Arga Smith #5

1058 Words
"Aku hanya ingat kau pernah bicara tanggal lahirmu di ruangan Professor Gamma waktu kau pertama kali datang kesini. Aku yakin kau pasti mengingatnya." Aku meyakinkan dia jika Profesor Gamma memang mengijinkanku keluar untuk membeli beberapa barang untuknya Dia tadi tersenyum. Manis. "Bagaimana persiapan untuk misi perdanamu." Aku sengaja mengalihkan pembicaraan agar Sara tidak memikirkan lagi hukuman yang akan aku jalani jika aku benar- benar kabur keluar tanpa ada ijin dari Profesor Gamma. Tapi, aku benar- benar tidak harus di hukum karena aku tidak melakukan kesalahan apapun. Danaku harap Sara percaya akan hal itu. Dia tertunduk dan diam. "Aku merasa aneh." Katanya pelan "Aneh?" Tanyaku tidak mengerti apa yang disebut aneh oleh seorang Sara Dia mengangguk menjawab pertanyaan singkatku "Kenapa?" Tanyaku juga dengan suara yang pelan. "Aku punya firasat aneh tentang misi pertamaku." Katanya sambil bersandar pada punggung sofa. Aku mengangguk mengerti dan paham maksud Sara sekarang. Hanya saja dia tidak bisa menunjukkan rasa aneh itu. Rasa aneh itu adalah rasa gugup ketika memulai misi pertama dan belum memiliki dan melatih apapun. Sara memanglah seperti gadis dengan pemikiran polos. Dia bahkan belum sebulan tapi sudah di percayai untuk misi sekelas B ini. Dan tentu saja, tidak semua orang seberuntung dia juga Joseph. Ada senior Sara yang baru menjalani misi kelas C di dalam gedung beberapa kali karena menurut Profesor Gamma dia belum cukup ahli jika harus naik misi ke kelas B. "Aku mengalami hal yang sama saat misi pertamaku di luar gedung." Kataku Aku akakn berusaha membuatnya lebih tenang agar dia juga tidak tegang dalam misi kali ini. "Oh ya?" Dia menatapku yang hanya mengangguk sambil tersenyum mengusap puncak kepalanya "Ceritakan," titahnya antusias "Sambil menunggu pagi, 'tak apa 'kan?" Aku mengangguk dan mulai membayangkan dimana pertama kali aku menjalankan misi yang mengharuskanku untuk pergi keluar dari gedung sekolah ini. "Jadi dulu misiku masih misi kelas C. Misinya hanya menyelidiki kasus pembocoran data perusahaan. Aku di bantu Rico dengan komputernya," dia mengangguk saat aku menatapnya "Lalu aku berhasil menghambat pen- ngunduhan file penting perusahaan. Aku berpikir itu adalah perentas. Tapi kau harus tau, kita juga punya perentas. Lebih pintar dan cerdik dari perentas dunia manapun. Rico sempat di tarif puluhan juta dollar hanya untuk mengambil rahasia perusahaan lain," aku menjeda meregangkan bahuku sambil membayangkan saat itu "Kenapa? Dia tidak menerimanya?" tanyanya di landa penasaran Aku menggeleng, "Dia mau mengabdi ke academy ini." Dia mengangguk-anggukkan kepalanya saat sudah mendapat jawaban di kepalanya "Saat itu aku takut tidak berhasil di misi kelas C tapi ternyata itu cukup mudah. Hanya memberikan tugasku pada Rico-" "Tunggu!" Dia memotong ceritaku "Memangnya boleh begitu?" "Tentu saja boleh," aku mengangguk sebelum melanjutkan kata- kataku, aku sedikit menyeruput teh hangatku "Prof Gamma memerintahkan aku dan aku bebas melakukan apa yang aku mau." Lanjutku "Misi kedua adalah kelas B. Aku diharuskan keluar gedung untuk menghabisi dan memenjarakan penjahat-penjahat," dia tak bergeming "Kau tau aku sangat gugup, aku punya firasat aneh di misi ini. Aku berlatih keras. Sangat keras. Dan pada akhirnya. Itu berhasil." Latihan memang segalanya. Hanya dengan proses itulah keberhasilan bisa saja sangat dekat dengan kita. Dia masih diam menatapku. Mulutnya masih tertutup karena aku tidak melanjutkan kata- kataku dan juga ceritaku. "Hey jangan menatapku seperti itu," kataku memalingkan wajahnya dengan cara mendorong sedikit pipinya ke kanan Aku pikir dia akan marah. Tapi tidak ada tanda- tanda kemarahannya. 'Jangan pikirkan apapun Arga dia pasti membacanya dia pasti tahu.' batinku "Oh astaga apa yang ada di dalam pikiranmu, Ra?" Tanyaku ketika Sara memalingkan wajahnya dari diriku ke gelas teh yang ada di meja "Kenapa kau bertanya?" Tanyanya cukup cepat "Aku hanya iri saja padamu. Kau bisa tau apa yang orang pikirkan." Jujur, memiliki kelebihan seperti itu adalah mimpiku. Kita bisa masuk ke dalam pikiran seseorang, dan mengetahui apa yang sedang adal di dalam pikirannya. Hanya saja, aku tidak seberuntung Sara. Dia menyenderkan punggungnya di kursi lebih dalam. "Kau tau? Terkadang aku menyesal punya kemampuan ini." Dia sedikit mendesah. "Kenapa?" Aku heran kenapa dia menyesal? Bukankah itu akan membuatnya senang? Sekaligus dia bisa tau apa pikiran orang tentang dirinya sendiri? Jika pikiran orang buruk tentangnya, dia bisa tau apa yang membuatnya buruk di hadapan orang itu dan berusaha untuk memperbaikinya agar orang itu menyukai diri kita? Bukankah begitu seharusnya? "Membosankan. Kita sudah tau semua pikiran orang yang akan berbicara pada kita itu membosankan. Kau harus mendengar kalimat yang sama. Di otak dan di mulut." Ucapnya lalu meminum sedikit teh miliknya "Kalimatmu tambah panjang." Kataku spontan "Ada yang salah?" Aku menggeleng. "Lebih bagus lagi jika sering seperti itu." Kataku "Kau bisa membaca hati?" Tanyaku lagi Dia menggeleng. Aku tersenyum. Setidaknya tidak ada yang bisa membaca hatiku. Jam digital di meja milik Sara sudah menunjukan pukul empat dini hari lewat sepuluh menit. Masih banyak waktu untuk mengobrol. Tapi susah untuk memulai obrolan padanya. Dia pasti tau pikiranku kosong karena entahlah aku memikirkan apa. "Apa yang sedang kau pikirkan Ar?" Aku tersentak, "A.. Ar?" "Kenapa?" Tanyanya mengerutkan keningnya Aku menggeleng. Menyentuh keningnya yang meng- kerut "Tentu saja tidak apa- apa, dan jangan mengerutkan kening seperti itu, kau bisa cepat tua." Aku tersenyum di akhir kalimatku. Dia terkekeh memalingkan wajahnya. Lihat betapa lucunya dia. Kami terus berbincang. Bercerita ke sana ke sini. Sampai dia terkantuk dan tidur di bahu sofa. Lihat? Aku nyaman di dekat dia. Lihat? Aku terus mengelus rambut yang terikatnya. Lihat? Betapa aku menganguminya. Lihat? Aku mulai menyukainya. Tidak. Tidak. Professor Gamma tidak menyukai akan hal seperti ini. Tidak akan mengijinkannya yang seperti ini. Aku menghentikan elusanku di rambutnya. Apa aku salah menyukainya? Aku hanya menyukainya. Tidak ada larangan untuk menyukai sesama siswa di sini bukan. Hanya saja Profesor Gamma sudah kehilangan beberapa siswa yang kedapatan berkencan di sekolah. Dan tentu saja, itu bisa terjadi kepadaku dan juga Sara. Hanya saja, bagaimana aku bisa menahannya? Aku cukup pandai dalam menahan sesuatu kecuali kesakitan dan rasa suka. Seperti sekarang. Dan mungkin sebentar lagi, Profesor Gamma akan mengetahuinya. Dan akan segera memperingatkanku akan hal ini. Tidak ada pengecualian. Di sekolah ini, selama menjadi siswa di sekolah ini sampai perekrutan perusahaan. Tidak boleh berkencan di sekolah. Dan itu adalah aturan tetapnya sejak sekolah ini di buka. Ah sial. Kenapa aku harus bertemu dengan Sara di sekolah seperti ini. Aku ikut tertidur di sebelahnya. Terduduk di lantai dengan kepala di lipatan tangan di atas sofa di samping tubuh Sara. Aku akan menikmati ini sebelum Profesor melarangku dekat dengan Sara. Hanya Sara. Tidak ada yang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD