Aku sudah menduga sejak aku membangun sekolah ini, hal seperti ini terjadi. Setelah semalam tadi melewati perdebatan tentang sekolah ini sampai pada akhirnya mereka mulai menyerang.
Amartha.
Nama seseorang dan nama sekolah dengan persenjataan lengkap seperti sekolah militer dengan siswa lebih dari 100 orang.
Amartha memiliki masalah masa lalu dan memendam dendam padaku.
Karena sekolah yang aku dirikan ini hanya membuat sekolahnya kekurangan siswa pendaftar. Padahal aku hanya menerima 10 orang per musim. Tapi itu masih saja menjadi perdebatan diantara aku dan dia.
Aku dan Amartha.
Dulu kami memang sudah sepakat untuk membuat sekolah dengan latar belakang perang. Tapi Amartha mengkhianatiku dengan mendirikan sekolah untuknya sendiri tanpa aku ketahui. Aku mengetahuinya saat dia benar- benar sudah menghabiskan banyak uang dan sekolah itu banyak menerima siswa brandalan. Dia membangun sekolah itu dengan uang modal yang sudah aku kumpulkan dari beberapa tahun yang lalu. Sial. Aku sempat hilang akal waktu itu. Karena pembangunan sekolah yang aku dirikan belum menerima siswa dan bahkan belum selesai dibangun, dia sudah menerima banyak siswa.
Aku berjalan cukup cepat ke depan gerbang yang aku bangun kokoh dengan keamanan tingkat 3. Melihat keadaan di sana dan masih cukup aman. Tidak mudah di tembus memang. Keamanan tingkat 3 ini di susun oleh alat yang aku dan anak-anak ciptakan.Berkat itu semua, gerbang depan ini tahan akan serangan yang di kirimkan oleh Amartha.
Tapi tetap saja, aku takut orang- orang di dalam gedung sekolah ini menjadi takut dan berkeliaran kalang- kabut untuk keluar dari sini. Tapi, seketika aku tenang melihat para pelatih dan siswa lainnya membantu mengamankan gerbang.
Aku menyuruh Rico sang ahli komputer untuk meningkatkan keamanan. Rico hanya mengangguk dan berlari ke arah pusat keseimbangan dari sekolah ini bersama dengan Joseph yang mengikutinya di belakang. Sedangkan beberapa anak bersenjata khusus dan anggota inti mengikutiku untuk melihat gerbang depan. Dan wow. Gerbang ini seperti dihancurkan oleh bom rakitan.
Hancur berantakan.
Meskipun baru tingkat dua, tapi senjata Amartha bukanlah hal yang harus di remehkan. Banyak yang harus di perisapkan melihat Gerbang depan sudah hancur. Tidak sehancur itu, hanya satu tingkat lagi, dan mungkin Amartha bisa masuk ke dalam gedung.
"Bendera perang telah di kibarkan," gumam Arga setelah melihat hancurnya gerbang itu
Aku mengangguk kecil menyetujuinya.
Dan tentu saja aku tidak akan tinggal diam melihat ini.
'Keamanan berada di level 4.'
"Anggota senjata khusus mohon berjaga," aku berteriak yang dibalas oleh anggukan anggota bersenjata khusus itu. Mereka dengan senjatanya mampu menahan jika saja ada kemungkinan Amartha masuk ke dalam sini.
Aku berkumpul membentuk lingkaran di belakang anggota inti. Termasuk Sara yang sedari tadi diam. Aku tau dia pasti membaca pikiranku.
"Sepertinya kau sudah tau apa yang terjadi nona kecil," bisikku di telinganya yang diangguki olehnya
Aku terkekeh ketika dengan datarnya Sara menjawabku dengan anggukan yang bahkan tidak seperti anggukan.
"Baiklah. Ini memang kacau. Tapi misi harus selesai. Tara, Arga dan Sara. Kalian tetap harus periksa gedung yang akan dijadikan target untuk misi kali ini."
Aku memang tidak bisa memaksa mereka keluar.
Tapi misiku adalah membuat semua pelanggan yang menandatangani kontrak eksklusif harus puas. Dan itu tidak berlaku jika aku menanggalkan misi ini.
Oleh karena itu, meskipun keadaan seperti ini, misi harus tetap berjalan.
"Sisanya menunggu dan membantu anggota khusus bila diperlukan. Keamanan di depan menjadi level 4. Sekeliling sekolah sudah diamankan dengan sinar laser. Jadi bila sesuatu terjadi alarm akan berbunyi," kataku panjang lebar
"Dan.." aku menghela nafas
"Pakailah alat baru yang sudah aku siapkan. Tanya Gio dan berangkatlah Tara, Arga dan Sara."
Pada akhirnya, aku harus melepas mereka untuk masuk ke dalam pertempurannya sendiri. Tidak perlu memikirkan apa yang terjadi. Karena aku rasa, Amartha tidak akan mudah merebut ini dariku.
"Baiklah," itu Tara
Aku tersenyum ketika melihat mereka mengikuti arahanku dan langsung menuju tempat alat bersama Gio. Sara sempat menengok ke belakang. Melihatku dan aku hanya membalasnya dengan senyum dan satu anggukan meyakinkan mereka di sini akan baik- baik saja.
"Semoga berhasil," ucapku tanpa suara
Aku rasa Sara bisa menangkap ucapanku barusan karena aku melihat dia mengangguk sekilas.
Harus aku akui. Amartha begitu berani menyerang gedung sekolah yang aku dirikan sendiri. Ia menghancurkan seperempat gerbang sekolah. Dan tak akan aku biarkan. Aku harus melakukan sesuatu selagi bisa. Aku segera berlari menuju pusat kontrol sekolah. Aku melihat Rico dan Joseph sedang membicarakan sesuatu.
"Beritahu Profesor tentang ini," itu Rico
"Aku disini," aku menjeda melihat layar besar di depan Rico dan Joseph
"Ada apa?" Tanyaku pada Rico
"Kita harus menyerang balik Prof," sahut Joseph cepat
"Memangnya kenapa?"
Aku masih belum mengerti, wajah mereka seakan memberitahukan jika kita semua tidak aman.
"CCTV yang terpasang di sepanjang jalan menuju sekolah ini di rentas, aku dan Joseph tidak bisa melihat apa-apa sekarang Prof."
Aku terperanjat. Tentu saja. Ini menghambat untuk melakukan perlindungan. Karena jika tidak ada itu, kita tidak tau kapan Amartha dan pasukannya akan maju dan terus menyerang.
"Tak bisakah kau memperbaikkinya?"
"Aku sudah mencoba Prof, tapi sepertinya mereka mencopot CCTV yang terpasang." Kata Rico yang masih sibuk mengitak- atik tombol- tombol yang ada di sana lalu menampilkan kata ERROR di layar milik Rico sendiri
'Kurang ajar kau, Amartha.' Batinku mengumpat
"Baiklah, kita adakan rapat darurat bersama anggota khusus dari kelas A. Kita akan mencoba menyerang balik sekolah itu."
Aku benar- benar tidak bisa berpikir jernih selain aku harus membunuh orang bernama Amartha dan pasukannya. Jika bisa, aku akan menjatuhkan pesawat dengan mode auto pilot bersamaan dengan meledaknya bom ke sekolah milik Amartha.
"Tunggu Prof, ada panggilan masuk," itu Joseph
"Ah bukan hanya panggilan suara Prof, tapi panggilan Video."Joseph melihatku dengan tatapan 'aku harus bagaimana?'
"Terima panggilannya," suruhku yang langsung di angguki oleh Joseph
Lalu Joseph menekan satu tombol dan menampilkan orang di balik layar besar di ruangan ini.
"Senang melihatmu sehat Gamma."
Itu si b******k Amartha.
"Senang melihatmu 'tak lagi muda Martha."
Aku sedikit mencemooh kerutan yang ada di wajahnya. Bagaimana dia tua secepat itu.
"Cukup dengan panggilan itu Gamma".
"Kenapa?" Aku tersenyum miring
"Bukankah dulu kau sangat menyukainya?"
"Itu dulu."
Jawabannya membuatku terkekeh. Dulu? Saat dia berjanji tidak akan mengkhianatiku? Atau sudah mengkhianatiku?
"Apa yang ingin kau lakukan Martha?"
"Aku susah memperingatkanmu untuk berhenti memanggilku seperti itu."
Dia memakai nada yang menjengkelkan
"Oke baiklah." Kataku lalu berdeham kecil
"Lanjutkan."
"Berapa murid yang ada disana? Tak banyak 'kan?"
Aku menggeleng. Kenyatannya memang seperti itu.
"Baguslah, aku tidak akan melukai banyak orang tak berdosa."
Apa yang dia maksud tidak akan melukai banyak orang adalah dia akan menghancurkan sekolah ini?
"Untuk apa kau melakukan ini Amartha?" Geramku
"Melihatmu menderita?"