"Jangan kayak orang susah kamu, Dek."
Allegra berkata jengah melihat Aska yang sejak tadi terlihat murung. Allegra hanya tak sengaja melelehkan satu Tupperware, bukan membakar kediaman mereka apalagi kediaman utama keluarga Danawangsa, tapi respon adiknya benar-benar di luar dugaan. Seperti seorang tahanan yang akan menghadapi eksekusi mati.
"Kita bisa menggantinya. Jangankan satu produk, kita bahkan bisa memborong satu toko beserta pramuniaganya sekalian," lanjut Allegra lalu menyandarkan punggung kecilnya ke sandaran sofa ruang tamu.
Dia memperhatikan dua housekeeper yang sejak tadi mondar-mandir membersihkan rumah papinya. Memang, setelah terjadi kekacauan itu Allegra langsung memanggil jasa kebersihan. Alasannya, karena semua ART-nya tengah meliburkan diri atas titah dari sang Tuan Rumah.
"Ini bukan masalah diganti atau enggaknya, Kak. Kakak nggak tau," sahut Aska akhirnya mau buka suara, "Kak Maura itu telitinya minta ampun. Dia tau mana barang miliknya dan mana bukan miliknya. Dia nggak bisa dikibulin gitu aja. Dulu Zico sama bang Daffa pernah hilangin benda itu dan Kak Maura yang lagi hamil tanpa ragu langsung lempar piring, untung nggak kena. Nggak cuma itu, dia bahkan sampai bakar sepatu kesayangan mereka. Padahal waktu itu bang Daffa dan Zico udah bawa Tupperware yang mirip banget sama yang mereka hilangkan," jelas Aska panjang lebar, memaparkan sebuah fakta yang semakin membuatnya bergidik ngeri. Kalau kedua sepupunya itu tau, mungkin mereka, terlebih Zico akan mengadukan hal ini ke Maura lalu menertawai dirinya habis-habisan.
"Kak Maura nggak mungkin kayak gitu."
"Kalau nggak percaya sekarang telepon bang Daffa atau Zico, mumpung mereka belum mati. Mereka adalah saksi hidup kekejaman kak Maura," Aska menyarankan dengan mata yang masih terlihat hampa.
Allegra berdecak. Dia merogoh kantung celananya untuk mengeluarkan ponsel, "Kakak akan menelpon kak Maura."
Aska yang mendengar itu kontan menoleh ke Allegra dan langsung menghentikan kakaknya dengan lengkingan yang memekak telinga. "JANGAN TELEPON KAK MAURA!" Suara keras Aska membuat perempuan cantik itu terperanjat.
Namun, secepat kilat dia langsung mengubah mimik wajahnya. "Kamu terlalu parno," ucapnya acuh tak acuh, "Daffa dan Zico pasti udah melebih-lebihkan ceritanya. Kayak nggak tau aja sama mulut lanyo mereka."
"Tapi Zio juga benerin cerita mereka, Kak!" balas Aska cepat, "Kakak kan tau, di antara ketiga anak Om Damian cuma mulut Zio yang 99,9% bisa dipercaya."
Allegra terlihat merenung. Dia tengah berpikir keras. Lalu tak lama kemudian, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum tipis setelah sebuah ide melintas di otaknya. Dia menatap adiknya, "Kamu tenang aja. Kalau yang diucapkan kamu benar, kakak pastiin kalau kak Maura nggak akan marah sama kita. " Tanpa menunggu lama, Allegra langsung menghubungi kontak sepupu tertuanya itu.
"Halo, Kak," sapa Allegra setelah menunggu hingga dering ke tujuh baru diangkat oleh si penerima telepon.
'Halo, All. Maaf baru angkat. Kakak habis mandiin Key dan bapaknya. Ada apa tumben nelpon?'
Sekilas, Allegra melirik adiknya yang juga tengah menatapnya harap-harap cemas.
"Jadi begini, sebelumnya aku mau minta maaf, karena udah rusakin Tupperware punya kak Maura yang tertinggal di rumah. Aku benar-benar nggak sengaja masukin wadah itu ke dalam oven. " Nada yang diucapkan Allegra terdengar sungguh-sungguh dan penuh penyesalan, tapi raut yang diperlihatkan tidak demikian. Wajahnya tetap tenang dengan mata yang masih menyorot ke adiknya.
Hening. Tak ada sahutan apapun dari seseorang di sebrang sana hingga membuat Allegra mengira jika Maura mematikan sambungan telepon. Akan tetapi, ketika melihat layar ponsel, ternyata sambungan masih berlangsung.
"Kak? Kakak masih di sana kan?"
'All.'
Allegra bergumam dan Aska menegang mendengar panggilan penuh penekanan itu.
'Kamu tau kan seberapa cintanya kakak dengan merk itu?'
"Ya, maka dari itu. Di sini aku ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku."
'Dengan apa? Meng-,'
"Aku tau kakak penggemar beratnya Alexander Antonio kan?" sela Allegra cepat sebelum Maura menyelesaikan ucapannya, "Aku bisa dengan mudah mempertemukan kak Maura dengan pria itu jika kak Maura mau."
'Jangan bohong! Kamu tau betul gimana track recordnya yang nggak suka didekati siapapun.'
Allegra tersenyum kecil. Siapa yang tidak kenal dengan Alexander Antonio? Seorang supermodel dan aktor juga merangkap sebagai sutradara sukses yang menjadi incaran para kaum hawa karena parasnya yang tampan khas orang Eropa. Namun karena karakternya yang tertutup, tak sembarang orang bisa bertemu dengannya–bahkan meski orang itu memakai kekuasaannya sekalipun—
Dan mungkin itu juga yang menyebabkan dirinya tak pernah terlibat hubungan dengan seorang wanita di usianya yang sudah menginjak 35 tahun. Namun dibalik itu, ada satu perempuan yang membuatnya tertarik. Siapa lagi kalau bukan Allegra. Dan dia harus memanfaatkan itu, dewi batinnya tersenyum. Sedangkan remaja di sisinya mengerut bingung. Apa hubungan semua ini dengan Maura yang merupakan penggemar berat aktor sekaligus model dingin nan misterius itu?
"Aku nggak pernah bohong. Tunggu dua hari dan aku pastiin dalam dua hari itu kak Maura akan bertemu dengannya secara langsung," Allegra menjeda ucapannya sejenak, "Tapi syaratnya kak Maura harus melupakan tentang masalah Tupperware itu. Gimana? setuju?"
'Okay. Aku setuju.'
Allegra semakin melebarkan senyumnya tatkala mendengar balasan tanpa ragu dari kakak sepupunya. Dia mematikan sambungan telepon dan segera menarik ponselnya dari telinga lalu mulai mengetikkan sesuatu di sana.
"Lihat kan?" tanya Allegra setelah meletakkan ponselnya ke meja.
Wajah Aska perlahan berubah. Dia langsung menerjang tubuh kakaknya dengan sebuah pelukan, "Makasih, makasih, makasih banyak kakakku Sayang," pekik Aska sambil terus mengecupi pipi kakaknya.
Allegra yang merasa tidak nyaman langsung mendorong tubuh adiknya.
'Tapi kenapa semudah itu?" Aska bertanya, keningnya tampak berkerut, "Dan kenapa kak All bisa menjanjikan hal mustahil ke kak Maura. Apa jangan-jangan selama ini kak All jadi simpenanya aktor itu ya?!"
"Ngaco kamu!" sanggah Allegra, "Kemarin Om Alex cuma
nawarin kakak buat jadi lawan mainnya di film yang dia garap. Awalnya kakak menolak, tapi sepertinya kakak harus menerima tawaran itu karena masalah ini."
"Serius?!"
Allegra mengangguk dan bertepatan dengan itu, terdengar suara bel yang berbunyi.
"Buka pintunya sana," perintah Allegra.
Tanpa menunggu dua kali, Aska langsung melenggang pergi untuk membukakan pintu si tamu itu. Dan tak lama kemudian, dia kembali dengan seseorang yang mengekor di belakang. "Ada cowok yang nyariin Kak Allegra."
"Siapa?" Allegra bertanya bersamaan dengan kepalanya yang menoleh ke arah sang tamu. Seketika matanya membulat kaget, "Lho, El? Ngapain kamu ke sini?" sambung Allegra menatap calon suaminya yang terlihat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Mungkin karena tudung hoodie yang menutupi kepalanya, hingga membuat penampilannya terkesan lebih kasual. Dan Allegra mengakui, dia terlihat sangat tampan.
"Oh ... jadi ini berondong yang mau nikah sama kak Allegra?" tanya Aska menarik Allegra dari lamunan. Tangan remaja itu terlipat di d**a, memperhatikan penampilan Saka dari atas sampai bawah. "Lo nggak boleh nikah sama kakak gue. Titik!"
"Aska!" peringat Allegra, menatap tajam adiknya.
"Kenapa?" Saka bertanya tak paham. Apa karena usianya yang
lebih muda dari Allegra?
"Calonnya kak All nggak boleh lebih ganteng dari gue, karena gue nggak mau kalah saing dari segi ketampanan," jawab Aska tak sesuai ekspektasi Saka.
Mendengar itu, Allegra mendengus. Dia bangkit lalu menjauhkan Saka dari jangkauan adiknya. "Jangan dengerin. Dia emang kurang waras. Maklum mungkin waktu lahiran kepalanya kelilit sama tali pusar," kelakar Allegra sangat kontras dengan ekspresi wajahnya.
Saka menyeringai kecil. Tak menyangka kalau perempuan yang terlihat anggun dan bersahaja itu bisa bercanda juga.
"Kamu kenapa datang ke rumahku?" tanya Allegra lagi, "kamu dari kampus langsung ke sini ya?"
Saka mengangguk, "Om Rian menyuruh saya--,"
"Pft ... saya," potong Aska sembari menahan tawa, "Dikira lagi bicara sama presiden kali ah. Kaku bener," lanjut Aska yang langsung mendapat pelototan dari kakaknya.
"Papiku nyuruh kamu apa?" tanya Allegra mengembalikan pokok pembicaraan mereka.
"Beliau nyuruh saya buat jagain kamu. Katanya Om Rian lagi di Bali untuk dua hari ke depan."
"Kamu nginep di sini?"
"Iya."
Allegra mengangguk mengerti, walau hatinya was-was, takut Keenan berkunjung dan mendapati Elsaka ada di rumahnya. Allegra tidak bisa membayangkan, seberapa marahnya pria itu ketika mengetahui hal ini.
"Ck! Dikira gue nggak bisa jagain kak Allegra kali ya?" gerutu Aska sebal lalu beralih menatap kakaknya, "Papimu nggak percaya banget sama anaknya sendiri. Pake acara nyuruh laki-laki lain buat nginep di rumahnya lagi. Nanti kalau kalian khilaf dan kakak hamil, dia juga yang bakal pusing sendiri."
Wajah Saka tampak memerah mendengar ucapan itu.
"Kamu memang nggak bisa dipercaya, Dek," celetuk Allegra menahan kesal, "Ingat dulu kamu pernah ninggalin kakak sendirian di rumah waktu Papi lagi di Aussie."
"Ya, tapikan." Tak bisa menjawab. Wajah Aska semakin tertekuk. "Pokoknya aku mau nelpon Papi."
"Mau apa kamu?"
Aska tak menghiraukan pertanyaan Allegra. Dia mengambil ponselnya dan mulai mencari kontak sang Papi lalu menekan ikon panggilan. Tidak membutuhkan waktu lama, panggilan langsung diangkat oleh si nomor tujuan.
'Kenapa nelpon Papi, Dek? Nggak ada kerjaan atau nggak ada cewek buat diajak teleponan?'
"Ck! Lagi ngomongin diri sendiri, ya? Kasian deh yang ditinggal pergi istrinya," cemooh Aska tak mau kalah, "Pasti dari tadi nungguin panggilan dari si Anak Bungsu kesayangan kan?"
Terdengar dengusan dari si lawan bicara membuat Aska
terbahak, 'Kenapa menghubungi, Papi? Kalau minta tambahan uang jatah, skip deh. Papi nggak minat.'
"Yee, Bapak satu ini udah nethink dulu. Aska telepon cuma mau hujat Papi. Jadi, jangan mikir kalau Aska kangen apalagi butuh uang situ!"
'Heh! Das—'
"Oke, Aska mulai sekarang—
'Mak—'
—Gila lu, Ndro! Bapak macem apa yang nyuruh laki-laki asing nginep di rumah buat jagain anak gadisnya?"
Setelah mengatakan itu, dia segera mematikan sambungan telepon sebelum mendapatkan semburan maha dahsyat dari seseorang di sebrang sana. Dan tak lama kemudian dia terbahak membayangkan wajah papinya yang saat ini pasti tengah menggurutui dirinya.
Huh! Dasar anak durjana!
Sedangkan Allegra dan Elsaka menatap tak percaya pada bocah senewen itu. Namun percayalah, karena semua tingkah Aska seharian ini, Allegra jadi melupakan kesedihannya akibat pernikahan Keenan yang tinggal menghitung hari.
Adiknya itu memang paling tau cara menghibur dirinya, meski itu membuatnya terlihat bodoh di mata orang-orang.