantian sambil tersenyum dan memperkenalkan diri. “Oh, aku tidak menyangka kehadiran Pak Realdo Blacker di sini.” Ujar sang pemilik acara sambil memeluk papanya. “Tentu saja aku harus datang, Pak Teza.” Tanggap Aldo. Setelah itu pak Teza bersalaman dengan mamanya. “Ini kedua anak laki-lakimu?” Tanya Teza sambil melihat Arsen dan Aldan dengan pandangan tertarik. “Iya, mereka anak laki-lakiku.” Arsen dan Aldan kembali memperkenalkan diri mereka dengan sesopan mungkin. “Ah, sepertinya mereka ini seumuran dengan anak gadisku.” Ujar pak Teza. Aldan menyenggol lengan Arsen, lalu berbisik di telinga pria itu, “Ada tanda-tanda perjodohan ini. Gue yakin.” Ujarnya menakut-nakuti. Arsen balas berbisik, “Kalau cantik sih nggak masalah.” Ujarnya menanggapi ucapan Aldan sebagai sebuah gurauan. Aldo tertawa, “Sepertinya begitu. Mereka bisa dekat kalau begitu, setidaknya untuk berteman. Anak-anakku ini sangat tertutup sekali dengan pergaulan di sekeliling mereka. Itu sebabnya aku membawa mereka malam ini.” “Ah, iya, itu memang sangat perlu. Bagaimanapun mereka perlu mengenali rekan bisnis Papanya. Karena mungkin saja bisa cocok dengan anak mereka.” Ujar Teza sambil terkekeh. Aldo menanggapi dengan tertawa juga. Setelah mengekori orang tuanya ke mana-mana, Arsen dan Aldan akhirnya memilih memisahkan diri begitu mereka izin ke toilet tadi. Tidak sama seperti Arsen yang merasa asing dengan situasi seperti saat ini, Aldan justru sibuk menebar keramahan dan mencari kenalan baru. Beberapa anak muda seperti mereka yang kebetulan juga diajak oleh orang tuanya bertemu di sana dan sama-sama bercerita. Arsen tidak memiliki sifat seperti Aldan tersebut, jadi ia memilih keluar dari ballroom hotel dan mencari udara segar. Rasanya sangat tidak nyaman begitu ia ditinggalkan oleh orang tuanya dan Aldan yang sibuk dengan kenalan-kenalan mereka. Ketika sedang berjalan-jalan di sekitar Lobi, langkah Arsen terhenti karena ia mendapati anak gadis pak Josua, yaitu Armia. Gadis itu tampak sedang berbicara dengan empat orang di sekitarnya yang kelihatannya lebih dewasa secara umur dibandingkan gadis itu dan sepertinya mereka baru saja akan berpisah melihat Armia kemudian mengangguk sopan sambil tersenyum. Ini pertama kalinya Arsen merasa beruntung bisa melihat Armia karena posisinya ia benar-benar sendiri dan berjalan-jalan tanpa tujuan yang jelas, lalu menemukan wanita itu tanpa sengaja. Ia menghampiri Armia yang memilih duduk di lobi hotel. “Sama siapa di sini?” Tanya Arsen tanpa basa-basi. Armia mendongak dan mendapati Arsen, lalu ia berdiri, “Arsen. Ngapain di sini?” “Ada acara. Lo sendiri?” “Oh itu, tadi ada urusan pekerjaan.” Ujar Mia. “Sama siapa di sini?” Tanya Arsen lagi. “Sama tante aku, tadi nemenin aku ngurusin kerjaan. Sekarang tante lagi di kamar mandi.” Jelasnya. “Kamu sendiri ada acara apa?” “Acara orang tua.” “Pengen deh lihat orang tua kamu secara langsung.” Ujar Mia dengan senyum geli, “Tapi lain kali aja deh, aku datengin rumah kamu langsung.” Tambahnya kemudian. “Mia, lagi ngobrol sama siapa?” tantenya datang dengan pandangan curiga ke arah Arsen, lalu menatap keponakannya itu, “Ayo pulang.” “Oh tante, kenalin, ini temen aku.” “Temen dari mana?” Tanya tantenya lagi semakin curiga. Melihat dari gaya berpakaian, tatapan dan wajah, tantenya itu bisa menilai bahwa pemuda itu lebih dewasa dari Mia. “Ada deh, tante mandangannya jangan gitu banget, ketahuan banget curiganya.” Ledek Mia, “Papa kenal sama Arsen kok, jadi bukan cowok yang aneh-aneh.” Jelas Mia. “Oke.” Angguk tante Mia. Arsen jadi ragu untuk mengulurkan tangannya memperkenalkan diri, apalagi setelah pandangan tak enak dari tantenya Mia, akhirnya ia memilih hanya tersenyum canggung yang tanpa disadarinya senyumnya itu terlihat sangat kaku dan aneh. “Ayo buruan pulang. Om udah nunggu ini di depan.” Ajak tantenya lagi. “Iya, tante duluan deh, bentar aja. Mia mau ngomong sesuatu dulu sama Arsen.” “Yaudah, jangan lama, jangan aneh-aneh. Ini di hotel, pikiran tante nggak bisa positif di sini.” Ujar tantenya terus terang. Arsen menatap Mia dengan bingung karena gadis itu mengaku ingin berbicara tentang sesuatu padanya, padahal ia tak merasa ada yang perlu dibicarakan. Ia jadi merasa makin dicurigai jika seperti ini. “Lo bikin gue terlihat buruk di depan tante lo dengan nyuruh tante lo duluan.” Ujarnya pada Mia. Mia tersenyum, lalu menatap Arsen cukup lekat, “Kamu ganteng malam ini, ganteng banget malah.” Pujinya begitu terus terang, “Aku pulang duluan ya, jangan kesepian.” Pamit Mia sambil terkekeh geli melihat wajah salah tingkah yang berusaha Arsen sembunyikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD