Selepas kepergian Mas Agam, aku masih terpaku. Tak percaya bila ia tega mengatakan kata-kata yang begitu menyakitkan padaku. Apakah ini sisi lain darinya yang tidak aku ketahui? Kuakui aku hanya tahu kehidupannya bila di rumah saja. Di luar sana aku tidak pernah tahu apa yang dilakukan dan bagaimana perilakunya.
Saat sedang asyik dengan segala pemikiranku, tiba-tiba gawaiku berdering. Nomer baru menghubungi lewat telepon seluller.
"Assalamualaikum ..." sapaku.
"Waalikumsalam... Nia sayang, apa kabarnya? Sudah lama aku tidak pernah tahu kabarmu. Tadi iseng-iseng lihat kontak di grup WA alumni Aliah, eh aku lihat foto profil kamu di salah satu kontak. Uh, maklumlah ya, kita kan dulu sekolah di jaman belum ada hp. Jadi setelah lulus, aku kehilangan jejak kamu deh ...." Suara di seberang telepon twrdengar terus berbicara tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab pertanyaannya.
Aku tahu siapa dia. Tiga tahun kami satu kelas, dan satu kost membuatku tak bisa melupakan spesies langka yang satu ini. Afifah, gadis mungil yang kecepatan bicaranya melebihi kilat, gadis baik hati yang selalu menolong siapapun yang membutuhkan. Teman sekaligus saudara buatku, namun harus terpisah saat kami lulus. Ia berasal dari kabupaten lain. Pada waktu itu, handphone menjadi barang langka. Hanya mereka yang berasal dari keluarga berada saja yang memiliki bendatm tersebut. Itupun belum secanggih sekarang untuk fitur dan aplikasinya.
Afifah sendiri sudah memiliki hp waktu itu. Ia memang berasal dari keluarga yang lebih berada dibandingkan diriku. Sempat ia memberi nomer agar aku bisa menghubunginya selepas lulus, tapi nomer itu hilang.
"Halo... Halo... Ni? Kamu masih dengerin aku kan?" Setelah bicara panjang lebar, barulah ia ingat aku. Dasar Afifah.
Akhirnya, pertemuan kami untuk pertama kali lewat jalur udara malam itu, kami isi dengan saling bercerita tentang kehidupan kami setelah lulus. Ia ternyata belum memiliki anak di usia pernikahannya yang ke enam tahun. Begitulah kehidupan, tak ada yang sempurna. Setiap orang alan diberikan ujian yang berbeda-beda.
Mengobrol demgan Afifah membuatku sejenak lupa akan permasalahan yang tengah kualami dengan Mas Agam. Afifah ternyata saat ini tengah menggeluti sebuah bisnis produk kecantikan yang diendorse langsung oleh artis-artis ternama. Salah satunya pemeran utama sinetron yang tengah viral, Ikatan Tinta. NS Glowing, nama produknya.
Ia sudah menjadi member demgan penghasilan di atas 20 puluh juta per bulannya. Dan saat ini tengah mengajukan untuk menjadi agen. Afifah paham, bahwa di daerahku belum ada member untuk produk ini. Oleh karenanya menawari kerjasama denganku. Awalnya ia bilang aku cukup jadi reseller. Ia akan mengirimi produk sepuluh paket, plus satu paket bonus khusus dipakai aku. Uangnya bisa ditransfer setelah barang tersebut semuanya laku. Ah, dia memang baik dari dulu.
"Kamu pakai aja dulu, Ni. Insya Allah aman dan tidak menimbulkan efek samping ataupun ketergantungan. Kalau gak percaya, coba deh kamu pakai. Setelah wajahmu bagus, coba berhenti beberapa hari. Timbul reaksi kayak gatal atau bintik merah gak di wajah kamu. Insya Allah sih enggak. Soalnya ni ya, yang beli di aku gak ada yang kejadian kayak gitu. Habis kamu berubah cantik tuh, kamu iklan deh. Nanti aku kirimi video yang endorsnya artis-artis, trus kamu buat story di WA. Kalau udah banyak yang beli di kamu, kamu daftar member. Nanti aku bantu modalnya say, jangan kuatir. Kamu bisa balikin modal demgan cara nyicil dari untung yang didapatkan. Soalnya di kabupaten kamu belum ada membernya. Harus gercep, biar gak diduluin orang lain. Aku jamin laku keras. Apalagi kalau kamu juga jualin di s*op**. Kan nambah untungnya." Sebuah tawaran yang menggiurkan dan patut aku coba. Apalagi aku tidak perlu modal. Sepertinya Afifah adalah orang yang Allah kirim untuk membantuku.
Setelah pembicaraan ngalor ngidulku dengan Afifah, semangatku untuk bangkit dan menjadi wanita sukses, berkobar dalam d**a. Akan aku tunjukkan kalau aku bisa menjadi wanita sukses pada Mas Agam, yang sudah bilang bahwa aku mengemis nafkah padanya.
Keberuntungan sepertinya sedang mengikutiku. Selesai berceloteh ria dengan Afifah, gawaiku kembali berdering. Kali ini dari pemilik toko aneka kue terbesar di kecamatanku. Ternyata ia juga ingin mengajak kerjasama juga. Pernah mencoba keripik dari salah satu guru TK yang membeli di aku, ia meminta untuk dikirim keripik dalam berbagai kemasan, setiap seminggu sekali. Dengan sistem bayar lunas. Ia menanyakan apakah aku sanggup atau tidak. Tentu saja kesempatan ini tak kulewatkan sia-sia.
"Keripik singkongnya bisa mulai dikirim lusa mbak Nia?" tanyanya kemudian setelah aku menyanggupi.
"Bisa mbak, Insya Allah ...," jawabku mantap.
Sepertinya aku tidak bisa mengerjakan ini sendiri saja. Harus mencari orang untuk membantu. Ah, tidak mengapa. Aku mengenal tetangga yang cekatan yang bisa kuandalkan. Besok pagi segala persiapan kebutuhan bisa mulai dilakukan.
Malam telah semakin larut. Akhirnya rasa kantukpun datang. Kubaringkan tubuh di samping Danis. Memeluknya erat ke alam mimpi. Kulantunkan sebuah ayat sebelum memejamkan mata ini. Fainna ma'al usri yusro. Inna ma'al usri yusro ....