Bukannya ingin ikut campur, Elena bahkan tidak berminat berurusan dengan Farrel lebih jauh. Namun, Tuan Uta sudah memercayakan kegiatan magang Tuan Muda nan manja ini pada dirinya. Elena hanya bisa menggeleng tidak percaya pada pemuda yang bersandar angkuh di kepala ranjang sembari sesekali menyesap rokok kretek yang dibawanya dari Indonesia. Kalau bukan karena statusnya sebagai cucu dari penjaga peternakan, atau sebagai sahabat dari adik sang Pangeran, Elena akan lebih suka pergi menyelam di laut Mediterania daripada harus mengurus Farrel yang tidak pernah membiarkannya istirahat sejak dulu.
“Bisakah Anda bersikap lebih dewasa? Tuan Uta sudah—”
“Woah, Elena yang ada di depan gue sekarang bukan Elena yang kemarin lusa gue temui di peternakan.” Farrel bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Elena yang tak sedetik pun melepaskan kuncian tatapan pada manik mata Farrel. “Apa karena enggak ada kakek lo? Jadi lo berani sama gue? Ngomong-ngomong, lo ngapain di restauran tadi?”
“Ada yang perlu aku kerjakan di sana.”
“Kenapa lo susah-susah kerja, padahal dulu kakek sama paman gue mau bantuin biaya kuliah lo.”
Elena tersenyum. “Keluargaku sudah terlalu banyak merepotkan Tuan De Avilla. Aku tidak ingin menambah beban keluarga.”
“Bukankah dengan begini lo bikin nyokap sama bokap lo kepikiran sama masa depan lo sebagai dokter hewan? Hah! Miskin, masih sok-sokan mau jadi dokter. Nolak bantuan orang lagi, palingan juga ntar akhirnya lo berhenti di tengah jalan.”
Senyum di bibir Elena seketika menghilang setelah mendengar hinaan dari Farrel. Elena tidak menyangka bahwa Tuan Muda yang sosoknya sangat dia kagumi, bisa mengeluarkan kata-kata sepedas itu. Farrel yang dia kenal adalah pribadi yang sopan dan baik pada semua orang. Bahkan untuk membunuh semut saja dia tidak akan berani. Tapi Farrel yang ada di depannya ini, berbeda dengan Farrel yang bahkan kemarin lusa ditemuinya. Farrel yang kemarin masih menyapanya ramah, bahkan tidak membiarkannya untuk melayaninya. Meski begitu, Elena tetap bersikap baik pada pemuda yang kini berdiri di hadapannya.
“Apa Tuan Muda masih menganggap saya sebagai sahabat dari Nona Flora?” tanya Elena mencoba memosisikan dirinya kembali.
“Kenapa tiba-tiba lo ngomongnya formal banget? Maksud lo apaan?”
“Tidak ada. Saya hanya ingin Tuan Muda dan teman-teman yang lain tidak membuat masalah di sini dan segera kembali ke Malaga. Mungkin nanti saat akhir pekan, Anda bisa datang lagi ke Barcelona.”
“Lo tenang aja, El. Gue akan baik-baik aja di sini selama ada kakak lo si Nando. Lebih aman lagi kalau lo enggak buka mulut ke paman.”
“Maaf saya tidak bisa. Tuan Uta menugaskan saya untuk mengawasi kegiatan magang Anda selama di sini—”
“Lo disuruh ngawasin gue, tapi lo sendiri kelayapan ke Barcelona. Seharusnya lo di Malaga ngawasi gue 24 jam, biar gue enggak kabur.”
“Tuan, tolong jangan tempatkan saya dan Nando dalam keadaan sulit. Tolong bersikaplah dewasa. Ini semua demi kepentingan Anda juga.”
Farrel mengikis jarak keduanya. Tubuh tegapnya semakin merapat pada Elena yang masih berani menantangnya.
“Lo cukup pura-pura enggak ngelihat gue di sini, El. Maka semuanya akan baik-baik saja. Gimana?”
“Itu artinya saya harus mengkhianati Tuan Uta dan Tuan Besar Juan.”
“Oh, ayolah, El! Nando saja mau kerjasama, kenapa lo enggak?”
“Saya bukan Nando yang bisa Anda suap.”
“Lo tuh nyebelin tau, enggak!?” Farrel sedikit membungkuk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Elena. “Tapi manis.”
Elena bisa merasakan embusan napas Farrel di telinganya, dan sekarang merambah turun ke sisi lehernya. Tapi ingat, dia Elena, gadis yang sudah kenal Farrel sejak lama, dia paham Farrel sedang menggodanya untuk mendapatkan keinginannya. Elena menoleh dan mendapati wajah Farrel sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan ujung hidung mancung mereka sudah saling bertemu.
“Terima kasih atas pujiannya. Tapi jawaban saya tetap sama. Malam ini juga, saya akan menghubungi pilot De Avilla agar mengantar Anda dan teman-teman Anda semuanya kembali ke Malaga.”
“Fine!” hardik Farrel. “Silakan telepon semua pilot yang dimiliki De Avilla. Lo bakal menyesal udah berurusan sama gue, El!” ancam Farrel, lalu mendorong tubuh Elena dari hadapannya, dan keluar apartemen tanpa peduli dengan pandangan teman-temannya yang sedari tadi mendengar percakapan mereka dari ruang tamu.
****************
“Kenapa di sini? Bukannya lo harus metik anggur di sana?” tanya Siska sembari mengangguk ke arah lahan anggur yang terhampar di depannya.
“Gambar lo bagus,” puji Farrel. “Sori banget lo mesti ikut balik ke sini dan belum bisa jalan-jalan di Barcelona lagi.”
Farrel menuang wine ke dalam gelasnya, lalu menyesapnya perlahan sembari menatap lurus pada Elena yang sibuk memanen anggur dengan Wisnu, Rita, dan mantan Farrel lainnya. Dalam pikirannya berkecamuk amarah dan kesal yang ingin sekali dia lampiaskan pada gadis menyebalkan itu. Farrel tidak ingat, sejak kapan Elena berubah menjadi semenyebalkan adiknya. Flora memang memberikan pengaruh buruk pada gadis manis yang dulunya sangat penurut.
“Jadi? Apa jawaban lo tentang tawaran gue semalam?”
Siska diam, masih melanjutkan menggores kanvas dengan pensilnya.
“Sis, gue bener-bener sayang sama lo. Please.”
Siska menghela napas dan memutar matanya malas mendengar rengekan Farrel. “Gue belum bisa.”
“Kenapa? Apa alasan lo nolak gue? Gue tahu lo lagi enggak deket sama cowok. Gue juga tahu, lo sebenernya juga suka dari gue.”
“Jangan kepedean lo!”
“Gue enggak kepedean. Semalem waktu gue nyium lo, gue bisa rasain kalau lo juga punya perasaan yang sama ke gue. Iya, kan? Jadi please, kasih gue kesempatan buat buktiin kalau gue beneran sayang sama lo.”
“Farrel, gue—” Siska tidak tahu lagi apa namanya, jika itu tidak disebut kepedean oleh Farrel.
Farrel kembali membungkam kalimat Siska dengan bibirnya. Bahkan dengan lancangnya, pemuda itu menyingkirkan peralatan gambar yang ada di pangkuan Siska. Lalu menarik tubuh gadis itu dan membuatnya terduduk di pangkuannya tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
“See? Lo enggak bisa nolak ciuman gue,” ucap Farrel di atas bibir Siska, kemudian kembali melumatnya. Jika biasanya Farrel akan langsung membawa gadis-gadisnya ke atas ranjang, kali ini dengan Siska sangat berbeda. Dia tidak ingin membuat gadis pujaan hatinya ini ketakutan dan lari. Jadi sekuat tenaga Farrel menahan hasratnya untuk membopong Siska masuk dan mengajaknya bercinta gila-gilaan.
“Farrel, gue …” ujar Siska di tengah engah napasnya. “Gue …”
“Please. Apa lo enggak bisa lihat gimana pengorbanan gue selama ini? Gue udah berusaha menjadi lebih baik. Gue udah enggak main cewek, gue udah kuliah dengan bener.”
Farrel tidak berbohong, selama setahun belakangan ini dia berusaha untuk tidak mendapatkan nilai C di mata kuliah apapun. Namun dia sedikit berbohong di bagian ‘bermain cewek’—tapi tidak sepenuhnya. Farrel juga sudah mati-matian berusaha untuk tidak lagi meniduri gadis manapun, tapi nafsunya terkadang sedikit liar.
“Lo bisa tanya Rendra sama Wisnu, bahkan Dea juga. Please, Honey.” Farrel mengelus pipi Siska yang merona merah.
Farrel mengeluarkan kembali kotak beludru yang semalam ditolak Siska. “Gue beneran mau serius sama lo. Gue mau lo jadi pelabuhan terakhir gue, Sis. Jadi jangan buat gue nunggu lama.”
“Farrel. Gue punya banyak pengalaman dengan cowok-cowok modelan kayak lo. Jadi jangan—”
“Gue beda. Gue udah berubah.”
Siska tersenyum kecut. “Sorry, jawaban gue masih sama,” ucap Siska lalu beranjak dari pangkuan Farrel dan kembali duduk di kursinya setelah mengambil kembali peralatan gambarnya. “Gue tau, cowok b***t macam lo ini enggak akan pernah berubah, Rel. Jadi simpan tenaga dan gombalan lo buat cewek-cewek murahan lainnya aja yang mau lo bego-begoin. Tuh, di bawah sana banyak mantan-mantan lo. Lagian, lo kalau enggak punya semua fasilitas ini, lo juga bukan siapa-siapa. Mana ada cewek yang mau sama lo. Kuliah lo aja enggak bener, mau sok-sokan. Gue tekanin sekali lagi, gue juga beda. Beda dari semua cewek murahan yang pernah lo ajak naik ranjang. Lo itu anak manja.”
Farrel tertegun mendengar ucapan Siska. Kalimat gadis yang kembali tak acuh padanya ini, berhasil menyentil egonya. Selama ini tidak ada yang berani merendahkan dirinya seperti yang dilakukan Siska. Gadis yang bahkan tidak mengacuhkannya ini berani menilai dirinya sebagai anak manja dan hanya berlindung di balik fasilitas keluarga De Avilla.
Farrel lantas berdiri dengan senyum kecut di wajahnya. Pandangannya mengedar ke lahan kebun anggur. Hingga matanya menangkap sosok menyebalkan yang sudah menghancurkan makan malamnya bersama Siska dan membawanya kembali ke Malaga. Bahkan kini Farrel masih harus mendengar cemoohan dari gadis yang dicintainya.
“Jadi selama ini, seperti itu lo lihat gue?” Farrel menarik pandangannya dan beralih pada Siska yang sudah mendongak menatap, lalu mengangguk padanya. “Karena itu, lo enggak bisa cinta sama gue?”
Siska kembali mengangguk.
“Baiklah. Sepertinya gue udah kalah,” lirih Farrel. “Yang lo ucapin emang bener dan gue enggak bisa meninggalkan zona nyaman gue ini. Ok, gue mundur, tapi kalau suatu hari lo sadar cinta lo buat gue. Lo bisa dateng ke gue, dan gue akan nerima lo.”
Kening Siska mengerut mendengar jawaban Farrel. Kemana perginya sifat keras kepala yang selama setahun ini selalu ditampilkannya? Farrel menyerah begitu saja? Hanya karena kalimat Siska? Sungguh, Siska tidak paham dengan semua ini. Namun, bukankah ini yang memang Siska inginkan? Farrel berhenti mengejarnya?
“Farrel, lo beneran—”
“Tuan Muda Farrel! Cepat turun dan selesaikan hukumanmu!”
Farrel mencebik mendengar panggilan dari Elena yang sudah berkacak pinggang dan menatapnya kesal di kejauhan. Dan ini adalah kali pertama Farrel mengharapkan Flora—adiknya yang menyebalkan—ada di sini, untuk membawa Elena pergi, kemanapun, asalkan tidak menganggu kemesraan Farrel dan Siska.
“Duty calls!” kekeh Farrel, lalu beranjak dari tempatnya, meninggalkan Siska yang dibiarkan bingung dengan sikap Farrel.
*******************
“Sudah selesai pacarannya?” cemooh Elena saat Farrel sudah ikut memanen anggur. “Apa cinta Tuan Muda De Avilla ditolak lagi.”
Farrel menoleh dan menatap bingung pada Elena yang malah tersenyum mengejeknya.
“Jangan bingung begitu. Aku juga tahu kalau gadis-gadis di seberang sana adalah mantan-mantanmu. Oh, kecuali Dea, dia adalah kekasih Rendra, kan? Bingung, bagaimana aku bisa tahu semua itu?”
Farrel mencebik. “Flora.”
“Gadis itu benar-benar punya sikap! Aku salut padanya. Setidaknya dia menggunakan otaknya, karena tidak terperangkap oleh jebakan uang dan fasilitas sesaat yang kamu tawarkan.”
Sebelum Farrel sempat mendebatnya, Elena sudah pergi untuk memanen anggur di barisan pohon anggur lainnya.
“Tuan, ada telepon dari Tuan Uta,” kabar Nando yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Farrel dengan ponsel terulur.
Farrel menyapa pamannya di seberang telepon. Raut wajahnya yang semula biasa saja, mendadak berubah merah padam. Entah apa yang diucapkan paman kesayangannya itu, tapi setelah hubungan telepon terputus, Farrel mengembalikan ponsel pada Nando seraya mengembuskan napas kesal.
“Nando, bagaimana kalau kita mengobrol sembari menikmati sore indah? Aku butuh teman untuk mengobrol.”
Nando mengangguk. Bagaimana dia bisa menolak permintaan Tuan Muda Farrel? Majikan sekaligus sahabatnya.