KESAMAAN KESUKAAN, MENEMUKAN JALAN

2417 Words
Seperti yang telah disepakati sebelumnya, sepulang sekolah hari ini, Denis, Gilang, serta Gery akan singgah menghabiskan waktu di rumah Andra. Saat bel pulang berbunyi, Andra bersama kedua temannya bergegas untuk terlebih dahulu ke rumah Denis. Andra hendak mengambil motor yang ia titipkan di sana. Sementara, Gery entah kemana, tidak bertemu mereka lagi. Tapi Andra yakin, Gery akan berusaha menepati janjinya. Lagipula alamat rumah sudah dikirimkan kepada Gery. Tiba di rumahnya, Denis menyempatkan berganti pakaian sesaat. Selesai berganti pakaian, mereka pun langsung menuju rumah Andra yang sebenarnya tidak begitu jauh dari rumah Denis. Hanya berbeda blok dalam satu kompleks perumahan yang sama. Tetapi cukup melelahkan jika harus berjalan kaki. Mereka bertiga menggunakan dua sepeda motor, satu milik Andra, satu milik Denis. Denis sebetulnya sudah dilarang menggunakan sepeda motor oleh ibunya, tapi ia bersikeras meminjamnya. Daripada harus boncengan bertiga, alibinya. Akhirnya Tante Fara, Ibunda Denis mengalah daripada harus berdebat dengan anaknya. Tapi seperti biasa, Tante Fara akan selalu memberikan pesan pada Andra untuk menjaga Denis, “Titip Denis ya, Ndra!!” Tante Fara memang sangat memanjakan Denis. Selain alasan Denis merupakan anak tunggal, kedatangannya dahulu ke dunia ini juga membutuhkan waktu cukup lama. Kurang lebih lima tahun sebelum Tante Fara dan Om Fajar akhirnya memiliki Denis. Jadilah Denis sebagai raja yang keinginannya akan selalu dituruti oleh kedua orangtuanya. Sesampainya di rumah Andra, mereka bertiga langsung menuju lantai dua . Di sana ada dua kamar sekaligus balkon yang terbuka cukup lebar, tempat Andra biasa menghabiskan waktu. Satu kamar milik kakak perempuan Andra yang kini sedang kuliah di luar kota, satu lagi adalah kamarnya. Di luar kamar, semua nampak biasa saja. Seperti ruang keluarga pada umumnya. Ada televisi, sofa, karpet dan rak pajangan. Tetapi di dalam kamar anak laki-laki dari dua bersaudara tersebut, terlihatlah pribadi Andra yang sesungguhnya. Kamar itu cukup luas, sekira 5x6 meter. Warna dasar dinding kamarnya dihiasi dengan warna merah dan hitam pada dua sisi, sisi lainnya terdapat warna hijau muda, dan di sisi lainnya lagi dihiasi warna biru langit. Pada bagian yang berwarna merah dan hitam, Andra banyak menempel poster dinding musisi serta tokoh-tokoh terutama penulis kegemarannya. Ada poster Brian May dengan gitarnya, The Beatles formasi lengkap, dan grup band Muse untuk jajaran musisi. Sementara ada poster Bung Karno, Tan Malaka, dan Pramoedya Ananta Toer untuk jajaran tokoh. Sementara di bagian dinding yang berwarna hijau muda, terdapat rak buku memanjang di sepanjang sisi. Rak itu tidak kosong, penuh berisi buku-buku, mungkin jika dihitung, ada lebih seratus judul buku di sana. Dan di sisi dinding biru langit, Andra banyak menempel ornamen luar angkasa juga semesta. Agar tidur nyenyak, menurutnya. Kamar Andra terlihat sangat rapi untuk ukuran laki-laki. Ia menempatkan semua barang di posisi masing-masing, tidak ada yang tercecer di lantai, bahkan untuk selembar kertas atau sepotong sisa makanan. Andra sejak dahulu memang menggemari kerapihan, karena ia dididik untuk menempatkan segala sesuatu sesuai tempatnya, meski itu baru saja digunakan. Prinsip sel dan kamar penyusunnya seperti yang pernah diutarakan Rene Descartes, Andra terapkan pada kamarnya.   Gilang yang melihat keadaan kamar temannya ini berdecak kagum atas segala sesuatunya. Tidak hanya ornamen di kamar, isinya pun satu persatu ia perhatikan. Seperti ketika melihat-lihat koleksi buku di rak. Ada satu menarik perhatiannya, sebuah novel cukup tebal. Novel terjemahan, Dunia Sophie judulnya. Lantas ia pun menanyakan perihal novel itu, karena Gilang juga sangat menggemarinya. “Ini udah lo baca sampai habis, Ndra?” “Belum Lang, hampir sih. Mungkin sejam lagi gue baca, bakal tamat,” sambil berganti pakaian Andra berbicara pada Gilang. “Kenapa, Lang?” sambungnya. “Nggak, gue juga punya buku ini. Dan menarik. Salah satu buku favorit gue. Tapi buku-buku lo bacaan berat ya, ada Yuah Noval, Jonathan Black juga.” “Hehehehe. Itu nyampur sama buku-buku kakak gue. Dia kan juga suka baca buku, jadi bukunya juga banyak.” “Ohh,” singkat Gilang.   Keingintahuan sekaligus kekaguman Gilang tidak berhenti sampai di situ. Di pojokan dinding bercat merah hitam dengan hiasan penuh poster terdapat sebuah gitar akustik. Gilang pun menanyakan gitar tersebut, karena menurut pengetahuannya gitar itu cukup mahal dan jarang ada yang memiliki untuk ukuran seseorang amatir. “Fender Sonora SCE, Ndra?” melihat tanpa menyentuhnya. “Iya Lang. Lo tau tipe gitar? Kalau mau coba, mainin aja Lang,” seloroh Andra selesai berganti pakaian. Gilang hanya terpaku, tak mengiyakan seruan Andra agar ia mencoba memainkan gitar tersebut. Saat keduanya tengah asyik berbincang, Denis malah tertidur di kasur. Dari pejaman mata dan dengkurannya, ia sudah mulai terlelap. Keisengan Andra membuncah, ia mengambil terompet tahun baru yang masih disimpannya. Lalu mendekatkan corong suara ke telinga Denis dan meniupnya keras-keras. “TEEEETTTTT....!!!!” suara terompet itu membuat Denis gelagapan. Matanya yang setengah terbuka mencari asal suara, lalu hanya membalas dengan kata, “KAMPREEETTT...!!!” lantas tertidur lagi. Andra dan Gilang pun tertawa melihat kelakuan Denis. Denis memang sangat sulit dibangunkan jika sudah tertidur. Butuh usaha ekstra untuk membuatnya bangun. Salah satunya dengan menyiram wajah atau menggelitiki hidungnya. Jika usaha yang dilakukan hanya membunyikan alarm, tidak akan berpengaruh karena kalah keras dengan bunyi dengkurannya. Puas mengerjai Denis, Andra mengajak Gilang untuk duduk-duduk santai di balkon rumahnya dengan sebelumnya membuat kopi dan membawa cemilan. Gilang memandangi lantai bawah dari atas balkon. Cukup besar rumah ini. Mungkin yang terbesar di barisan kompleks perumahan sini. “Rumah lo enak ya, Ndra.” Gilang membuka percakapan. “Iya Lang? Lo sering-sering main kesini dong Lang, sekarang kan udah tau. Denis juga sering, bisa seminggu tiga kali dia pasti kesini. Kalau nggak tidur, makan, main game atau gue yang minta diajarin main gitar.” “Tertarik banget lo ya sama musik?” “Ya begitulah, Lang. Denis sih yang nularin gue soal musik. Dia juga yang ajarin gue main gitar, tapi sekarang kalau gue minta ajarin, dia nggak mau. Gue udah lebih jago daripada dia katanya,” gerutu Andra sambil memandangi kamarnya, tempat Denis sedang tertidur. “Hahaha... Denis kocak ya.” “Iya, makanya gue betah berteman sama dia. Anaknya selalu relaan. Rela dikerjain, rela dikatain, rela diapain aja, kecuali rela bayarin makan. Tapi dia juga paling nggak rela kalau temennya ada yang nyakitin. Loyal sama pertemanan dia itu. Eh diminum Lang kopinya!” pinta Andra. Merekapun menikmati kopi dan beberapa cemilan sebagai teman berbincang yang sudah terhidang. Andra tiba-tiba terfikir untuk bermain gitar di depan Gilang. Daripada ngobrol tanpa arah dan sisanya diam, lebih baik dilakukan untuk sesuatu yang produktif, pikirnya. “Ehh, bentar ya Lang gue ambil gitar dulu.” “Ngapain Ndra? Nggak usah. Kita ngobrol aja,” mencoba menahan Andra. “Santai Lang!” Tak berapa lama, Andra sudah kembali dengan membawa gitar yang tadi sempat ditanyakan Gilang. Di belakangnya, Denis mengikuti dengan mata sayu. “Lhoo, udah bangun Den?” tanya Gilang melihat Denis. “Iya, dibangunin nih sama si kamprett.” Menunjuk Andra di depannya. Mereka pun duduk bertiga. Andra lalu menyetel nada di gitarnya, setelah mendapatkan nada yang pas, ia coba mainkan lagu-lagu santai yang bisa membawa mereka bernyanyi bersama. Memulai intro dengan kunci G lalu ke C, A minor lalu ke D. Andra menunjukkan keterampilannya dengan sesekali menggunakan teknik slur dalam petikannya. Lantas, Denis pun menyusul bernyanyi, mengikuti alunan nada dari lembutnya petikan gitar yang dimainkan Andra. “Saayyyiinggg I looovvee youuu, is not the words I want to hear from youuu.... It’s not the what I waanntt youuu....” saat Denis bernyanyi, Andra hanya menggelengkan kepalanya. Karena suara Denis yang terpecah tak karuan dari nada, membuat Andra ingin sekali rasanya pensiun dini bermain gitar. Suaranya mirip radio bodol. Gilang pun tak kuasa menahan senyum kegelian melihat wajah Denis yang begitu menikmati lagu. Tapi ia juga tak melepas pendengarannya dari permainan gitar Andra. Ia merasa, Andra cukup mahir memainkan alat musik petik tersebut. Sedetik kemudian, Andra menghentikan petikan gitarnya, dan menyerahkan gitar untuk dimainkan Denis sendiri. Denis yang sedang terpejam menikmati suara pecahnya juga secara otomatis berhenti bernyanyi. Apalagi ia merasa pahanya ditibani gitar. Merasa terganggu, dalam sekejap ia pun marah-marah dengan gemasnya kepada Andra dan mengoper lagi gitar pada Gilang. “Lo tuh ya, ga bisa nyenengin teman lo sedikit aja!! Mau lo apa sih?” hardik Denis. “Suara lo itu pecah kemana-mana. Kalau pecah suara sih enak, tapi kalau suara yang pecah sama nada, jadi kayak suara radio bodol tau nggak!!” Andra juga enggan mengalah. Saat kedua orang itu sedang sibuk berdebat, Gilang memperhatikan gitar yang dilempar Denis ke pangkuannya. Lama ia perhatikan, ada rasa ingin memeluk gitar ini. Sudah lama sekali sepertinya ia tak b******a dengan gitar yang dahulu selalu menemani hari-harinya. Alam bawah sadarnya mulai menguasai pikirannya, Gilang perlahan mengangkat gitar Andra dan mengelus bagian senar dengan jari jemari tangan kirinya lalu menekan dalam-dalam senar itu hingga menyentuh dasar frets. Jari kirinya pun membentuk kunci nada F# mayor dan memetik senarnya dengan jemari kanan, lanjut ke Bm dan F# mayor kembali. Dari sana, terdengar melodi lantunan sebuah komposisi terkenal dari Ludwig Van Beethoven, Fur Elise. “Teng.. Teng, teng... Teng... Tengggg...” Gilang memainkannya dengan tempo cukup cepat dan tepat dalam mengambil nada.              Mendengar alunan itu, sontak perdebatan Andra dan Denis pun berakhir. Mereka menoleh ke arah Gilang yang sedang tertunduk melihat ketepatan letak jemarinya di fret gitar. Tiada lagi kata, yang ada kesyahduan dari permainan gitar Gilang. Untuk pertama kali, Andra terkesan terhadap permainan gitar seseorang yang disaksikannya secara langsung. Ia tertegun, Gilang telah memberikan jiwa ke dalam permainan musik yang disajikannya. Sadar jika kedua temannya yang tadi berdebat memperhatikannya, Gilang menghentikan permainan gitarnya. Ia kemudian menatap kedua mata temannya yang memberi makna sedang keheranan, sisanya ada rasa tak bisa terjelaskan. Sekejap ia memberikan kembali gitar itu pada Denis. Tak banyak berbicara, Gilang nampak gugup, lalu meminta undur diri sebentar untuk ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, alih-alih aman dari pertanyaan, Andra justru memberondongnya dengan rasa penasaran, begitupun dengan Denis. “Lang, lo bisa main musik? Kenapa selama ini nggak pernah cerita? Sejak kapan? Gimana bisa sekeren itu Lang?” Andra menggoyang-goyangkan lengan Gilang, berlebihan. “Lo kesurupan Jimi Hendrix kali ya Lang?” susul Denis. Gilang yang mendapat perlakuan seperti itu hanya terpaku. Ia bingung harus berkata seperti apa kepada kedua temannya ini, jelas jika Gilang enggan dijauhi teman-temannya seperti dulu hanya karena lebih unggul. Tapi apa yang dimainkannya tadi sudah kadung terdengar dan tak mungkin pula Gilang menghindar dengan menyatakan tidak sengaja memainkan gitar seperti itu. Tidak mungkin. “Iya.. Iyaa, sebelumnya gue minta maaf ya. Pertama gue nggak kesurupan siapa-siapa Den. Kedua gue lagi menghindari musik. Sebenarnya gue ingin tau dulu tabiat teman-teman gue, termasuk lo berdua. Di Surabaya dulu, kompetitif banget. Gue sempat juara solois gitar di sana, tapi teman-teman justru ngejauhin gue. Mungkin karena ngerasa gue masih kecil tapi udah langkahin mereka, bisa jadi juga itu cuma perasaan gue doang. Tapi gue harap, kalian nggak pernah ngejauh dari gue karena persoalan kemampuan main gitar,” jelas Gilang panjang kali lebar kali tinggi. “Gila kali lo ya!!” mata Andra melotot. “Mana mungkin karena persoalan kemampuan main gitar terus gue ngejauhin lo. Emangnya gue Denis!! Yang ga mau lagi ngajarin gue karena katanya gue lebih jago dari dia sekarang,” sambungnya. “Apaan sih lo? Sempat-sempatnya nyerempet gue!!” Denis marah lagi ke Andra. Menyusul tawa mereka bertiga.   Gilang pun akhirnya bisa tersenyum lega atas pernyataan Andra sebelumnya. Dia sebenarnya tahu kalau teman-temannya di sini tidak seperti teman-temannya di tempat lain, minimal tidak akan mudah termakan hasutan. Apalagi Andra yang menurutnya cukup dewasa. Tapi ketakutannya yang mendalam, membuatnya lebih memilih bertahan daripada harus agresif menunjukkan diri. “Ehhh, gue punya ide!” Andra kembali berbicara. Kedua temannya mengalihkan fokus padanya. “Gue mau serius di dunia musik kayaknya. Ga serius-serius juga sih. Tapi bisa jadi bonus lah kalau ternyata nggak serius tapi bisa berhasil nanti.” “Apa Ndra?” tanya Denis kali ini serius tanpa candaan. “Mmm, gimana kalau kita bikin band? Untuk sementara, buat isi waktu luang. Kayak begini sekarang kan kita lagi luang, malah becanda-becanda. Kalau punya band kita bisa isi sama latihan musik. Jadi produktif kan.” “Siapa aja?” timpal Gilang, ragu. “Ya kita ini. Lo isi gitar, Denis bisa apapun selain drum, mungkin ambil keyboard atau bass. Dan gue rythm.” “Mmmm...” angguk Denis tanda setuju. “Terus drum? Vocal?” Gilang mengangkat alisnya. “Vocal kayaknya untuk sementara bisa gue isi. Kalau cuma buat latihan, ya bisa lah. Untuk drum, ada kenalan kah kalian? Gue juga belum tau.” Andra menggelengkan kepala. Spontan Denis tersenyum, penuh maksud dan itikad yang kurang baik, Andra tahu maksud Denis, tapi ia enggan memastikan. Gilang malah yang menyodorkan pertanyaan pada Denis, “Kenapa Den? Kenal teman yang bisa main drum?” “Hehehehe..... Kenapa kalian nggak berfikir sejenius gue sih? Duh ketinggalan banget ya otak kalian. Hehehehe... Kita punya Gery lhooooo!!!!” Andra dan Gilang saling bertatap mata. Mencoba memastikan dan berusaha meyakinkan meski sama-sama tidak yakin. “Gery??” Gilang memastikan kembali jika ia tak salah dengar. “Iya, Gery! Apa salahnya dicoba?” “Gue ragu deh Den. Apa Gery bisa diajak kerjasama dalam urusan band?” tutur Andra. “Iya juga sih ya, gue juga sebenarnya ragu Ndra. Tapi Denis ada benarnya, apa salahnya dicoba. Kita udah pernah lihat dia main drum, dadakan pula dan oke penampilannya. Daripada harus cari-cari orang baru lagi dan belum tentu skillnya bisa di atas Gery,” sela Gilang. “Hehehehe, jenius kan gue?” senyum kebanggaan ditunjukkan Denis. “Mmmm...” berpikir sejenak, Andra mencoba mengingat-ingat tentang Gery, segalanya ia coba ingat. Jangan sampai di tengah jalan, Gery malah berbuat ulah.”Eh tapi, lo sendiri mau kan Lang bikin band bareng?” seru Andra memastikan. “Iya gue coba, Ndra.” Mimik wajah Gilang menampilkan keseriusan. “Nah, oke kalau begitu. Soal Gery, kita ngomong bareng-bareng ya. Bentar lagi juga datang, sekarang udah jam 3 kan,” melihat jam dinding di dalam ruangan, menanti kehadiran Gery. Sambil menunggu Gery tiba, mereka bertiga menghabiskan waktu dengan bermain gitar lagi. Kali ini Gilang yang bermain, terus menerus. Sementara Andra ikut larut dalam permainan Gilang dengan bernyanyi. Dan Denis seperti biasa, mengganggu Andra bernyanyi serta membuat kerusuhan saat Gilang memainkan gitar. Denis juga sempat protes soal posisinya di band pada Andra. Dia lebih ingin bermain keyboard dibanding harus main bass. Andra menolaknya dengan alasan, posisi keyboard tidak terlalu penting untuk sebuah band dibanding bass, jika aliran musik yang mereka pilih adalah alternative pop rock. Kecuali kalau ada lagu yang membutuhkan sound keyboard, tetapi mayoritas referensi lagu yang akan mereka mainkan tidak melibatkan keyboard sebagai salah satu instrumennya. Denis menerima penjelasan Andra dengan setengah hati. Demi kepentingan bersama.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD