Pukul 23.00 Allegra mengusap wajahnya yang basah oleh bulir-bulir keringat yang mengalir dari pelipis melewati tulang pipinya. Dia menyandarkan punggung tegangnya ke dinding. Kembali lagi melihat benda di tangan untuk memastikan, bahwa semuanya benar-benar nyata. Garis satu. Allegra memejamkan mata, menikmati sensasi mendebarkan yang masih menghantuinya sampai sekarang. Dia menghembuskan napas ringan. Kemudian tersenyum. Demi Tuhan. Tidak ada perasaan selega ini selama Allegra di lahirkan. Mengetahui kecurigaan Maura dan Keenan yang tidak terbukti, rasanya seperti menemukan secawan air di tengah gurun Sahara. Sangat melegakan. Sungguh! Jika dipikir-pikir, seharusnya dia tidak perlu sampai setakut ini. Dia dan Keenan tak pernah melakukan hal lebih, selain saling menyentuh dan memuaskan

